Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Umat, GPIB, Rabu, 18 Februari 2026, Kolose 1:17-18 Semua Ada Dalam Kristus

Alfianne Lumantow • Senin, 16 Februari 2026 | 12:48 WIB
Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab: Kolose 1:17–18
Tema: SEMUA ADA DALAM KRISTUS

"Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia." (ay. 17)

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, Malam ini kita memasuki masa yang sangat penting dalam kehidupan iman kita, yaitu masa Pra-Paskah yang diawali dengan Rabu Abu. Seharusnya, ketika kita bercermin sebelum tidur, masih terlihat sisa-sisa abu di dahi kita.

Abu itu bukan sekadar simbol liturgis. Ia adalah tanda yang berbicara. Ia mengingatkan kita tentang asal-usul kita: “Engkau adalah debu dan akan kembali menjadi debu.” Namun, lebih dari itu, abu juga mengajukan sebuah pertanyaan rohani yang sangat mendasar: Apakah Kristus sungguh menjadi pusat hidup kita?

Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose menegaskan suatu kebenaran iman yang sangat dalam: Kristus bukan hanya Penyelamat jiwa manusia, tetapi juga pusat seluruh ciptaan. Paulus berkata, “Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu menyatu di dalam Dia.”

Ini berarti bahwa sebelum dunia ada, sebelum manusia diciptakan, sebelum langit dan bumi dibentuk, Kristus sudah ada. Dan bukan hanya itu, segala sesuatu yang ada sekarang ini tetap ada karena ditopang oleh Dia.

Artinya, dunia ini bukan berdiri sendiri. Hidup kita tidak berdiri sendiri. Alam semesta tidak berjalan tanpa arah. Semua berada dalam satu kesatuan di dalam Kristus. Kristus adalah sumber, penopang, dan tujuan akhir dari seluruh ciptaan.

Namun, saudara-saudari, dalam kenyataan hidup sehari-hari, sering kali kita lupa akan kebenaran ini. Kita hidup seolah-olah dunia ini milik kita sepenuhnya. Kita bertindak seakan-akan manusia adalah pusat dari segalanya.

Kita mengatur, menguasai, dan mengeksploitasi alam tanpa rasa tanggung jawab. Kita lupa bahwa kita bukan pemilik dunia, melainkan hanya bagian kecil dari ciptaan Allah yang besar.

Rabu Abu mengingatkan kita bahwa kita ini debu. Abu adalah lambang keterbatasan, kefanaan, dan kerendahan manusia. Tetapi di antara dua titik — dari debu menuju debu — kita dipanggil untuk hidup dalam relasi yang benar: relasi dengan Allah, dengan sesama, dan dengan seluruh ciptaan.

Paulus menegaskan bahwa “segala sesuatu menyatu di dalam Kristus.” Ini berarti bahwa manusia, hewan, tumbuhan, tanah, air, udara, dan seluruh semesta berada dalam satu jaringan kehidupan yang sama di dalam Kristus. Tidak ada yang berdiri sendiri. Tidak ada yang boleh diperlakukan sebagai sesuatu yang tidak bernilai.

Namun kenyataannya, kita sering hidup seolah-olah terpisah dari ciptaan lain. Kita membuang sampah sembarangan tanpa memikirkan dampaknya. Kita menebang hutan tanpa menanam kembali. Kita mengeruk tanah tanpa memulihkan. Kita mengisap sumber daya tanpa memperhatikan keberlanjutan. Kita merusak tanpa merasa bersalah.

Lebih dari itu, kita juga sering memiliki cara berpikir yang sempit tentang keselamatan. Kita berpikir seolah Kristus hanya datang untuk menyelamatkan jiwa manusia, tetapi tidak peduli dengan bumi, laut, hutan, dan seluruh ciptaan.

Padahal Alkitab berkata bahwa segala sesuatu ada di dalam Dia. Artinya, karya keselamatan Kristus mencakup seluruh ciptaan, bukan hanya manusia.

Ketika alam rusak, ketika sungai tercemar, ketika udara kotor, ketika hutan gundul, itu bukan hanya persoalan lingkungan. Itu adalah persoalan iman. Itu adalah persoalan relasi kita dengan Kristus.

Sebab jika segala sesuatu ada di dalam Kristus, maka merusak ciptaan berarti melukai karya Kristus sendiri. Mengabaikan bumi berarti mengabaikan Allah yang menciptakannya di dalam Kristus.

Rabu Abu adalah momen pertobatan. Pertobatan bukan hanya tentang dosa pribadi seperti kebohongan, iri hati, atau kemarahan. Pertobatan juga menyangkut dosa kolektif kita sebagai umat manusia terhadap ciptaan.

