Bacaan: Kejadian 9:1–17
Tema: “Inilah Tanda Perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan Segala Makhluk yang Ada di Bumi”
Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi dan diberkati Tuhan,
Kita hidup dari ciptaan Tuhan. Udara yang kita hirup, air yang kita minum, tanah tempat kita menanam, laut tempat nelayan mencari ikan, pohon yang memberi keteduhan, serta berbagai makhluk hidup yang menopang keseimbangan alam adalah pemberian Tuhan.
Namun manusia sering memperlakukan ciptaan hanya sebagai barang yang dapat diambil sebanyak-banyaknya. Hutan ditebang tanpa dipulihkan, sungai dipakai sekaligus dicemari, tanah digali tanpa memikirkan akibatnya, dan laut dijadikan tempat pembuangan. Manusia menikmati berkat ciptaan, tetapi sering melupakan tanggung jawab untuk memeliharanya.
Bacaan Kejadian 9:1–17 membawa kita kepada dunia setelah air bah. Dunia sebelumnya telah dipenuhi kejahatan dan kekerasan. Allah menyatakan penghakiman, tetapi pada saat yang sama Ia menyelamatkan Nuh, keluarganya, serta berbagai makhluk hidup di dalam bahtera. Sesudah air bah surut, Tuhan tidak membiarkan Nuh dan keluarganya hidup tanpa harapan. Tuhan memberkati mereka, memberi aturan untuk menghargai kehidupan, lalu mengadakan perjanjian bukan hanya dengan Nuh, tetapi juga dengan keturunannya, semua makhluk hidup, dan bumi.
Tema kita berkata, “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi.” Tema ini menyatakan bahwa perhatian Allah tidak hanya tertuju pada manusia. Burung, ternak, binatang liar, dan seluruh bumi disebut dalam perjanjian-Nya. Allah adalah Tuhan seluruh ciptaan. Karena itu, P/KB yang mengaku percaya kepada Allah Pencipta tidak boleh hidup sebagai perusak ciptaan. Kita dipanggil menjadi laki-laki perjanjian: setia kepada Tuhan, melindungi keluarga, menghormati kehidupan, dan merawat bumi.
Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi dan diberkati Tuhan,
Kitab Kejadian adalah kitab pertama dalam Alkitab dan bagian pertama dari Pentateukh, yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Tradisi Yahudi dan Kristen sejak lama menghubungkan Pentateukh dengan Musa, sementara kajian Alkitab modern melihat bahwa bentuk akhir kitab-kitab tersebut lahir melalui proses penerusan, pengumpulan, dan penyusunan tradisi yang panjang. Pengakuan tentang proses penulisan tersebut tidak mengurangi nilai Kitab Kejadian sebagai firman yang dipakai Allah untuk memperkenalkan siapa Dia, siapa manusia, dan bagaimana dunia harus dipahami di hadapan-Nya.
Secara garis besar, Kitab Kejadian dapat dibagi menjadi dua bagian. Kejadian 1–11 berbicara tentang sejarah permulaan: penciptaan, kejatuhan manusia, Kain dan Habel, perkembangan dosa dan kekerasan, air bah, serta menara Babel. Kejadian 12–50 berbicara tentang para leluhur Israel, yaitu Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf. Susunan ini menunjukkan bahwa pemanggilan Abraham dan lahirnya umat perjanjian harus dilihat dalam rencana Allah yang lebih luas bagi seluruh manusia dan ciptaan.
Kisah Nuh dimulai dalam Kejadian 6. Keadaan bumi waktu itu digambarkan rusak di hadapan Allah dan penuh kekerasan. Dosa manusia telah mencemari bukan hanya kehidupan pribadi, tetapi hubungan manusia dengan sesama serta dengan bumi. Kekerasan menjadi kebiasaan, kejahatan memenuhi pikiran manusia, dan ciptaan turut mengalami kerusakan akibat dosa.
Air bah menjadi peristiwa penghakiman Allah atas dunia yang rusak tersebut. Namun penghakiman bukan satu-satunya berita dalam kisah ini. Allah juga menyatakan anugerah. Ia menyelamatkan Nuh, keluarganya, serta makhluk-makhluk hidup di dalam bahtera. Ketika mereka keluar, Allah memberikan permulaan baru.
Kejadian 9 memiliki kemiripan dengan Kejadian 1. Allah kembali memberkati manusia, memerintahkan mereka beranak cucu, dan membicarakan hubungan manusia dengan makhluk hidup. Karena itu, bagian ini dapat dipahami sebagai suatu bentuk penciptaan kembali. Dunia setelah air bah diberi kesempatan baru, walaupun dunia tersebut belum kembali sepenuhnya seperti taman Eden. Dosa masih ada, hubungan antara manusia dan makhluk lain telah mengalami ketegangan, dan kekerasan masih dapat terulang. Itulah sebabnya Tuhan memberi perintah, batas, dan perjanjian.
Pembahasan Ayat demi Ayat
Ayat 1:
“Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta berfirman kepada mereka: ‘Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi.’”
Sesudah air bah, kata pertama yang dinyatakan Allah kepada Nuh dan keluarganya adalah berkat. Dunia telah mengalami kehancuran, tetapi Allah tidak memulai kehidupan yang baru dengan kutuk atau keputusasaan. Ia memberkati mereka. Berkat tersebut menunjukkan bahwa Allah masih menghendaki kehidupan, pertumbuhan, keluarga, dan masa depan.
Perintah beranak cucu menggemakan mandat dalam Kejadian 1. Tuhan memberikan kesempatan baru kepada umat manusia. Namun kesempatan baru itu tidak boleh dipakai untuk mengulangi jalan lama. Dunia sebelum air bah rusak karena kekerasan. Karena itu, kehidupan setelah air bah harus dibangun dengan penghormatan kepada Tuhan dan kehidupan.
Bagi P/KB, ayat ini mengajarkan bahwa Tuhan dapat memberikan awal yang baru. Seorang suami yang pernah gagal mengasihi istrinya dapat belajar berubah. Seorang ayah yang pernah jauh dari anak-anaknya dapat membangun kembali hubungan. Seorang pria yang pernah hidup dalam kebiasaan buruk dapat bertobat. Seorang pelayan yang pernah kecewa dapat dipulihkan.
Namun awal baru bukan hanya soal menerima kesempatan, melainkan menjalani hidup secara berbeda. Jangan meminta Tuhan memulihkan keluarga jika kita tidak mau mengubah sikap. Jangan meminta masa depan yang baru jika kita terus mempertahankan kebiasaan lama. Anugerah harus dijawab dengan pertobatan.
Perintah beranak cucu juga berarti P/KB bertanggung jawab kepada generasi berikutnya. Kita tidak cukup hanya meninggalkan rumah, tanah, uang, atau kebun kepada anak-anak. Kita harus meninggalkan iman, teladan, karakter, serta bumi yang masih layak mereka hidupi.
Ayat 2:
Tuhan berkata bahwa takut dan gentar terhadap manusia akan ada pada binatang di bumi, burung di udara, segala yang bergerak di tanah, dan ikan di laut. Semuanya diserahkan ke dalam tangan manusia.
Ayat ini menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan hewan setelah air bah telah berubah. Ada rasa takut dan ketegangan. Manusia masih memiliki kuasa atas ciptaan, tetapi kuasa tersebut dijalankan dalam dunia yang telah terluka oleh dosa.
“Diserahkan ke dalam tanganmu” tidak berarti manusia boleh melakukan apa saja. Kuasa yang diberikan Allah selalu harus digunakan sesuai kehendak Pemberinya. Jika Tuhan memelihara ciptaan, manusia yang menjadi wakil-Nya juga harus memelihara. Jika Tuhan memberi ruang hidup kepada makhluk, manusia tidak boleh memusnahkannya hanya karena keuntungan.
Bagi kaum bapak, kuasa adalah ujian. Seorang suami mempunyai pengaruh di rumah, tetapi pengaruh tersebut tidak boleh dipakai untuk menindas istri. Seorang ayah memiliki kewibawaan, tetapi kewibawaan tidak berarti boleh mempermalukan anak. Seorang pemimpin memiliki wewenang, tetapi wewenang bukan izin untuk bertindak semaunya.
Demikian juga dengan alam. Kemampuan menebang pohon tidak berarti semua pohon boleh ditebang. Kemampuan menggali tanah tidak berarti tanah boleh dihancurkan tanpa pemulihan. Kemampuan mengambil ikan tidak berarti laut boleh dirusak. Kuasa harus berjalan bersama tanggung jawab.
Ayat 3:
“Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau.”
Tuhan mengizinkan manusia menerima hewan sebagai makanan. Ini merupakan bagian dari pemeliharaan Allah terhadap kehidupan manusia. Namun perhatikan kata, “Aku telah memberikan.” Makanan adalah pemberian Tuhan. Manusia bukan pemilik mutlak, tetapi penerima anugerah.
Cara kita menerima pemberian menunjukkan keadaan hati kita. Orang yang menerima dengan syukur akan memakai secukupnya, tidak membuang-buang, dan menjaga sumbernya. Orang yang rakus mengambil sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan akibat.
Seorang P/KB harus mengajar keluarganya menghormati makanan. Jangan membeli berlebihan hanya untuk dibuang. Jangan menganggap remeh kerja petani, nelayan, pedagang, dan orang-orang yang memungkinkan makanan tersedia. Doa makan bukan sekadar kebiasaan, tetapi pengakuan bahwa Tuhan memelihara hidup melalui ciptaan dan kerja banyak orang.
Ayat ini juga membedakan penggunaan dan eksploitasi. Manusia boleh menggunakan hasil alam untuk hidup, tetapi tidak boleh mengeksploitasi tanpa batas. Menggunakan adalah mengambil dengan tanggung jawab. Mengeksploitasi adalah mengambil dengan keserakahan.
Ayat 4:
“Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, janganlah kamu makan.”
Dalam Alkitab, darah berhubungan erat dengan nyawa. Larangan ini mengingatkan bahwa hidup adalah milik Allah. Manusia boleh menerima makanan, tetapi tidak boleh melupakan kesucian kehidupan.
Tuhan memberi kebebasan, tetapi juga memberi batas. Kebebasan manusia bukan kebebasan mutlak. Manusia tidak boleh berkata, “Ini tubuh saya, tanah saya, uang saya, jadi saya boleh melakukan apa saja.” Segala sesuatu tetap berada di bawah Tuhan.
Bagi P/KB, menghormati kehidupan dimulai dari rumah. Jangan menggunakan kata-kata yang membunuh semangat istri. Jangan merendahkan anak. Jangan menjadikan kekerasan sebagai cara mendidik. Jangan membuat anggota keluarga hidup dalam ketakutan.
Menghormati kehidupan juga berarti memperlakukan hewan dan alam secara bertanggung jawab. Hewan tidak boleh disiksa untuk hiburan. Alam tidak boleh dihancurkan demi kesenangan sesaat. Seluruh kehidupan berasal dari Tuhan.
Ayat 5:
Tuhan berkata bahwa Ia akan menuntut pertanggungjawaban atas darah manusia, baik dari binatang maupun dari sesama manusia.
Ayat ini menegaskan bahwa Allah tidak bersikap netral terhadap kekerasan. Dunia sebelum air bah dipenuhi kekerasan. Sesudah air bah, Tuhan menyatakan dengan tegas bahwa darah manusia tidak boleh ditumpahkan tanpa pertanggungjawaban.
Ini sangat penting bagi P/KB. Sebagian orang masih menganggap bahwa seorang suami berhak berlaku keras kepada istri atau bahwa seorang ayah boleh memukul anak tanpa batas karena ia kepala keluarga. Firman Tuhan menolak pemahaman tersebut. Kepemimpinan bukan izin melakukan kekerasan. Tuhan menuntut pertanggungjawaban atas kehidupan.
Kekerasan bukan hanya pukulan. Kata-kata kasar, penghinaan, ancaman, kontrol berlebihan, pengabaian, dan tindakan yang menghancurkan harga diri juga dapat menjadi bentuk kekerasan. P/KB dipanggil menjadi pelindung, bukan sumber ketakutan di dalam rumah.
Gereja pun harus menjadi tempat aman bagi korban. Jangan menutupi kekerasan demi nama baik keluarga atau jemaat. Kasih Kristen harus berjalan bersama kebenaran, pertobatan, perlindungan terhadap korban, dan tanggung jawab pelaku.
Ayat 6:
“Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.”
Dasar nilai manusia adalah gambar Allah. Manusia tidak berharga karena kaya, berpendidikan, sehat, kuat, atau berpengaruh. Manusia berharga karena diciptakan menurut gambar Allah.
Ayat ini tidak memberi izin kepada individu untuk membalas dendam. Pesan utamanya adalah keseriusan pembunuhan dan kebutuhan akan keadilan. Kehidupan manusia harus dilindungi, dan kekerasan tidak boleh dibiarkan tanpa pertanggungjawaban.
Bagi P/KB, penghormatan terhadap gambar Allah harus terlihat dalam cara memperlakukan istri, anak, orang tua, pekerja, tetangga, dan orang yang berbeda. Jangan merendahkan seseorang karena miskin, tidak berpendidikan, berbeda suku, memiliki keterbatasan, atau pernah gagal.
Istri adalah gambar Allah, bukan pelayan pribadi suaminya. Anak adalah gambar Allah, bukan tempat melampiaskan amarah orang tua. Orang tua yang sudah lanjut usia adalah gambar Allah, bukan beban yang boleh diabaikan. Kaum marginal pun memiliki martabat di hadapan Tuhan.
Seorang laki-laki Kristen menunjukkan kekuatannya bukan dengan membuat orang lain takut, tetapi dengan melindungi martabat mereka.
Ayat 7:
Tuhan kembali memerintahkan Nuh dan keluarganya untuk beranak cucu, bertambah banyak, dan memenuhi bumi.
Pengulangan ini menegaskan bahwa Tuhan berpihak kepada kehidupan. Nuh dan keluarganya tidak boleh terus tinggal dalam trauma air bah. Mereka harus membangun masa depan.
Namun meneruskan kehidupan bukan hanya menghasilkan keturunan. Orang tua harus membentuk generasi yang tidak mengulangi kekerasan dan keserakahan dunia sebelum air bah. Anak-anak perlu dididik menghormati manusia, mencintai ciptaan, bekerja dengan jujur, dan takut akan Tuhan.
P/KB harus bertanya: warisan apa yang kita tinggalkan? Apakah anak-anak hanya mewarisi tanah dan uang, tetapi tidak iman? Apakah mereka belajar menjaga kebun, air, dan lingkungan dari teladan kita? Apakah mereka melihat ayahnya sebagai seorang yang jujur dan bertanggung jawab?
Pertumbuhan GMIM juga tidak cukup hanya dihitung dari jumlah anggota. Gereja harus bertumbuh dalam kedewasaan iman, keadilan, kepedulian, serta tanggung jawab kepada lingkungan.
Ayat 8:
Allah berfirman kepada Nuh dan anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia.
Tuhan berbicara kepada keluarga. Apa yang Tuhan nyatakan kepada Nuh harus diketahui dan diteruskan kepada anak-anaknya. Perjanjian memiliki dimensi antargenerasi.
Ini adalah panggilan penting bagi P/KB. Pendidikan iman tidak boleh diserahkan hanya kepada sekolah minggu, guru agama, atau pendeta. Ayah dan opa memiliki tanggung jawab mengajar anak dan cucu mengenal Tuhan.
Ajarkan anak bahwa pelangi adalah tanda kesetiaan Allah. Ajarkan bahwa bumi bukan milik manusia untuk dirusak. Ajarkan membuang sampah pada tempatnya, menghemat air, menjaga kebun, menghormati hewan, dan menolong korban bencana.
Pendidikan iman akan kuat jika disertai teladan. Anak sulit belajar menjaga lingkungan jika melihat ayahnya membuang sampah sembarangan. Anak sulit belajar menghormati hidup jika di rumah ia terus mendengar kata-kata kasar. Ayah harus menjadi pelajaran yang hidup.
Ayat 9:
“Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu.”
Allah yang memulai perjanjian. Ia berkata, “Aku mengadakan.” Nuh tidak menuntut Tuhan memberi tanda. Allah sendiri datang dengan janji-Nya.
Inilah anugerah. Dunia tetap ada bukan karena manusia layak, tetapi karena Allah setia. Kita masih diberi kesempatan hidup, bekerja, bertobat, dan melayani karena kemurahan Tuhan.
Namun anugerah tidak boleh disalahgunakan. Seorang yang berkata, “Tuhan pasti mengampuni,” tetapi terus mempertahankan dosa, belum memahami anugerah. Anugerah yang benar melahirkan rasa syukur dan perubahan hidup.
P/KB dipanggil menanggapi kesetiaan Tuhan dengan kesetiaan: setia kepada istri, setia mendidik anak, setia bekerja dengan jujur, setia melayani, dan setia merawat ciptaan.
Ayat 10:
Allah menegaskan bahwa perjanjian-Nya mencakup burung, ternak, binatang liar, dan segala makhluk hidup yang keluar dari bahtera.
Bagian ini menunjukkan bahwa Allah tidak hanya peduli terhadap manusia. Makhluk lain juga berada dalam perhatian-Nya. Tuhan memiliki hubungan dengan seluruh ciptaan. Perjanjian ini tidak pernah disebut hanya sebagai perjanjian dengan Nuh; berulang kali Tuhan menyebut “segala makhluk hidup” dan “bumi.”
Karena itu, orang percaya tidak boleh memahami keselamatan secara sempit. Hubungan yang benar dengan Allah harus menghasilkan hubungan yang lebih benar dengan ciptaan.
Menjaga lingkungan bukan menyembah alam. Kita menyembah Allah, tetapi menghormati alam sebagai karya-Nya. Merusak karya Sang Pencipta sambil mengaku mengasihi-Nya adalah pertentangan dalam iman.
Bagi P/KB yang bekerja sebagai petani, nelayan, pengusaha, pekerja tambang, pejabat, atau pemimpin masyarakat, ayat ini memanggil kita menggunakan pekerjaan secara bertanggung jawab. Jangan memakai racun atau cara merusak untuk mengambil hasil laut. Jangan membakar lahan sembarangan. Jangan mendukung kegiatan yang meninggalkan kerusakan bagi masyarakat dan generasi berikutnya.
Ayat 11:
Tuhan berjanji bahwa segala makhluk tidak akan lagi dilenyapkan oleh air bah dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.
Janji ini tidak berarti tidak akan pernah ada hujan, banjir, badai, atau bencana. Janjinya adalah bahwa Tuhan tidak akan mengulangi air bah yang memusnahkan seluruh makhluk seperti dalam kisah Nuh.
Tuhan berkomitmen menopang tatanan kehidupan. Karena itu, manusia dapat membangun rumah, menanam, membentuk keluarga, dan merencanakan masa depan.
Namun jangan memakai janji ini untuk mengabaikan tanggung jawab. Jika manusia menutup daerah resapan, membuang sampah ke sungai, menebang hutan, dan membangun tanpa memperhatikan tata ruang, akibat buruk dapat terjadi. Pemeliharaan Tuhan tidak menghapus hubungan antara tindakan manusia dan akibatnya.
Iman bukan alasan untuk lalai. Iman justru menuntun manusia bertindak lebih bertanggung jawab.
Ayat 12:
Tuhan menyatakan bahwa Ia memberikan tanda perjanjian bagi manusia dan segala makhluk hidup untuk generasi yang akan datang.
Tanda dibutuhkan karena manusia mudah lupa. Kita mudah lupa bersyukur ketika hidup berjalan baik dan mudah lupa percaya ketika masalah datang. Pelangi menolong manusia mengingat janji Tuhan.
Tanda tersebut juga berbicara tentang tanggung jawab terhadap masa depan. Generasi sekarang tidak boleh menghabiskan semua sumber daya dan meninggalkan kerusakan kepada anak cucu. Kita menerima bumi dari generasi sebelumnya dan memegangnya sebagai titipan untuk generasi yang berikut.
Seorang ayah tidak boleh berkata bahwa urusan masa depan lingkungan bukan tanggung jawabnya. Keputusan hari ini menentukan kehidupan anak dan cucu kelak.
Ayat 13:
“Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi.”
Pelangi menjadi tanda perjanjian antara Allah dan bumi. Kata Ibrani yang digunakan juga dapat menunjuk pada busur sebagai senjata. Gambaran ini menyampaikan pesan damai: busur diletakkan di langit, tidak lagi diarahkan kepada bumi.
Perjanjian Allah bukan hanya berbicara tentang tidak adanya kehancuran, tetapi tentang damai. Karena itu, umat perjanjian harus menjadi pembawa damai.
Bagi P/KB, meletakkan busur berarti berhenti menjadikan kekerasan sebagai penyelesaian. Letakkan “busur” amarah, gengsi, dendam, ancaman, dan keinginan menang sendiri. Jangan biarkan rumah menjadi medan perang. Jangan biarkan persekutuan menjadi tempat persaingan ego.
Pelangi muncul ketika cahaya hadir di tengah butiran air. Secara rohani, ini mengingatkan bahwa kasih setia Tuhan dapat terlihat di tengah awan kehidupan. Kita mungkin masih menghadapi masalah, tetapi masalah tidak membatalkan janji Tuhan.
Ayat 14:
Tuhan berkata bahwa ketika Ia mendatangkan awan di atas bumi, busur itu akan terlihat di awan.
Firman ini tidak berkata bahwa kehidupan umat perjanjian akan selalu cerah. Awan tetap datang. Hujan tetap turun. Pergumulan tetap ada. Namun di dalam awan, tanda kesetiaan Tuhan terlihat.
Seorang P/KB mungkin menghadapi awan masalah ekonomi, kesehatan, konflik keluarga, anak yang jauh dari Tuhan, atau pelayanan yang berat. Firman ini mengingatkan bahwa kehadiran awan tidak berarti Tuhan pergi.
Jangan hanya melihat awan. Lihatlah janji Tuhan. Namun melihat janji bukan berarti pasif. Di tengah masalah, kita tetap berdoa, bekerja, meminta pertolongan, memperbaiki kesalahan, dan berjalan dalam ketaatan.
Ayat 15:
Allah berkata bahwa Ia akan mengingat perjanjian-Nya dengan manusia dan segala makhluk hidup.
“Mengingat” tidak berarti Allah dapat lupa seperti manusia. Dalam bahasa Alkitab, Allah mengingat berarti Ia bertindak setia berdasarkan janji-Nya. Ketika Allah mengingat, Ia memelihara, menyelamatkan, dan menyatakan kesetiaan.
Ini memberi penghiburan bagi kaum bapak yang merasa bebannya tidak diketahui. Tuhan mengingat. Ia melihat kerja keras yang dilakukan dengan jujur. Ia mendengar doa seorang ayah bagi anak-anaknya. Ia mengetahui pergumulan yang tidak dapat diceritakan kepada orang lain.
Namun karena Allah mengingat perjanjian-Nya, kita pun harus mengingat tanggung jawab kita. Jangan lupa bahwa istri dan anak adalah titipan Tuhan. Jangan lupa bahwa pekerjaan harus dilakukan dengan jujur. Jangan lupa bahwa tanah dan alam bukan milik mutlak kita. Jangan lupa bahwa generasi berikutnya akan menerima akibat dari pilihan kita.
Ayat 16:
Tuhan berkata bahwa busur itu akan ada di awan dan Ia akan melihatnya untuk mengingat perjanjian yang kekal antara Allah dan segala makhluk hidup di bumi.
Perjanjian ini disebut kekal karena janji pemeliharaan tersebut berlaku untuk generasi yang terus datang selama tatanan dunia berlangsung. Allah berkomitmen pada keberlanjutan kehidupan.
Ini menunjukkan bahwa perhatian Allah melampaui satu masa. Tuhan memikirkan generasi yang belum lahir. Karena itu, manusia juga harus berpikir melampaui keuntungan hari ini.
Hidup berkelanjutan berarti memakai sumber daya dengan memperhitungkan masa depan. P/KB perlu mengajar keluarga hidup sederhana atau ugahari: membeli berdasarkan kebutuhan, mengurangi pemborosan, memakai air dan listrik dengan bijak, serta mengurangi sampah yang sulit terurai.
Kita tidak menyelamatkan bumi menggantikan Allah. Allah tetap Pencipta dan Pemelihara. Namun kita dipanggil mengambil bagian sebagai pengelola yang setia.
Ayat 17:
“Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi.”
Allah menutup bagian ini dengan mengulangi inti janji-Nya. Pelangi adalah khotbah yang terlihat: Tuhan setia, bumi berada dalam perhatian-Nya, dan kehidupan harus dipelihara.
Namun tanda itu juga mengingatkan penyebab terjadinya air bah: dunia telah dipenuhi kekerasan. Karena itu, pelangi bukan hanya tanda kenyamanan, tetapi panggilan pertobatan. Jangan kembali kepada jalan dunia sebelum air bah.
Setiap kali melihat pelangi, kita diingatkan bahwa Allah menolak kehancuran dan memberi kesempatan baru. Karena itu, umat-Nya juga harus memilih pemulihan, perdamaian, dan pemeliharaan kehidupan.
Penutup
Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi Tuhan, setelah merenungkan Kejadian 9:1–17, kita melihat bahwa tema “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi” bukan hanya berbicara tentang pelangi yang indah. Tema ini berbicara tentang siapa Allah, bagaimana Ia memperlakukan ciptaan, dan bagaimana seharusnya kita hidup sebagai umat-Nya.
Allah yang kita sembah adalah Allah perjanjian. Ia tidak meninggalkan dunia setelah air bah. Ia memberkati Nuh dan keluarganya, menghargai kehidupan, memberikan batas terhadap kekerasan, serta berjanji memelihara bumi. Pelangi menjadi tanda bahwa kesetiaan Allah lebih besar daripada kegagalan manusia.
Namun kesetiaan Tuhan menuntut tanggapan. Kita tidak boleh hanya mengagumi pelangi sambil tetap merusak bumi. Kita tidak boleh menyebut Tuhan sebagai Pencipta sambil memperlakukan ciptaan tanpa tanggung jawab. Kita tidak boleh mengaku sebagai umat perjanjian sambil menghadirkan kekerasan dalam keluarga.
Bagi P/KB, panggilan ini sangat nyata. Seorang laki-laki perjanjian bukan laki-laki yang hanya rajin hadir dalam persekutuan, tetapi tidak membawa nilai firman ke rumahnya. Laki-laki perjanjian adalah suami yang setia, ayah yang melindungi, opa yang menjadi teladan, pekerja yang jujur, pelayan yang rendah hati, dan warga masyarakat yang memelihara kehidupan.
P/KB tidak dipanggil menguasai keluarga dengan rasa takut. Kita dipanggil memimpin dengan kasih. Kristus sendiri memperlihatkan bahwa kepemimpinan sejati adalah pelayanan dan pengorbanan. Karena itu, status sebagai kepala keluarga tidak boleh dipakai untuk membenarkan sikap keras, egois, atau sewenang-wenang.
Tema ini juga mengingatkan bahwa alam bukan sekadar latar belakang kehidupan manusia. Alam adalah bagian dari ciptaan yang berada dalam perjanjian Allah. Burung, ternak, binatang liar, dan bumi disebut oleh Tuhan. Karena itu, laki-laki Kristen harus menjadi penjaga lingkungan.
Ada beberapa kebenaran penting yang perlu kita bawa pulang.
Pertama, Allah memberi permulaan baru. Masa lalu tidak harus menentukan akhir hidup. Suami yang pernah gagal dapat belajar mengasihi. Ayah yang pernah jauh dapat kembali hadir. Orang yang pernah merusak dapat ikut memulihkan. Akan tetapi, permulaan baru harus disertai pertobatan dan perubahan.
Kedua, kekuasaan adalah tanggung jawab. Wewenang sebagai suami, ayah, pemimpin, pekerja, atau pejabat tidak diberikan untuk menindas, tetapi untuk melindungi dan melayani. Kuasa tanpa kasih menghasilkan kekerasan; kuasa yang tunduk kepada Tuhan menghasilkan kehidupan.
Ketiga, setiap manusia adalah gambar Allah. Karena itu, istri, anak, orang tua, pekerja, orang miskin, penyandang disabilitas, dan siapa pun harus dihormati. Tidak ada ruang bagi kekerasan, penghinaan, atau perendahan martabat dalam rumah tangga Kristen.
Keempat, seluruh ciptaan berada dalam perhatian Allah. Menjaga tanah, air, laut, hutan, hewan, dan udara adalah bagian dari tanggung jawab iman. Kita tidak menyembah alam, tetapi menghormati karya Allah.
Kelima, anugerah melahirkan ketaatan. Dunia tetap ada karena Tuhan setia, bukan karena manusia selalu benar. Karena itu, jangan memakai kebaikan Tuhan sebagai alasan hidup sembarangan.
Keenam, pelangi adalah tanda damai. Seorang P/KB harus belajar meletakkan busur amarah, dendam, ego, dan kekerasan. Jadilah pembawa damai dalam keluarga, jemaat, dan masyarakat.
Ketujuh, tanggung jawab kita mencakup generasi berikutnya. Jangan habiskan semua yang ada untuk kenyamanan hari ini. Anak dan cucu kita juga berhak menerima air bersih, udara sehat, tanah yang subur, serta lingkungan yang aman.
