Renungan Keluaran 18:13-27 Untuk P/KB, Carilah Orang Yang Cakap Dan Takut Akan Allah

Clavel Lukas • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 05:24 WIB
Ilustrasi Alkitab.
Ilustrasi Alkitab.

Bacaan: Keluaran 18:13-27

Tema: “Carilah Orang Yang Cakap Dan Takut Akan Allah”

Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, dalam kehidupan seorang pria ada banyak tanggung jawab yang dipercayakan Tuhan. Kita hadir sebagai suami bagi istri, ayah bagi anak-anak, opa bagi cucu-cucu, pekerja dalam berbagai bidang kehidupan, anggota masyarakat, dan bagi sebagian orang juga dipercayakan tanggung jawab sebagai pelayan dalam gereja. Karena itu, kehidupan seorang pria Kristen tidak hanya berbicara mengenai kemampuan mencari nafkah atau keberhasilan mencapai sesuatu, tetapi juga mengenai karakter, tanggung jawab, keteladanan, dan terutama bagaimana kita hidup dalam takut akan Tuhan.

Bacaan kita dalam Keluaran 18:13-27 membawa kita kepada suatu peristiwa ketika Musa menghadapi beban kepemimpinan yang sangat besar. Dari pagi sampai petang bangsa Israel datang kepadanya untuk mendapatkan keputusan. Musa berusaha melayani semua orang, tetapi Yitro, mertuanya, melihat bahwa cara seperti itu tidak dapat dipertahankan. Musa akan kelelahan, sementara umat juga akan mengalami kesulitan karena semuanya bergantung kepada satu orang. Karena itu Yitro memberikan nasihat supaya Musa membagi tanggung jawab dan memilih orang-orang tertentu untuk membantunya.

Menariknya, Yitro tidak berkata, “Pilih siapa saja yang bersedia.” Ia juga tidak berkata, “Pilihlah orang yang paling terkenal, paling kaya, paling dekat denganmu, atau yang paling pandai berbicara.” Yitro memberikan ukuran yang sangat jelas: carilah orang yang cakap, takut akan Allah, dapat dipercaya, dan membenci keuntungan yang tidak benar.

Baca Juga: Materi Khotbah Keluaran 18:13-27, Carilah Orang Yang Cakap Dan Takut Akan Allah

Baca Juga: Renungan Keluaran 18:13-27, Carilah Orang Yang Cakap Dan Takut Akan Allah

Di sinilah firman Tuhan menjadi sangat relevan bagi kehidupan P/KB. Kita hidup dalam zaman ketika orang sering dinilai dari apa yang tampak. Orang dianggap hebat karena jabatan, pendidikan, kekayaan, kemampuan berbicara, jaringan pergaulan, atau pengaruhnya. Semua kemampuan tersebut dapat berguna, tetapi firman Tuhan membawa kita lebih dalam. Di hadapan Tuhan, kecakapan harus berjalan bersama karakter. Kemampuan harus berjalan bersama takut akan Allah. Kepemimpinan harus berjalan bersama integritas.

Hal ini juga penting ketika gereja mempercayakan pelayanan kepada seseorang. Keluaran 18 memang tidak secara langsung berbicara tentang pemilihan Penatua dan Diaken atau tata cara pemilihan Pelayan Khusus dalam gereja, sebab orang-orang yang dipilih Musa adalah orang-orang yang membantu menjalankan tanggung jawab kepemimpinan dan penyelesaian perkara di tengah bangsa Israel.

Namun prinsip rohaninya sangat kuat dan relevan bagi kehidupan gereja: tanggung jawab umat tidak boleh dipercayakan secara sembarangan. Orang yang menerima kepercayaan harus memiliki kemampuan, karakter, takut akan Tuhan, dapat dipercaya, dan tidak menggunakan tanggung jawab untuk mengejar keuntungan pribadi.

Karena itu, firman hari ini bukan pertama-tama mengajak kita menunjuk orang lain dan berkata, “Orang itu layak” atau “orang itu tidak layak.” Firman ini terlebih dahulu mengajak setiap P/KB bercermin kepada dirinya sendiri: Apakah saya sudah menjadi pria yang cakap dan takut akan Allah? Apakah keluarga dapat mempercayai saya? Apakah gereja dapat mempercayai saya? Apakah ketika tidak ada orang yang melihat, saya tetap memilih melakukan yang benar? Apakah ketika diberikan tanggung jawab, saya menggunakannya untuk melayani atau justru untuk mencari kehormatan dan keuntungan bagi diri sendiri?

Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus

Kitab Keluaran menceritakan karya besar Allah dalam membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Israel telah lama hidup dalam penindasan. Mereka bekerja sebagai budak di bawah kekuasaan Firaun, tetapi Tuhan mendengar seruan mereka. Allah kemudian memanggil Musa untuk menjadi alat-Nya membawa umat keluar dari Mesir.

Melalui berbagai tulah, Tuhan menunjukkan bahwa Dia berkuasa atas Firaun dan atas segala kuasa yang menindas umat-Nya. Israel akhirnya keluar dari Mesir, menyeberangi Laut Teberau, dan memulai perjalanan menuju tanah yang dijanjikan Tuhan.

Namun pembebasan dari Mesir bukan akhir perjalanan. Israel sudah keluar dari Mesir, tetapi mereka masih harus dibentuk menjadi umat Allah. Bangsa yang selama bertahun-tahun hidup sebagai budak sekarang harus belajar hidup sebagai suatu komunitas yang teratur. Mereka harus belajar tentang ketaatan, tanggung jawab, keadilan, hubungan dengan sesama, dan kehidupan di bawah kehendak Tuhan.

Dalam konteks inilah Keluaran pasal 18 menjadi penting. Sebelum pemberian hukum di Sinai yang diceritakan pada bagian berikutnya, kita melihat Musa menghadapi persoalan nyata dalam memimpin umat yang begitu besar. Semua persoalan datang kepadanya. Musa menjadi pusat penyelesaian perkara.

Yitro datang dan mengamati keadaan tersebut. Ia melihat bahwa Musa mempunyai hati untuk melayani, tetapi sistem yang dijalankannya tidak sehat. Karena itu, Yitro memberikan nasihat agar Musa tetap menjalankan tugas utamanya di hadapan Allah, mengajarkan ketetapan Tuhan kepada umat, tetapi pada saat yang sama mempercayakan sebagian tanggung jawab kepada orang-orang yang memenuhi syarat.

Jadi, Keluaran 18 bukan sekadar pelajaran tentang manajemen organisasi. Di dalamnya terdapat prinsip rohani mengenai kepemimpinan, kerendahan hati, pembagian tanggung jawab, integritas, dan kualitas orang yang layak menerima kepercayaan.

Membahas Tema: “Carilah Orang Yang Cakap Dan Takut Akan Allah”

Tema ini berpusat pada Keluaran 18:21. Ada empat kualitas yang sangat penting.

Pertama, cakap. Cakap berarti mempunyai kemampuan yang diperlukan untuk menjalankan tanggung jawab. Orang yang dipercayakan suatu tugas harus mau belajar, mampu memahami persoalan, mampu mengambil keputusan dengan bijaksana, dan mampu menyelesaikan apa yang dipercayakan kepadanya. Kesalehan tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak meningkatkan kemampuan. Seorang pria Kristen harus terus belajar dan mengembangkan dirinya.

Kedua, takut akan Allah. Takut akan Allah bukan berarti hidup dalam ketakutan yang membuat kita menjauh dari Tuhan. Takut akan Allah berarti menghormati Tuhan, mengakui kekuasaan-Nya, menaati kehendak-Nya, dan sadar bahwa seluruh kehidupan berada di hadapan-Nya. Orang yang takut akan Allah tidak hanya melakukan yang benar ketika dilihat manusia. Ketika tidak ada yang melihat pun ia tetap berusaha hidup benar karena ia sadar Tuhan melihat.

Ketiga, dapat dipercaya. Inilah integritas. Apa yang dikatakan sesuai dengan apa yang dilakukan. Jika dipercayakan uang, ia menjaganya. Jika dipercayakan tugas, ia menyelesaikannya. Jika dipercayakan rahasia, ia tidak sembarangan membicarakannya. Jika menerima kewenangan, ia tidak menyalahgunakannya.

Keempat, membenci keuntungan yang tidak benar. Artinya, orang tersebut tidak menjadikan jabatan, pelayanan, kewenangan, atau kedekatan dengan kekuasaan sebagai jalan mencari keuntungan pribadi. Ia tidak mudah dibeli. Keputusan tidak ditentukan oleh siapa yang memberikan keuntungan kepadanya.

Bagi P/KB, keempat kualitas ini sangat penting. Tuhan menghendaki kita menjadi pria yang mampu sekaligus benar, kuat sekaligus rendah hati, berani sekaligus takut kepada Tuhan, dipercaya sekaligus tidak menyalahgunakan kepercayaan.

Pembahasan Ayat Demi Ayat

Ayat 13. Musa duduk mengadili bangsa itu, sementara umat berdiri menghadapnya dari pagi sampai petang. Musa sedang menjalankan tanggung jawab yang penting, tetapi seluruh pelayanan bergantung kepadanya. Di sinilah kita melihat bahwa niat baik belum tentu menghasilkan cara kerja yang sehat. Seorang pria sering memiliki kecenderungan merasa harus menyelesaikan semuanya sendiri. Sebagai suami kita merasa semua masalah keluarga harus kita tangani sendiri, sebagai ayah kita merasa harus mempunyai jawaban untuk semuanya, dan sebagai pemimpin kita merasa semua keputusan harus melewati kita.

Padahal mengakui keterbatasan bukan tanda kelemahan. Musa adalah pemimpin besar yang dipakai Tuhan, tetapi Musa tetap manusia yang mempunyai batas. Bagi P/KB, firman ini mengajarkan bahwa menjadi pria yang bertanggung jawab bukan berarti memikul seluruh beban sendirian. Ada waktunya kita membutuhkan pertolongan, berdiskusi dengan istri, mendengar anak-anak, menerima masukan dari orang lain, dan bekerja bersama saudara-saudara seiman.

Ayat 14. Yitro melihat keadaan itu dan bertanya mengapa Musa melakukan semuanya seorang diri sementara umat berdiri menunggu dari pagi sampai petang. Yitro berani mempertanyakan pola yang sudah dianggap biasa oleh Musa. Kadang kita terlalu lama menjalani suatu kebiasaan sehingga tidak lagi menyadari kelemahannya. Di sinilah kita membutuhkan orang yang dapat berbicara jujur kepada kita.

Bagi seorang P/KB, jangan sampai kita menjadi pria yang tidak dapat diberi nasihat. Ada suami yang mau mendengar semua orang tetapi tidak mau mendengar istrinya. Ada ayah yang selalu mengoreksi anak tetapi tidak pernah mau dikoreksi. Ada pemimpin yang meminta orang lain rendah hati tetapi dirinya sendiri sulit menerima masukan. Yitro mengajarkan bahwa nasihat yang benar dapat menjadi alat Tuhan untuk menyelamatkan kita dari keputusan yang keliru. Kedewasaan seorang pria tidak terlihat dari kemampuannya selalu mempertahankan pendapat, tetapi dari kerendahan hatinya menerima kebenaran.

Ayat 15-16. Musa menjelaskan bahwa umat datang kepadanya untuk mencari keputusan Allah, dan ketika ada perkara ia memberitahukan ketetapan serta hukum Allah. Apa yang dilakukan Musa sebenarnya baik dan memiliki tujuan rohani. Persoalannya terletak pada cara pelaksanaannya. Ini menjadi pelajaran penting bagi P/KB yang terlibat dalam pelayanan. Kesibukan dalam pekerjaan Tuhan tidak otomatis berarti kehidupan kita sudah teratur menurut kehendak Tuhan.

Jangan sampai kita sangat aktif dalam pelayanan tetapi mengabaikan keluarga. Jangan sampai kita dikenal banyak orang sebagai pelayan yang baik tetapi anak-anak sendiri merasa ayah tidak pernah hadir bagi mereka. Jangan sampai kita begitu sibuk menyelesaikan persoalan orang lain sementara persoalan dalam rumah sendiri tidak pernah dibicarakan. Pelayanan yang benar membutuhkan hikmat untuk menempatkan tanggung jawab secara seimbang.

Ayat 17-18. Yitro dengan berani berkata kepada Musa bahwa apa yang dilakukannya tidak baik, sebab Musa dan bangsa itu akan menjadi sangat lelah. Pekerjaan tersebut terlalu berat untuk dilakukan seorang diri. Firman ini menyadarkan kita bahwa kelelahan bukan selalu bukti kesetiaan. Kadang kelelahan terjadi karena kita tidak mau membagi tanggung jawab. Ada pria yang sulit meminta bantuan karena merasa meminta pertolongan akan menunjukkan kelemahan.

Padahal Musa sendiri harus belajar bahwa menjadi pemimpin tidak berarti menjadi manusia yang mampu melakukan segala sesuatu. Seorang ayah juga harus belajar membangun kerja sama dalam keluarga. Seorang pemimpin harus memberi ruang kepada orang lain. Seorang pelayan harus belajar bahwa pekerjaan Tuhan bukan miliknya sendiri. Kerajaan Allah tidak bergantung kepada satu orang. Tuhan memakai tubuh-Nya dengan berbagai anggota yang memiliki tugas berbeda.

Ayat 19. Yitro meminta Musa mendengarkan nasihatnya dan mengatakan bahwa Allah kiranya menyertai Musa. Yitro bukan sekadar mengkritik; ia menawarkan jalan keluar dan tetap menempatkan semuanya di bawah kehendak Allah. Inilah teladan yang sangat baik bagi P/KB. Ketika melihat kesalahan dalam keluarga atau pelayanan, jangan hanya pandai menunjukkan apa yang salah. Hadirlah dengan solusi. Kalau melihat anak gagal, jangan hanya memarahinya, tetapi bimbing bagaimana memperbaikinya.

Kalau melihat rekan pelayanan mengalami kesulitan, jangan hanya membicarakan kelemahannya kepada orang lain, tetapi datang dan bantu. Kritik tanpa kasih dapat menjatuhkan, sedangkan nasihat yang diberikan dengan kasih dapat membangun. Yitro menunjukkan bahwa hikmat praktis dan ketergantungan kepada Tuhan tidak perlu dipertentangkan. Kita harus berdoa, tetapi juga berpikir. Kita harus percaya kepada Tuhan, tetapi juga mengatur tanggung jawab dengan bijaksana.

Ayat 20. Musa harus mengajarkan ketetapan dan hukum Allah serta menunjukkan kepada umat jalan yang harus mereka tempuh dan pekerjaan yang harus mereka lakukan. Di sini kita menemukan salah satu inti kepemimpinan rohani: pemimpin bukan hanya menyelesaikan masalah, tetapi membentuk orang supaya mengetahui jalan yang benar. Bagi P/KB sebagai ayah, ini sangat penting. Tanggung jawab kita bukan hanya menyediakan uang sekolah bagi anak, tetapi mengajarkan jalan yang benar.

Bukan hanya memberi mereka rumah, tetapi membangun kehidupan rohani di dalam rumah. Bukan hanya mengatakan, “Jangan berbuat salah,” tetapi menunjukkan melalui kehidupan bagaimana orang yang takut Tuhan mengambil keputusan. Anak-anak perlu melihat ayah yang berdoa, jujur, bertanggung jawab, meminta maaf ketika salah, menghormati ibu mereka, dan tetap takut kepada Tuhan ketika menghadapi godaan. Inilah pendidikan iman yang hidup.

Ayat 21. Inilah pusat bacaan dan tema kita. Yitro menasihati Musa untuk mencari dari seluruh bangsa orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya dan membenci keuntungan yang tidak benar. Kecakapan tanpa takut akan Allah tidak cukup, sebab kemampuan yang besar tanpa karakter dapat dipakai untuk melakukan kejahatan yang lebih besar. Sebaliknya, niat baik tanpa kecakapan juga tidak cukup untuk menjalankan tanggung jawab tertentu. Karena itu, firman menggabungkan kompetensi dan karakter.

 Dalam konteks kehidupan gereja, prinsip ini sangat relevan ketika suatu tanggung jawab pelayanan dipercayakan kepada seseorang. Namun perlu dipahami bahwa teks ini bukan secara langsung mengatur pemilihan Penatua atau Diaken; yang dipilih Musa adalah orang-orang yang membantu menjalankan tanggung jawab kepemimpinan dan penyelesaian perkara Israel.

Meskipun demikian, prinsipnya jelas: kepercayaan kepada umat tidak boleh diberikan hanya karena kedekatan keluarga, persahabatan, popularitas, status ekonomi, atau kepentingan kelompok. Orang yang menerima tanggung jawab harus cakap, takut akan Tuhan, dapat dipercaya, dan bersih dalam motivasinya. Bagi P/KB, sebelum melihat siapa yang akan dipilih, kita perlu bertanya: kalau Tuhan mempercayakan pelayanan kepada saya, apakah saya memiliki kualitas tersebut?

Ayat 22. Orang-orang yang dipilih itu akan mengadili umat setiap waktu; perkara besar dibawa kepada Musa sedangkan perkara yang lebih kecil mereka tangani. Musa belajar mendelegasikan. Membagi tanggung jawab tidak mengurangi kepemimpinannya, tetapi justru membuat kepemimpinannya semakin sehat. Ini menjadi pelajaran bagi P/KB yang dipercayakan memimpin.

Pemimpin yang baik tidak takut melihat orang lain bertumbuh. Ia tidak merasa terancam ketika orang lain mempunyai kemampuan. Ia justru mempersiapkan, memberikan kesempatan, dan mendukung mereka. Di rumah pun demikian. Seorang ayah harus secara bertahap memberikan tanggung jawab kepada anak-anak sesuai usia dan kemampuan mereka supaya mereka belajar bertanggung jawab. Kepemimpinan yang sehat bukan membuat orang lain selalu bergantung kepada kita, tetapi membantu mereka menjadi dewasa.

Ayat 23. Yitro berkata bahwa jika Musa melakukan hal tersebut dan Allah memerintahkannya demikian, Musa akan sanggup bertahan dan seluruh umat dapat pulang dengan puas. Kalimat “jika Allah memerintahkan” sangat penting karena menunjukkan bahwa nasihat manusia tetap harus ditempatkan di bawah kehendak Tuhan. Sistem yang baik bukan pengganti Allah.

Kemampuan manusia bukan pengganti penyertaan Tuhan. Pada saat yang sama, hasil dari pengaturan yang sehat adalah pemimpin dapat bertahan dan umat mendapat pelayanan yang lebih baik. Bagi P/KB, Tuhan tidak menghendaki kita menjadi pria yang terlihat kuat di luar tetapi hancur di dalam karena tidak pernah mengakui keterbatasan. Belajarlah menjaga kehidupan rohani, keluarga, pekerjaan, kesehatan, dan pelayanan dengan bijaksana agar tanggung jawab dapat dijalankan dengan setia dalam jangka panjang.

Ayat 24. Musa mendengarkan Yitro dan melakukan apa yang dinasihatkan kepadanya. Di sinilah kebesaran Musa terlihat bukan hanya dalam kemampuannya memimpin bangsa, tetapi dalam kerendahan hatinya untuk belajar. Ia sudah mengalami perjumpaan luar biasa dengan Tuhan, menghadapi Firaun, menyaksikan tulah-tulah, dan memimpin Israel menyeberangi Laut Teberau, tetapi semua pengalaman besar itu tidak membuat Musa berkata bahwa ia tidak membutuhkan nasihat siapa pun.

Ini menjadi teguran bagi setiap P/KB. Semakin besar tanggung jawab, seharusnya semakin besar pula kerendahan hati. Jangan karena usia kita lebih tua lalu merasa selalu lebih tahu. Jangan karena kita kepala keluarga lalu merasa pendapat kita selalu benar. Jangan karena pernah menjadi pemimpin atau pelayan lalu merasa tidak perlu dikoreksi. Orang yang takut kepada Tuhan akan tetap mempunyai hati yang mau diajar.

Ayat 25. Musa kemudian memilih orang-orang yang cakap dari seluruh Israel dan mengangkat mereka menjadi pemimpin seribu, seratus, lima puluh, dan sepuluh orang. Ada tanggung jawab yang berbeda sesuai kapasitas masing-masing. Ini mengajarkan bahwa tidak semua orang harus mendapatkan posisi yang sama. Dalam pelayanan pun ada tugas yang besar dan kecil menurut ukuran manusia, tetapi semuanya dapat menjadi berarti ketika dilakukan dengan setia.

Kita tidak perlu mengejar posisi untuk membuktikan nilai diri. Kalau Tuhan mempercayakan sepuluh, setialah dengan sepuluh. Kalau dipercayakan seratus, bertanggung jawablah terhadap seratus. Tuhan tidak hanya melihat seberapa besar ruang pelayanan kita, tetapi bagaimana kita menjalankan kepercayaan yang diberikan. Bagi P/KB, hal ini penting supaya pelayanan tidak berubah menjadi persaingan mencari jabatan atau kehormatan.

Ayat 26. Orang-orang yang dipilih menjalankan tugas mereka. Perkara yang sukar dibawa kepada Musa, sedangkan perkara lainnya mereka selesaikan. Ini menunjukkan bahwa pembagian tanggung jawab membutuhkan batas yang jelas. Orang yang dipercaya harus mengetahui kewenangan dan keterbatasannya. Dalam pelayanan gereja, banyak masalah dapat terjadi ketika seseorang tidak lagi memahami batas tanggung jawabnya, mengambil alih pekerjaan orang lain, atau sebaliknya tidak mengerjakan apa yang dipercayakan kepadanya.

Takut akan Allah membuat kita sadar bahwa pelayanan bukan wilayah kekuasaan pribadi. Kita adalah orang-orang yang menerima amanat. Karena itu, lakukan bagian kita dengan sungguh-sungguh, hormati tugas orang lain, bekerja sama, dan ketika menghadapi sesuatu yang berada di luar kewenangan kita, jangan malu meminta pertolongan atau pertimbangan.

Ayat 27. Akhirnya Musa melepas Yitro dan Yitro kembali ke negerinya. Yitro pergi, tetapi nasihatnya meninggalkan dampak. Ini mengajarkan bahwa pengaruh seseorang tidak selalu diukur dari berapa lama ia berada di suatu tempat atau seberapa tinggi jabatannya. Orang yang hidup dalam hikmat dapat meninggalkan jejak melalui nasihat yang benar. Bagi P/KB, ini membawa kita kepada pertanyaan yang lebih pribadi: jejak seperti apa yang sedang kita tinggalkan?

Ketika suatu hari anak dan cucu mengingat kita, apakah mereka hanya mengingat harta yang kita tinggalkan atau juga nilai kehidupan yang kita ajarkan? Apakah mereka mengingat kita sebagai pria yang keras dan selalu ingin menang, atau sebagai pria yang takut kepada Tuhan, jujur, dapat dipercaya, rendah hati, dan setia? Warisan terbesar seorang pria bukan hanya apa yang ada di rekening, rumah, tanah, atau usaha, tetapi karakter dan iman yang ditinggalkan kepada generasi berikutnya.

Penutup

Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi Tuhan, tema “Carilah Orang Yang Cakap Dan Takut Akan Allah” pada akhirnya membawa kita kepada dua arah. Pertama, bagaimana kita melihat orang yang akan dipercayakan suatu tanggung jawab. Kedua, dan yang jauh lebih pribadi, bagaimana kita mempersiapkan diri supaya menjadi orang yang layak menerima kepercayaan.

Mudah bagi kita menilai orang lain. Kita dapat mengatakan siapa yang menurut kita cocok menjadi pemimpin, siapa yang pantas melayani, siapa yang kurang mampu, atau siapa yang mempunyai kelemahan. Tetapi firman Tuhan hari ini meminta kita berhenti sejenak dan melihat diri sendiri.

Tema ini mengajarkan beberapa hal penting.

Pertama, jadilah pria yang cakap. Jangan berhenti belajar. Usia bukan alasan untuk berhenti bertumbuh. Pengalaman bukan alasan merasa sudah mengetahui semuanya. Jika menerima tanggung jawab, persiapkan diri dan kerjakan dengan sungguh-sungguh.

Kedua, jadilah pria yang takut akan Allah. Inilah dasar yang paling penting. Takut akan Allah berarti tetap benar ketika tidak ada orang yang melihat. Takut akan Allah berarti keputusan kita tidak hanya ditentukan oleh untung atau rugi, tetapi oleh benar atau salah di hadapan Tuhan.

Ketiga, jadilah pria yang dapat dipercaya. Mulailah dari rumah. Jangan menuntut gereja mempercayai kita jika keluarga sendiri sulit mempercayai perkataan kita. Tepati janji. Jujurlah dalam keuangan. Bertanggung jawablah terhadap keluarga. Jagalah perkataan. Setialah terhadap apa yang dipercayakan.

Keempat, jangan mengejar keuntungan yang tidak benar. Jangan jadikan pekerjaan, jabatan, pelayanan, atau kewenangan sebagai kesempatan memperkaya diri atau membangun kepentingan pribadi. Apa yang dipercayakan Tuhan adalah amanat.

Kelima, belajarlah bekerja bersama orang lain. Musa sendiri tidak dapat melakukan semuanya. Karena itu, jangan menjadi pria yang merasa hanya dirinya yang mampu. Berikan ruang kepada orang lain. Hargai kemampuan mereka. Jangan takut melihat generasi yang lebih muda bertumbuh.

Keenam, bersedialah menerima nasihat. Musa mendengar Yitro. Pria yang dewasa bukan pria yang selalu menang dalam perdebatan. Pria yang dewasa adalah pria yang cukup rendah hati untuk berkata, “Saya salah,” “Saya perlu belajar,” dan “Terima kasih sudah mengingatkan.”

Ketujuh, jangan mengejar jabatan, kejarlah kelayakan karakter. Pertanyaan utama orang percaya seharusnya bukan, “Apakah saya akan dipilih?” tetapi, “Jika Tuhan mempercayakan sesuatu kepada saya, apakah saya siap mempertanggungjawabkannya?”

Inilah yang sangat penting dalam konteks pelayanan. Keluaran 18 tidak mengajarkan kepada kita untuk sekadar mencari orang yang mau mengisi suatu jabatan. Prinsip firman ini jauh lebih dalam. Carilah orang yang mempunyai kapasitas dan karakter. Carilah orang yang mampu tetapi juga takut Tuhan. Carilah orang yang dapat dipercaya dan tidak menjadikan kepercayaan sebagai jalan mencari keuntungan pribadi.

Dan kepada kita P/KB, firman ini berkata: jadilah orang seperti itu.

Jangan hanya mengharapkan gereja mempunyai pelayan yang cakap dan takut akan Tuhan. Jadilah P/KB yang cakap dan takut akan Tuhan.

Jangan hanya mengharapkan keluarga mempunyai pemimpin yang baik. Jadilah suami dan ayah yang baik.

Jangan hanya mengharapkan masyarakat mempunyai orang-orang yang jujur. Mulailah berlaku jujur dalam pekerjaan kita sendiri.

Jangan hanya mengharapkan generasi muda mempunyai karakter. Berikan kepada mereka contoh karakter melalui kehidupan kita.

Saudara-saudara, kemampuan tanpa takut akan Tuhan dapat berubah menjadi kesombongan. Kekuasaan tanpa takut akan Tuhan dapat berubah menjadi penindasan. Kepintaran tanpa integritas dapat dipakai untuk memanipulasi. Jabatan tanpa karakter dapat menjadi jalan untuk mencari keuntungan pribadi. Tetapi kecakapan yang dipersembahkan kepada Tuhan, disertai takut akan Allah, integritas, kerendahan hati, dan kesetiaan, dapat menjadi berkat yang besar bagi banyak orang.

Karena itu, sebelum kita mencari orang yang cakap dan takut akan Allah, marilah kita datang kepada Tuhan dan berkata:

“Tuhan, mulailah dari saya.”

Bentuklah saya menjadi suami yang dapat dipercaya.

Bentuklah saya menjadi ayah yang menjadi teladan.

Bentuklah saya menjadi opa yang mewariskan iman.

Bentuklah saya menjadi pekerja yang jujur.

Bentuklah saya menjadi anggota P/KB yang membawa damai.

Dan jika Engkau mempercayakan pelayanan kepada saya, bentuklah saya menjadi pelayan yang tidak mengejar kehormatan, tetapi sungguh-sungguh melayani.

Kiranya kita tidak hanya dikenal sebagai pria yang mempunyai kemampuan, tetapi sebagai pria yang mempunyai karakter. Tidak hanya dikenal karena apa yang kita miliki, tetapi karena bagaimana kita hidup. Tidak hanya dikenal karena jabatan, tetapi karena kesetiaan. Tidak hanya dihormati manusia, tetapi hidup dalam takut akan Allah.

Karena itu, marilah kita memegang firman ini:

Jadilah cakap dalam menjalankan tanggung jawab.
Takutlah akan Allah dalam seluruh kehidupan.
Jadilah dapat dipercaya dalam keluarga dan pelayanan.
Jangan gunakan jabatan untuk kepentingan diri sendiri.
Belajarlah bekerja bersama orang lain.
Rendahkan hati untuk menerima nasihat.
Dan ketika Tuhan mempercayakan sesuatu, jalankanlah dengan setia.

Kiranya melalui P/KB yang demikian, keluarga-keluarga kita semakin kuat, anak dan cucu memiliki teladan iman, pelayanan gereja semakin sehat, kehidupan masyarakat diberkati, dan terutama nama Tuhan dimuliakan.

“Carilah Orang Yang Cakap Dan Takut Akan Allah.”

Dan sebelum kita mencarinya pada orang lain, marilah kita menyerahkan diri kepada Tuhan supaya kitalah yang terlebih dahulu dibentuk menjadi orang yang cakap dan takut akan Allah.

Amin.

Editor : Clavel Lukas
MTPJ khotbah P/KB GMIM Renungan