MANADOPOST.ID - Politeknik Pariwisata Bali melalui Program Studi Pengelolaan Konvensi dan Acara (PKAM) PSDKU Manado sukses menggelar kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Desa Wisata Hutan Mangrove Darunu, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara.
Kegiatan yang berlangsung pada 29 sampai 30 April 2026 ini difokuskan pada peningkatan kapasitas masyarakat lokal, khususnya dalam pelayanan prima dan kesadaran lingkungan sebagai fondasi pengembangan desa wisata berkelanjutan.
Sebanyak 30 peserta yang terdiri dari pengelola desa wisata, perangkat desa, hingga pelaku UMKM mengikuti pelatihan bertajuk “Penguatan Kapasitas Masyarakat melalui Pelayanan Prima dan Kesadaran Lingkungan dalam Pengembangan Desa Wisata Hutan Mangrove Darunu Wori sebagai Destinasi Rendah Karbon.”
Ketua panitia Ingryt Grity Adipati menyebut Desa Darunu memiliki peluang besar menjadi destinasi ekowisata unggulan. Terlebih, desa ini telah masuk nominasi 500 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2025.
“Kami melihat potensi besar di Darunu. Dengan penguatan pelayanan dan penerapan konsep rendah karbon, masyarakat dapat mengelola kekayaan mangrove dan bawah laut secara berkelanjutan sekaligus memberi pengalaman terbaik bagi wisatawan,” ujarnya.
Selama dua hari, peserta dibekali materi mulai dari penguatan kapasitas desa wisata, pelayanan prima, kesadaran lingkungan, hingga teknik penanganan keluhan wisatawan melalui simulasi langsung.
Tak hanya teori, kegiatan juga diisi aksi penanaman bibit mangrove di kawasan pesisir sebagai bentuk komitmen menjaga ekosistem. Mangrove diketahui berperan penting sebagai penyerap karbon alami untuk mitigasi perubahan iklim.
Kepala P3M Poltekpar Bali Dr Putu Diah Sastri Pitanatri, menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi dan masyarakat dalam pengembangan pariwisata.
Dukungan juga datang dari Hukum Tua Desa Darunu Ruddy B Jacobus, yang berharap ilmu yang diberikan dapat langsung diterapkan untuk mendorong ekonomi desa.
Melalui pendampingan ini, Desa Wisata Darunu diproyeksikan menjadi model destinasi rendah karbon pertama di Sulawesi Utara yang tetap menjaga keaslian budaya, sekaligus mampu bersaing di tingkat global.
Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas layanan dan kesadaran lingkungan masyarakat, tetapi juga berdampak langsung pada peningkatan kunjungan wisatawan serta kesejahteraan warga setempat. (tkg)
Editor : Kenjiro Tanos