Upus Ni Mama GMIM 12-18 Juli 2026
Bacaan Alkitab : 1 Tawarikh 29:10-19
Tema: "Kekayaan Dan Kemuliaan Berasal Dari Tuhan"
Ibu-ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Secara teologis, kitab 1 Tawarikh 29:10-19 adalah sebuah Berakhah (pujian atau berkat) yang diucapkan Raja Daud di akhir masa jabatannya, di hadapan seluruh jemaah Israel.
Daud tidak sedang menyombongkan keberhasilannya membangun stabilitas bangsa, melainkan ia sedang menundukkan diri di hadapan Sang Pemiliki Kehidupan.
Dari doa syukur Daud ini, kita menemukan tiga poin teologis penting yang menjadi fondasi iman kita sebagai wanita kaum ibu.
Pertama, doksologi kedaulatan (ayat 11-12): Daud menggunakan tujuh atribut keagungan Allah: kebesaran, kejayaan, kehormatan, kemasyhuran, kemuliaan, kekuasaan, dan kejayaan.
Dalam sastra Ibrani, penggunaan angka tujuh melambangkan kesempurnaan dan keutuhan.
Daud ingin menegaskan bahwa tidak ada satu inci pun di alam semesta ini, tidak ada satu detik pun dalam sejarah manusia, yang berada di luar kendali Allah.
Kekayaan (osher) dan kemuliaan (kabod) bukanlah hasil usaha manusia semata, melainkan pemberian (gift) dari tangan Allah.
Kekuatan untuk bekerja, hikmat untuk berbisnis dan kesempatan untuk berkarya, semuanya bersumber dari kedaulatan-Nya.
Jika Tuhan tidak mengizinkan, maka sia-sialah usaha manusia.
Kedua, tentang antropologi "Pendatang" (ayat 14-15): Daud mengajukan pertanyaan retoris yang sangat rendah hati: "Siapakah aku ini dan siapakah bangsaku?"
Ia mengakui bahwa manusia hanyalah "pendatang dan orang asing" (gerim we-toshabim).
Secara hukum kuno, seorang pendatang tidak memiliki hak milik permanen atas tanah.
Mereka hanya menumpang.
Ini adalah sebuah tamparan bagi ego manusia.
Kita sering merasa bahwa rumah yang kita bangun, tanah yang kita miliki, atau tabungan yang kita simpan adalah milik abadi kita.
Namun, secara teologis, kita hanyalah peengelola atau penatalayan (steward) dari apa yang Tuhan titipkan.
Hidup kita hanyalah sebuah persinggahan singkat, seperti bayang-bayang yang melintas.
Oleh karena itu, kesadaran sebagai "penyewa" seharusnya membuat kita lebih bertanggungjawab dan tidak serakah terhadap apa yang kita pegang saat ini.
Ketiga, Integritas Hati (ayat 17); Dalam teks asli, kata Ibrani Iebab (hati) muncul berulang kali.
Allah yang disembah Daud bukanlah Allah yang terpesona dengan angka-angka atau kemegahan fisik bangunan Bait Suci.
Allah adalah penguji hati.
Ia berkenan kepada keikhlasan.
Keikhlasan dalam bahasa aslinya mengandung makna keselarasan; tidak ada topeng, tidak ada maksud tersembunyi.
Apa yang tampak di luar dalam bentuk persembahan, haruslah sama dengan apa yang bergejolak di dalam hati sebagai bentuk kasih kepada Tuhan.
Ibu-ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Teks ini sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari sebagai perempuan yang mengatur ekonomi rumah tangga dan pelayanan di gereja.
Di tengah tanggung jawab itu, kita sering terjebak pada mentalitas "milik-ku".
Banyak konflik di dunia—bahkan di dalam keluarga-terjadi karena kita merasa menjadi pemilik mutlak atas apa yang kita punya.
"Ini uangku,"
"Ini hasil kerjaku,"
"Ini posisiku."
Daud, seorang raja besar yang punya segalanya, justru berkata: "Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah kami berikan kepada-Mu" (ayat 14).
Ibu-ibu, saat kita memberi persembahan, membayar iuran WKI, atau membantu sesama, jangan merasa sedang "memberi ke Tuhan."
Sebenarnya, kita hanya mengembalikan sedikit dari apa yang Tuhan sudah titipkan lebih dulu di dompet kita.
Mentalitas ini menjauhkan kita dari kesombongan.
Ibu yang rendah hati adalah ibu yang sadar bahwa tanpa berkat-Nya, meja makan kita akan kosong.
Daud dan bangsa Israel memberikan persembahan untuk pembangunan Bait Suci dengan sukarela.
Tidak ada paksaan.
Mengapa?
Karena mereka sadar bahwa Tuhan sudah lebih dulu bermurah hati kepada mereka, melebihi apa yang mereka berikan, demikian juga kesadaran ini dimiliki oleh kita semua sebagai ibu-ibu Tuhan.
Di tengah situasi ekonomi yang kadang naik-turun, harga bahan pokok yang tidak menentu di pasar, atau biaya pendidikan anak yang semakin tinggi, WKI GMIM dipanggil untuk tetap menjadi wanita yang murah hati.
Bukan soal besar nominalnya, tapi soal "kesukarelaan hati."
Sebab ingatlah ayat 17 tadi: "Tuhan senang pada hati yang ikhlas.
Pelayanan yang dilakukan dengan omelan hanya akan membuang berkat, tetapi pelayanan yang dilakukan dengan syukur akan mendatangkan sukacita yang meluap.
Tugas mulia lainnya adalah, mewariskan iman.
Daud berdoa: agar Salomo diberikan "hati yang tulus" untuk melakukan semuanya itu (ayat 19).
Ibu-ibu adalah sosok "Daud" masa kini bagi anak-anak kita (generasi Salomo).
Kita mungkin banting tulang bekerja mencari uang agar anak-anak bisa sekolah tinggi, atau menumpuk harta agar masa depan mereka terjamin.
Itu baik.
Tetapi ingatlah, harta paling mewah yang bisa kita wariskan bukan hanya deposito atau tanah, melainkan sebuah pengakuan iman bahwa "segalanya berasal dari Tuhan".
Karena itu, ajarkan anak-anak kita untuk bersyukur, bukan hanya saat mendapat berkat, tapi dalam setiap keadaan.
Tunjukkan pada mereka bahwa kekayaan yang paling mulia adalah hidup yang takut akan Tuhan.
Selanjutnya, jangan biarkan kekayaan membuat kita tinggi hati, dan jangan biarkan kekurangan membuat kita rendah diri.
Sebab selama kita memiliki Tuhan, kita memiliki sumber dari segala sumber kemuliaan.
Kalu bukan Tuhan yang kase berkat, ndak mungkin torang boleh ada sampe hari ini. Amin.
Pertanyaan Untuk Diskusi:
1. Apa yang anda pahami dari perikop 1 Tawarikh 29:10-19, tentang kekayaan dan kemuliaan berasal dari Tuhan?
2. Bagaimana respons iman ibu-ibu dalam kehidupan setiap hari, setelah memahami makna kekayaan dan kemuliaan berasal dari Tuhan?
Baca Juga: MTPJ GMIM 12-18 Juli 2026, 1 Tawarikh 29:10-19 Kekayaan Dan Kemuliaan Berasal Dari Tuhan Allah
Editor : Aprilia Sahari