Perayaan Wajib St. Baranabas Rasul (Warna Liturgi Merah)
Bacaan I Kisah Para Rasul 11:21b-26;13:1-3
Ahab mengirim orang ke seluruh Israel dan mengumpulkan nabi-nabi itu ke gunung Karmel.
Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata: "Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia." Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah katapun.
Lalu Elia berkata kepada rakyat itu: "Hanya aku seorang diri yang tinggal sebagai nabi TUHAN, padahal nabi-nabi Baal itu ada empat ratus lima puluh orang banyaknya.
Namun, baiklah diberikan kepada kami dua ekor lembu jantan; biarlah mereka memilih seekor lembu, memotong-motongnya, menaruhnya ke atas kayu api, tetapi mereka tidak boleh menaruh api. Akupun akan mengolah lembu yang seekor lagi, meletakkannya ke atas kayu api dan juga tidak akan menaruh api.
Kemudian biarlah kamu memanggil nama allahmu dan akupun akan memanggil nama TUHAN. Maka allah yang menjawab dengan api, dialah Allah!" Seluruh rakyat menyahut, katanya: "Baiklah demikian!"
Kemudian Elia berkata kepada nabi-nabi Baal itu: "Pilihlah seekor lembu dan olahlah itu dahulu, karena kamu ini banyak. Sesudah itu panggillah nama allahmu, tetapi kamu tidak boleh menaruh api."
Mereka mengambil lembu yang diberikan kepada mereka, mengolahnya dan memanggil nama Baal dari pagi sampai tengah hari, katanya: "Ya Baal, jawablah kami!" Tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab. Sementara itu mereka berjingkat-jingkat di sekeliling mezbah yang dibuat mereka itu.
Pada waktu tengah hari Elia mulai mengejek mereka, katanya: "Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga."
Maka mereka memanggil lebih keras serta menoreh-noreh dirinya dengan pedang dan tombak, seperti kebiasaan mereka, sehingga darah bercucuran dari tubuh mereka.
Sesudah lewat tengah hari, mereka kerasukan sampai waktu mempersembahkan korban petang, tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab, tidak ada tanda perhatian.
Kata Elia kepada seluruh rakyat itu: "Datanglah dekat kepadaku!" Maka mendekatlah seluruh rakyat itu kepadanya. Lalu ia memperbaiki mezbah TUHAN yang telah diruntuhkan itu.
Kemudian Elia mengambil dua belas batu, menurut jumlah suku keturunan Yakub. ?Kepada Yakub ini telah datang firman TUHAN: "Engkau akan bernama Israel." ?
Ia mendirikan batu-batu itu menjadi mezbah demi nama TUHAN dan membuat suatu parit sekeliling mezbah itu yang dapat memuat dua sukat benih.
Ia menyusun kayu api, memotong lembu itu dan menaruh potongan-potongannya di atas kayu api itu.
Sesudah itu ia berkata: "Penuhilah empat buyung dengan air, dan tuangkan ke atas korban bakaran dan ke atas kayu api itu!" Kemudian katanya: "Buatlah begitu untuk kedua kalinya!" Dan mereka berbuat begitu untuk kedua kalinya. Kemudian katanya: "Buatlah begitu untuk ketiga kalinya!" Dan mereka berbuat begitu untuk ketiga kalinya,
sehingga air mengalir sekeliling mezbah itu; bahkan parit itupun penuh dengan air.
Kemudian pada waktu mempersembahkan korban petang, tampillah nabi Elia dan berkata: "Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini.
Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali."
Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya.
Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata: "TUHAN, Dialah Allah! TUHAN, Dialah Allah!"
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
Mazmur 16:1-2a.4.5.8.11
Miktam. Dari Daud. Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.
Aku berkata kepada TUHAN: "Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!"
Bertambah besar kesedihan orang-orang yang mengikuti allah lain; aku tidak akan ikut mempersembahkan korban curahan mereka yang dari darah, juga tidak akan menyebut-nyebut nama mereka di bibirku.
Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.
Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.
Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.
Bacaan Injil Matius 5:17-19
"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus
Renungan
Salve Sahabat Muda Katolik! Menjadi orang muda di zaman sekarang tidaklah mudah. Setiap hari kita dihadapkan pada begitu banyak pilihan. Pilihan tentang pergaulan, gaya hidup, hiburan, cita-cita, bahkan nilai-nilai yang ingin kita pegang.
Media sosial, tren, dan lingkungan sering kali menawarkan banyak hal yang terlihat menarik. Namun di tengah semua itu, ada satu pertanyaan penting: siapa yang sebenarnya menjadi pusat hidup kita?
Dalam bacaan pertama, bangsa Israel mengalami kebingungan hati. Mereka mengenal Tuhan, tetapi pada saat yang sama mereka juga tergoda untuk mengikuti hal-hal lain yang dianggap bisa memberi keamanan, kesenangan, dan keuntungan.
Akibatnya, hati mereka menjadi bercabang. Mereka tidak sepenuhnya meninggalkan Tuhan, tetapi juga tidak sungguh-sungguh mengikuti-Nya.
Kondisi seperti ini ternyata masih sangat relevan bagi kaum muda saat ini. Kita mungkin masih berdoa dan pergi ke gereja, tetapi perhatian kita bisa lebih banyak tersita oleh pencarian popularitas, pengakuan, jumlah pengikut, atau keinginan untuk diterima oleh lingkungan.
Tanpa disadari, hal-hal tersebut bisa mengambil tempat yang seharusnya hanya dimiliki Tuhan dalam hidup kita.
Elia tampil seorang diri melawan ratusan nabi palsu. Secara manusiawi, ia tampak kalah jumlah dan tidak memiliki peluang besar. Namun ia percaya bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh banyaknya pendukung, melainkan oleh kesetiaan kepada Tuhan.
Keberanian Elia mengajarkan bahwa menjadi pengikut Tuhan kadang berarti berani berbeda dari kebanyakan orang. Sebagai orang muda Katolik, mungkin ada saatnya kita diejek karena memilih jujur ketika orang lain memilih menyontek.
Mungkin kita dianggap aneh karena menjaga kesucian dalam pacaran. Bisa juga kita merasa sendirian ketika berusaha mempertahankan nilai-nilai iman di tengah lingkungan yang tidak mendukung. Namun kisah Elia mengingatkan bahwa Tuhan selalu bekerja melalui mereka yang tetap setia.
Dalam Injil, Yesus menunjukkan bahwa hidup beriman bukan hanya soal penampilan luar atau simbol-simbol keagamaan. Iman yang sejati harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Mengikuti Tuhan berarti berusaha menjalankan kehendak-Nya dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dalam hal-hal kecil yang sering dianggap tidak penting.
Sering kali kita ingin melakukan hal-hal besar untuk Tuhan, tetapi lupa memulai dari yang sederhana: menghormati orang tua, mengendalikan emosi, tidak menyebarkan gosip, membantu teman yang kesulitan, dan menjaga integritas dalam belajar maupun bekerja.
Justru melalui kesetiaan pada hal-hal kecil itulah karakter Kristiani dibentuk.
Hari ini Tuhan mengundang kita untuk memeriksa hati. Apakah hati kita masih terbagi antara Tuhan dan berbagai "berhala" modern yang menawarkan kebahagiaan semu?. Apakah kita berani tetap setia kepada nilai-nilai Injil meskipun tidak populer?.
Orang muda yang kuat bukanlah mereka yang selalu mengikuti arus, melainkan mereka yang tahu ke mana harus melangkah. Ketika Tuhan menjadi pusat hidup, kita tidak akan mudah goyah oleh tren yang datang dan pergi.
Kita akan memiliki arah yang jelas, hati yang teguh, dan keberanian untuk menjadi terang bagi dunia.(*)
Editor : Fandy Gerungan