Dalam whitepaper berjudul Digital Sublimation Printing: Driving Customer Value, Sustainability, and Growth, IDC memaparkan hasil survei terhadap pelaku usaha cetak tekstil di Indonesia, Filipina, dan Thailand. Hasilnya menunjukkan perusahaan yang mengadopsi teknologi digital dye-sublimation mampu mencatat pertumbuhan pendapatan delapan kali lebih cepat dibandingkan metode sablon konvensional. Dalam dua tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan bisnis pengguna teknologi ini mencapai 8,4 persen, sementara metode tradisional hanya sedikit di atas 1 persen.
Keunggulan utama teknologi ini terletak pada fleksibilitasnya. Jika sablon membutuhkan jumlah cetak besar agar efisien, digital dye-sublimation memungkinkan produksi skala kecil bahkan satuan sesuai permintaan. Hal ini menjawab tren pasar yang menginginkan desain unik dan personal. Sebanyak 44 persen responden menyebut efisiensi biaya untuk produksi kecil dan kustomisasi sebagai alasan utama beralih ke teknologi ini.
Tren gaya hidup aktif turut mempercepat adopsi. Produk apparel dan sportswear berbahan polyester yang cocok untuk dye-sublimation menjadi segmen terbesar dengan 81 persen penyedia layanan melayaninya. Selain itu, peluang juga terbuka di sektor homeware dan footwear. Sekitar 60 persen pelaku usaha berhasil memperluas pasar ke penyelenggara acara, pemilik merek, hingga desainer independen berkat kemampuan produksi cepat dan desain kompleks.
Dari sisi keberlanjutan, teknologi ini dinilai lebih ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan air dan paparan bahan kimia keras dibanding sablon tradisional. Tujuh dari sepuluh perusahaan menempatkan keberlanjutan sebagai prioritas bisnis, dan 33 persen melaporkan peningkatan keselamatan kerja akibat minimnya emisi berbahaya.
Head of Vertical Business Epson Indonesia, Lina Mariani, mengatakan masih terdapat kesenjangan antara ambisi penyedia layanan cetak dan tingkat kepedulian pelanggan terhadap isu keberlanjutan. “Meski terdapat momentum kuat menuju pencetakan berkelanjutan, riset ini menunjukkan adanya kesenjangan antara ambisi penyedia layanan dan prioritas pelanggan. Hal ini membuka peluang bagi pemimpin teknologi seperti Epson untuk mengkomunikasikan secara lebih efektif manfaat bisnis, lingkungan, dan kesehatan dari praktik berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan, digital dye-sublimation bukan hanya soal efisiensi produksi, tetapi juga strategi jangka panjang. “Teknologi ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mengurangi konsumsi energi, membatasi paparan bahan kimia bagi pekerja, serta membuka peluang pasar bernilai tinggi. Kami ingin memberdayakan industri cetak Asia Tenggara agar lebih kompetitif sekaligus berkontribusi pada masa depan yang lebih berkelanjutan,” kata Lina.(ame)
Editor : Amelia Beatrix