MANADOPOST.ID-Tercatat ada 2.692 guru SLB pada tahun ajaran 2023/2024, dan sedikit menurun menjadi 2.665 guru pada 2024/2025. Penurunan ini terjadi di hampir seluruh kabupaten/kota, baik dari sisi guru laki-laki maupun perempuan.
Surakarta menjadi daerah dengan jumlah guru SLB terbanyak. Pada tahun 2023/2024, kota ini memiliki 205 guru, terdiri dari 53 laki-laki dan 152 perempuan.
Meski mengalami sedikit penurunan di tahun ajaran berikutnya menjadi 202 guru, angka ini tetap menempatkan Surakarta di puncak daftar, mencerminkan besarnya perhatian kota ini terhadap pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus.
Semarang menyusul di posisi kedua dengan total 198 guru pada 2023/2024, terdiri dari 53 laki-laki dan 145 perempuan. Angka ini juga sedikit menurun menjadi 194 guru pada 2024/2025. Dua kota besar ini tampaknya menjadi motor utama pendidikan luar biasa di Jawa Tengah.
Sebaliknya, Brebes dan Batang menjadi dua wilayah dengan jumlah guru SLB paling sedikit. Brebes hanya memiliki 33 guru pada 2023/2024 dan turun sedikit menjadi 32 pada 2024/2025, sementara Batang mencatat 30 guru pada 2023/2024, turun menjadi 27 pada 2024/2025.
Ini menimbulkan pertanyaan serius: apakah anak-anak berkebutuhan khusus di wilayah-wilayah ini benar-benar mendapatkan layanan pendidikan yang memadai?
Kesenjangan jumlah guru antara kota besar dan kabupaten terpencil cukup mencolok. Misalnya, perbedaan antara Surakarta (202 guru) dan Brebes (32 guru) mencapai 170 orang. Padahal, kebutuhan pendidikan anak berkebutuhan khusus seharusnya merata di seluruh wilayah.
Kota seperti Salatiga dan Magelang, meski ukurannya tidak sebesar Surakarta, juga menunjukkan perhatian tinggi dengan masing-masing memiliki 71 dan 68 guru pada 2023/2024.
Di sisi lain, beberapa kabupaten menunjukkan stagnasi tanpa penambahan tenaga pengajar. Bahkan, beberapa mengalami penurunan jumlah guru, yang bisa berdampak pada kualitas dan jangkauan layanan pendidikan luar biasa.
Data juga menunjukkan bahwa guru perempuan masih mendominasi di SLB, mencapai sekitar 72% dari total guru SLB di Jawa Tengah. Hal ini bisa menjadi refleksi bahwa profesi guru SLB masih dianggap lebih cocok untuk perempuan, atau justru menunjukkan dedikasi yang tinggi dari para perempuan dalam dunia pendidikan khusus.
Angka boleh berubah, tapi yang tak boleh bergeser adalah komitmen kita pada inklusivitas. SLB bukan sekadar tempat belajar, tapi harapan bagi anak-anak yang selama ini kurang mendapat perhatian. Ketimpangan jumlah guru adalah alarm yang perlu segera ditanggapi oleh pemerintah daerah. (*)
Editor : Clavel Lukas