Renungan Keluaran 18:13-27, Carilah Orang Yang Cakap Dan Takut Akan Allah

Clavel Lukas • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 13:59 WIB
Ilustrasi Alkitab.
Ilustrasi Alkitab.

Bacaan Alkitab : Keluaran 18:13-27

Tema: “Carilah Orang Yang Cakap Dan Takut Akan Allah”

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, dalam kehidupan bersama kita sering menjumpai satu persoalan yang sederhana tetapi sangat menentukan keberhasilan sebuah keluarga, organisasi, gereja, pelayanan, bahkan bangsa, yaitu persoalan memilih orang yang tepat untuk memegang tanggung jawab. Tidak semua orang yang kelihatan pintar otomatis cocok memimpin. Tidak semua orang yang pandai berbicara berarti memiliki karakter yang kuat.

Tidak semua orang yang punya banyak pengalaman berarti memiliki takut akan Tuhan. Karena itu, firman Tuhan dalam Keluaran 18:13-27 memberikan kepada kita satu prinsip yang sangat penting, yaitu bahwa tanggung jawab besar tidak boleh diletakkan sembarangan, melainkan harus dipercayakan kepada orang-orang yang cakap, takut akan Allah, dapat dipercaya, dan menjauhi keuntungan yang tidak benar.

Tema kita, “Carilah Orang Yang Cakap Dan Takut Akan Allah,” bukan hanya berbicara tentang bagaimana Musa memilih pembantu dalam memimpin Israel, tetapi juga berbicara tentang bagaimana umat Tuhan membangun kehidupan bersama yang sehat. Di dalam keluarga kita membutuhkan orang yang bertanggung jawab. Di dalam gereja kita membutuhkan pelayan yang berintegritas.

Baca Juga: MTPJ GMIM 6-12 September 2026, Efesus 4:17-32, Carilah Orang Yang Cakap Dan Takut Akan Allah

Baca Juga: Materi Khotbah Keluaran 18:13-27, Carilah Orang Yang Cakap Dan Takut Akan Allah

Di dalam pekerjaan kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya kompeten, tetapi juga jujur. Di dalam masyarakat kita membutuhkan orang-orang yang mampu menggunakan kekuasaan dan kepercayaan secara benar. Karena itu, firman ini sangat relevan dengan kehidupan sekarang ketika banyak orang mengejar jabatan, posisi, pengaruh, dan kekuasaan, tetapi tidak semua siap secara karakter untuk memikul tanggung jawab tersebut.

Kita hidup di zaman ketika kemampuan sering lebih cepat dilihat daripada karakter. Orang dinilai dari ijazah, jabatan, keterampilan, jumlah pengikut, jaringan, kemampuan berbicara, atau keberhasilan finansial. Semua itu penting dalam tempatnya, tetapi firman Tuhan menunjukkan bahwa kecakapan saja tidak cukup.

Seseorang mungkin sangat pintar, tetapi bila tidak takut akan Allah, kepintarannya dapat dipakai untuk kepentingan diri sendiri. Seseorang mungkin pandai mengatur, tetapi bila tidak dapat dipercaya, ia dapat menyalahgunakan kepercayaan. Seseorang mungkin memiliki jabatan, tetapi bila mencintai keuntungan yang tidak benar, jabatan itu dapat menjadi sumber kehancuran.

Sebaliknya, takut akan Allah tanpa kesediaan belajar dan bertumbuh dalam kecakapan juga dapat membuat seseorang tidak maksimal menjalankan tanggung jawab. Karena itu, nasihat Yitro kepada Musa sangat seimbang. Ia tidak berkata hanya mencari orang baik, dan ia juga tidak berkata hanya mencari orang pintar. Ia berkata mencari orang yang cakap dan takut akan Allah, orang yang dapat dipercaya dan membenci suap atau keuntungan yang tidak benar.

Di sinilah kita belajar bahwa dalam pandangan Tuhan, kualitas seorang pemimpin tidak boleh dipisahkan antara kemampuan dan karakter, antara kecakapan dan kesalehan, antara keahlian dan integritas.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,

Kitab Keluaran merupakan bagian penting dari kisah pembentukan bangsa Israel. Kitab ini melanjutkan kisah Kejadian ketika keturunan Yakub berkembang menjadi bangsa yang besar di Mesir, tetapi kemudian mengalami perbudakan. Tuhan mendengar seruan mereka dan memanggil Musa untuk membawa umat keluar dari perbudakan.

Melalui berbagai tulah dan tindakan penyelamatan yang besar, Tuhan membebaskan Israel dari Mesir. Laut Teberau terbelah, bangsa itu menyeberang, dan Tuhan memimpin mereka menuju padang gurun. Namun setelah keluar dari Mesir, persoalan Israel belum selesai. Mereka memang sudah bebas dari perbudakan, tetapi sekarang mereka harus belajar menjadi sebuah komunitas umat Tuhan.

Pembebasan bukan akhir perjalanan. Sesudah dibebaskan, Israel harus dibentuk. Mereka harus belajar hidup dalam aturan, tanggung jawab, persekutuan, dan ketaatan. Di sinilah Keluaran 18 menjadi sangat penting.

Sebelum bangsa itu menerima hukum di Gunung Sinai, Musa mengalami satu persoalan besar: semua persoalan umat datang kepadanya. Dari pagi sampai petang ia duduk mengadili bangsa itu. Semua orang menunggu Musa untuk mendapat keputusan.

Yitro, mertua Musa, melihat situasi tersebut dan menyadari bahwa sistem seperti itu tidak sehat. Ia mengatakan kepada Musa bahwa apa yang dilakukan Musa tidak baik, karena Musa dan bangsa itu akan menjadi sangat lelah.

Nasihat Yitro bukan sekadar nasihat organisasi. Ada hikmat rohani di dalamnya. Tuhan memang memanggil Musa sebagai pemimpin, tetapi panggilan tidak berarti bahwa Musa harus melakukan semua pekerjaan sendirian.

Tuhan dapat memberikan panggilan kepada satu orang, tetapi pekerjaan-Nya sering dilakukan melalui banyak orang.

Karena itu, Keluaran 18 mengajarkan pentingnya pembagian tanggung jawab, pendelegasian, struktur kepemimpinan, dan pemilihan orang-orang yang tepat untuk menjalankan tanggung jawab.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,

Tema Carilah Orang Yang Cakap Dan Takut Akan Allah ini berasal dari nasihat Yitro kepada Musa dalam ayat 21. Ada empat kualitas utama yang disebutkan dalam ayat tersebut: cakap, takut akan Allah, dapat dipercaya, dan benci kepada pengejaran keuntungan yang tidak benar.

Pertama, cakap berarti memiliki kemampuan untuk menjalankan tanggung jawab. Kesalehan tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak belajar atau tidak memiliki kemampuan. Orang yang menerima tugas harus sungguh-sungguh mempersiapkan diri.

Kedua, takut akan Allah berarti hidup dengan kesadaran bahwa segala sesuatu dilakukan di hadapan Tuhan. Orang yang takut akan Tuhan tidak hanya bertanya, “Apakah orang lain melihat?” tetapi bertanya, “Apakah ini benar di hadapan Tuhan?”

Ketiga, dapat dipercaya berarti memiliki integritas. Perkataan dapat dipegang, keputusan tidak mudah berubah karena kepentingan, dan tanggung jawab dijalankan dengan setia.

Keempat, membenci pengejaran keuntungan yang tidak benar berarti tidak menjadikan jabatan sebagai alat memperkaya diri atau mencari keuntungan pribadi.

Semua kualitas ini sangat dibutuhkan dalam gereja dan masyarakat sekarang. Kita tidak boleh memilih orang hanya karena dekat dengan kita, keluarga kita, kelompok kita, atau karena orang tersebut populer. Orang yang memegang tanggung jawab harus dinilai dari kapasitas, karakter, takut akan Tuhan, kejujuran, dan kesetiaannya.

Pembahasan Ayat Demi Ayat

Ayat 13. Keesokan harinya Musa duduk untuk mengadili bangsa itu, dan orang banyak berdiri di sekeliling Musa dari pagi sampai petang. Gambaran ini menunjukkan betapa besar beban yang dipikul Musa. Ia menjadi pusat dari seluruh proses penyelesaian persoalan umat. Setiap masalah datang kepadanya dan setiap keputusan harus melewati dirinya. Secara sekilas hal ini mungkin terlihat sebagai bentuk tanggung jawab yang besar, tetapi sebenarnya ada kelemahan dalam sistem tersebut. Ketika semua hal bergantung pada satu orang, pemimpin dapat menjadi sangat lelah dan umat pun harus menunggu terlalu lama.

Dalam kehidupan sekarang, pola ini masih sering terjadi. Ada pemimpin yang merasa semua harus melewati dirinya, semua keputusan harus ia buat, dan semua tugas harus ia kontrol. Kadang hal ini dianggap sebagai bentuk keseriusan, tetapi dalam jangka panjang justru dapat melemahkan pelayanan. Tuhan tidak menciptakan satu orang untuk menjadi segala-galanya. Bahkan pemimpin yang sangat dipakai Tuhan tetap membutuhkan orang lain untuk bekerja bersama.

Ayat 14. Ketika Yitro melihat semua yang dilakukan Musa bagi bangsa itu, ia bertanya mengapa Musa duduk seorang diri sementara seluruh bangsa berdiri menunggu dari pagi sampai petang. Pertanyaan Yitro sangat sederhana tetapi tajam. Kadang seorang pemimpin terlalu sibuk menjalankan sesuatu sampai tidak sempat lagi menilai apakah cara yang dipakai masih sehat atau tidak. Di sinilah pentingnya memiliki orang yang dapat memberikan pandangan dari luar.

Yitro bukan sedang merendahkan Musa, tetapi membantu Musa melihat sesuatu yang mungkin tidak ia lihat karena terlalu sibuk. Dalam kehidupan sekarang, kita juga membutuhkan orang-orang yang berani memberi nasihat yang jujur. Tidak semua kritik adalah serangan. Ada kritik yang menjadi alat Tuhan untuk memperbaiki cara kita bekerja. Pemimpin yang bijaksana bukan pemimpin yang selalu merasa paling benar, tetapi pemimpin yang bersedia mendengar ketika orang lain melihat sesuatu yang perlu diperbaiki.

Ayat 15-16. Musa menjelaskan bahwa bangsa itu datang kepadanya untuk mencari keputusan Allah. Ketika ada persoalan, Musa memutuskan perkara dan memberitahukan ketetapan serta hukum Allah. Dari jawaban Musa terlihat bahwa tugas yang ia lakukan adalah tugas yang penting. Musa tidak melakukan pekerjaan yang salah. Ia membantu bangsa memahami kehendak Tuhan. Masalahnya bukan pada tujuan pelayanan, tetapi pada cara pelaksanaannya. Ini menjadi pelajaran penting bahwa sesuatu yang baik dapat dilakukan dengan cara yang tidak sehat.

Ada pelayan yang melakukan pekerjaan Tuhan tetapi sampai kehilangan waktu untuk keluarga, kehilangan kesehatan, dan kehilangan kemampuan untuk beristirahat. Ada juga pelayanan yang terlalu tergantung pada satu orang sehingga ketika orang itu tidak ada, semuanya berhenti. Firman ini mengajarkan bahwa tujuan yang baik tetap membutuhkan cara yang bijaksana. Pelayanan harus dilakukan dengan struktur dan pembagian tanggung jawab yang sehat.

Ayat 17-18. Yitro berkata dengan terus terang, “Tidak baik seperti yang kaulakukan itu.” Ia kemudian menjelaskan bahwa Musa dan bangsa itu akan menjadi sangat lelah karena pekerjaan itu terlalu berat untuk dilakukan seorang diri. Kata-kata ini sangat penting karena bahkan orang yang dipanggil Tuhan tetap memiliki batas. Musa adalah pemimpin besar, tetapi ia bukan manusia tanpa batas. Ia membutuhkan pertolongan. Dalam budaya tertentu, meminta bantuan dianggap sebagai kelemahan, padahal dalam firman Tuhan, kesediaan menerima bantuan adalah bagian dari hikmat.

Seorang pemimpin tidak harus melakukan semuanya sendiri untuk membuktikan bahwa ia mampu. Justru seorang pemimpin yang sehat tahu kapan harus mengerjakan sendiri dan kapan harus mempercayakan kepada orang lain. Hal ini berlaku dalam gereja, keluarga, pekerjaan, dan organisasi. Beban yang terus dipikul sendirian pada akhirnya dapat membuat seseorang lelah secara fisik, emosional, bahkan rohani.

Ayat 19. Yitro kemudian berkata supaya Musa mendengarkan nasihatnya dan ia berdoa agar Allah menyertai Musa. Di sini kita melihat sikap yang sangat indah. Yitro tidak hanya mengkritik, tetapi memberikan solusi. Kritik yang sehat tidak berhenti pada menunjukkan kesalahan, tetapi membantu menemukan jalan keluar. Ia juga menempatkan nasihatnya di bawah penyertaan Allah. Artinya, struktur organisasi saja tidak cukup.

Sistem yang baik tetap membutuhkan penyertaan Tuhan. Dalam gereja, kita dapat memiliki program yang bagus, orang yang pintar, dan struktur yang rapi, tetapi tanpa bergantung kepada Tuhan semuanya dapat kehilangan arah. Karena itu, kepemimpinan Kristen membutuhkan dua hal: hikmat dalam mengatur dan ketergantungan kepada Allah.

Ayat 20. Yitro berkata kepada Musa supaya ia mengajarkan ketetapan dan hukum Allah kepada bangsa itu serta menunjukkan kepada mereka jalan yang harus ditempuh dan pekerjaan yang harus dilakukan. Ini menunjukkan bahwa tugas utama pemimpin bukan mengerjakan semua hal, tetapi memperlengkapi orang lain supaya mereka tahu bagaimana harus hidup dan bertindak. Musa tetap mempunyai peran penting sebagai pengajar. Ia tidak menyerahkan seluruh tanggung jawabnya kepada orang lain. Ia justru memusatkan diri pada tugas yang hanya dapat dan harus ia lakukan.

Dalam konteks gereja sekarang, pemimpin rohani bukan hanya orang yang menyelesaikan semua persoalan jemaat, tetapi orang yang memperlengkapi jemaat supaya bertumbuh dewasa. Orang tua juga demikian. Tugas orang tua bukan selamanya mengatur setiap keputusan anak, tetapi mengajarkan nilai dan firman Tuhan supaya anak mampu mengambil keputusan yang benar ketika suatu saat harus berdiri sendiri.

Ayat 21. Inilah ayat utama tema kita. Yitro berkata supaya Musa mencari dari seluruh bangsa orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya dan benci kepada pengejaran keuntungan yang tidak benar. Di sini kita melihat bahwa pemilihan pemimpin harus memperhatikan kemampuan dan karakter sekaligus. Cakap berarti mampu menjalankan tugas dengan baik.

Takut akan Allah berarti memiliki dasar rohani yang benar. Dapat dipercaya berarti memiliki integritas. Membenci keuntungan yang tidak benar berarti tidak mudah dibeli oleh uang atau kepentingan. Dalam kehidupan sekarang, kita sering melihat orang dinilai berdasarkan popularitas, kedekatan, hubungan keluarga, kekayaan, atau kemampuan berbicara. Tetapi firman Tuhan memberi ukuran yang lebih dalam. 

Ketika memilih pelayan, pengurus, pemimpin, atau orang yang akan dipercaya memegang tanggung jawab, jangan hanya melihat siapa yang paling dekat, tetapi siapa yang paling layak menurut karakter dan kemampuannya. Orang yang cakap tetapi tidak jujur dapat berbahaya. Orang yang takut Tuhan tetapi tidak mau belajar juga dapat kesulitan menjalankan tugas. Tuhan menghendaki keduanya berjalan bersama.

Ayat 22. Orang-orang yang dipilih itu kemudian harus mengadili bangsa setiap waktu. Perkara besar tetap dibawa kepada Musa, tetapi perkara kecil dapat mereka putuskan sendiri. Ini merupakan bentuk pendelegasian yang sehat. Musa tidak kehilangan kepemimpinan ketika ia membagi tanggung jawab. Sebaliknya, kepemimpinannya menjadi semakin efektif.

Pemimpin yang takut kehilangan kuasa biasanya sulit mendelegasikan, karena ia merasa jika orang lain mulai mampu, posisinya akan terancam. Namun pemimpin yang dewasa justru senang ketika orang lain bertumbuh. Dalam pelayanan Kristen, keberhasilan pemimpin tidak hanya diukur dari seberapa banyak yang dapat ia lakukan, tetapi juga dari seberapa banyak orang yang berhasil ia perlengkapi dan percayakan untuk melayani.

Ayat 23. Yitro berkata bahwa jika Musa melakukan hal tersebut dan Allah memerintahkannya demikian, Musa akan sanggup bertahan dan bangsa itu akan pulang dengan puas. Di sini kita melihat dua hasil dari kepemimpinan yang sehat. Pertama, pemimpin dapat bertahan. Kedua, umat terlayani dengan lebih baik. Sistem yang sehat tidak hanya menguntungkan pemimpin, tetapi juga umat.

Dalam gereja, jangan sampai pelayanan terlihat berhasil tetapi para pelayan habis kelelahan. Jangan sampai program berjalan tetapi keluarga para pelayan hancur karena tidak pernah mendapatkan waktu. Jangan sampai semua kegiatan harus bergantung kepada satu orang. Kepemimpinan yang sehat memperhatikan keberlanjutan, keseimbangan, dan kebaikan seluruh komunitas.

Ayat 24. Musa mendengarkan perkataan mertuanya dan melakukan segala yang dikatakannya. Ini menunjukkan kerendahan hati Musa. Ia tidak berkata, “Saya yang dipanggil Tuhan, bukan engkau.” Ia tidak merasa pengalaman bersama Tuhan membuatnya tidak perlu menerima nasihat dari orang lain. Justru karena Musa adalah pemimpin besar, ia mampu mendengarkan nasihat yang benar.

Kerendahan hati merupakan ciri penting seorang pemimpin. Orang yang tidak bisa dikoreksi akan sulit bertumbuh. Dalam keluarga, gereja, dan pelayanan, kita perlu belajar mendengar. Kadang Tuhan berbicara melalui pasangan, anak, rekan kerja, sesama pelayan, atau orang yang kita anggap lebih sederhana daripada kita.

Ayat 25. Musa memilih orang-orang yang cakap dari seluruh Israel dan mengangkat mereka menjadi kepala atas bangsa, pemimpin seribu orang, seratus orang, lima puluh orang, dan sepuluh orang. Ini menunjukkan adanya pembagian struktur dan tanggung jawab. Semua orang tidak memegang tugas yang sama, tetapi masing-masing diberi tanggung jawab sesuai kapasitasnya.

Dalam tubuh Kristus pun tidak semua orang mempunyai karunia yang sama. Ada yang mengajar, ada yang melayani, ada yang memimpin, ada yang menolong, dan ada yang melakukan pekerjaan yang tidak terlihat tetapi sangat penting. Karena itu, gereja tidak boleh hanya menghargai orang yang terlihat di depan. Setiap orang yang setia menjalankan tugasnya memiliki tempat penting dalam pekerjaan Tuhan.

Ayat 26. Mereka mengadili bangsa itu setiap waktu. Perkara yang sukar dibawa kepada Musa, tetapi perkara yang kecil mereka putuskan sendiri. Ayat ini menunjukkan bahwa pendelegasian juga membutuhkan batas yang jelas. Orang harus tahu apa yang menjadi kewenangannya dan kapan ia perlu membawa persoalan kepada tingkat yang lebih tinggi.

Dalam kepemimpinan modern, hal ini sangat penting. Banyak konflik terjadi karena tanggung jawab tidak jelas, sehingga orang saling mengambil alih atau saling melempar tugas. Firman Tuhan menunjukkan pentingnya keteraturan. Setiap orang harus tahu tugas, batas, dan tanggung jawabnya.

Ayat 27. Setelah semuanya selesai, Musa membiarkan Yitro pergi dan Yitro kembali ke negerinya. Bagian ini terlihat sederhana tetapi mengakhiri sebuah perubahan besar dalam sistem kepemimpinan Israel.

 Nasihat Yitro tidak hanya membantu Musa untuk hari itu, tetapi memberikan pola kepemimpinan yang lebih sehat untuk perjalanan berikutnya. Satu nasihat yang diterima dengan rendah hati dapat membawa dampak besar. Karena itu, jangan meremehkan hikmat yang Tuhan berikan melalui orang lain.

Penutup

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, firman Tuhan hari ini membawa kita kembali kepada tema yang sangat kuat: “Carilah Orang Yang Cakap Dan Takut Akan Allah.”

Kita belajar bahwa Tuhan tidak hanya memandang kemampuan, tetapi juga karakter. Tuhan tidak hanya melihat kepintaran, tetapi juga takut akan Allah. Tuhan tidak hanya melihat keberanian memimpin, tetapi juga kemampuan untuk dapat dipercaya. Tuhan tidak hanya melihat siapa yang mampu bekerja, tetapi juga siapa yang tidak menjadikan tanggung jawab sebagai jalan mencari keuntungan pribadi.

Karena itu, firman ini pertama-tama bukan hanya untuk menilai orang lain, tetapi untuk memeriksa diri sendiri.

Apakah kita termasuk orang yang cakap?

Apakah kita bersedia terus belajar dan meningkatkan kemampuan?

Apakah kita takut akan Allah?

Apakah kita tetap melakukan yang benar ketika tidak ada orang yang melihat?

Apakah kita dapat dipercaya?

Apakah perkataan kita dapat dipegang?

Apakah kita menjalankan tanggung jawab dengan setia?

Apakah kita membenci keuntungan yang tidak benar?

Apakah kita menggunakan jabatan sebagai pelayanan atau sebagai kesempatan mencari kepentingan diri sendiri?

Inilah pertanyaan yang harus kita bawa kepada Tuhan.

Ada beberapa hal penting dari firman ini.

Pertama, kecakapan harus berjalan bersama dengan takut akan Tuhan. Gereja dan masyarakat membutuhkan orang yang mampu sekaligus berintegritas. Jangan puas hanya menjadi orang baik, tetapi teruslah belajar supaya semakin cakap. Dan jangan puas hanya menjadi orang pintar, tetapi biarlah takut akan Tuhan menjadi dasar kehidupan.

Kedua, karakter lebih penting daripada popularitas. Orang yang populer belum tentu dapat dipercaya. Orang yang banyak dikenal belum tentu takut akan Allah. Karena itu, dalam memberikan tanggung jawab jangan hanya melihat kedekatan atau popularitas, tetapi lihatlah karakter.

Ketiga, pemimpin tidak boleh bekerja sendirian. Musa belajar membagi tanggung jawab. Kita juga harus belajar mempercayai orang lain. Dalam keluarga, pekerjaan, gereja, dan pelayanan, jangan membuat segala sesuatu bergantung kepada satu orang.

Keempat, pendelegasian bukan kehilangan kuasa. Ketika Musa mempercayakan tanggung jawab kepada orang lain, ia tidak kehilangan wibawa. Ia justru menjadi pemimpin yang lebih efektif. Pemimpin besar bukan yang mengerjakan semuanya sendiri, tetapi yang mampu melahirkan orang-orang lain yang juga dapat memimpin.

Kelima, orang yang menerima tanggung jawab harus dapat dipercaya. Jabatan bukan hadiah. Jabatan adalah tanggung jawab. Pelayanan bukan tempat mencari kehormatan. Pelayanan adalah tempat mengabdi kepada Tuhan dan sesama.

