Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Selasa 23 Juni 2026, Bacaan I 2 Raja-Raja 19:9b-11.14-21.31-35a.36, Bacaan Injil Matius 7:6.12-14

Fandy Gerungan • Selasa, 23 Juni 2026 | 10:30 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa XII (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 2 Raja-Raja 19:9b-11.14-21.31-35a.36

Dalam pada itu raja mendengar tentang Tirhaka, raja Etiopia, berita yang demikian: "Sesungguhnya, ia telah keluar berperang melawan engkau," maka disuruhnyalah kembali utusan-utusan kepada Hizkia dengan pesan:

"Beginilah harus kamu katakan kepada Hizkia, raja Yehuda: Janganlah Allahmu yang kaupercayai itu memperdayakan engkau dengan menjanjikan: Yerusalem tidak akan diserahkan ke tangan raja Asyur.

Sesungguhnya, engkau ini telah mendengar tentang yang dilakukan raja-raja Asyur kepada segala negeri, yakni bahwa mereka telah menumpasnya; masakan engkau ini akan dilepaskan?

Hizkia menerima surat itu dari tangan para utusan, lalu membacanya; kemudian pergilah ia ke rumah TUHAN dan membentangkan surat itu di hadapan TUHAN.

Hizkia berdoa di hadapan TUHAN dengan berkata: "Ya TUHAN, Allah Israel, yang bertakhta di atas kerubim! Hanya Engkau sendirilah Allah segala kerajaan di bumi; Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi.

Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, dan dengarlah; bukalah mata-Mu, ya TUHAN, dan lihatlah; dengarlah perkataan Sanherib yang telah dikirimnya untuk mengaibkan Allah yang hidup.

Ya TUHAN, memang raja-raja Asyur telah memusnahkan bangsa-bangsa dan negeri-negeri mereka

dan menaruh para allah mereka ke dalam api, sebab mereka bukanlah Allah, hanya buatan tangan manusia, kayu dan batu; sebab itu dapat dibinasakan orang.

Maka sekarang, ya TUHAN, Allah kami, selamatkanlah kiranya kami dari tangannya, supaya segala kerajaan di bumi mengetahui, bahwa hanya Engkau sendirilah Allah, ya TUHAN."

Lalu Yesaya bin Amos menyuruh orang kepada Hizkia mengatakan: "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Apa yang telah kaudoakan kepada-Ku mengenai Sanherib, raja Asyur, telah Kudengar.

Inilah firman yang telah diucapkan TUHAN mengenai dia: Anak dara, yaitu puteri Sion, telah menghina engkau, telah mengolok-olokkan engkau; dan puteri Yerusalem telah geleng-geleng kepala di belakangmu.

Sebab dari Yerusalem akan keluar orang-orang yang tertinggal dan dari gunung Sion orang-orang yang terluput; giat cemburu TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.

Sebab itu beginilah firman TUHAN mengenai raja Asyur: Ia tidak akan masuk ke kota ini dan tidak akan menembakkan panah ke sana; juga ia tidak akan mendatanginya dengan perisai dan tidak akan menimbun tanah menjadi tembok untuk mengepungnya.

Melalui jalan, dari mana ia datang, ia akan pulang, tetapi ke kota ini ia tidak akan masuk, demikianlah firman TUHAN.

Dan Aku akan memagari kota ini untuk menyelamatkannya, oleh karena Aku dan oleh karena Daud, hamba-Ku."

Maka pada malam itu keluarlah Malaikat TUHAN, lalu dibunuh-Nyalah seratus delapan puluh lima ribu orang di dalam perkemahan Asyur. Keesokan harinya pagi-pagi tampaklah, semuanya bangkai orang-orang mati belaka!

Sebab itu berangkatlah Sanherib, raja Asyur, dan pulang, lalu tinggallah ia di Niniwe.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 48:2-3a.3b-4.10-11

Gunung-Nya yang kudus, yang menjulang permai, adalah kegirangan bagi seluruh bumi; gunung Sion itu, jauh di sebelah utara, kota Raja Besar.

Dalam puri-purinya Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai benteng.

Dalam puri-purinya Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai benteng.

Sebab lihat, raja-raja datang berkumpul, mereka bersama-sama berjalan maju;

Seperti nama-Mu, ya Allah, demikianlah kemasyhuran-Mu sampai ke ujung bumi; tangan kanan-Mu penuh dengan keadilan.

Biarlah gunung Sion bersukacita; biarlah anak-anak perempuan Yehuda bersorak-sorak oleh karena penghukuman-Mu!

Bacaan Injil Matius 7:6.12-14

"Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu."

"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;

karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan 

Saudara/i dalam hidup, ada saat-saat ketika kita merasa terpojok. Masalah datang bertubi-tubi, ancaman seolah mengepung dari segala arah, dan jalan keluar tampak tidak terlihat. 

Mungkin itu masalah keluarga, pekerjaan, kesehatan, ekonomi, atau pergumulan batin yang hanya kita sendiri yang mengetahuinya.

Situasi seperti itulah yang dialami Raja Hizkia. Ia menerima ancaman dari musuh yang sangat kuat. Secara manusiawi, keadaan tampak mustahil untuk dimenangkan. 

Musuhnya telah menaklukkan banyak bangsa dan kini mengarahkan ancamannya kepada Yerusalem. Ketakutan tentu bisa saja menguasai hati siapa pun yang berada dalam posisi tersebut.

Namun yang menarik, Hizkia tidak membalas ancaman dengan kepanikan. Ia tidak mengandalkan kekuatannya sendiri. Ia membawa seluruh persoalannya ke hadapan Tuhan. 

Ia menyerahkan ketakutan, kecemasan, dan ancaman yang diterimanya kepada Allah. Di saat banyak orang akan sibuk mencari jalan keluar dengan kekuatan manusia, Hizkia memilih berlutut dan percaya.

Dari sini kita belajar bahwa doa bukanlah pilihan terakhir setelah semua usaha gagal. Doa justru menjadi tempat pertama yang seharusnya kita datangi ketika menghadapi persoalan. 

Tuhan mungkin tidak selalu bertindak sesuai cara yang kita bayangkan, tetapi Ia selalu mendengar seruan anak-anak-Nya.

Dalam Injil hari ini, Yesus juga mengingatkan tentang pentingnya kebijaksanaan dan pilihan hidup. Tidak semua hal berharga harus diberikan kepada mereka yang tidak menghargainya. Kita perlu menjaga nilai-nilai iman yang telah dipercayakan kepada kita. 

Hati yang dekat dengan Tuhan adalah mutiara yang sangat berharga dan tidak boleh disia-siakan demi hal-hal yang tidak membawa kita kepada keselamatan.

Yesus juga mengajak kita untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Dunia sering mengajarkan untuk membalas perlakuan buruk dengan keburukan yang sama. 

Namun jalan Kristus berbeda. Jalan itu tidak selalu mudah, tidak selalu populer, dan sering kali terasa sempit. Tetapi justru jalan itulah yang mengantar kepada kehidupan sejati.

Jalan yang lebar biasanya menawarkan kenyamanan tanpa perjuangan, kebebasan tanpa tanggung jawab, dan kesenangan tanpa batas. Banyak orang memilihnya karena tampak mudah. 

Sebaliknya, jalan yang sempit menuntut kesetiaan, pengendalian diri, pengampunan, kejujuran, dan keberanian untuk tetap melakukan yang benar meskipun sendirian.

Hizkia memilih jalan yang sempit itu. Di tengah tekanan besar, ia tetap percaya kepada Tuhan. Dan pada akhirnya, Tuhan menunjukkan bahwa kuasa-Nya jauh lebih besar daripada segala ancaman manusia.

Hari ini kita diajak untuk bertanya kepada diri sendiri: ketika masalah datang, kepada siapa kita pertama-tama berpaling?. Apakah kita lebih cepat dikuasai rasa takut atau lebih dahulu datang kepada Tuhan?. 

Dan jalan manakah yang sedang kita pilih setiap hari: jalan yang mudah tetapi menjauhkan kita dari Tuhan, atau jalan yang mungkin sulit tetapi membawa kita semakin dekat kepada-Nya?

Semoga kita memiliki hati seperti Hizkia, yang tetap percaya ketika keadaan tampak mustahil. Dan semoga kita memiliki keberanian untuk memilih jalan sempit yang ditunjukkan Kristus, sebab di ujung jalan itu terdapat kehidupan, damai, dan sukacita yang sejati. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan