MANADOPOST.ID--dr. Tompi sering bertemu dengan pasien yang mengalami komplikasi akibat perawatan seperti penggunaan laser, produk skincare eksklusif, dan metode lain yang dianggap "menguntungkan" bagi kulit.
Menurutnya, banyak dari pasiennya mengharapkan kulit mereka menjadi lebih putih atau bersinar dengan cepat. Namun, hasil yang dijanjikan seringkali tidak sesuai dengan harapan, bahkan menimbulkan efek samping seperti iritasi, kulit merah, bahkan penipisan kulit yang signifikan.
"Perawatan kulit sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan banyak orang. Konsep dasarnya sederhana: sabun yang tepat dan pelembab yang sesuai sudah cukup untuk menjaga kulit sehat," ujar dr. Tompi.
Pada banyak kasus, upaya untuk mempercepat pengelupasan lapisan kulit mati dengan krim-krim eksfoliasi atau perawatan laser seringkali berakhir dengan kerusakan yang lebih besar pada kulit. Hal ini disebabkan karena kulit yang terlalu tipis akibat penggunaan berlebihan dapat membuat fungsi pelindung kulit menjadi terganggu, membuat kulit lebih rentan terhadap kerusakan akibat sinar matahari atau polusi.
"Melanin, yang memberikan warna pada kulit, sebenarnya merupakan bagian dari fungsi pertahanan kulit terhadap paparan sinar UV dan faktor lingkungan lainnya. Menghancurkan atau mempercepat proses alami ini bisa berakibat buruk," tambahnya.
dr. Tompi juga menegaskan pentingnya edukasi mengenai perawatan kulit yang sehat dan tidak berlebihan. Selain itu, ia menyarankan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter kulit sebelum memutuskan untuk melakukan perawatan tertentu, terutama jika kulit sudah mengalami masalah seperti kerusakan pada barrier kulit.
"Dalam kasus perawatan kulit, kurang lebihnya bukanlah solusi terbaik. Lebih baik mencegah daripada mengobati," tutup dr. Tompi.
Dengan meningkatnya kesadaran akan bahaya perawatan kulit yang berlebihan, diharapkan masyarakat dapat lebih berhati-hati dalam memilih dan mengikuti trend perawatan yang belum tentu bermanfaat secara jangka panjang bagi kesehatan kulit mereka.
Editor : Clavel Lukas