Keenam, keuntungan yang tidak benar harus ditolak. Firman Tuhan secara khusus menyebut orang yang membenci pengejaran keuntungan yang tidak benar. Ini sangat relevan dengan zaman sekarang. Jangan biarkan uang membeli keputusan. Jangan biarkan kepentingan pribadi mengalahkan kebenaran. Jangan jadikan posisi sebagai jalan memperkaya diri.

Ketujuh, pemimpin harus mau mendengar nasihat. Musa mau mendengar Yitro. Kerendahan hati membuat seorang pemimpin terus bertumbuh. Orang yang merasa selalu benar akan berhenti belajar.

Kedelapan, setiap orang harus diberi tanggung jawab sesuai kemampuannya. Ada pemimpin seribu, seratus, lima puluh, dan sepuluh. Tidak semua mendapat tanggung jawab yang sama, tetapi semuanya penting. Tuhan tidak menilai besar kecilnya posisi, tetapi kesetiaan kita menjalankan apa yang dipercayakan.

Saudara-saudara, gereja membutuhkan orang yang cakap dan takut akan Allah. Keluarga membutuhkan ayah dan ibu yang cakap serta takut akan Allah. Anak-anak membutuhkan orang tua yang dapat dipercaya. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang tidak dapat dibeli. Pelayanan membutuhkan orang yang bekerja bukan untuk pujian, tetapi karena kasih kepada Tuhan.

Karena itu, jangan hanya berdoa, “Tuhan, berikan kami pemimpin yang baik.” Kita juga perlu berdoa, “Tuhan, jadikan saya pribadi yang layak dipercaya.”

Jangan hanya berkata, “Orang lain harus berubah.” Mari mulai dari diri sendiri.

Kalau kita menerima tanggung jawab kecil, jalankan dengan setia.

Kalau kita dipercaya mengelola uang, lakukan dengan jujur.

Kalau kita diberi kesempatan memimpin, gunakan untuk melayani.

Kalau kita diberi kemampuan, jangan menjadi sombong.

Kalau kita mendapat nasihat, jangan cepat tersinggung.

Kalau kita melihat orang lain memiliki kemampuan, jangan merasa terancam, tetapi beri ruang supaya ia bertumbuh.

Dan kalau Tuhan memberi kita kesempatan memilih orang untuk memegang tanggung jawab, jangan memilih berdasarkan kedekatan semata. Carilah orang yang cakap. Carilah orang yang takut akan Allah. Carilah orang yang dapat dipercaya. Carilah orang yang tidak mengejar keuntungan yang tidak benar.

Sebab kualitas orang yang memegang tanggung jawab akan sangat menentukan kualitas pelayanan yang dijalankan.

Mari kita berdoa dalam hati:

“Tuhan, jadikan aku orang yang cakap dan takut akan Engkau. Berikan aku hikmat untuk terus belajar, hati yang jujur, karakter yang dapat dipercaya, dan keberanian untuk menolak keuntungan yang tidak benar. Jika aku dipercayakan memimpin, ajarlah aku melayani. Jika aku dipercayakan memilih orang, berikan aku hikmat untuk melihat karakter, bukan hanya penampilan. Ajarlah aku bekerja bersama orang lain, mendengar nasihat, dan tidak menjadikan jabatan sebagai alat untuk kepentingan diri sendiri.”

Akhirnya, marilah kita mengingat satu prinsip besar dari Keluaran 18: pekerjaan Tuhan membutuhkan orang yang tepat, dan orang yang tepat bukan hanya orang yang mampu bekerja, tetapi orang yang cakap, takut akan Allah, dapat dipercaya, dan memiliki integritas.

Kiranya kita bukan hanya mencari orang seperti itu, tetapi juga menjadi orang seperti itu.

Cakap dalam tanggung jawab.
Takut akan Allah dalam kehidupan.
Dapat dipercaya dalam karakter.
Bersih dalam motivasi.
Rendah hati dalam kepemimpinan.
Setia dalam pelayanan.

Kiranya melalui kehidupan kita, keluarga menjadi lebih kuat, gereja semakin sehat, pelayanan semakin tertata, dan nama Tuhan semakin dimuliakan.

Amin.

Editor : Clavel Lukas
mtpj hari ini mtpj gmim khotbah efesus Renungan GMIM