Bacaan: 1 Tawarikh 29:10–19
Tema: “Kekayaan Dan Kemuliaan Berasal Dari Tuhan Allah”
Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi dan diberkati Tuhan, sebagai laki-laki, suami, ayah, opa, pekerja, pelayan, dan anggota masyarakat, kita sering hidup dalam tanggung jawab yang besar.
Banyak kaum bapak bangun pagi dengan pikiran tentang pekerjaan, kebutuhan keluarga, biaya pendidikan anak, kesehatan orang tua, masa depan cucu-cucu, pelayanan di jemaat, serta pergumulan ekonomi yang tidak selalu mudah. Dalam masyarakat, laki-laki sering dinilai dari kemampuannya bekerja, menghasilkan, memimpin, membangun rumah tangga, memiliki pengaruh, dan memberi rasa aman bagi keluarganya.
Tidak salah jika seorang laki-laki bekerja keras. Tidak salah jika seorang ayah ingin keluarganya hidup baik. Tidak salah jika seorang suami ingin memberi yang terbaik bagi istri dan anak-anak. Tidak salah jika seseorang ingin berhasil dalam pekerjaan, usaha, pendidikan, dan pelayanan.
Namun firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa di balik semua usaha manusia, ada Allah yang menjadi sumber segala kekayaan, kemuliaan, kekuatan, kesempatan, dan kehidupan. Manusia memang bekerja, tetapi Tuhan yang memberi tenaga. Manusia memang merencanakan, tetapi Tuhan yang membuka jalan. Manusia memang mengelola, tetapi Tuhan yang memberi hasil. Manusia boleh memimpin, tetapi Tuhanlah sumber kuasa dan hikmat.
Baca Juga: Materi Khotbah 1 Tawarikh 29:10–19, Kekayaan Dan Kemuliaan Berasal Dari Tuhan Allah
Baca Juga: Renungan 1 Tawarikh 29:10–19, Kekayaan Dan Kemuliaan Berasal Dari Tuhan Allah
Kita hidup di dunia yang sangat mudah mengagungkan kekayaan dan kemuliaan. Orang sering dihargai karena hartanya, jabatannya, rumahnya, kendaraan yang dipakai, pengaruhnya, dan keberhasilannya. Banyak orang berlomba-lomba mengejar pengakuan. Banyak yang ingin terlihat berhasil di mata manusia. Bahkan dalam pelayanan pun, manusia dapat tergoda untuk mencari nama, ingin dihormati, ingin dianggap paling berjasa, dan ingin dipuji atas apa yang ia lakukan.
Di tengah budaya seperti ini, firman Tuhan dari 1 Tawarikh 29:10–19 membawa kita kepada doa Raja Daud yang sangat indah. Daud adalah raja besar. Ia memiliki kekuasaan, harta, kehormatan, pasukan, dan nama besar. Ia mempersiapkan banyak bahan untuk pembangunan Bait Suci. Umat dan para pemimpin memberi persembahan dengan sukacita.
Tetapi dalam momen besar itu, Daud tidak memuliakan dirinya sendiri. Ia tidak berkata, “Lihatlah betapa hebatnya aku.” Ia tidak berkata, “Kerajaan ini berhasil karena kepemimpinanku.” Ia tidak berkata, “Harta ini berasal dari kekuatanku.” Sebaliknya, Daud memuji Tuhan dan berkata bahwa kekayaan dan kemuliaan berasal dari Tuhan Allah.
Tema “Kekayaan Dan Kemuliaan Berasal Dari Tuhan Allah” mengajak P/KB untuk melihat kembali seluruh hidup dengan benar. Semua yang ada pada kita adalah titipan Tuhan. Uang, pekerjaan, jabatan, tanah, rumah, usaha, keluarga, kesehatan, talenta, pelayanan, waktu, dan hidup adalah pemberian Tuhan. Karena itu, yang Tuhan kehendaki dari kita bukan kesombongan, bukan kerakusan, bukan sikap merasa paling berjasa, melainkan syukur, kerendahan hati, kemurahan hati, kejujuran, tanggung jawab, dan kesediaan memakai semua yang ada untuk kemuliaan Tuhan.
Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi dan diberkati Tuhan,
Kitab 1 dan 2 Tawarikh pada awalnya merupakan satu kesatuan dalam Alkitab Ibrani. Kitab ini menuliskan kembali sejarah umat Israel dengan tekanan khusus pada ibadah, Bait Suci, garis keturunan Daud, pelayanan orang Lewi, dan panggilan umat untuk hidup setia kepada Tuhan.
Jika Kitab Samuel dan Raja-raja banyak menyoroti perjalanan politik kerajaan Israel dan Yehuda, termasuk kegagalan serta dosa para raja, Kitab Tawarikh lebih menekankan bagaimana umat Tuhan harus kembali memahami identitas mereka sebagai umat perjanjian yang dipanggil untuk menyembah dan melayani Allah.
Kitab Tawarikh kemungkinan besar disusun dalam konteks umat Israel sesudah pembuangan. Mereka pernah mengalami kehancuran besar. Yerusalem dihancurkan, Bait Suci runtuh, kerajaan berakhir, dan umat dibuang ke Babel. Ketika mereka kembali, mereka membutuhkan penguatan iman. Mereka perlu diingatkan bahwa mereka bukan hanya bangsa yang pernah jatuh, tetapi umat Allah yang masih dipanggil untuk hidup dalam penyembahan, ketaatan, dan pengharapan.
Karena itu, penulis Tawarikh banyak menampilkan Daud sebagai raja yang mempersiapkan kehidupan ibadah umat. Daud tidak hanya dikenang sebagai pejuang dan raja, tetapi juga sebagai orang yang sangat memperhatikan rumah Tuhan. Walaupun Tuhan tidak mengizinkan Daud membangun Bait Suci karena tugas itu diberikan kepada Salomo, Daud tetap mempersiapkan segala sesuatu. Ia mengumpulkan bahan-bahan, menyusun pelayanan, memberi persembahan dari hartanya sendiri, dan mengajak para pemimpin serta umat untuk memberi dengan sukarela.
Bacaan 1 Tawarikh 29:10–19 terjadi pada bagian akhir kehidupan Daud. Ini adalah momen peralihan dari Daud kepada Salomo. Daud mempersiapkan Salomo untuk melanjutkan pekerjaan besar, yaitu pembangunan Bait Suci. Namun Daud tahu bahwa pekerjaan besar bagi Tuhan tidak cukup hanya dengan harta, bahan bangunan, dan kemampuan manusia. Pekerjaan Tuhan membutuhkan hati yang tulus, kerendahan hati, dan pengakuan bahwa semua berasal dari Tuhan.
Doa Daud dalam bagian ini adalah doa yang sangat teologis. Daud mengakui bahwa Tuhan adalah pemilik segala sesuatu. Daud mengakui bahwa manusia hanyalah pendatang di bumi. Daud mengakui bahwa kemampuan memberi pun berasal dari Tuhan. Daud mengakui bahwa Tuhan menguji hati dan berkenan kepada keikhlasan. Daud juga mendoakan Salomo supaya memiliki hati yang tulus untuk tetap berpegang pada perintah Tuhan.
Makna tema “Kekayaan Dan Kemuliaan Berasal Dari Tuhan Allah” sangat penting bagi P/KB. Pertama, tema ini mengingatkan bahwa Tuhan adalah sumber segala berkat. Kedua, tema ini mengajarkan bahwa seorang laki-laki Kristen tidak boleh sombong atas keberhasilan hidupnya.
Ketiga, tema ini menegaskan bahwa harta, jabatan, pekerjaan, dan keluarga adalah titipan yang harus dikelola dengan takut akan Tuhan. Keempat, tema ini mengajak kita memberi dan melayani dengan tulus. Kelima, tema ini menantang kita untuk meninggalkan warisan iman kepada generasi berikutnya, bukan hanya warisan harta.
