Pembacaan Alkitab: Kidung Agung 7:11-13
TEMA: MENJAGA KEINDAHAN YANG SUDAH TUHAN BERIKAN
"Di sanalah aku akan memberikan cintaku padamu." (Kid. 7:12d)
Saudara-saudari muda yang dikasihi Tuhan, Apa rasanya jatuh cinta? Pertanyaan ini mungkin membuat kita tersenyum. Ada yang langsung teringat seseorang, ada yang mengingat momen indah, ada juga yang mungkin sedang mengalaminya saat ini.
Jatuh cinta itu indah, manis, penuh warna. Bahkan sering kali kita kesulitan menjelaskannya dengan kata-kata. Ada rasa hangat, rindu, ingin memberi yang terbaik, dan ingin menjaga hubungan itu tetap hidup.
Kalau cinta manusia saja bisa sedalam itu, bagaimana dengan cinta Tuhan kepada kita? Cinta Tuhan bukan sekadar perasaan, tetapi tindakan nyata yang terus mengalir dalam hidup kita setiap hari. Cinta Tuhan tidak berubah, tidak bersyarat, dan tidak pernah habis.
Kitab Kidung Agung menggambarkan cinta dengan cara yang sangat indah. Dalam Kidung Agung 7:11-13, kita melihat dua kekasih yang bertemu dan menikmati kebersamaan mereka. Sang mempelai pria mengajak kekasihnya keluar: ke ladang, ke kebun anggur, melihat bunga-bunga yang bermekaran, mencium aroma alam yang segar, dan menikmati buah-buahan yang ranum.
Perhatikan ini: cinta di sini tidak hanya diungkapkan dengan kata-kata, tetapi juga melalui pengalaman bersama—melihat keindahan, menikmati ciptaan, dan berbagi sukacita. Alam menjadi tempat di mana cinta itu dirayakan.
Saudara-saudari, Ini bukan kebetulan. Alkitab menunjukkan bahwa alam bukan sekadar latar belakang kehidupan manusia. Alam adalah bagian dari kasih Allah yang diberikan kepada kita. Tuhan menciptakan dunia ini dengan indah, penuh warna, penuh kehidupan, agar kita bisa menikmatinya, merasakannya, dan hidup di dalamnya.
Langit yang biru, laut yang luas, gunung yang kokoh, hutan yang hijau, bunga yang bermekaran—semua itu adalah ekspresi kasih Tuhan kepada kita. Tuhan tidak hanya menciptakan manusia, tetapi juga menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan untuk hidup.
Tuhan menjaga hidup kita lewat alam. Udara yang kita hirup, air yang kita minum, makanan yang kita makan—semuanya berasal dari alam. Tanpa alam, kita tidak bisa hidup. Tanpa ciptaan Tuhan ini, kehidupan kita akan berhenti.
Namun, pertanyaannya sekarang adalah: Apakah kita sudah menjaga apa yang Tuhan percayakan kepada kita?
Sering kali kita menikmati alam tanpa memikirkannya lebih jauh. Kita menikmati makanan, tetapi tidak peduli bagaimana tanah dirusak. Kita menikmati udara, tetapi tidak peduli bagaimana polusi merusaknya. Kita menikmati keindahan alam, tetapi tidak peduli bagaimana sampah kita mencemarinya.
Saudara-saudari muda, Inilah tantangan kita hari ini. Kita hidup di zaman di mana kerusakan alam semakin nyata. Hutan ditebang, laut tercemar, udara kotor, dan perubahan iklim semakin terasa. Semua ini bukan terjadi begitu saja. Ini adalah hasil dari manusia yang lebih suka menikmati daripada menjaga.
Padahal, dalam Kidung Agung, kita melihat sesuatu yang berbeda. Alam bukan hanya dinikmati, tetapi dihargai. Alam menjadi tempat perjumpaan yang penuh kasih. Alam tidak dirusak, tetapi dijaga sebagai bagian dari pengalaman cinta itu sendiri. Ini mengajarkan kita bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman kita.
Saudara-saudari muda, Ketika Tuhan menciptakan manusia, Ia memberikan tanggung jawab: untuk mengusahakan dan memelihara bumi. Artinya, kita bukan pemilik alam, tetapi pengelola. Kita dipercayakan, bukan diberi hak untuk merusak.
