Oleh: Willy H. Rawung
SALAH satu penyebab Perang Tondano (1808 – 1809), adalah penolakan keras Tou Minahasa atas rekrutmen paksa tentara oleh Hindia Belanda untuk dikirim ke Pulau Jawa. Para penulis Barat – antara lain - sejarawan Dr. H.J. de Graaf (1949), menulis bahwa penyebab terjadinya Perang Tondano II adalah rekrutmen serdadu pribumi oleh Gubernur Jenderal Daendels untuk menghadapi serangan dari Inggris. Ia menulis, “Men wierf daarom op grote schaal Indonesiers aan, liefst uit de krijgshaftige rassen als Madurezen, Minahassers en zelfs Dayaks. Malden zich niet voldoende vrijwilligers aan, dan werd dwang toegepast , wat in Menado tot een volksopstand leidde, terwijl de egent van Sampang, een Tjakraningrat, er de Soeltans-titel mee, won”. (Maka dipanggilah orang-orang Indonesia dalam jumlah besar untuk menjadi serdadu, paling disukai yang berasal dari suku-suku pemberani dalam pertempuran seperti Madura, Minahasa, dan Dayak. Dan bila yang melapor secara sukarela tidak memadai, maka dipergunakanlah pemaksaan, hal mana telah mengakibatkan pemberontakan rakyat di Manado, sedangkan Kepala Pemerintahan Sampang, seorang Tjakraningrat, telah mendapatkan gelar Soeltan karenanya). – Bert Supit.
Dalam perang ini Tou Minahasa dikalahkan secara tragis pada 5 Agustus 1809. Betapa dahsyatnya perang Tondano yang telah berlangsung lebih dari setahun itu (Mei 1809 - 5 Agustus 1809) dapat dibaca dari salah satu laporan Residen Balfour di Manado tertanggal 9 Agustug 1809 yang ditujukan kepada Gezaghebber der Moluccas (semacam gubernur) Rudolf Coop a Groen mengenai pertempuran akhir: “Orang-orang Tondano yang congkak dan angkuh itu pada akhirnya dapat kita taklukan. Pada malam tanggal 4 menjelang tanggal 5 Agustus 1809 kira-kira tengah malam maka dimulailah serangan yang telah lama disiapkan ke arah pusat pertahanan orang-orang Tondano; Penyerangan dipimpin oleh Kapitein Weintre dengan pasukannya.
Setelah pasukan penyerang berhasil memasuki perkampungan orang Tondano mereka mulai membakar rumah-rumah dan segala sesuatu yang mereka ketemukan. Api yang menyala itu oleh karena pantulan air danau dapat dilihat jauh dari atap tembok-tembok di Fort Amsterdam Manado.
Mengenai penyerangan akhir ke kubu-kubu pertahanan orang-orang Tondano Kapitein Weintre sendiri mengirimkan laporan-laporannya tertanggal 5 dan 7 Agustus kepada Residen Balfour: “Temanku Balfour, Tondano telah mengalami nasibnya yang naas pada tengah malam, seluruh Tondano sudah menjadi lautan api, saya harapkan bahwa tidak ada sisa lagi dari Tondano ini. Mereka yang tak sempat menyingkir dimakan oleh api dan menurut perkiraan saya di antara mereka yang tak sempat menyingkir itu terdiri dari orang tua yang sakit dan anak-anak. Mereka yang selamat dari amukan api dihabiskan nyawanya oleh anggota-anggota pasukan yang berasal dari Ternate yang penuh dengki dan haus dendam membalas kematian darl rekan-rekannya yang jatuh dalam pertempuran sebelumnya karena muntahan peluru-peluru orang-orang Tondano. Saat menulis laporan ini Tondano sudah menjadi tumpukan debu dan sama sekali hancur lebur. Sehari setelah kemenangan kami, aku memerintahkan Pakasaan-Pakasaan (distrik-distrik) lain di Minahassa untuk membawa masing-masing 200 orang agar dapat membantu menghancurkan apa yang masih bisa dan belum ditelan api dari Tondano ini, seperti kanon-kanon, tiang-tiang palisade yang terpancang di sekeliling kubu pertahanan mereka.
Segala sesuatu termasuk juga pepohonan dan waruga-waruga mereka aku hancurkan agar kelak tidak kelihatan bekas-bekas bahwa di tempat ini pernah ada pemukiman dari orang-orang Tondano. Alasan aku melibatkan Pakasaan-Pakasaan atau distrik-distrik lain dalam penghancuran sisa-sisa dari perkampungan orang-orang Tondano ini adalah untuk meperingatkan mereka di Minahasa akan nasib yang mereka alami bila mereka berani menantang kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda. Senjata-senjata yang dapat disita masih kurang banyak dan aku duga orang-orang Tondano telah menenggelamkannya di danau……. Dari tahanan- tahanan akan dicoba diperoleh keterangan dimana senjata-senjata itu telah disembunyikan. Selanjutnya saya akan mengejar pemimpin-pemimin orang-orang Tondano yang sempat mengundurkan diri ke hutan di seki-tar Kapataran, di tempatnya Gerrit Wuysang, yang berindikasi telah membantu orang-orang Tondano dengan mesiu dan senjata selama perang itu berlangsung”. – Eddy Mampu SH.
Transformasi Budaya Memicu Diaspora
Menurut Prof.Dr. Adrian Bernard Lapian, sesudah Perang Tondano terjadi perkembangan pesat di kalangan penduduk Minahasa. Berakhirnya Perang Tondano dengan kemenangan pada pihak Belanda membuka jalan bagi Belanda untuk melanjutkan rekrutering tenaga pribumi. Maka Perang Tondano bukan hanya merupakan batas pemisah dalam sejarah ekonomi saja.
Juga dalam sejarah kemasyarakatan dan kebudayaan. Setelah dikalahkan, pemuda Minahasa dikerahkan untuk bertugas sebagai tentara yang dikirimkan ke luar daerah. Mau tak mau, disenangi ataupun tidak, pengiriman pemuda Minahasa ke luar daerah adalah awal dari arus perpindahan ke luar yang kelak akan menyebar ke seluruh Nusantara, malahan sebagai awak kapal mereka nanti akan mengarungi samudra ke segala penjuru dunia. Gejala ini telah membebaskan penduduk Minahasa dari isolasi kehidupan tradisional dan membuka masyarakat untuk berpartisipasi dalam dunia yang lebih luas jangkauannya. Sebelumnya 1 memang telah ada orang Minahasa yang ke luar daerah, seperti halnya pemuka-pemuka yang pada pertengahan abad xvii berlayar ke Ternate untuk meminta bantuan VOC terhadap Spanyol. Di samping itu ada beberapa tokoh yang diasingkan ke luar daerah oleh VOC karena membangkang terhadap tuntutan-tuntuan Kompeni. Juga ada oang Minahasa yang diangkut ke luar karena tertangkap dalam serangan orang Mangindano dan Balangingi. Akan tetapi gerak pindah pada abad xix setelah Perang Tondano sifatnya lain. Gerak pindah demikian melibatkan masyarakat Minahasa secara aktif dalam pergolakan Nusantara yang kemudian akan menumbuhkan suatu identitas baru, yakni identitas baru sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia.
Prof. Lapian menekankan, proses pertumbuhan identitas baru ini tidak selalu terlaksana menurut garis lurus yang progresif. Namun dapat dikatakan, proses ini mendapat dorongan awal pada dasawarsa kedua abad xix setelah Perang Tondano berakhir. Patut diingat pula bahwa kekalahan perang yang diderita telah membuka mata rakyat, bahwa mereka tidak lagi dapat mengandalkan persenjataan tradisional untuk melawan musuh dari luar, melainkan memerlukan perlengkapan modern sesuai dengan perkembangan zaman. Senjata modern telah diselundupkan sewaktu perang, tetapi persediaan tidak mencukupi untuk menghadapi ofensif Belanda yang lebih lengkap. Dengan ikut serta sebagai anggota tentara kolonial, mereka bersama orang pribumi lainnya mendapat kesempatan menggunakan dan menguasai persenjataan baru dan mengenal cara berperang yang diterapkan Belanda.
Lapian melanjutkan, transformasi yang lebih besar lagi berlangsung di bidang kebudayaan. Beberapa pengamat malahan menganggap bahwa transformasi ini telah merobah kebudayaan Minahasa secara radikal. Namun, menurut sebuah studi dalam bidang antropologi sosial, masih banyak unsur kebudayaan tradisional yang hidup dan yang tidak tergeser oleh pengaruh kebudayaan Barat selama lebih satu abad ini (Lundstrom, 1981). Sungguhpun demikian tidak dapat disangkal lagi bahwa transformasi kebudayaan ini telah membawa akibat yang sangat besar bagi masyarakat Minahasa karena merobah pandangan hidup yang berdasarkan kepercayaan tradisional ke alam pikiran agama Kristen. Dua tahun sesudah Belanda kembali berkuasa di Minahasa, yakni pada tahun 1819, Ds. Lenting menyebarkan Injil di Amurang dan Kapataran, sedangkan penginjil D. Muller bekerja antara 1821- 1825. Nama-nama seperti Hellendoorn, J.F. Riedel, J.G. Schwarz, Wilken, Graafland, dan lain-lain masih dikenang sebagai guru agama yang berjasa dalam sejarah kristenisasi penduduk Minahasa.
Sebagaimana diketahui, sejak abad xvi sudah ada orang Minahasa yang memeluk agama Kristen, namun hanya terbatas pada kelompok kecil saja, khususnya di kalangan masyarakat pantai. Ketika Perang Tondano pecah jumlahnya sudah lebih banyak, akan tetapi konversi dalam jumlah yang lebih besar baru terjadi sesudahnya, terlebih sesudah Nederlandse Zendeling-genootschap mulai giat bekerja di kawasan ini.
Timbul pertanyaan, faktor-faktor apa yang mendorong masyarakat Minahasa pada waktu itu meninggalkan kepercayaan tradisional dan menganut ajaran yang baru itu dalam jumlah besar-besaran? Selama satu setengah abad pada masa VOC, dan satu abad sebelumnya akibat persentuhan kebudayaan Portugis dan Spanyol, agama Kristen tidak banyak menyebar di daerah ini.
Keyakinan yang dianut masyarakat yang telah berakar berabad-abad lamanya tidak mudah diganti oleh agama yang datang dari luar. Hal ini baru mungkin apabila keyakinan itu menjadi goyah sebagai pengalaman-pengalaman yang diderita pada masanya. Kekalahan perang sudah barang tentu menghadapkan masyarakat setempat kepada realitas lingkungannya. Bencana kelaparan yang diderita, gugurnya kaum kerabat dan handai taulan serta kematian anak isteri sendiri selama peperangan pasti telah membuat mereka yang ditinggalkan bertanya-tanya kepada diri sendiri akan hakekat sendi-sendi kemasyarakatan serta nilai-nilai kebudayaan yang hingga waktu itu menjadi pegangan hidupnya. Realitas pascaperang mengharuskan mereka merumuskan kembali kedudukan dan sikapnya dalam dunia yang telah berobah itu. Kebolehan serta kelebihan senjata api buatan Eropa membawa mereka kepada kesadaran akan keterbelakangan perlengkapan sendiri. Ditambah lagi mau tak mau mereka patut mengakui kelebihan itu serta kebudayaan yang melahirkan teknologi yang serba maju itu. Maka hakekat dari ajaran-ajaran tradisional mulai dipertanyakan sehingga dasar-dasar pemikiran lama tidak lagi dianggap relevan untuk menghadapi kenyataan yang baru.
Wabah penyakit cacar yang pada tahun 1819 – tulis Lapian - telah menelan korban 15.600 jiwa atau kira-kira seperenam dari seluruh penduduk Minahasa pada waktu itu (Godee Molsbergen,h.183). Cara penyembuhan tradisional tidak mampu melawan wabah yang sedemikian parah itu. Di lain pihak para penginjil datang tidak hanya untuk membawa ajaran baru yang mengandung berita pelepasan jiwa. Mereka dibekali pula dengan pengetahuan dasar mengenai pengobatan modern. Sudah tentu masyarakat yang dilanda berbagai macam malapetaka ini berpaling kepada mereka untuk memperoleh pegangan hidup yang baru. Di samping membawa agama Nasrani dan mengadakan penyembuhan menurut ilmu pengetahuan Barat, para penginjil ini juga membawa paham Barat dengan membuka sekolah-sekolah. Dahulu pada masa VOC telah ada sekolah di pemukiman pesisir, akan tetapi keadaannya sangat buruk karena Kompeni tidak terlalu memperhatikan soal pendidikan bagi penduduk pribumi. Baru pada abad xix keadaan berobah, terutama di Minahasa di mana pertumbuhan sekolah 2 dasar berkembang dengan pesat. Pada tahun 1850 daerah Minahasa telah mempunyai 12 sekolah dasar yang didirikan pemerintah pusat, di samping itu ada 20 sekolah yang dikelola oleh pemerintah setempat, sedangkan sudah ada lebih dari 80 buah yang didirikan oleh Zending.
Sebagai perbandingan, pada waktu itu jumlah penduduk Minahasa seluruhnya kira-kira 99.500 jiwa. (Kroeskamp h.99 dan h.119-120). Dengan menerima pendidikan menurut sistem Barat ini maka masyarakat Minahasa diikutsertakan dalam dunia yang modern. Lulusan pendidikan dasar mengisi kebutuhan pegawai pada tingkat birokrasi yang paling bawah, sedangkan yang mampu melanjutkan pelajarannya harus ke luar daerah untuk mengikuti pendidikan menengah yang pada waktu itu belum terdapat di daerah ini.
Intelektual Minahasa - Mengganti Santi (Pedang) dengan Pena’
Melalui jalur ekonomi, sosial, kebudayaan, dan pendidikan dalam abad xix setelah Perang Tondano, dunia bagi masyarakat Minahasa menjadi lebih luas dan mulai mencakup wilayah Hindia-Belanda, tulis Prof. Lapian. Bersama suku bangsa lainnya mulailah proses integrasi yang kemudian akan menjurus ke pembentukan satu bangsa yang mengaku mempunyai satu tanah air dan berbicara satu bahasa persatuan, Indonesia. Transformasi kebudayaan, khususnya penerimaan agama Kristen dan penetrasi peradaban Barat, ditambah lagi dengan partisipasi dalam tentara dan birokrasi pemerintah kolonial sejak abad xix, telah memberi kesan kepada Belanda dan masyarakat non-Minahasa lainnya seakan-akan rakyat Minahasa loyal kepada Belanda, malahan ada ungkapan yang mengatakan daerah ini sebagai ‘provinsi ke 12’ dari kerajaan Belanda. Seperti kata seorang sejarawan Belanda, dalam banyak hal hanyalah fakta-fakta seperti ini yang diketahui orang Belanda pada umumnya, dan oleh sebab itu hanya satu segi saja dari citra Minahasa dan penduduknya yang dikenal di negeri Belanda, yakni citra mengenai ‘mitos tentang loyalitas yang mapan dan abadi’, the myth of the long established and enduring loyalty. (Patuleia-Schouten,1978). Kita kutip selanjutnya dari karya sejarawan tersebut:
"Loya l though the Minahasan population in many aspects may have been - it is native to suppose that Minahasans accepted without more the Dutch political and economic measures, which […..] es pecially in the nineteenth century formed a heavy burden. In reality, Minahasans often expressed in their attitude and actions an avowed rejection of the Dutch measures, although never in the form of armed revolt. The most frequently used form of resistance was non -cooperation (or in Minahasan terms, maraju), but especially later in the 19th century Minahasans showed that they had to use a weapon which the Dutch themselves had del i vered to them: literacy.
Memang menjelang akhir abad xix ketidakpuasan masyarakat Minahasa disalurkan melalui petisi kepada pemerintah maupun melalui karangan-karangan di surat kabar. Perjuangan tidak lagi diteruskan dengan mengangkat senjata, melainkan dengan keampuhan kalam. Baru sesudah Perang Dunia II pemuda Minahasa sebagai bangsa lndonesia turut menggunakan senjata dan kekuatan fisik dalam Perang Kemerdekaan.
Setelah kekalahan menyakitkan dan dramatis dalam Perang Tondano pada 5 Agustus 1809,Tou Minahasa menjawab tantangan zaman dengan mengganti ‘Santi (pedang) dengan Pena’. Tidak memerlukan waku lama, tujuh puluh tahun kemudian mulai lahir calon-calon generasi intelektual Minahasa. Pada 1870 lahir Fredrick D.J. Pangemanan - pelopor Sastra dan Pers Moderen Indonesia.