Dalam kehidupan masa kini, P/KB perlu mendengar firman ini dengan sungguh-sungguh. Ada bapak yang bekerja keras tetapi lupa bersyukur. Ada yang berhasil secara ekonomi tetapi keluarganya kehilangan kasih. Ada yang memiliki jabatan tetapi menjadi sombong.
Ada yang aktif melayani tetapi mencari nama. Ada yang menyiapkan warisan materi bagi anak-anak, tetapi tidak menyiapkan warisan iman. Firman Tuhan hari ini mengajak kita kembali kepada dasar: semua berasal dari Tuhan dan harus kembali dipakai untuk Tuhan.
Pembahasan Ayat demi Ayat
Pada ayat 10, Daud memuji Tuhan di depan seluruh jemaah dan berkata, “Terpujilah Engkau, ya TUHAN, Allahnya bapa kami Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya.” Daud memulai doanya dengan pujian. Ia tidak memulai dengan membanggakan besarnya persembahan atau keberhasilan kerajaannya. Ia tidak mengarahkan perhatian umat kepada dirinya. Ia mengarahkan seluruh perhatian kepada Tuhan.
Daud menyebut Tuhan sebagai Allahnya bapa Israel. Ini berarti Daud mengingat bahwa Tuhan telah bekerja sejak zaman para leluhur. Tuhan yang memelihara Abraham, Ishak, Yakub, dan Israel adalah Tuhan yang sama yang memelihara Daud dan umat pada zamannya. Daud menyadari bahwa hidupnya tidak berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari sejarah panjang kesetiaan Tuhan.
Bagi P/KB, ayat ini mengajarkan bahwa setiap keberhasilan harus dimulai dan diakhiri dengan pujian kepada Tuhan. Ketika pekerjaan berhasil, pujilah Tuhan. Ketika usaha berkembang, pujilah Tuhan. Ketika keluarga diberkati, pujilah Tuhan. Ketika anak-anak berhasil, pujilah Tuhan. Ketika pelayanan berjalan baik, pujilah Tuhan. Jangan pertama-tama membesarkan diri. Jangan berkata, “Ini karena saya kuat.” Katakanlah, “Tuhanlah yang menolong dan memelihara.”
Ayat ini juga mengingatkan bahwa seorang laki-laki Kristen harus tahu memuji Tuhan. Jangan malu berdoa. Jangan malu bersyukur. Jangan hanya kuat berbicara dalam rapat, tetapi lemah dalam doa. Jangan hanya berani memberi perintah di rumah, tetapi tidak pernah memimpin keluarga memuji Tuhan. Seorang P/KB yang dewasa dalam iman tahu bahwa kehidupan yang diberkati harus dikembalikan kepada Tuhan dalam pujian.
Pada ayat 11, Daud berkata bahwa punya Tuhanlah kebesaran, kejayaan, kehormatan, kemasyhuran, dan keagungan, bahkan segala-galanya yang ada di langit dan di bumi. Daud juga berkata bahwa Tuhanlah yang empunya kerajaan dan yang tertinggi sebagai kepala atas segala sesuatu. Ini adalah pengakuan iman tentang kedaulatan Allah. Tuhan bukan hanya pemberi berkat pribadi. Tuhan adalah pemilik seluruh alam semesta dan penguasa segala kerajaan.
Daud adalah seorang raja. Ia memiliki kerajaan, kuasa, pasukan, dan kehormatan. Namun ia tahu bahwa kerajaan itu bukan miliknya secara mutlak. Tuhanlah pemilik kerajaan. Daud hanya dipercayakan untuk memimpin pada waktu tertentu. Ia tidak mabuk kuasa. Ia tidak menganggap dirinya pusat kerajaan. Ia tahu bahwa Tuhanlah kepala atas segala sesuatu.
Bagi P/KB, ini sangat menegur. Banyak laki-laki merasa bahwa karena ia kepala keluarga, maka semua harus tunduk kepada kehendaknya. Tetapi kepala keluarga Kristen harus sadar bahwa ia pun berada di bawah kepala yang lebih tinggi, yaitu Tuhan. Kepemimpinan dalam keluarga bukan izin untuk bertindak sewenang-wenang. Kepemimpinan adalah tanggung jawab untuk melindungi, mengasihi, melayani, dan menuntun keluarga kepada Tuhan.
Ayat ini juga menegur mereka yang memiliki jabatan dan kuasa. Jika Tuhan memberi posisi dalam pekerjaan, gereja, atau masyarakat, jangan gunakan untuk meninggikan diri. Pakailah untuk melayani. Jangan mencari kemasyhuran pribadi. Semua kehormatan adalah milik Tuhan. Manusia hanya dipercayakan untuk sementara.
Pada ayat 12, Daud berkata, “Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya.” Inilah inti tema kita. Kekayaan berasal dari Tuhan. Kemuliaan berasal dari Tuhan. Kekuatan dan kejayaan ada di tangan Tuhan. Tuhan berkuasa membesarkan dan mengokohkan segala sesuatu.
Ayat ini tidak menghapus tanggung jawab manusia untuk bekerja. Daud sendiri bukan orang malas. Ia bekerja, berjuang, memimpin, mengatur, dan mempersiapkan. Tetapi Daud sadar bahwa kerja manusia hanya dapat menghasilkan karena Tuhan memberi kekuatan dan kesempatan. Manusia menanam, tetapi Tuhan memberi pertumbuhan. Manusia berusaha, tetapi Tuhan membuka jalan. Manusia memimpin, tetapi Tuhan memberi hikmat.
Bagi kaum bapak, ayat ini mengingatkan bahwa penghasilan keluarga bukan hanya hasil kekuatan pribadi. Jika masih bisa bekerja, itu berkat Tuhan. Jika masih diberi kesehatan, itu kemurahan Tuhan. Jika masih ada pekerjaan atau usaha, itu kesempatan dari Tuhan. Jika masih dipercaya memimpin, itu titipan dari Tuhan. Karena itu, jangan sombong. Jangan merendahkan orang yang belum berhasil. Jangan merasa lebih berharga karena memiliki lebih banyak.
Ayat ini juga menegur cara kita memperoleh kekayaan. Jika kekayaan berasal dari Tuhan, maka kekayaan tidak boleh dicari dengan cara yang melawan Tuhan. Jangan mencari uang melalui penipuan, korupsi, perjudian, pemerasan, eksploitasi, atau merusak orang lain. Kekayaan yang diperoleh dengan cara yang tidak benar bukan berkat yang memuliakan Tuhan. Lebih baik hidup sederhana tetapi benar daripada terlihat kaya tetapi hati jauh dari Allah.
Pada ayat 13, Daud berkata, “Sekarang, ya Allah kami, kami bersyukur kepada-Mu dan memuji nama-Mu yang agung itu.” Setelah mengakui bahwa kekayaan dan kemuliaan berasal dari Tuhan, Daud bersyukur. Syukur adalah respons yang benar dari orang yang sadar bahwa semua adalah anugerah.
Orang yang bersyukur tidak mudah sombong. Orang yang bersyukur tidak mudah iri. Orang yang bersyukur tidak mudah mengeluh. Orang yang bersyukur tahu bahwa semua yang ada padanya bukan karena ia lebih layak daripada orang lain, tetapi karena Tuhan mempercayakan berkat kepadanya.
Bagi P/KB, syukur harus menjadi dasar hidup. Banyak bapak hidup penuh tekanan sehingga mudah mengeluh. Mengeluh tentang pekerjaan, ekonomi, keluarga, pelayanan, atau kesehatan. Memang hidup tidak selalu mudah. Tetapi firman mengajak kita melatih hati untuk bersyukur. Syukur tidak berarti semua masalah hilang. Syukur berarti kita tetap mengakui bahwa Tuhan memelihara dalam segala keadaan.
Syukur juga mengubah cara kita memberi. Orang yang bersyukur lebih mudah memberi. Orang yang bersyukur tidak merasa rugi ketika membantu. Orang yang bersyukur tidak berhitung berlebihan saat memberi untuk pekerjaan Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan lebih dahulu memberi kepadanya.
Pada ayat 14, Daud berkata, “Sebab siapakah aku ini dan siapakah bangsaku, sehingga kami mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini? Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu.” Ini adalah pengakuan kerendahan hati yang sangat dalam. Daud bertanya, “Siapakah aku ini?” Padahal ia raja besar. Tetapi di hadapan Tuhan, ia sadar bahwa dirinya hanya penerima anugerah.
Daud juga berkata bahwa persembahan yang diberikan kepada Tuhan sebenarnya berasal dari tangan Tuhan sendiri. Ini mengajarkan bahwa persembahan bukan memberi sesuatu yang Tuhan tidak punya. Persembahan adalah mengembalikan kepada Tuhan sebagian dari apa yang Tuhan percayakan kepada kita.
Bagi P/KB, ini mengubah cara kita melihat persembahan dan pelayanan. Ketika kita memberi persembahan, membantu pembangunan gereja, menolong orang sakit, atau mendukung pelayanan, jangan merasa Tuhan berutang kepada kita. Jangan berkata dalam hati, “Saya paling berjasa.” Jangan merasa harus selalu disebut. Semua yang kita berikan berasal dari Tuhan.
Ayat ini juga menegur sikap pelit kepada Tuhan. Ada orang yang tidak keberatan mengeluarkan banyak uang untuk kesenangan, rokok, minuman, hobi, gengsi, atau hal-hal yang tidak penting, tetapi sangat berat memberi untuk pekerjaan Tuhan dan menolong sesama. Daud mengingatkan bahwa semua yang ada pada kita berasal dari Tuhan. Maka memberi kepada Tuhan seharusnya menjadi sukacita, bukan beban.
Pada ayat 15, Daud berkata bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di hadapan Tuhan, sama seperti nenek moyang mereka; hari-hari mereka di bumi seperti bayang-bayang dan tidak ada harapan. Daud mengakui kefanaan manusia. Walaupun ia raja, hidupnya tetap sementara. Harta, jabatan, kehormatan, dan kekuasaan tidak membuat manusia tinggal selamanya di bumi.
Kesadaran ini sangat penting bagi P/KB. Banyak laki-laki menghabiskan hidup mengejar harta, tetapi kehilangan waktu bersama keluarga. Ada yang sibuk membangun nama, tetapi lupa membangun iman. Ada yang mengejar jabatan, tetapi mengorbankan kesehatan dan relasi. Ada yang menumpuk kekayaan, tetapi tidak sempat menanamkan kasih kepada anak-anaknya. Daud mengingatkan bahwa hari-hari kita seperti bayang-bayang.
Karena hidup sementara, pakailah hidup dengan bijaksana. Gunakan waktu untuk mengasihi istri, mendidik anak, mendoakan cucu, melayani Tuhan, dan menolong sesama. Jangan menunggu masa tua baru sadar bahwa banyak hal yang penting telah terabaikan. Harta akan ditinggalkan, tetapi iman, kasih, teladan, dan nama baik dapat menjadi warisan yang lebih berharga.
Pada ayat 16, Daud berkata bahwa segala kelimpahan bahan yang disediakan untuk mendirikan rumah bagi nama Tuhan berasal dari tangan Tuhan dan milik Tuhanlah semuanya. Daud berbicara tentang bahan pembangunan Bait Suci. Ada banyak emas, perak, batu permata, dan bahan berharga. Tetapi Daud tetap berkata bahwa semuanya berasal dari Tuhan.
Ini sangat penting bagi kehidupan gereja. Ketika umat membangun rumah Tuhan, mengadakan program, membeli perlengkapan, atau menjalankan pelayanan besar, semua harus dilakukan dengan kesadaran bahwa Tuhanlah pemiliknya. Jangan sampai pelayanan menjadi ajang mencari nama. Jangan sampai pembangunan rumah Tuhan menjadi sumber pertengkaran. Jangan sampai persembahan umat dikelola tanpa kejujuran. Semua milik Tuhan, maka harus dikerjakan dengan takut akan Tuhan.
Bagi P/KB yang sering terlibat dalam pembangunan, penggalangan dana, panitia, pelayanan teknis, dan pengambilan keputusan jemaat, ayat ini menjadi peringatan. Jika mengelola uang, kelolalah dengan jujur. Jika diberi tanggung jawab, jalankan dengan rendah hati. Jika bekerja untuk gereja, lakukan bukan untuk dipuji, tetapi untuk nama Tuhan. Jangan memakai pekerjaan Tuhan untuk kepentingan pribadi.
Pada ayat 17, Daud berkata bahwa ia tahu Tuhan menguji hati dan berkenan kepada keikhlasan. Daud juga berkata bahwa ia mempersembahkan semuanya dengan sukarela dan tulus hati, dan ia melihat umat memberi dengan sukacita. Ayat ini mengajarkan bahwa Tuhan melihat hati. Manusia melihat jumlah, tetapi Tuhan melihat motivasi. Manusia melihat siapa yang memberi besar, tetapi Tuhan melihat apakah pemberian itu tulus.
Keikhlasan sangat penting bagi P/KB. Ada orang memberi tetapi ingin dipuji. Ada yang melayani tetapi ingin dihormati. Ada yang membantu tetapi ingin dianggap berjasa. Ada yang bekerja di gereja tetapi penuh keluhan karena merasa tidak dihargai. Firman Tuhan berkata bahwa Tuhan menguji hati.
Karena itu, mari memeriksa motivasi kita. Mengapa kita melayani? Mengapa kita memberi? Mengapa kita memimpin? Apakah karena mengasihi Tuhan, atau karena ingin nama? Apakah karena syukur, atau karena terpaksa? Apakah karena ingin membangun jemaat, atau karena ingin menguasai? Tuhan berkenan kepada keikhlasan. Lebih baik tugas kecil dengan hati tulus daripada pekerjaan besar dengan hati sombong.
Pada ayat 18, Daud berdoa supaya Tuhan memelihara untuk selama-lamanya kecenderungan hati umat yang demikian dan tetap menujukan hati mereka kepada Tuhan. Daud tahu bahwa hati manusia mudah berubah. Hari ini seseorang dapat memberi dengan tulus, tetapi besok dapat menjadi sombong. Hari ini seseorang dapat setia, tetapi besok dapat berpaling. Karena itu, Daud memohon agar Tuhan menjaga hati umat.
Ini adalah doa yang penting untuk P/KB. Banyak laki-laki yang berubah setelah diberkati. Saat belum punya apa-apa, ia rendah hati. Setelah berhasil, ia mulai merasa tidak membutuhkan Tuhan. Saat masih berjuang, ia rajin berdoa. Setelah hidup nyaman, ia mulai menjauh dari ibadah. Saat belum dipercaya memimpin, ia rendah hati. Setelah memiliki jabatan, ia menjadi keras dan sulit ditegur.
Karena itu, kita perlu berdoa: “Tuhan, jagalah hatiku.” Kekayaan dan kemuliaan hanya aman di tangan orang yang hatinya tetap tertuju kepada Tuhan. Jika hati tidak dijaga, berkat bisa berubah menjadi berhala. Jabatan bisa berubah menjadi kesombongan. Pelayanan bisa berubah menjadi panggung diri. Karena itu, minta Tuhan memelihara hati kita.
Pada ayat 19, Daud berdoa untuk Salomo, anaknya, supaya Tuhan memberikan kepadanya hati yang tulus untuk tetap berpegang pada perintah, peringatan, dan ketetapan Tuhan, serta melakukan segala sesuatu dan mendirikan Bait Suci.
Daud tidak hanya mempersiapkan harta bagi Salomo. Ia mendoakan hati Salomo. Ini sangat penting. Daud tahu bahwa pekerjaan besar tidak cukup dengan bahan yang banyak. Salomo membutuhkan hati yang tulus dan taat.
Bagi P/KB, ayat ini sangat menegur. Banyak ayah berusaha meninggalkan warisan materi bagi anak-anak. Ada yang menyiapkan tanah, rumah, usaha, pendidikan, atau tabungan. Semua itu baik. Tetapi jangan lupa warisan iman.
Jangan hanya memberi anak fasilitas, tetapi doakan hatinya. Jangan hanya ingin anak sukses, tetapi doakan agar ia takut akan Tuhan. Jangan hanya bangga ketika anak punya pekerjaan, tetapi ajar dia hidup jujur. Jangan hanya tinggalkan harta, tetapi tinggalkan teladan iman.
Doa Daud untuk Salomo mengingatkan setiap ayah dan opa agar mendoakan generasi berikutnya. Anak dan cucu membutuhkan lebih dari uang. Mereka membutuhkan hati yang tulus di hadapan Tuhan. Mereka membutuhkan teladan.
Mereka membutuhkan ajaran firman. Mereka membutuhkan doa orang tua dan opa-oma. Warisan terbesar seorang P/KB bukan hanya apa yang ada di surat tanah, rekening, atau rumah, tetapi iman yang ditanamkan dalam kehidupan keluarga.
Penutup
Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi Tuhan, setelah merenungkan 1 Tawarikh 29:10–19, kita melihat bahwa tema “Kekayaan Dan Kemuliaan Berasal Dari Tuhan Allah” bukan hanya pengakuan yang indah untuk diucapkan, tetapi dasar hidup yang harus membentuk cara kita bekerja, memimpin keluarga, mengelola harta, melayani gereja, dan mewariskan iman kepada generasi berikutnya.
Daud adalah raja besar, tetapi ia tidak sombong. Ia memiliki kekayaan dan kehormatan, tetapi ia tahu semuanya berasal dari Tuhan. Ia memberi banyak untuk rumah Tuhan, tetapi ia tetap berkata bahwa dari tangan Tuhan sendirilah persembahan itu diberikan kembali kepada Tuhan. Ia mempersiapkan Salomo dengan harta dan bahan bangunan, tetapi yang paling penting, ia mendoakan hati Salomo supaya tulus dan taat kepada Tuhan.
Dari firman ini, ada beberapa kebenaran penting yang harus dipegang oleh P/KB.
Pertama, Tuhan adalah sumber segala kekayaan dan kemuliaan. Kerja keras penting, tetapi jangan lupa bahwa tenaga, kesehatan, kesempatan, dan hasil berasal dari Tuhan. Jangan sombong atas pekerjaan, usaha, jabatan, atau harta.
Kedua, manusia hanyalah pengelola. Semua yang ada pada kita adalah titipan. Uang, tanah, rumah, kendaraan, jabatan, keluarga, dan talenta harus dikelola dengan takut akan Tuhan. Kita akan mempertanggungjawabkannya kepada Allah.
Ketiga, memberi adalah tindakan syukur. Persembahan bukan transaksi agar Tuhan membalas, tetapi pengembalian kepada Tuhan dari apa yang telah Ia berikan. Berilah dengan sukacita dan ketulusan, bukan karena terpaksa atau ingin dipuji.
Keempat, Tuhan melihat hati. Jangan hanya terlihat baik di luar. Jangan melayani untuk mencari nama. Jangan memberi supaya dihormati. Tuhan menguji hati dan berkenan kepada keikhlasan.
Kelima, hidup manusia sementara. Hari-hari kita seperti bayang-bayang. Karena itu, jangan habiskan hidup hanya mengejar harta dan kehormatan dunia. Pakailah hidup untuk hal yang kekal: iman, kasih, kebenaran, pelayanan, dan warisan rohani.
Keenam, generasi berikutnya perlu didoakan. Daud mendoakan Salomo. Demikian juga setiap ayah dan opa harus mendoakan anak dan cucu, bukan hanya menyiapkan warisan materi bagi mereka.