Implikasi firman ini harus dimulai dari rumah. Bangunlah keluarga yang aman dan penuh kasih. Jika ada kebiasaan membentak, menghina, mengancam, atau melakukan kekerasan, bertobatlah. Beranilah meminta maaf kepada istri dan anak. Kekuatan seorang laki-laki bukan terlihat dari ketidakmampuannya mengaku salah, tetapi dari keberaniannya berubah.
Ajarkan keluarga menjaga ciptaan. Sediakan tempat sampah yang benar. Jangan buang sampah ke selokan, sungai, atau pantai. Kurangi plastik sekali pakai. Gunakan air dan listrik dengan bijak. Tanamlah pohon dan rawatlah sampai tumbuh. Jangan hanya menanam untuk acara seremonial dan berfoto, lalu membiarkannya mati.
Dalam pekerjaan, jaga integritas. Jangan terlibat dalam kegiatan yang merusak alam dan merugikan masyarakat demi keuntungan pribadi. Jika kita memiliki kuasa membuat keputusan, pakailah kuasa itu untuk melindungi sumber air, kebun, hutan, pesisir, dan kehidupan masyarakat. Jangan menerima keuntungan dari tindakan yang meninggalkan penderitaan kepada anak cucu.
Dalam jemaat, P/KB dapat menjadi penggerak kepedulian lingkungan. Persekutuan tidak harus hanya diisi dengan rapat dan kegiatan seremonial. P/KB dapat mengadakan pembersihan lingkungan, pengelolaan sampah, penanaman dan pemeliharaan pohon, perlindungan mata air, pendidikan kebencanaan, serta bantuan bagi keluarga yang terdampak bencana.
Dalam masyarakat, jadilah suara yang berani untuk keadilan. Jangan diam ketika orang kecil dirugikan oleh perusakan lingkungan. Jangan diam ketika sumber air tercemar. Jangan diam ketika kebijakan menguntungkan sebagian orang tetapi merusak kehidupan banyak orang. Kesaksian Kristen tidak hanya disampaikan melalui kata-kata di gereja, tetapi juga melalui keberanian membela kehidupan.
Saudara-saudara, setiap kali kita melihat pelangi, marilah kita mengingat dua hal. Pertama, Tuhan tetap setia. Awan kehidupan tidak membatalkan janji-Nya. Kedua, kita dipanggil hidup setia. Pelangi bukan hanya tanda bahwa Tuhan berjanji, tetapi juga pengingat agar manusia tidak kembali memenuhi bumi dengan kekerasan.
Ketika ada awan dalam rumah tangga, ingatlah pelangi dan pilihlah jalan damai. Ketika ada godaan mencari keuntungan dengan merusak alam, ingatlah bahwa bumi berada dalam perjanjian Allah. Ketika merasa tanggung jawab terlalu berat, ingatlah bahwa Tuhan yang memberi panggilan juga memberi kekuatan.
Marilah kita menjadi P/KB yang tidak hanya pandai berbicara tentang iman, tetapi menunjukkan iman melalui cara hidup. Jadilah suami yang mengasihi, ayah yang hadir, opa yang mendoakan, pekerja yang jujur, pelayan yang rendah hati, dan pemelihara ciptaan yang bertanggung jawab.
Jangan menjadi pria yang hanya meninggalkan harta kepada anak dan cucu. Tinggalkan juga teladan. Tinggalkan tanah yang dirawat, sumber air yang dijaga, keluarga yang mengenal Tuhan, dan nama baik yang dibangun melalui kejujuran.
Kiranya P/KB GMIM menjadi persekutuan kaum bapak yang hidup sebagai umat perjanjian: kuat bukan karena menindas, tetapi karena melindungi; besar bukan karena menguasai, tetapi karena melayani; diberkati bukan hanya untuk menikmati, tetapi juga untuk memelihara; serta setia kepada Allah, keluarga, sesama, dan seluruh ciptaan.
Dan setiap kali busur perjanjian terlihat di awan, kiranya hati kita berkata, “Tuhan, Engkau setia kepada seluruh ciptaan-Mu. Mampukanlah kami juga hidup setia, menjaga kehidupan, membawa damai, dan memelihara bumi yang Engkau percayakan kepada kami.”
Amin.
Editor : Clavel Lukas