Sebagai anak muda, kita punya peran besar dalam hal ini. Jangan berpikir bahwa menjaga alam adalah tugas orang tua atau pemerintah saja. Justru generasi mudalah yang akan menentukan masa depan bumi ini.
Menjaga keindahan yang Tuhan berikan berarti:
• Tidak membuang sampah sembarangan
• Mengurangi penggunaan plastik
• Menghemat air dan listrik
• Menanam pohon
• Peduli terhadap lingkungan sekitar
Mungkin terlihat sederhana, tetapi dari hal kecil itulah perubahan besar dimulai.
Saudara-saudari muda, Ayat 12 berkata, “Di sanalah aku akan memberikan cintaku padamu.” Di mana? Di tengah alam, di tengah keindahan ciptaan Tuhan. Ini menunjukkan bahwa cinta itu tidak terpisah dari ciptaan. Cinta itu dirayakan dalam hubungan dengan sesama dan dengan alam.
Jika kita benar-benar mengasihi Tuhan, kita juga harus mengasihi ciptaan-Nya. Tidak mungkin kita berkata kita mengasihi Tuhan, tetapi merusak apa yang Ia ciptakan. Kasih itu selalu menjaga. Kasih itu tidak merusak. Kasih itu memelihara.
Saudara-saudari muda, Kadang kita berpikir bahwa iman hanya tentang doa, ibadah, dan kegiatan gereja. Semua itu penting. Tetapi iman juga terlihat dari bagaimana kita hidup sehari-hari, termasuk bagaimana kita memperlakukan lingkungan.
Menjaga alam adalah tindakan iman. Itu adalah bentuk nyata dari kasih kita kepada Tuhan.
Bayangkan jika setiap orang percaya benar-benar hidup dengan kesadaran ini. Dunia akan menjadi tempat yang lebih baik. Lingkungan akan lebih bersih. Alam akan lebih terjaga. Dan yang paling penting, kasih Tuhan akan semakin nyata melalui hidup kita.
Saudara-saudari muda, Mari kita kembali kepada cinta Tuhan. Tuhan sudah lebih dulu mengasihi kita. Ia memberikan yang terbaik bagi kita, termasuk alam semesta ini. Sekarang, giliran kita untuk merespons kasih itu.
Jangan hanya menikmati, tetapi juga menjaga.
Jangan hanya menerima, tetapi juga merawat.
Jangan hanya menggunakan, tetapi juga melestarikan.
Karena ketika kita menjaga alam, kita sedang menjaga kehidupan.
Ketika kita menjaga ciptaan, kita sedang menghormati Sang Pencipta.
Saudara-saudari muda yang terkasih, Hari ini, Tuhan mengajak kita untuk melihat kembali hidup kita. Apakah kita sudah menjadi bagian dari solusi atau justru bagian dari masalah? Apakah kita sudah menjaga keindahan yang Tuhan berikan atau malah merusaknya?
Mari kita berubah. Mari kita mulai dari diri kita sendiri. Tidak perlu menunggu orang lain. Tidak perlu menunggu nanti. Mulailah sekarang.
Jadilah generasi yang peduli.
Jadilah generasi yang mencintai.
Jadilah generasi yang menjaga.
Karena bumi ini bukan hanya milik kita hari ini, tetapi juga milik generasi yang akan datang.
Akhirnya, ingatlah bahwa keindahan yang Tuhan berikan adalah bukti kasih-Nya. Dan kasih itu harus kita balas dengan menjaga, merawat, dan melestarikan apa yang telah Ia percayakan kepada kita.
Kiranya Tuhan menolong kita untuk hidup dalam kasih, bertumbuh dalam iman, dan setia menjaga keindahan ciptaan-Nya. Amin.
Doa : Tuhan yang penuh kasih, terima kasih atas keindahan alam yang Engkau percayakan kepada kami. Ampuni kelalaian kami dalam menjaganya. Mampukan kami menjadi generasi yang peduli, setia merawat ciptaan-Mu, dan hidup bertanggung jawab. Jadikan kami alat kasih-Mu bagi bumi ini. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Clavel Lukas