PSR Sinode GMIM 2026, Dari Panggung Menuju Dampak Nyata bagi Kota Manado

"Reach Beyond the Stage”: Ketika Seni, Iman, Kaderisasi dan Ekonomi Bertemu dalam Satu Persekutuan.
OLEH: Pnt Brilliant Maengko
MANADOPOST.ID-Pesta Seni Remaja (PSR) Sinode GMIM 2026 telah menjadi salah satu momentum besar bagi persekutuan Remaja GMIM. Dengan ribuan remaja dari berbagai jemaat dan wilayah pelayanan yang datang dan beraktivitas di Kota Manado, PSR tidak hanya menghadirkan kemeriahan di atas panggung, tetapi juga menghadirkan sebuah energi sosial, budaya, ekonomi dan spiritual yang bergerak jauh melampaui arena perlombaan.
Mengusung tema “Reach Beyond the Stage”, PSR sesungguhnya mengajak kita melihat bahwa apa yang terjadi di atas panggung hanyalah sebagian kecil dari proses yang jauh lebih besar. Panggung adalah tempat talenta ditampilkan, tetapi kehidupan setelah panggung adalah tempat karakter, iman, disiplin, kepemimpinan dan tanggung jawab diuji.
PSR 2026 yang berlangsung di Wilayah Manado Selatan dan Manado Tenggara pada 31 Juli hingga 2 Agustus menjadi ruang perjumpaan ribuan remaja dari berbagai wilayah pelayanan GMIM.
Dari sisi ekonomi, skala kegiatan ini juga tidak dapat dipandang sebelah mata. Berdasarkan jumlah peserta sekitar 7.373 remaja, ratusan jemaat dan lebih dari seribu entry perlombaan, dapat diperkirakan terjadi perputaran uang sedikitnya sekitar Rp4,4 miliar hingga Rp9,65 miliar dari berbagai kebutuhan yang dapat dihitung, mulai dari pelatih, konsumsi latihan, transportasi, seragam, dokumentasi, pendaftaran, konsumsi peserta dan pendukung.
Angka tersebut bahkan belum memasukkan seluruh aktivitas ekonomi yang muncul selama PSR, seperti penginapan, sewa tenda, sound system, lighting, videotron, dekorasi, konsumsi panitia, belanja peserta dan official, parkir, BBM, makanan ringan, oleh-oleh serta berbagai transaksi lainnya.
Dengan demikian, PSR secara tidak langsung menciptakan sebuah ekosistem ekonomi sementara di Kota Manado.
Warung makan mendapatkan pembeli. UMKM katering mendapatkan pesanan. Pasar dan pedagang bahan pangan mendapatkan permintaan. Pengusaha transportasi mendapatkan pelanggan. Konveksi dan usaha sablon menerima pesanan seragam dan kaos. Fotografer dan videografer mendapatkan pekerjaan. Para seniman memperoleh ruang untuk berkarya sebagai pelatih maupun juri. Penyedia perlengkapan kegiatan, percetakan, dekorasi, sound system hingga berbagai usaha kecil lainnya ikut mengambil bagian.
Uang yang dibelanjakan peserta tidak berhenti pada satu tangan. Ketika sebuah kelompok membeli makanan dari UMKM, UMKM tersebut membeli bahan baku dari pedagang pasar. Pedagang kemudian membayar pemasok, pekerja menerima upah, dan pendapatan tersebut kembali dibelanjakan di tengah masyarakat.
Inilah yang membuat PSR memiliki multiplier effect bagi perekonomian daerah. Namun, jika kita hanya melihat PSR dari sisi ekonomi, kita juga akan kehilangan makna terbesar dari kegiatan ini. Sebab PSR sesungguhnya sedang membangun manusia.
Di balik setiap penampilan terdapat proses panjang. Ada remaja yang harus bangun dan datang latihan tepat waktu. Ada yang harus belajar membagi waktu antara sekolah, keluarga dan pelayanan. Ada yang belajar menyanyi, bermain musik, menari, berteater, membaca Mazmur dan bekerja dalam kelompok. Ada pula yang belajar menerima kritik, menghargai pelatih, menghormati sesama peserta dan tetap memberikan yang terbaik sekalipun hasil perlombaan tidak sesuai harapan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!



