Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Sabtu 9 Juli 2026, Bacaan I Hosea 11:1b.3-4.8c-9, Bacaan Injil Matius 10:7-15

Fandy Gerungan • Selasa, 7 Juli 2026 | 10:13 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa XIV (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Hosea 11:1b.3-4.8c-9

Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu.

Padahal Akulah yang mengajar Efraim berjalan dan mengangkat mereka di tangan-Ku, tetapi mereka tidak mau insaf, bahwa Aku menyembuhkan mereka.

Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih. Bagi mereka Aku seperti orang yang mengangkat kuk dari tulang rahang mereka; Aku membungkuk kepada mereka untuk memberi mereka makan.

Masakan Aku membiarkan engkau, hai Efraim, menyerahkan engkau, hai Israel? Masakan Aku membiarkan engkau seperti Adma, membuat engkau seperti Zeboim? Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak.

Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali. Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu, dan Aku tidak datang untuk menghanguskan.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 80:2ac.3b.15-16

di depan Efraim dan Benyamin dan Manasye! Bangkitkanlah keperkasaan-Mu dan datanglah untuk menyelamatkan kami.

Ya Allah, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.

batang yang ditanam oleh tangan kanan-Mu!

Mereka telah membakarnya dengan api dan menebangnya; biarlah mereka hilang lenyap oleh hardik wajah-Mu!

Bacaan Injil Matius 10:7-15

Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.

Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu.

Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.

Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat.

Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka.

Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.

Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu.

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan 

Saudara/i ada satu hal yang luar biasa tentang kasih seorang ibu atau ayah. Seberapa pun sering anaknya melakukan kesalahan, kasih itu tidak serta-merta hilang. 

Orang tua mungkin kecewa, menegur, bahkan menghukum demi kebaikan anaknya. Namun jauh di dalam hati mereka, selalu ada kerinduan agar sang anak kembali pulang dan hidup dengan benar.

Begitulah gambaran kasih Allah dalam bacaan hari ini. Allah memperlihatkan diri sebagai Bapa yang membesarkan, membimbing, menopang, dan merawat umat-Nya sejak mereka masih lemah. 

Dengan penuh kesabaran, Ia mengajari mereka melangkah, melindungi ketika jatuh, dan mencukupi segala kebutuhan mereka. Namun, seperti anak yang mulai merasa mampu berjalan sendiri, umat itu justru menjauh dari Dia.

Sikap itu ternyata tidak hanya terjadi pada bangsa Israel. Kita pun sering mengalaminya. Ketika menghadapi kesulitan, kita begitu rajin berdoa dan berharap Tuhan segera menolong. 

Namun setelah keadaan membaik, perlahan kita kembali sibuk dengan urusan sendiri. Waktu untuk Tuhan mulai berkurang, doa menjadi sekadar rutinitas, dan rasa syukur memudar. 

Kita menikmati berkat-Nya, tetapi melupakan Sang Pemberi Berkat. Yang mengharukan adalah, Allah tidak membalas ketidaksetiaan manusia dengan kebencian. 

Kasih-Nya jauh lebih besar daripada kegagalan kita. Ia tetap membuka pintu pertobatan. Ia tidak berhenti memanggil, menunggu, dan memberi kesempatan agar kita kembali kepada-Nya. 

Inilah kasih ilahi yang melampaui logika manusia. Saat manusia mudah menyerah terhadap orang lain, Allah tetap setia berharap.

Kasih seperti inilah yang kemudian menjadi dasar perutusan para murid dalam Injil. Yesus mengutus mereka untuk menghadirkan kasih Allah kepada dunia. 

Mereka diminta membawa harapan bagi yang putus asa, penghiburan bagi yang menderita, serta pemulihan bagi mereka yang terluka. Menariknya, mereka diutus tanpa bergantung pada banyak bekal. 

Bukan karena bekal itu tidak penting, tetapi supaya mereka belajar bahwa kekuatan utama dalam pelayanan bukanlah harta, fasilitas, atau kemampuan pribadi, melainkan penyelenggaraan Tuhan.

Hal ini menjadi pelajaran penting bagi kita. Sering kali kita menunda berbuat baik karena merasa belum cukup mampu. Kita berpikir harus menunggu memiliki banyak uang untuk membantu orang lain. 

Kita harus menjadi ahli agar bisa melayani, atau harus sempurna dahulu sebelum menjadi saksi Kristus. Padahal Tuhan sering kali bekerja melalui orang-orang biasa yang memiliki hati yang mau percaya kepada-Nya.

Injil juga mengingatkan bahwa tidak semua orang akan menerima kebaikan yang kita lakukan. Ada kalanya niat baik disalahpahami, pelayanan tidak dihargai, bahkan kasih dibalas dengan penolakan. 

Dalam situasi seperti itu, Yesus tidak meminta para murid memaksa atau menyimpan dendam. Mereka diajak untuk tetap melangkah dengan damai, menyerahkan semuanya kepada Tuhan, dan terus melanjutkan perutusan.

Pesan ini sangat relevan dalam kehidupan kita. Mungkin kita pernah kecewa karena kebaikan kita tidak dihargai. Mungkin kita lelah karena usaha kita untuk membangun keluarga. 

Melayani di lingkungan, atau membantu sesama tidak mendapat respons yang kita harapkan. Hari ini Tuhan mengingatkan bahwa keberhasilan seorang murid bukan diukur dari banyaknya orang yang menerima, melainkan dari kesetiaannya untuk tetap mengasihi dan melakukan kehendak Allah.

Marilah kita belajar meneladani hati Allah yang penuh belas kasih. Jangan cepat menyerah terhadap diri sendiri ketika jatuh dalam dosa. Jangan mudah menyerah terhadap sesama ketika mereka mengecewakan kita. Dan jangan takut melayani hanya karena merasa memiliki banyak keterbatasan.

Kasih Allah telah lebih dahulu kita terima secara cuma-cuma. Kini, tugas kita adalah membagikan kasih itu kepada siapa pun yang kita jumpai melalui perhatian, pengampunan, penghiburan, kepedulian, dan kesediaan menjadi pembawa damai. 

Sebab dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pandai berbicara tentang Tuhan, tetapi juga orang-orang yang menghadirkan kasih-Nya dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan