Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan 1 Yohanes 2:18-27 untuk P/KB, Tidak Ada Dusta Yang Berasal Dari Kebenaran

Clavel Lukas • Sabtu, 2 Mei 2026 | 10:16 WIB

 

Ilustrasi Alkitab.
Ilustrasi Alkitab.

Saudara-saudara kaum bapak yang dikasihi Tuhan,

Sebagai pria, sebagai kepala keluarga, sebagai pekerja, dan juga sebagai pelayan Tuhan, kita sering diperhadapkan pada banyak keputusan penting.

Dalam dunia kerja, dalam keluarga, bahkan dalam pelayanan, kita dituntut untuk bersikap tegas, bijaksana, dan bertanggung jawab.

 Namun di tengah semua itu, kita juga menghadapi godaan—godaan untuk berkompromi, untuk mengambil jalan pintas, atau untuk membenarkan sesuatu yang sebenarnya tidak benar.

Seringkali tekanan hidup membuat kita berkata, “yang penting aman,” atau “yang penting berhasil.”

 Tetapi firman Tuhan hari ini mengingatkan kita dengan sangat tegas: tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran.

Artinya, sebagai pria Kristen, kita dipanggil bukan hanya untuk kuat secara fisik atau ekonomi, tetapi juga teguh dalam kebenaran.

Baca Juga: Renungan 1 Yohanes 2:18-27, Tidak Ada Dusta Yang Berasal Dari Kebenaran

Baca Juga: Materi Khotbah 1 Yohanes 2:18-27, Tidak Ada Dusta Yang Berasal Dari Kebenaran

Saudara-saudara kaum bapak yang dikasihi Tuhan,

Surat 1 Yohanes ditulis dalam situasi jemaat yang sedang digoncang oleh ajaran-ajaran sesat.

Ada orang-orang yang keluar dari persekutuan, tetapi tetap mempengaruhi jemaat dengan ajaran yang salah, terutama mengenai pribadi Yesus Kristus.

Rasul Yohanes menegaskan bahwa kebenaran sejati tidak bercampur dengan dusta. Apa yang berasal dari Tuhan pasti benar, dan apa yang tidak sesuai dengan Kristus adalah kebohongan.

Tema “Tidak Ada Dusta Yang Berasal Dari Kebenaran” menjadi sangat relevan bagi kaum bapak, karena kita sering menjadi pengambil keputusan.

Jika dasar kita salah, maka dampaknya bukan hanya pada diri kita, tetapi juga pada keluarga dan orang-orang yang kita pimpin.

Pembahasan Ayat per Ayat

Pada ayat 18, Yohanes menyebutkan bahwa ini adalah “waktu yang terakhir” dan akan muncul banyak anti-Kristus. Ini berarti bahwa sejak dahulu, sudah ada banyak ajaran yang menyesatkan.

 Dalam kehidupan kita sekarang, ini bisa berupa nilai-nilai dunia yang bertentangan dengan firman Tuhan—misalnya menghalalkan segala cara demi keuntungan.

Sebagai kaum bapak, kita harus sadar bahwa dunia tidak selalu berjalan dalam kebenaran. Karena itu, kita harus memiliki dasar iman yang kuat agar tidak mudah terbawa arus.

Ayat 19 menjelaskan bahwa orang-orang yang menyesatkan itu berasal dari antara jemaat, tetapi tidak sungguh-sungguh hidup dalam kebenaran.

 Ini mengingatkan kita bahwa iman bukan sekadar status, tetapi komitmen hidup. Kita bisa saja aktif di gereja, tetapi jika hati kita tidak benar, kita bisa menjadi batu sandungan.

Ayat 20 menyatakan bahwa kita telah menerima pengurapan dari Yang Kudus, yaitu Roh Kudus. Ini berarti kita diberi kemampuan untuk membedakan yang benar dan yang salah. Namun, kemampuan ini harus terus diasah melalui firman Tuhan dan doa.

Ayat 21 menegaskan prinsip utama: tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran. Ini menjadi dasar bagi setiap keputusan kita. Dalam pekerjaan, dalam bisnis, dalam relasi—kita harus bertanya: apakah ini benar di hadapan Tuhan?

Ayat 22-23 menjelaskan bahwa pendusta adalah mereka yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus. Ini berarti pusat kebenaran adalah Kristus. Jika hidup kita tidak berpusat pada Kristus, maka kita akan mudah tersesat.

Ayat 24 mengajak kita untuk tetap tinggal dalam firman Tuhan. Ini berarti kita harus setia membaca, memahami, dan melakukan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Ayat 25 memberikan janji hidup yang kekal. Ini mengingatkan kita bahwa kesetiaan dalam kebenaran tidak sia-sia.

Ayat 26-27 menegaskan bahwa ada banyak penyesatan, tetapi Roh Kudus mengajar kita. Ini memberi kita keyakinan bahwa Tuhan tidak meninggalkan kita. Ia memimpin kita, jika kita mau taat.

Saudara-saudara kaum bapak yang dikasihi Tuhan,

Kita dapat belajar dari kisah Yusuf di Mesir. Ketika ia digoda oleh istri Potifar, ia memiliki kesempatan untuk berbuat dosa tanpa diketahui orang lain. Namun ia memilih untuk tetap hidup dalam kebenaran.

Pada akhirnya Tuhan meninggikan dia. Ini mengajarkan kita bahwa hidup benar mungkin tidak selalu mudah, tetapi selalu membawa berkat.

Penutup

Saudara-saudara kaum bapak yang dikasihi Tuhan,

Firman Tuhan hari ini menantang kita untuk melihat kembali hidup kita dengan jujur. Tema “Tidak Ada Dusta Yang Berasal Dari Kebenaran” bukan hanya sebuah pengajaran, tetapi sebuah panggilan hidup yang nyata.

Sebagai pria, kita sering diukur dari keberhasilan, jabatan, atau pencapaian. Tetapi di hadapan Tuhan, ukuran yang utama adalah kebenaran hidup kita.

Kita harus bertanya:
Apakah kita hidup jujur?
Apakah kita mengambil keputusan yang benar?
Apakah kita menjadi teladan bagi keluarga kita?

Saudara-saudara,

Kebenaran tidak selalu mudah. Kadang kita harus menolak peluang yang menguntungkan tetapi tidak benar. Kadang kita harus berani berkata tidak, walaupun ada risiko. Kadang kita harus berdiri sendiri.

Tetapi ingatlah, lebih baik kita kehilangan sesuatu karena kebenaran, daripada mendapatkan segala sesuatu dengan cara yang salah.

Implikasinya sangat nyata:

Dalam keluarga, kita dipanggil menjadi teladan. Anak-anak melihat kita. Jika kita hidup benar, mereka akan belajar kebenaran. Jika kita berkompromi, mereka juga akan meniru.

Dalam pekerjaan, kita dipanggil untuk jujur. Jangan mencari jalan pintas. Jangan memanipulasi. Jangan mengorbankan kebenaran demi keuntungan.

Dalam pelayanan, kita dipanggil untuk tulus. Melayani bukan untuk dilihat orang, tetapi untuk Tuhan.

Saudara-saudara,

Mari kita mengambil komitmen hari ini:

Untuk hidup jujur dalam segala hal.
Untuk menolak setiap bentuk dusta.
Untuk setia pada firman Tuhan.
Untuk menjadi pria yang berintegritas.

Mulailah dari hal kecil:
Kejujuran dalam perkataan.
Kesetiaan dalam tanggung jawab.
Keteguhan dalam keputusan.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,

Dunia membutuhkan pria-pria yang teguh dalam kebenaran. Pria yang tidak mudah goyah. Pria yang dapat dipercaya. Pria yang menjadi terang bagi keluarganya.

Biarlah hidup kita menjadi kesaksian.
Biarlah keluarga kita merasakan berkat karena kita hidup benar.
Biarlah nama Tuhan dipermuliakan melalui hidup kita.

Akhirnya,

Mari kita berdiri teguh dalam kebenaran. Jangan kompromi. Jangan menyerah. Tetap setia.

Karena tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran, maka marilah kita hidup sepenuhnya dalam kebenaran itu—dengan iman, keberanian, dan kesetiaan sampai akhir.

Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#MTPJ #khotbah #GMIM #Renungan GMIM #Renungan