Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Senin 15 Juni 2026, Bacaan I 1 Raja-Raja 21:1-16, Bacaan Injil Matius 5:38-42

Fandy Gerungan • Kamis, 11 Juni 2026 | 15:03 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa ke XI (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 1 Raja-Raja 21:1-16

Sesudah itu terjadilah hal yang berikut. Nabot, orang Yizreel, mempunyai kebun anggur di Yizreel, di samping istana Ahab, raja Samaria.

Berkatalah Ahab kepada Nabot: "Berikanlah kepadaku kebun anggurmu itu, supaya kujadikan kebun sayur, sebab letaknya dekat rumahku. Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur yang lebih baik dari pada itu sebagai gantinya, atau jikalau engkau lebih suka, aku akan membayar harganya kepadamu dengan uang."

Jawab Nabot kepada Ahab: "Kiranya TUHAN menghindarkan aku dari pada memberikan milik pusaka nenek moyangku kepadamu!"

Lalu masuklah Ahab ke dalam istananya dengan kesal hati dan gusar karena perkataan yang dikatakan Nabot, orang Yizreel itu, kepadanya: "Tidak akan kuberikan kepadamu milik pusaka nenek moyangku." Maka berbaringlah ia di tempat tidurnya dan menelungkupkan mukanya dan tidak mau makan.

Lalu datanglah Izebel, isterinya, dan berkata kepadanya: "Apa sebabnya hatimu kesal, sehingga engkau tidak makan?"

Lalu jawabnya kepadanya: "Sebab aku telah berkata kepada Nabot, orang Yizreel itu: Berikanlah kepadaku kebun anggurmu dengan bayaran uang atau jika engkau lebih suka, aku akan memberikan kebun anggur kepadamu sebagai gantinya. Tetapi sahutnya: Tidak akan kuberikan kepadamu kebun anggurku itu."

Kata Izebel, isterinya, kepadanya: "Bukankah engkau sekarang yang memegang kuasa raja atas Israel? Bangunlah, makanlah dan biarlah hatimu gembira! Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu."

Kemudian ia menulis surat atas nama Ahab, memeteraikannya dengan meterai raja, lalu mengirim surat itu kepada tua-tua dan pemuka-pemuka yang diam sekota dengan Nabot.

Dalam surat itu ditulisnya demikian: "Maklumkanlah puasa dan suruhlah Nabot duduk paling depan di antara rakyat.

Suruh jugalah dua orang dursila duduk menghadapinya, dan mereka harus naik saksi terhadap dia, dengan mengatakan: Engkau telah mengutuk Allah dan raja. Sesudah itu bawalah dia ke luar dan lemparilah dia dengan batu sampai mati."

Orang-orang sekotanya, yakni tua-tua dan pemuka-pemuka, yang diam di kotanya itu, melakukan seperti yang diperintahkan Izebel kepada mereka, seperti yang tertulis dalam surat yang dikirimkannya kepada mereka.

Mereka memaklumkan puasa dan menyuruh Nabot duduk paling depan di antara rakyat.

Kemudian datanglah dua orang, yakni orang-orang dursila itu, lalu duduk menghadapi Nabot. Orang-orang dursila itu naik saksi terhadap Nabot di depan rakyat, katanya: "Nabot telah mengutuk Allah dan raja." Sesudah itu mereka membawa dia ke luar kota, lalu melempari dia dengan batu sampai mati.

Setelah itu mereka menyuruh orang kepada Izebel mengatakan: "Nabot sudah dilempari sampai mati."

Segera sesudah Izebel mendengar, bahwa Nabot sudah dilempari sampai mati, berkatalah Izebel kepada Ahab: "Bangunlah, ambillah kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, menjadi milikmu, karena Nabot yang menolak memberikannya kepadamu dengan bayaran uang, sudah tidak hidup lagi; ia sudah mati."

Segera sesudah Ahab mendengar, bahwa Nabot sudah mati, ia bangun dan pergi ke kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 5:2-3.5-6.7

Perhatikanlah teriakku minta tolong, ya Rajaku dan Allahku, sebab kepada-Mulah aku berdoa.

TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu.

Pembual tidak akan tahan di depan mata-Mu; Engkau membenci semua orang yang melakukan kejahatan.

Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong, TUHAN jijik melihat penumpah darah dan penipu.

Tetapi aku, berkat kasih setia-Mu yang besar, aku akan masuk ke dalam rumah-Mu, sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus dengan takut akan Engkau.

Bacaan Injil Matius 5:38-42

Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.

Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.

Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i dalam hidup, tidak semua yang kita inginkan harus menjadi milik kita. Namun sering kali, justru di situlah letak pergumulan terbesar manusia. Kita melihat sesuatu yang dimiliki orang lain, lalu muncul rasa ingin memiliki. 

Awalnya hanya sekadar keinginan, tetapi jika tidak dikendalikan, keinginan itu bisa berubah menjadi keserakahan yang menutupi akal sehat dan hati nurani.

Kisah hari ini memperlihatkan bagaimana sebuah keinginan yang tidak terpenuhi dapat membawa pada ketidakadilan yang mengerikan. Sebuah kebun anggur yang diwariskan turun-temurun menjadi sasaran karena letaknya strategis. 

Ketika pemiliknya menolak menjualnya, penolakan itu tidak diterima dengan lapang dada. Kekecewaan berkembang menjadi kemarahan, lalu kemarahan membuka jalan bagi tipu daya, fitnah, dan akhirnya kematian orang yang tidak bersalah.

Yang menarik, kejahatan besar itu tidak dimulai dari tindakan brutal. Semuanya berawal dari hati yang tidak mampu menerima kata "tidak". Sebuah keinginan yang tidak dikendalikan akhirnya menyeret banyak orang ke dalam dosa. 

Betapa sering hal yang sama terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Konflik keluarga, persahabatan yang retak, persaingan di tempat kerja, bahkan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan sering berakar pada keinginan yang tidak mau dibatasi.

Sebaliknya, dalam Injil, Yesus mengajak para murid untuk menempuh jalan yang sama sekali berbeda. Dunia mengajarkan balas dendam dan pembalasan setimpal. Jika disakiti, balas menyakiti. 

Jika dirugikan, balas merugikan. Namun Yesus menunjukkan jalan kasih yang melampaui logika dunia. Bukan karena kelemahan, melainkan karena hati yang bebas dari kebencian dan keinginan untuk membalas.

Mengampuni bukan berarti membenarkan kejahatan. Bersikap murah hati bukan berarti membiarkan ketidakadilan. Tetapi Yesus menghendaki agar kejahatan tidak menguasai hati kita. 

Ketika kita membalas kebencian dengan kebencian, kita sedang membiarkan kejahatan berkembang dua kali lipat. Namun ketika kita memilih kasih, kesabaran, dan kemurahan hati, kita memutus rantai kejahatan itu.

Renungan hari ini mengajak kita untuk memeriksa hati. Apakah ada keinginan yang mulai menguasai hidup kita?. Apakah ada iri hati terhadap keberhasilan orang lain?. 

Apakah ada luka yang membuat kita ingin membalas?. Tuhan mengundang kita untuk melepaskan semua itu dan belajar memiliki hati yang lebih besar daripada ego kita sendiri.

Sebab kebahagiaan sejati tidak lahir dari memiliki semua yang kita inginkan, melainkan dari kemampuan untuk mensyukuri apa yang telah Tuhan percayakan kepada kita. 

Dan kekuatan sejati bukan terletak pada kemampuan membalas, melainkan pada keberanian untuk tetap mengasihi ketika dunia mengajarkan sebaliknya.(*)

 

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan