Pekan Biasa XV (Warna Liturgi Hijau)
Bacaan I Yesaya 1:11-17
"Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?" firman TUHAN; "Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai.
Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku?
Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan.
Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya.
Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.
Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat,
belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
Mazmur 50:8-9.16bc-17.21.23
Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau; bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapan-Ku?
Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu,
Tetapi kepada orang fasik Allah berfirman: "Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu,
padahal engkaulah yang membenci teguran, dan mengesampingkan firman-Ku?
Itulah yang engkau lakukan, tetapi Aku berdiam diri; engkau menyangka, bahwa Aku ini sederajat dengan engkau. Aku akan menghukum engkau dan membawa perkara ini ke hadapanmu.
Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya."
Bacaan Injil Matius 10:34-11:1
"Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.
Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya,
dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.
Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.
Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.
Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.
Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.
Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya."
Setelah Yesus selesai berpesan kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus
Renungan
Saudara/i sering kali kita berpikir bahwa menjadi orang beriman berarti rajin mengikuti perayaan Ekaristi, aktif dalam pelayanan, tekun berdoa, atau setia mengikuti berbagai kegiatan gereja.
Semua itu memang baik dan penting. Namun, Sabda Tuhan hari ini mengingatkan bahwa semua bentuk ibadah akan kehilangan maknanya apabila tidak diiringi dengan hidup yang mencerminkan kasih, keadilan, dan belas kasih kepada sesama.
Melalui Nabi Yesaya, Tuhan menegur umat yang tampak saleh di luar, tetapi hidupnya masih dipenuhi ketidakadilan dan kejahatan. Ibadah tidak boleh menjadi topeng yang menutupi hati yang enggan bertobat.
Tuhan menghendaki pertobatan yang nyata, yaitu hati yang mau berubah, tangan yang siap menolong, serta hidup yang menjadi berkat bagi mereka yang lemah, miskin, dan tersingkir.
Dalam Injil, Yesus juga menyampaikan bahwa mengikuti-Nya bukanlah jalan yang selalu mudah. Kesetiaan kepada Kristus kadang menuntut keberanian untuk memilih yang benar, sekalipun pilihan itu tidak selalu dimengerti oleh orang-orang terdekat.
"Pedang" yang dimaksud bukanlah ajakan untuk menciptakan permusuhan, melainkan gambaran bahwa kebenaran sering kali menuntut keputusan yang tegas.
Menjadi murid Kristus berarti berani menempatkan kehendak Tuhan di atas kepentingan pribadi, kenyamanan, bahkan penerimaan dari lingkungan sekitar.
Mengikuti Kristus juga berarti memikul salib setiap hari. Salib itu bisa berupa perjuangan melawan egoisme, belajar mengampuni, tetap jujur ketika orang lain memilih jalan pintas, atau tetap berbuat baik meskipun tidak dihargai.
Salib bukan tanda bahwa Tuhan meninggalkan kita, melainkan tanda bahwa kita sedang berjalan bersama-Nya menuju kehidupan yang lebih penuh.
Menariknya, Yesus menutup pengajaran-Nya dengan hal yang sangat sederhana: memberi perhatian kepada orang lain, bahkan melalui tindakan sekecil apa pun.
Di mata Tuhan, kasih tidak selalu diukur dari tindakan besar, tetapi dari ketulusan hati. Senyum yang menguatkan, telinga yang mau mendengarkan, bantuan kecil kepada mereka yang membutuhkan.
Atau kepedulian kepada seseorang yang sedang berjuang semuanya bernilai besar di hadapan Allah bila dilakukan dengan kasih.
Sebagai orang Katolik, kita dipanggil untuk menyatukan doa dan tindakan. Perayaan Ekaristi yang kita ikuti setiap Minggu seharusnya mendorong kita menjadi pribadi yang semakin mengasihi, semakin jujur, semakin peduli, dan semakin rela berkorban.
Iman tidak berhenti di dalam gereja, tetapi harus terus hidup di rumah, di tempat kerja, di sekolah, dan di tengah masyarakat.
Marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah hidup rohani saya hanya tampak dalam doa dan kegiatan gereja, atau juga terlihat dalam cara saya memperlakukan sesama?.
Semoga Tuhan memberi kita hati yang tulus untuk beribadah, keberanian untuk memikul salib, dan kasih yang nyata dalam setiap tindakan, sehingga hidup kita sungguh menjadi kesaksian akan kehadiran Kristus di dunia.(*)
Editor : Fandy Gerungan