Pembacaan: Efesus 2:8-10
Kasih merupakan inti dari kehendak Allah dalam kehidupan manusia. Tuhan menghendaki agar kita hidup dalam dua hukum utama, yaitu mengasihi Tuhan Allah dan mengasihi sesama manusia. Kedua hal ini menjadi dasar dari kehidupan iman yang benar.
Kasih tanpa syarat atau unconditional love adalah gambaran nyata dari kasih Allah kepada manusia. Peristiwa Natal dan Paskah menjadi bukti nyata dari kasih tersebut.
Kelahiran Yesus sebagai Allah yang menjadi manusia menunjukkan bahwa kasih Allah tidak terbatas dan tidak bersyarat. Kasih ini dikenal sebagai kasih agape, yaitu kasih yang tidak menuntut balasan.
Rasul Paulus menggambarkan betapa besar kasih Tuhan yang tidak terkatakan.
Kasih ini bahkan mampu mengubah Saulus, yang dahulu menganiaya umat Tuhan, menjadi Paulus, seorang rasul yang dipakai Tuhan secara luar biasa.
Seperti yang tertulis dalam Rom 5:8, secara manusiawi kita cenderung berbuat baik kepada orang yang baik kepada kita.
Namun Tuhan justru menunjukkan kasih-Nya ketika kita masih hidup dalam dosa. Seharusnya manusialah yang menanggung hukuman, tetapi Tuhanlah yang menanggungnya.
Dalam Roma 6:23 dikatakan bahwa upah dosa adalah maut, tetapi kasih karunia Allah memberikan hidup yang kekal dalam Kristus Yesus. Ini menegaskan bahwa keselamatan adalah anugerah, bukan hasil usaha manusia.
Mazmur juga menggambarkan betapa luas dan dalamnya kasih Tuhan.
Dalam Mazmur 36:6 tertulis, “kasihmu sampai kelangit, setiaMu sampai ke awan.” Ini menunjukkan bahwa kasih Tuhan melampaui batas pemahaman manusia. Selanjutnya dalam Mazmur 36:8, “betapa berharganya kasih setiaMu ya Allah.” Daud, yang tidak luput dari kesalahan, tetap mengalami pemulihan karena kasih Tuhan.
Kisah Yunus juga menjadi bukti kasih Allah yang tidak bersyarat. Dalam Yun 4:2, bangsa Niniwe yang seharusnya dihukum justru diselamatkan karena pertobatan mereka.
Hal ini menunjukkan bahwa kasih Tuhan selalu memberi kesempatan untuk berubah.
Begitu pula kisah Hosea dan Gomer yang menggambarkan hubungan antara Tuhan dan manusia. Walaupun manusia seringkali tidak setia, Tuhan tetap mengasihi dengan setia.
Kisah Rut juga memperlihatkan bahwa kasih Tuhan tidak memandang latar belakang. Meskipun berasal dari bangsa Moab, Rut tetap dipakai Tuhan dan bahkan masuk dalam silsilah Yesus.
Namun, meskipun kasih Tuhan tidak bersyarat, berkat Tuhan memiliki syarat. Dalam UI 28:13-14 dijelaskan bahwa Tuhan akan meninggikan umat-Nya jika mereka hidup sesuai kehendak-Nya dan tidak menyimpang dari perintah-Nya. Ketaatan dan kesetiaan menjadi kunci untuk menerima berkat Tuhan.
UIangan 6:23-25 menegaskan bahwa hidup yang takut akan Tuhan dan setia melakukan kehendak-Nya akan membawa kebaikan dan kebenaran dalam hidup. Kesetiaan tersebut akan diperhitungkan sebagai kebenaran di hadapan Tuhan.
Dalam UIangan 7:12 tertulis, "dan akan terjadi kalo kita setia terhadap Tuhan, maka semua janji Tuhan akan digenapi dalam hidup kita, yang menegaskan bahwa janji Tuhan pasti digenapi bagi mereka yang setia. Ams 3:23 juga menunjukkan bahwa kesetiaan membawa keamanan dan berkat yang melimpah.
Sementara itu, Yohanes 14:21 mengajarkan bahwa mengasihi Tuhan berarti melakukan perintah-Nya.
Sebagai penutup, kasih Allah adalah kasih yang tidak bersyarat dan selalu tersedia bagi setiap manusia. Namun, untuk mengalami berkat-Nya secara penuh, dibutuhkan ketaatan dan kesetiaan dalam menjalani hidup sesuai dengan firman Tuhan. Amin (*)
Editor : Deiby Rotinsulu