Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Layanan Cloud Amazon Web Services (AWS) Down Global, Ganggu Ratusan Aplikasi Besar Dunia

Jasinta Bolang • Selasa, 21 Oktober 2025 | 20:37 WIB

Photo
Photo

MANADOPOST.ID – Gangguan besar-besaran menimpa Amazon Web Services (AWS) pada 20 Oktober 2025, yang menyebabkan ratusan aplikasi dan situs global tidak bisa diakses selama berjam-jam.

AWS adalah layanan komputasi awan milik Amazon yang digunakan jutaan pengguna di seluruh dunia, mulai dari perusahaan raksasa teknologi hingga startup kecil.

Gangguan dimulai pada sekitar pukul 03.11 ET (waktu Amerika), dengan wilayah US-EAST-1 (Virginia) menjadi pusat gangguan utama.

Masalah teknis ini langsung berdampak luas karena wilayah tersebut merupakan pusat utama jaringan cloud AWS secara global.

Layanan besar seperti Snapchat, Reddit, Venmo, Fortnite, hingga sistem internal Amazon Alexa dan Ring sempat tidak bisa diakses.

Menurut laporan Reuters, penyebab utama gangguan berasal dari kesalahan sistem pada load balancer internal dan gangguan DNS (Domain Name System).

Gangguan DNS menyebabkan sebagian besar sistem tidak dapat menemukan jalur koneksi ke server utama, sehingga banyak situs dan aplikasi gagal dimuat.

Baca Juga: Intel Siapkan Chip AI Baru untuk Data Center, Siap Tantang Dominasi NVIDIA

AWS mengonfirmasi adanya gangguan melalui halaman status resmi mereka dan langsung melakukan perbaikan darurat.

Selama proses pemulihan, layanan pelanggan AWS dan beberapa fitur dashboard juga sempat tidak dapat digunakan.

Setelah hampir 15 jam gangguan, Amazon menyatakan bahwa layanan mulai kembali normal sekitar pukul 18.01 ET.

Namun, AWS mengakui beberapa sistem masih mengalami backlog data dan membutuhkan waktu tambahan untuk pemulihan penuh.

Menurut The Verge, insiden ini disebut sebagai salah satu gangguan cloud terbesar dalam sejarah karena dampaknya mencapai sektor finansial, hiburan, pendidikan, dan ritel global.

The Guardian menulis bahwa peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dunia terlalu bergantung pada segelintir penyedia layanan cloud besar seperti AWS, Microsoft Azure, dan Google Cloud.

Para pakar keamanan digital menilai, bisnis dan pemerintah perlu memiliki strategi redundansi (cadangan sistem) agar tetap bisa beroperasi jika layanan utama terganggu.

AWS berjanji akan merilis laporan resmi pasca-insiden untuk meningkatkan transparansi dan keandalan infrastruktur cloud global.

Gangguan besar seperti ini juga menjadi perhatian serius bagi banyak negara, termasuk Indonesia, yang semakin bergantung pada layanan cloud internasional.

Beberapa startup dan e-commerce di Asia Tenggara juga dilaporkan mengalami akses lambat dan error API akibat gangguan ini.

Meski demikian, AWS memastikan bahwa tidak ada indikasi pelanggaran keamanan atau kebocoran data selama insiden berlangsung.

Insiden ini menjadi momentum penting bagi pelaku industri teknologi untuk memperkuat ketahanan digital dan infrastruktur cadangan di era serba online.

(rm)

Editor : Jasinta Bolang
#AWS #cloud #Teknologi #Amazon #outage