Renungan Pantekosta Jumat 28 agustus 2026, Ulangan 9–10 Jangan Lupakan Tuhan

Deiby Rotinsulu • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 09:50 WIB
Gereja Pantekosta di Indonesia
Gereja Pantekosta di Indonesia

 

Ayat Kunci: Ulangan 10:12
"Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu,"

Setiap orang percaya perlu menyadari bahwa segala kebaikan yang diterima dalam hidup bukanlah semata-mata hasil kekuatan, kemampuan, kepintaran, atau usaha manusia. Ada tangan Tuhan yang bekerja, ada kasih karunia Tuhan yang menopang, dan ada kemurahan Tuhan yang membawa kita sampai pada hari ini.

Ulangan pasal 9 dan 10 mengingatkan bangsa Israel tentang perjalanan mereka bersama Tuhan. Ketika mereka akan memasuki Tanah Perjanjian, Musa mengingatkan agar bangsa itu tidak menjadi sombong dan merasa bahwa keberhasilan yang mereka terima adalah karena kebenaran atau kehebatan mereka sendiri.

Melalui dua pasal ini, kita belajar tentang kerendahan hati, kesetiaan Tuhan, pentingnya pertobatan, dan kehidupan yang takut akan Tuhan.

1. Ulangan 9: Jangan Menjadi Sombong Karena Berkat Tuhan

Dalam Ulangan 9, Musa berbicara kepada bangsa Israel yang sedang bersiap memasuki tanah yang dijanjikan Tuhan. Di hadapan mereka ada bangsa-bangsa yang kuat, kota-kota yang besar, dan tantangan yang tidak mudah.

Namun Tuhan sendiri yang berjanji akan berjalan di depan mereka dan memberikan kemenangan.

Musa kemudian memberikan peringatan yang sangat penting. Bangsa Israel tidak boleh berkata dalam hati bahwa mereka memperoleh tanah itu karena kebenaran mereka sendiri.

Ulangan 9:4
"Janganlah engkau berkata dalam hatimu, setelah TUHAN, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu: Karena jasa-jasaku TUHAN membawa aku masuk menduduki negeri ini, padahal karena kefasikan bangsa-bangsa itulah TUHAN menghalau mereka dari hadapanmu."

Firman ini mengajarkan kepada kita bahwa berkat Tuhan bukan alasan untuk menjadi sombong.

Sering kali ketika seseorang berhasil, ia mulai merasa bahwa semua yang dimilikinya berasal dari kekuatannya sendiri. Ketika pekerjaan berhasil, usaha berkembang, pelayanan diberkati, atau kehidupan berjalan dengan baik, manusia dapat dengan mudah melupakan Tuhan.

Padahal, kalau kita melihat perjalanan hidup kita dengan jujur, ada banyak hal yang terjadi bukan karena kekuatan kita.

Ada pintu yang Tuhan buka.

Ada bahaya yang Tuhan jauhkan.

Ada pertolongan yang datang pada waktu yang tidak kita sangka.

Ada kekuatan yang Tuhan berikan ketika kita merasa tidak sanggup lagi.

Karena itu, keberhasilan seharusnya membuat kita semakin rendah hati, bukan semakin meninggikan diri.

Musa bahkan mengingatkan bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang sering kali keras kepala. Mereka telah menyaksikan kuasa Tuhan, tetapi berulang kali memberontak kepada-Nya. Salah satu peristiwa yang diingatkan dalam pasal ini adalah ketika bangsa Israel membuat anak lembu emas.

Ketika Musa berada di atas gunung untuk menerima hukum Tuhan, bangsa Israel justru berpaling dan membuat berhala.

Betapa mudahnya hati manusia melupakan Tuhan.

Mereka baru saja melihat Laut Teberau terbelah. Mereka telah melihat Tuhan memimpin dengan tiang awan dan tiang api. Mereka telah menerima manna di padang gurun. Namun ketika Musa tidak ada bersama mereka dalam waktu tertentu, hati mereka dengan cepat berpaling.

Hal ini menjadi peringatan bagi kita. Jangan sampai kita rajin mencari Tuhan hanya ketika sedang mengalami kesulitan, tetapi mulai melupakan Tuhan ketika keadaan sudah baik.

Jangan sampai kita berdoa dengan sungguh-sungguh ketika membutuhkan pertolongan, tetapi tidak lagi memiliki waktu untuk Tuhan setelah menerima apa yang kita doakan.

Berkat tidak boleh membuat kita melupakan Sang Pemberi Berkat.

Sebagai orang percaya yang dipenuhi Roh Kudus, kita harus hidup dalam kesadaran bahwa segala sesuatu yang baik berasal dari Tuhan. Roh Kudus menolong kita untuk tetap memiliki hati yang rendah, mengingat kebaikan Tuhan, dan tidak membanggakan diri.

2. Ulangan 10: Tuhan Menghendaki Hati yang Takut Akan Dia

Setelah mengingatkan bangsa Israel tentang pemberontakan mereka, Ulangan 10 menunjukkan kembali kemurahan Tuhan.

Musa diperintahkan untuk membuat dua loh batu seperti yang pertama. Tuhan kembali menuliskan perintah-Nya. Ini menunjukkan bahwa meskipun manusia telah gagal dan memberontak, Tuhan tetap membuka jalan bagi pemulihan.

Ini adalah gambaran kasih karunia Tuhan.

Manusia mungkin pernah jatuh.

Kita mungkin pernah gagal.

Kita mungkin pernah mengambil keputusan yang salah.

Namun ketika kita datang kepada Tuhan dengan hati yang sungguh-sungguh, Tuhan sanggup memulihkan kehidupan kita.

Tuhan tidak hanya ingin memberikan berkat kepada umat-Nya. Tuhan juga menghendaki umat yang hidup dekat dan taat kepada-Nya.

Musa kemudian menyampaikan pertanyaan yang sangat penting:

Ulangan 10:12
"Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu,"

Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan menghendaki lebih dari sekadar aktivitas keagamaan.

Tuhan menghendaki:

Pertama, takut akan Tuhan.
Takut akan Tuhan berarti menghormati Dia, mengakui otoritas-Nya, dan tidak hidup sembarangan di hadapan-Nya.

Kedua, hidup menurut jalan-Nya.
Iman bukan hanya tentang apa yang kita katakan, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalani kehidupan setiap hari. Kehidupan kita harus mencerminkan kehendak Tuhan.

Ketiga, mengasihi Tuhan.
Ketaatan yang sejati lahir dari kasih. Kita melayani Tuhan bukan hanya karena kewajiban, tetapi karena kita mengasihi Dia yang telah lebih dahulu mengasihi kita.

Keempat, beribadah kepada Tuhan dengan segenap hati dan jiwa.
Tuhan tidak mencari penyembahan yang hanya terlihat dari luar. Tuhan melihat hati. Ia menghendaki kehidupan yang sungguh-sungguh diserahkan kepada-Nya.

Inilah yang sangat penting dalam kehidupan orang percaya dan kehidupan Pantekosta. Kita bukan hanya dipanggil untuk mengalami kuasa Roh Kudus, tetapi juga untuk hidup dipimpin oleh Roh Kudus.

Kepenuhan Roh Kudus harus menghasilkan perubahan dalam karakter, perkataan, sikap, dan cara hidup kita.

3. Sunatlah Hatimu

Dalam Ulangan 10:16, Musa memberikan sebuah perintah yang sangat dalam:

Ulangan 10:16
"Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk."

Tuhan tidak hanya melihat penampilan luar. Tuhan melihat hati manusia.

Seseorang mungkin terlihat rohani di depan banyak orang, tetapi Tuhan mengetahui apa yang ada di dalam hati. Karena itu, yang Tuhan inginkan adalah hati yang diubahkan.

Hati yang keras harus dilembutkan.

Hati yang penuh kesombongan harus direndahkan.

Hati yang menyimpan kepahitan harus dipulihkan.

Hati yang tidak taat harus dibawa kembali kepada kehendak Tuhan.

Roh Kudus bekerja bukan hanya untuk memberikan pengalaman rohani, tetapi juga untuk membentuk hati kita menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Mari kita membuka hati kepada pekerjaan Roh Kudus.

Biarlah Roh Kudus menyelidiki setiap bagian kehidupan kita. Jika masih ada kesombongan, biarlah Tuhan menolong kita untuk rendah hati. Jika masih ada pemberontakan, biarlah Tuhan membawa kita kepada pertobatan. Jika hati kita mulai jauh dari Tuhan, biarlah Roh Kudus menarik kita kembali kepada hadirat-Nya.

4. Tuhan Mengasihi Semua Orang

Ulangan 10 juga menunjukkan karakter Tuhan yang luar biasa. Tuhan adalah Allah yang besar dan berkuasa, tetapi Dia juga memperhatikan orang yang lemah.

Ulangan 10:18
"yang membela hak anak yatim dan janda dan menunjukkan kasih-Nya kepada orang asing dengan memberikan kepadanya makanan dan pakaian."

Ini mengajarkan bahwa kehidupan yang takut akan Tuhan tidak hanya terlihat dalam doa dan ibadah, tetapi juga dalam cara kita memperlakukan sesama.

Jika kita mengasihi Tuhan, maka kasih itu seharusnya terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Kita dipanggil untuk peduli kepada orang yang membutuhkan.

Kita dipanggil untuk menguatkan mereka yang sedang lemah.

Kita dipanggil untuk menjadi saluran kasih Tuhan.

Jangan sampai kita merasa dekat dengan Tuhan dalam ibadah, tetapi tidak memiliki kasih kepada sesama.

Roh Kudus yang tinggal dalam kehidupan kita seharusnya menghasilkan buah yang nyata. Kehadiran Roh Kudus membuat hati kita semakin memiliki belas kasih, kesabaran, kasih, dan kerinduan untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Ulangan 9 dan 10 membawa kita kepada satu perenungan penting: jangan pernah melupakan Tuhan ketika kita menerima berkat dan kemenangan.

Apa pun yang kita miliki hari ini adalah karena kemurahan Tuhan.

Jangan menjadi sombong ketika berhasil.

Jangan menjadi keras hati ketika Tuhan menegur.

Jangan berpaling ketika keadaan hidup sudah membaik.

Tetaplah takut akan Tuhan.

Tetaplah berjalan dalam jalan-Nya.

Tetaplah mengasihi Dia dengan segenap hati.

Dan biarlah Roh Kudus terus bekerja dalam kehidupan kita, mengubah hati yang keras menjadi hati yang taat, hati yang sombong menjadi rendah hati, dan kehidupan yang hanya mencari berkat menjadi kehidupan yang sungguh-sungguh mencari Tuhan.

Doa

Tuhan Yesus, terima kasih untuk Firman-Mu hari ini. Ampuni kami jika selama ini kami sering melupakan Engkau ketika keadaan hidup kami baik. Ajarlah kami untuk tetap rendah hati dan menyadari bahwa segala sesuatu yang kami miliki berasal dari kemurahan-Mu.

Tuhan, sunatlah hati kami dan jauhkan kami dari hati yang keras serta kehidupan yang tidak taat. Penuhi kami dengan Roh Kudus agar kami bukan hanya mengalami kuasa-Mu, tetapi juga memiliki karakter yang semakin berkenan kepada-Mu.

Mampukan kami untuk takut akan Tuhan, berjalan dalam jalan-Mu, mengasihi-Mu dengan segenap hati, dan menjadi saluran kasih bagi sesama.

Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin (*)

Editor : Deiby Rotinsulu
Jangan Lupakan Tuhan di Tengah Berkat Jumat 28 agustus 2026 Ulangan 9–10 Renungan Pantekosta