Elit Muda NU dan Muhammadiyah Bersatu di KAHMI, Rawat Indonesia dari Beranda Pasifik

MANADOPOST.ID -Tiga puluh tahun lalu, ketika masih menjadi aktivis HMI di Manado, saya sering berada dalam ruang-ruang diskusiyang dipenuhi optimisme tentang masa depan Sulawesi Utara.
Kami berbicara tentang Pelabuhan Bitung, tentang industriperikanan yang terus tumbuh, tentang kelapa yang hasilnyamenembus pasar dunia, tentang pengembangan pariwisata dan banyak lagi tentang mimpi menjadikan Sulawesi Utara sebagai gerbang Indonesia ke kawasan Pasifik.
Hari ini, setelah lebih dari tiga dekade berlalu, sayamenemukan bahwa pertanyaan yang kami diskusikan saat ituternyata masih tetap relevan: mengapa daerah yang begitukaya sumber daya ini belum sepenuhnya menjelma menjadikekuatan ekonomi besar sebagaimana yang pernah kitabayangkan?
Tema Musyawarah Wilayah (Muswil) X KAHMI Sulawesi Utara, “Partisipasi Peran KAHMI DorongKedaulatan Ekonomi Sulut Melaju,” mengingatkan saya pada percakapan-percakapan lama tersebut. Bedanya, jika dahulugagasan itu hadir dalam ruang diskusi mahasiswa dan aktivismuda, hari ini tantangan itu hadir di depan mata sebagaisebuah kebutuhan yang mendesak.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Sulawesi Utara sesungguhnya memiliki modal yang jarang dimiliki daerahlain: laut yang kaya, daratan yang subur, letak strategis di gerbang Pasifik, serta masyarakat yang terbuka terhadapperubahan. Persoalannya bukan lagi soal potensi. Persoalannya adalah apakah kita memiliki keberanian untukmengubah potensi itu menjadi kesejahteraan.
Di tengah berbagai perbedaan yang kerap mewarnairuang publik, KAHMI justru menghadirkan wajah persatuan. Dalam organisasi ini, kader dari berbagai latar belakang dapatduduk bersama membicarakan masa depan daerah dan bangsa. Di Sulawesi Utara, hal itu terlihat ketika elit muda NahdlatulUlama dan Muhammadiyah bertemu dalam satu rumah besarpengabdian.
Tradisi NU yang kuat dalam penguatan basis sosial dan kebudayaan berpadu dengan semangat pembaruanMuhammadiyah dalam pendidikan, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat. Di KAHMI, keduanya tidakdipertentangkan, melainkan dipertemukan untuk melahirkangagasan dan kerja nyata. Dalam situasi bangsa yang seringterjebak dalam polarisasi, model kolaborasi seperti ini justrumenjadi modal sosial yang sangat berharga.
Sebagai bagian dari generasi HMI Manado pada awal1980-an dan awal 1990-an, saya beruntung tumbuh dalamsuasana intelektual yang dinamis. Kampus, organisasikemahasiswaan, birokrasi, dan dunia usaha saat itu memilikiruang dialog yang hidup. Sebagai aktivis HMI, saya banyakberinteraksi dengan pelaku usaha perikanan, eksportir hasillaut, pengusaha perkelapaan, dan berbagai tokoh yang memiliki perhatian besar terhadap kemajuan Sulawesi Utara.
Menariknya, tema yang kami diskusikan kala itu tidakjauh berbeda dengan yang kita bicarakan hari ini. Bagaimanamempercepat pertumbuhan ekonomi daerah? Bagaimanamenciptakan lapangan kerja? Bagaimana agar kekayaan alamSulawesi Utara tidak berhenti sebagai bahan mentah yang dikirim keluar daerah? Bahasa yang digunakan mungkinberbeda, tetapi semangatnya sama: bagaimana menghadirkannilai tambah bagi masyarakat.
Saya masih mengingat ketika bersama kawan-kawanHMI ikut menggagas dan menyelenggarakan seminar nasionaltentang insentif perpajakan untuk mendorong investasi pada sektor perikanan dan industri kelapa. Seminar tersebutmenghadirkan Mar'ie Muhammad, alumni HMI dan Eksponen66 yang dikenal sebagai salah satu tokoh nasional di bidangperpajakan dan yang kemudian dipercaya menjadi Menteri Keuangan Republik Indonesia.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