Implikasi firman ini sangat nyata dalam kehidupan P/KB. Dalam keluarga, jadilah suami dan ayah yang mengakui Tuhan sebagai sumber berkat. Jangan jadikan uang sebagai alat untuk menguasai keluarga. Jangan merasa karena kita mencari nafkah maka semua orang harus tunduk pada kehendak kita. Nafkah adalah tanggung jawab, bukan alat kesombongan. Pimpin keluarga dengan kasih, bukan dengan tekanan.
Dalam pekerjaan, carilah kekayaan dengan cara yang benar. Jangan menipu, jangan korupsi, jangan mengambil hak orang lain, jangan merusak lingkungan, jangan mengeksploitasi pekerja. Kekayaan yang berasal dari Tuhan harus dicari dan dikelola dengan cara yang sesuai dengan Tuhan. Jika cara mendapatkannya melawan Tuhan, maka kekayaan itu akan menjadi jerat bagi hidup.
Dalam pelayanan, jadilah P/KB yang tulus. Jangan melayani hanya karena ingin dilihat. Jangan memberi bantuan untuk mencari pujian. Jangan menjadikan jabatan pelayanan sebagai tempat meninggikan diri. Pelayanan adalah kesempatan mengembalikan kemuliaan kepada Tuhan.
Dalam kehidupan sosial, pakailah kekayaan dan pengaruh untuk menolong. Jika Tuhan memberi lebih, bantulah yang kekurangan. Jika Tuhan memberi kemampuan, pakailah untuk membangun jemaat. Jika Tuhan memberi jabatan, pakailah untuk membela kebenaran. Jika Tuhan memberi pengalaman, pakailah untuk membimbing generasi muda.
Dalam hubungan dengan anak dan cucu, jangan hanya bertanya apa yang akan kita tinggalkan secara materi. Bertanyalah juga: iman apa yang kita wariskan? Apakah anak-anak melihat ayahnya berdoa? Apakah cucu-cucu mendengar opa bersaksi tentang Tuhan? Apakah keluarga melihat kita rendah hati ketika diberkati? Apakah mereka belajar dari kita bahwa kekayaan bukan Tuhan, tetapi titipan Tuhan?
Saudara-saudara, marilah kita memeriksa hati. Apakah berkat membuat kita semakin bersyukur atau semakin sombong? Apakah harta membuat kita semakin murah hati atau semakin takut kehilangan?
Apakah jabatan membuat kita semakin melayani atau semakin ingin dihormati? Apakah pelayanan membuat kita semakin rendah hati atau semakin merasa paling berjasa? Apakah keluarga kita melihat bahwa kita sungguh percaya kekayaan dan kemuliaan berasal dari Tuhan Allah?
Marilah kita belajar dari Daud. Ia besar, tetapi rendah hati. Ia kaya, tetapi mengakui Tuhan sebagai sumber. Ia memberi, tetapi tidak mencari nama. Ia memimpin, tetapi mengarahkan umat kepada Tuhan. Ia mempersiapkan generasi berikutnya, tetapi tidak lupa mendoakan hati mereka.
Marilah juga belajar dari janda miskin. Ia memiliki sedikit, tetapi memberi dengan hati tulus. Tuhan melihat ketulusannya. Ini menunjukkan bahwa ukuran Tuhan berbeda dari ukuran manusia. Tuhan tidak hanya melihat jumlah, tetapi melihat iman, keikhlasan, dan penyerahan hati.
Akhirnya, kiranya pengakuan Daud menjadi pengakuan P/KB GMIM: kekayaan dan kemuliaan berasal dari Tuhan Allah. Kiranya setiap hasil kerja membuat kita semakin bersyukur. Kiranya setiap keberhasilan membuat kita semakin rendah hati.
Kiranya setiap jabatan membuat kita semakin melayani. Kiranya setiap persembahan diberikan dengan hati tulus. Kiranya setiap keluarga belajar bahwa Tuhan adalah sumber hidup. Dan kiranya seluruh hidup P/KB menjadi persembahan yang memuliakan nama Tuhan.
Amin.
Editor : Clavel Lukas