MANADOPOST.ID – Bank Indonesia (BI) terus memperluas perannya dalam agenda transisi energi nasional. Tak hanya mengelola stabilitas moneter dan keuangan. BI kini aktif mendorong pengelolaan lingkungan berkelanjutan melalui pemanfaatan limbah uang rupiah rusak atau tak layak edar menjadi energi.
Inovasi ini dikembangkan lewat program Green Pengelolaan Uang Rupiah (Green PUR), yang salah satunya kini dijalankan oleh BI Sulawesi Utara (Sulut) bersama PLTU Amurang. Limbah operasional pengelolaan uang yang sebelumnya dibuang ke TPA kini dimanfaatkan sebagai co-firing pengganti sebagian batubara di PLTU.
Hasil uji coba yang dilakukan PLN Puslitbang menunjukkan, limbah tersebut mampu terbakar sempurna, menghasilkan panas stabil, dan lebih rendah emisi karbon dibandingkan bahan bakar konvensional.
Kepala BI Sulut Joko Supratikto menjelaskan, langkah ini merupakan implementasi nyata prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) dan convert to energy yang sejalan dengan komitmen Indonesia mencapai Net Zero Emission pada 2060.
“Kami tidak hanya mengelola Rupiah dengan efisien, tapi juga berkontribusi dalam menekan emisi karbon nasional,” ujarnya.
Lebih dari sekadar efisiensi internal, kerja sama ini mengedepankan gagasan besar: bahwa sampah yang selama ini dianggap tak berguna, justru bisa diubah menjadi solusi bagi krisis iklim.
Program ini juga memperlihatkan peran aktif sektor keuangan dalam mendorong transformasi hijau.
“Ekonomi hijau bukan hanya urusan lingkungan, tapi juga efisiensi, inovasi, dan keberlanjutan sistem keuangan,” tukasnya. (ayu)
Editor : Ayurahmi Rais