Pembacaan Alkitab: Kidung Agung 5:7-8
TEMA: RINDU: OBAT ATAU RACUN?
“Apakah yang akan kamu katakan kepadanya? Katakanlah, bahwa sakit asmara aku!” (Kid. 5:8b)
Sobat Muda yang dikasihi Tuhan, Rindu adalah perasaan yang sangat akrab dengan kehidupan kita, khususnya anak muda. Rindu bisa datang kapan saja—ketika seseorang yang kita sayangi jauh, ketika komunikasi mulai berkurang, atau bahkan ketika kita hanya membayangkan seseorang yang spesial di hati kita.
Rindu bisa terasa manis. Saat kita merindukan seseorang, kita merasa hidup. Kita merasa ada yang berarti dalam hidup kita. Ada yang kita tunggu, ada yang kita harapkan. Bahkan, rindu bisa membuat kita lebih semangat menjalani hari.
Namun di sisi lain, rindu juga bisa terasa menyakitkan. Ketika orang yang kita rindukan tidak hadir, tidak merespons, atau bahkan menjauh, rindu berubah menjadi luka. Yang tadinya manis, menjadi pahit. Yang tadinya menguatkan, menjadi melemahkan.
Itulah sebabnya kita bertanya hari ini:
Rindu, obat atau racun?
Sobat Muda, Dalam Kidung Agung 5:7-8, kita melihat sebuah gambaran yang sangat emosional. Dari sudut pandang mempelai perempuan, kita melihat seseorang yang begitu merindukan kekasihnya. Kerinduan itu begitu kuat, begitu dalam, sampai ia berkata, “sakit asmara aku.”
Ini bukan sekadar ungkapan puitis. Ini adalah gambaran tentang betapa rindu bisa terasa seperti “sakit.”
Awalnya, kerinduan itu penuh dengan semangat. Dalam ayat-ayat sebelumnya (ayat 2-5), ada rasa menggebu-gebu, ada harapan, ada keinginan untuk bertemu. Namun ketika kekasihnya tidak ditemukan (ayat 6), semuanya berubah.
Rindu yang tadinya manis menjadi getir. Dan keadaan semakin buruk ketika ia mengalami perlakuan yang menyakitkan dari para penjaga kota (ayat 7). Ini menggambarkan bahwa rindu yang tidak terpenuhi bisa membawa kita pada pengalaman yang menyakitkan.
Sobat Muda, Bukankah ini juga sering terjadi dalam hidup kita? Kita merindukan seseorang, tetapi dia tidak merindukan kita dengan cara yang sama. Kita berharap, tetapi tidak mendapatkan respon. Kita menunggu, tetapi tidak ada kepastian.
Dan akhirnya, kita merasa “sakit.” Rindu yang seharusnya menjadi indah, berubah menjadi beban.
Saudara-saudari, Tidak ada yang salah dengan rindu. Rindu adalah bagian dari kasih. Jika kita tidak mengasihi, kita tidak akan merindukan. Rindu menunjukkan bahwa hati kita hidup.
Namun masalahnya bukan pada rindu itu sendiri, tetapi pada bagaimana kita mengelola rindu itu. Karena jika tidak dikelola dengan benar, rindu bisa menjadi racun.
Sobat Muda, Rindu menjadi racun ketika kita mulai kehilangan fokus. Ketika seluruh pikiran kita hanya dipenuhi oleh satu orang. Ketika kebahagiaan kita bergantung pada kehadirannya. Ketika kita tidak bisa menjalani hidup dengan normal karena terlalu merindukan.
Kita mulai mengabaikan hal-hal lain yang penting—keluarga, teman, tanggung jawab, bahkan Tuhan. Kita lebih banyak memikirkan “dia” daripada Tuhan. Kita lebih rajin menunggu pesan daripada berdoa.
Kita lebih sibuk dengan perasaan kita daripada membangun relasi dengan Tuhan. Di sinilah rindu mulai menjadi racun.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk melihat sesuatu yang lebih dalam: Tuhan juga merindukan kita.
Seringkali kita hanya fokus pada siapa yang kita rindukan, tetapi lupa bahwa ada Pribadi yang jauh lebih merindukan kita—yaitu Tuhan sendiri.
Tuhan merindukan kita datang kepada-Nya.
Tuhan merindukan kita berbicara dengan-Nya.
Tuhan merindukan kita hidup dekat dengan-Nya.
Namun ironisnya, kita sering mengabaikan kerinduan Tuhan itu.
Kita punya waktu untuk memikirkan orang lain, tetapi tidak punya waktu untuk Tuhan.
Kita punya energi untuk mengejar hubungan, tetapi tidak untuk membangun relasi dengan Tuhan.
Sobat Muda, Kadang Tuhan mengizinkan kita mengalami kekecewaan dalam rindu kita. Bukan karena Ia jahat, tetapi karena Ia ingin menarik kita kembali kepada-Nya.
