MANADOPOST.ID — Petani kelapa di Sulawesi Utara kembali merana. Sudah sebulan harga kopra dan harga kelapa anjlok.
"Sudah satu bulan ini sejak 16 Desember 2025 sampai 22 Januari 2026 ini, harga kopra dan harga kelapa butir anjlok," keluh Yohanes Tenda, petani kelapa di Desa Kamangta Kecamatan Tombulu Kabupaten Minahasa, kepada wartawan Manado Post, Kamis 22 Januari.
Kondisi ini membuat petani kelapa semakin terjepit, karena biaya produksi tidak sebanding dengan harga jual yang diterima di tingkat petani.
Yohanes Tenda dan petani lainnya mengeluh karena harga kelapa butiran penurunannya sangat drastis.
"Desember harga kelapa masih sekitar Rp5 ribu per kilogram atau per butir. Tapi harga sekarang anjlok sekitar Rp3 ribu per kilogram," keluh Yohanes.
Begitu pula harga kopra yang ikut anjlok. "Harga kopra pada awal Desember masih bagus sekitar Rp22 ribu per kilogram. Tapi pertengahan Desember sampai akhir Januari ini harga anjlok hanya Rp16 ribu per kilogram," keluh Wahyudi Tamuntuan, petani kelapa di Desa Kamangta Kecamatan Tombulu Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara.
Di beberapa daerah, harga kopra bahkan jatuh jauh dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, sementara kebutuhan hidup dan biaya kebun terus meningkat.
“Sudah hampir satu bulan harga turun terus. Kalau begini, kami nyaris tidak dapat untung,” keluh Tamuntuan, yang sudah sekitar 40 tahun jadi petani kelapa.
Penurunan harga ini disebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari melemahnya permintaan, permainan harga oleh pengepul, hingga belum adanya kebijakan penyangga harga dari pemerintah.
Petani menilai posisi mereka sangat lemah karena tidak memiliki akses langsung ke pasar atau industri pengolahan.
“Kami tidak punya pilihan selain menjual ke pengepul. Mau simpan, tapi butuh uang untuk makan dan biaya sekolah anak,” keluh petani lainnya.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan menurunnya minat petani merawat kebun kelapa, padahal komoditas kelapa merupakan salah satu andalan ekonomi masyarakat Sulawesi Utara.
Jika dibiarkan berlarut-larut, anjloknya harga dikhawatirkan berdampak pada kesejahteraan petani dan perekonomian daerah.
Petani berharap pemerintah daerah maupun pusat segera turun tangan, baik melalui intervensi harga, penguatan koperasi petani, maupun skema penyerapan hasil panen agar harga kelapa dan kopra kembali stabil.
“Jangan tunggu petani berhenti panen baru pemerintah bergerak,” keluh Yohanes dan Wahyudi, serta petani lainnya. (*)
Editor : Tommy Waworundeng