Kita perlu bertanya dengan jujur: apakah gaya hidup kita memuliakan Kristus atau justru merusak karya-Nya?

Sering kali kita ingin hidup nyaman, murah, dan cepat, tanpa memikirkan dampaknya. Kita memilih plastik daripada membawa tas sendiri. Kita memilih membuang daripada memperbaiki.

Kita memilih mengambil daripada merawat. Tanpa sadar, kita ikut mempercepat kerusakan bumi. Padahal bumi ini bukan milik kita. Bumi ini milik Kristus.

Paulus juga berkata bahwa Kristus adalah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ini berarti bahwa gereja dipanggil untuk menjadi tanda kehadiran Kristus di dunia. Jika Kristus adalah pusat seluruh ciptaan, maka gereja seharusnya menjadi komunitas yang hidup selaras dengan ciptaan, bukan yang merusaknya. Gereja tidak hanya berbicara tentang surga, tetapi juga tentang bagaimana hidup di bumi dengan benar.

Iman Kristen bukan iman yang melarikan diri dari dunia. Iman Kristen adalah iman yang bertanggung jawab atas dunia. Kita tidak dipanggil untuk menguasai ciptaan secara sewenang-wenang, tetapi untuk mengelolanya dengan kasih dan hikmat. Kita bukan tuan atas alam, melainkan sesama ciptaan yang diberi tanggung jawab.

Malam ini, Rabu Abu mengajak kita untuk masuk ke dalam keheningan dan bertanya:
Apakah kita masih merasa bahwa dunia ini milik kita?
Ataukah kita menyadari bahwa segala sesuatu adalah milik Kristus?

Jika segala sesuatu adalah milik Kristus, maka setiap pohon layak dihormati. Setiap sungai layak dijaga. Setiap tanah layak dirawat. Dan setiap makhluk hidup layak diperlakukan dengan kasih. Menghargai ciptaan bukanlah ide modern, melainkan panggilan iman.

Rabu Abu juga mengingatkan kita bahwa hidup ini singkat. Kita berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu. Tetapi selama kita masih hidup, kita diberi kesempatan untuk memilih: apakah kita akan hidup sebagai perusak atau sebagai pemulih? Apakah kita akan hidup sebagai pusat atau sebagai bagian dari ciptaan Allah?

Pertobatan sejati selalu menghasilkan perubahan. Dari keangkuhan menuju kerendahan hati. Dari gaya hidup yang merusak menuju gaya hidup yang memulihkan. Dari sikap “semua untuk saya” menuju sikap “semua untuk Kristus.”

Hidup di dalam Kristus berarti menyadari bahwa hidup kita terhubung dengan seluruh ciptaan. Kita makan dari tanah. Kita minum dari air. Kita bernapas dari udara.

Semua itu adalah anugerah Allah. Maka, cara kita memperlakukan alam mencerminkan cara kita menghormati Pemberi hidup.

Saudara-saudari, Rabu Abu bukan hanya tentang abu di dahi, tetapi tentang perubahan di hati. Abu di dahi akan hilang, tetapi pertobatan seharusnya tinggal. Masa Pra-Paskah adalah masa latihan rohani: melatih diri untuk hidup lebih sederhana, lebih peduli, lebih bertanggung jawab.
Biarlah malam ini menjadi awal dari perubahan sikap kita. Mulai dari hal-hal kecil: tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi pemborosan, menghargai makanan, merawat lingkungan sekitar, dan mengajarkan anak-anak untuk mencintai ciptaan. Semua itu adalah wujud iman kita kepada Kristus yang menjadi pusat segala sesuatu.

Akhirnya, marilah kita ingat bahwa tujuan hidup kita bukanlah menguasai dunia, melainkan memuliakan Kristus di dalam dunia. Kita tidak hidup untuk diri sendiri, tetapi untuk Dia yang di dalam-Nya segala sesuatu ada dan disatukan.

Biarlah Rabu Abu ini sungguh menjadi momen perubahan bagi kita: dari keangkuhan manusia menuju kerendahan hati sebagai ciptaan, dari gaya hidup yang merusak menuju gaya hidup yang memulihkan, dari hidup yang terpisah menuju hidup yang berdampingan,
bersama seluruh ciptaan di dalam kemuliaan Kristus. Amin.

Doa : Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur atas firman-Mu yang menegur dan membarui hidup kami. Ampuni dosa kami yang sering merusak ciptaan-Mu. Bentuklah hati kami agar hidup rendah hati, peduli, dan setia memuliakan Engkau dalam setiap tindakan. Pimpin kami menjalani pertobatan sejati sepanjang masa Pra-Paskah ini. Jadikan gereja-Mu alat damai bagi dunia dan seluruh makhluk hari ini dan selamanya bersama Engkau. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB