Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Minggu 14 Juni 2026, Hari Minggu Biasa Ke XI

Fandy Gerungan • Kamis, 11 Juni 2026 | 10:29 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Hari Minggu Biasa ke XI (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Keluaran 19:2-6a

Setelah mereka berangkat dari Rafidim, tibalah mereka di padang gurun Sinai, lalu mereka berkemah di padang gurun; orang Israel berkemah di sana di depan gunung itu.

Lalu naiklah Musa menghadap Allah, dan TUHAN berseru dari gunung itu kepadanya: "Beginilah kaukatakan kepada keturunan Yakub dan kauberitakan kepada orang Israel:

Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku.

Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi.

Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel."

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 100:2,3,5

Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!

Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.

Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.

Bacaan II Roma 5:6-11

Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah.

Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar?tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati?.

Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.

Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!

Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Bacaan Injil Matius 9:36-10:8

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.

Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.

Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.

Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya,

Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus,

Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.

Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria,

melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.

Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.

Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i pernahkah kita merasa tidak berharga?. Merasa bahwa keberadaan kita tidak terlalu penting di tengah begitu banyak orang di dunia ini?. Kadang-kadang hidup membuat kita berpikir bahwa kita hanyalah satu orang biasa yang tidak memiliki pengaruh apa-apa.

Namun, bacaan hari ini mengingatkan kita tentang sesuatu yang sangat indah: di mata Tuhan, tidak ada seorang pun yang biasa-biasa saja.

Dalam perjalanan bangsa Israel di padang gurun, Tuhan menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar kumpulan orang yang berhasil lolos dari perbudakan. Mereka adalah umat yang dipilih dan dicintai. 

Pilihan Tuhan itu bukan karena mereka paling kuat, paling kaya, atau paling sempurna. Tuhan memilih mereka karena kasih-Nya. Ia ingin mereka hidup dekat dengan-Nya dan menjadi tanda kehadiran-Nya bagi bangsa-bangsa lain.

Hal yang sama berlaku bagi kita. Sering kali kita berpikir bahwa Tuhan hanya memakai orang-orang hebat: mereka yang pintar berbicara, memiliki banyak talenta, atau dikenal banyak orang. 

Padahal Tuhan memanggil setiap orang, termasuk kita dengan segala keterbatasan yang kita miliki. Kita dipanggil untuk menjadi saksi kasih-Nya di keluarga, lingkungan kerja, sekolah, kampus, dan masyarakat.

Kasih Tuhan itu mencapai puncaknya dalam diri Yesus Kristus. Bacaan kedua menunjukkan betapa besar cinta Allah kepada manusia. Kasih itu tidak menunggu kita menjadi sempurna terlebih dahulu. 

Justru ketika manusia sedang jauh dari-Nya, Tuhan mengambil langkah pertama untuk mendekatkan diri kembali kepada kita. Ini menunjukkan bahwa kasih Allah bukanlah hadiah atas kebaikan manusia, melainkan anugerah yang diberikan dengan cuma-cuma.

Menyadari besarnya kasih Tuhan seharusnya mengubah cara kita memandang diri sendiri dan orang lain. Jika Tuhan begitu mengasihi kita yang penuh kelemahan, bagaimana mungkin kita menolak mengasihi sesama yang juga memiliki kekurangan?. 

Jika Tuhan tidak menyerah terhadap kita, mengapa kita begitu mudah menyerah terhadap orang lain?.

Dalam Injil, Yesus melihat banyak orang yang sedang mengalami kelelahan, kebingungan, dan kehilangan arah hidup. Pemandangan itu tidak membuat-Nya marah atau menghakimi. Sebaliknya, hati-Nya tergerak oleh belas kasih. 

Dari belas kasih itulah lahir perutusan. Para murid dipanggil bukan untuk mencari kehormatan, tetapi untuk menghadirkan kasih Tuhan bagi mereka yang membutuhkan.

Menariknya, Yesus tidak memilih orang-orang yang sempurna. Di antara para murid ada nelayan, pemungut cukai, dan orang-orang sederhana dengan latar belakang yang berbeda-beda. 

Namun mereka dipakai Tuhan untuk melakukan karya yang luar biasa. Ini menjadi kabar baik bagi kita. Tuhan tidak menunggu kita sempurna untuk diutus. Ia memanggil kita apa adanya, lalu membentuk kita sepanjang perjalanan.

Dunia saat ini masih dipenuhi banyak orang yang lelah. Ada yang lelah karena masalah keluarga, tekanan ekonomi, kegagalan, kesepian, atau kehilangan harapan. 

Mereka mungkin berada sangat dekat dengan kita. Karena itu, setiap orang beriman dipanggil menjadi pembawa penghiburan, pembawa harapan, dan pembawa kasih Tuhan.

Hari ini, marilah kita mengingat bahwa kita adalah pribadi yang dicintai, dipilih, dan diutus. Jangan pernah meragukan nilai diri kita di hadapan Tuhan. Kasih yang telah kita terima bukan untuk disimpan sendiri, melainkan untuk dibagikan kepada orang lain. 

Ketika kita menjadi saluran kasih Tuhan, dunia akan merasakan bahwa Tuhan masih bekerja dan hadir di tengah kehidupan manusia.

Semoga kita memiliki hati yang penuh belas kasih seperti Yesus, berani melayani seperti para rasul, dan setia hidup sebagai umat yang telah dipilih dan dikasihi Tuhan. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan