Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

48 Pelajar Minsel Digembleng Jadi Duta Yaki Lewat Yaki Youth Camp

Asyer Rokot • Rabu, 25 Februari 2026 | 21:32 WIB

Photo
Photo

 

MANADOPOST.ID-- Upaya penyelamatan yaki tak lagi hanya mengandalkan pemerintah dan pegiat konservasi. Generasi muda pun kini ikut turun tangan. Sebanyak 48 pelajar SMA/SMK dan MA se-Kabupaten Minahasa Selatan mengikuti Yaki Youth Camp 2026, sebuah program edukasi konservasi yang dirancang untuk menumbuhkan kebanggaan sekaligus kepedulian terhadap yaki, satwa endemik Sulawesi Utara yang terancam punah.

Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, 13–16 Februari 2026, ini merupakan bagian dari Kampanye Kebanggaan Yaki Kabupaten Minahasa Selatan, hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan, BKSDA Sulawesi Utara, dan Program Selamatkan Yaki.

Para peserta tidak hanya menerima materi di dalam ruangan, tetapi juga diajak belajar langsung di lapangan. Rangkaian kegiatan dimulai dari pengamatan yaki di Taman Wisata Alam Batu Putih, dilanjutkan kunjungan ke Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki, hingga sesi refleksi dan diskusi di Pusat Budaya Sulawesi Pa’ Dior.

Program Manager Selamatkan Yaki, Reyni Palohoen, mengatakan bahwa kegiatan ini dirancang untuk membentuk karakter sekaligus kapasitas pelajar sebagai Duta Yaki.

“Mereka tidak hanya dibekali pengetahuan, tetapi juga empati dan keberanian bersuara. Karena itu metode kami lebih banyak diskusi, sekitar 70 persen, agar peserta aktif dan kritis,” jelas Reyni.

Apresiasi datang dari BKSDA Sulawesi Utara. Kepala Seksi Wilayah I, Hendrieks Rundengan, menilai keterlibatan pelajar sangat penting dalam menjaga kelestarian satwa liar.

“Kalian sudah melihat langsung yaki di habitatnya. Jika menemukan perburuan atau pemeliharaan ilegal, segera laporkan. Generasi muda adalah garda depan konservasi,” tegasnya.

Dari sisi pendidikan, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Arie Toloh, menyebut kegiatan ini sebagai pengalaman langka.

“Ini kesempatan berharga. Tidak semua siswa bisa belajar langsung di alam dan pusat penyelamatan satwa. Saya berharap kalian benar-benar menjalankan peran sebagai Duta Yaki di sekolah dan lingkungan masing-masing,” ujarnya.

Antusiasme peserta pun terasa kuat. Wilia Lintang, siswi SMA Negeri 1 Amurang, mengaku pengalaman melihat yaki di habitat aslinya menjadi momen tak terlupakan.

“Saya jadi lebih paham dampak perburuan dan perdagangan ilegal. Kegiatannya seru dan membuka wawasan,” katanya.

Hal serupa disampaikan Jeferson Hart Koyong, siswa SMK Rembang Amurang Barat.

“Awalnya minder, tapi suasananya bikin nyaman. Saya jadi lebih percaya diri dan senang bisa ikut kegiatan ini,” tuturnya.

Ke depan, para Duta Yaki Minahasa Selatan 2026 akan mengikuti kegiatan lanjutan untuk memperkuat peran mereka sebagai penyampai pesan pelestarian yaki dan habitatnya. Program ini mendapat dukungan pendanaan dari GIVSKUD ZOOTOPIA dan Mandai Nature, sebagai bentuk komitmen internasional dalam konservasi satwa liar dan pemberdayaan

generasi muda. (Asyer Rokot)

Editor : Asyer Rokot