Ketika kita merasa kosong, ketika kita merasa kehilangan, ketika rindu kita tidak terjawab—itu bisa menjadi momen di mana Tuhan berkata: “Kembalilah kepada-Ku.” Karena hanya di dalam Tuhan, kita menemukan kepenuhan yang sejati.
Saudara-saudari, Rindu bisa menjadi obat ketika ia membawa kita lebih dekat kepada Tuhan. Ketika kita merindukan seseorang, kita belajar tentang arti kasih. Kita belajar tentang kesetiaan. Kita belajar tentang pengharapan.
Dan semua itu bisa mengarahkan kita kepada Tuhan, sumber kasih yang sejati. Namun rindu menjadi racun ketika ia menjauhkan kita dari Tuhan.
Ketika rindu membuat kita kehilangan arah.
Ketika rindu membuat kita menggantungkan hidup pada manusia.
Ketika rindu membuat kita lupa bahwa Tuhan adalah yang utama.
Sobat Muda, Mari kita jujur pada diri kita sendiri: Apakah rindu yang kita rasakan saat ini membawa kita lebih dekat kepada Tuhan? Atau justru menjauhkan kita?
Apakah rindu itu membuat kita bertumbuh? Atau justru membuat kita lemah? Pertanyaan ini penting. Karena tidak semua yang kita rasakan itu baik untuk kita.
Saudara-saudari, Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kasih kepada Tuhan harus menjadi yang pertama dan utama. Di balik semua cinta dan rindu yang kita rasakan, Tuhan harus tetap menjadi pusat.
Orang yang kita kasihi bisa berubah. Perasaan bisa naik turun. Hubungan bisa berakhir. Tetapi kasih Tuhan tidak pernah berubah.
\
Sobat Muda, Jangan sampai kita teracuni oleh rindu sampai lupa kepada Dia yang begitu merindukan kita. Jangan sampai kita mengejar seseorang, tetapi kehilangan Tuhan.
Jangan sampai kita sibuk merindukan yang jauh, tetapi mengabaikan yang paling dekat—yaitu Tuhan.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Rindu seharusnya menjadi jembatan, bukan penghalang. Rindu kepada sesama bisa menjadi sarana untuk kita memahami bagaimana Tuhan merindukan kita.
Ketika kita tahu rasanya merindukan, kita bisa lebih mengerti hati Tuhan yang rindu akan kehadiran kita. Dan itu seharusnya mendorong kita untuk datang kepada-Nya.
Sobat Muda, Mulailah belajar mengelola rindu dengan benar. Bawa perasaan itu kepada Tuhan. Doakan orang yang kita rindukan. Serahkan harapan kita kepada Tuhan.
Dan tetap jalani hidup dengan seimbang. Jangan biarkan rindu menguasai kita. Tetapi biarlah Tuhan yang memimpin hati kita.
Saudara-saudari, Hidup kita tidak boleh dikendalikan oleh perasaan, tetapi oleh kebenaran firman Tuhan. Perasaan bisa berubah, tetapi firman Tuhan tetap.
Ketika kita menjadikan Tuhan sebagai pusat, kita akan mampu mengelola setiap perasaan dengan bijak—termasuk rindu.
Sobat Muda yang terkasih, Hari ini firman Tuhan mengajak kita untuk mengevaluasi hati kita. Apakah kita sedang “sakit” karena rindu? Apakah kita sedang kehilangan arah karena perasaan?
Jika ya, datanglah kepada Tuhan. Dia adalah sumber pemulihan. Dia adalah tempat kita menemukan damai. Dia adalah Pribadi yang tidak pernah mengecewakan.
Saudara-saudari, Mari kita jadikan Tuhan sebagai yang utama dalam hidup kita. Kasih kepada Tuhan harus lebih besar daripada kasih kepada siapa pun. Rindu kepada Tuhan harus lebih dalam daripada rindu kepada siapa pun.
Dan ketika itu terjadi, kita akan mampu mengasihi orang lain dengan sehat. Rindu kita tidak lagi menjadi racun, tetapi menjadi obat—yang menguatkan, bukan melemahkan.
Sobat Muda, Akhirnya, ingatlah: Rindu itu Indah, tetapi harus diarahkan. Rindu itu kuat, tetapi harus dikendalikan. Rindu itu bisa menyembuhkan, tetapi juga bisa melukai.
Pilihlah untuk menjadikan rindu sebagai jalan untuk semakin dekat kepada Tuhan. Dan biarlah hidup kita dipenuhi oleh kasih-Nya yang sempurna. Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Doa : Tuhan yang penuh kasih, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Ajarlah kami mengelola rindu dengan benar agar tidak menjauhkan kami dari-Mu. Penuhi hati kami dengan kasih-Mu dan jadilah Engkau yang terutama dalam hidup kami. Tuntun langkah kami selalu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa dan bersyukur. Amin.
Editor : Clavel Lukas