
MANADOPOST.ID— Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Yulius Selvanus, menegaskan pentingnya optimalisasi serapan anggaran belanja daerah sebagai instrumen utama dalam menopang indikator makro dan mikro ekonomi daerah.
Hal tersebut disampaikan gubernur dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah Clay Dondokambey pada Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Optimalisasi Serapan Anggaran Belanja Daerah untuk Menopang Indikator Makro dan Mikro Ekonomi Sulawesi Utara 2026” yang digelar di Lantai 5 GRHA Pena Manado Post, Selasa (21/4).
Dalam forum yang diinisiasi Manado Post tersebut, gubernur menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan FGD yang dinilai sangat strategis dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kegiatan ini sangat relevan dalam upaya kita bersama menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Utara,” ujarnya.
Gubernur memaparkan, kinerja keuangan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara Tahun Anggaran 2025 menunjukkan capaian positif. Berdasarkan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) unaudited, realisasi pendapatan daerah mencapai Rp3,65 triliun atau 96,38 persen, sementara realisasi belanja daerah mencapai Rp3,32 triliun atau 91,36 persen.
Selain itu, kebijakan efisiensi belanja yang dijalankan mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 turut memperkuat efektivitas pengelolaan fiskal, melalui pengendalian belanja operasional dan penajaman program prioritas.
Secara konsolidatif, Pemprov bersama kabupaten/kota juga mencatat Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun 2025 sebesar Rp1,09 triliun, yang mencerminkan keseimbangan antara efektivitas program dan efisiensi penggunaan anggaran.
Dari sisi makro ekonomi, Sulut mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,66 persen (year on year), lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 5,11 persen. Inflasi juga terkendali di angka 1,23 persen, jauh di bawah nasional 2,92 persen.
Sementara itu, tingkat kemiskinan berada di angka 6,62 persen, lebih rendah dibandingkan nasional 8,25 persen, sekaligus menjadi yang terendah di kawasan Sulawesi.
Pada sektor mikro, daya beli masyarakat tetap terjaga, aktivitas UMKM terus bergerak, serta konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama persen pertumbuhan ekonomi daerah.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