Lalu berturutan lahir calon Pahlawan Nasional: 1 Desember 1872 lahir Maria Walanda Maramis. 4 Desember 1896 lahir Prof. Arnold Arnoldus Isaac Zacharis Mononutu. 5 November 1890 lahir Gerungan Saul Samuel Jacob (Sam) Ratulangi, 30 Juni 1892 lahir Bernard Willem Lapian. 20 Juni1897 lahir Dr. Mr. Alexander Andries Maramis. 5 Juni 1900 lahir Lambertus (Babe) Nicodemus Palar. Selanjutnya di kalangan kedokteran pada 17 Februari 1896 lahir Dr. Marie Thomas, dokter perempuan pertama Indonesia dan 10 Februari 1898 lahir Dr. Anna Adelin Warouw, dokter perempuan kedua Indonesia.
Lalu, 21 Agustus 1900 lahir Elvianus Katoppo, tokoh pendidikan, guru, budayawan dan Menteri Pendidikan dalam empat kabinet Negara Indonesia Timur antara 1947-1949, selanjutnya menjadi tokoh Alkitab Indonesia.
Kemudian, mereka yang berkarir di pemerintahan, sebut saja Frits Laoh lahir 25 Desember 1888, Menteri Perhubungan Kabinet Burhanuddin Harahap. Frans Ferdinand Umbas lahir 25 Juli 1916, Menteri Muda Perekonomian Kabinet Ali Sastroamidjojo II. Gustaaf Adolf Maengkom lahir 11 Maret 1907 Menteri Kehakiman Kabinet Djuanda. Freddy Jaques Inkiriwang lahir 2 September 1912, Menteri Perindustrian Kabinet Djuanda. Jan Daniel Massie lahir 20 Nov 1901, Menteri Urusan Penertiban Bank & Modal Swasta, Kabinet Dwikora I dan Menteri/Wakil Gubernur Pertama Bank Negara Kabinet Dwkora II. Hans Alexander Pandelaki lahir 8 Februari 1911, Menteri/Pemeriksa Keuangan Agung Muda/Anggota Pimpinan BPK Kabinet Dwikora I. Pdt. Wilhelm Johannis Rumambi lahir 7 April 1916, Menteri Penghubung MPR/DPR/DPA/Front Nasional dan kemudian Menteri Penerangan Kabinet Dwikora III.
Seratus dua puluh tahun setelah dikalahkan Belanda, lahir pula Johanna Nanap Tumbuan pada 29 November 1910. Saat berusia 18 tahun ia bersama gadis belia Minahasa lainnya, Mona Tumbel dan Dien Pantouw, mewakili sayap pemudi ‘Jong Minahasa’, hadir pada Kongres Pemuda Indonesia II 27-28 Oktober 1928. Bambang Sularto dalam memoar Wage Rudolf Supratman (1980: 40) mengisahkan 3 kegiatan pengarang lagu kebangsaan Indonesia Raya itu di siang hari selama berlangsungnya kongres kedua itu. Ia berkeliling sambil membuat catatan mengenai jumlah peserta perempuan yang ditemuinya. Paling tidak ada sepuluh perempuan yang hadir. (Tiga pemudi Minahasa- pen).
Kini, Tou Minahasa dan keturunannya telah tersebar di berbagai penjuru dunia dengan berbagai kewarganegaraan. Di Indonesia, kebanggaan Minahasa, Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto, yang tak segan berucap “setengah darah saja Minahasa”. Ibundanya, Dora Marie Sigar (21/9/1921 – 23/12/2008) tamatan Christelijk Hogere Burgerschool di Utrecht, adalah putri dari Philip Frederik Laurens Sigar (1885-1946) - seorang pejabat pemerintah dan anggota Volksraad dan Cornelie Emilia Maengkom (1888–1946). Dora menikah dengan Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo pada 7 Januari 1945 di Jakarta dan pernikahan mereka bertahan hingga wafatnya Dr. Soemitro pada 9 Maret 2001.
Pertanyaan, apakah diaspora Tou Minahasa dan keturunannya di seluruh dunia masih ingat ‘akar’ leluhurnya, seperti dilakukan etnis Tionghoa perantauan (Hoakiao)? Terus terang, saya tidak mampu menjawabnya.***
*) Narasumber tulisan ini: Bert Supit, Eddy Mambu SH, dan Prof.Dr. Adrian Bernard Lapian - materi Seminar Perang Tondano, Yayasan Kebudayaan Minahasa – YKM (Jakarta 17 November 1986).
Editor : Tanya Rompas