Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Umat, GPIB, Sabtu, 14 Maret 2026, Mazmur 119:65-72 Tuhan Itu Baik

Alfianne Lumantow • Rabu, 11 Maret 2026 | 13:51 WIB

Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab : Mazmur 119:65–72
TEMA : TUHAN ITU BAIK

"Engkau baik dan berbuat baik; ajarilah aku ketetapan-ketetapan-Mu." (Mazmur 119:68)

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, ketika kita mendengar kalimat “Tuhan itu baik,” mungkin kita langsung mengangguk setuju. Kalimat ini sangat sering kita dengar dalam doa, pujian, maupun khotbah.

Bahkan banyak orang percaya dengan mudah mengatakan bahwa Tuhan itu baik. Namun pertanyaannya adalah: apakah kita masih bisa mengatakan Tuhan itu baik ketika hidup kita sedang berada dalam kesulitan?

Banyak orang merasa mudah memuji kebaikan Tuhan ketika hidup berjalan lancar. Ketika kesehatan baik, pekerjaan berjalan dengan baik, keluarga dalam keadaan damai, dan kebutuhan hidup tercukupi, kita dengan mudah berkata bahwa Tuhan itu baik.

Tetapi ketika penderitaan datang, ketika masalah menekan kehidupan kita, ketika doa kita terasa belum dijawab, sering kali iman kita mulai goyah.

Mazmur 119:65–72 memberikan kesaksian iman yang sangat dalam tentang kebaikan Tuhan. Pemazmur tidak berbicara tentang kebaikan Tuhan hanya dalam situasi yang nyaman. Justru ia menyaksikan kebaikan Tuhan melalui pengalaman hidup yang tidak mudah, bahkan melalui penderitaan yang ia alami.

Pemazmur memulai dengan sebuah pengakuan yang penuh iman: “Engkau telah berbuat baik kepada hamba-Mu, ya TUHAN, sesuai dengan firman-Mu.” (ayat 65). Kalimat ini menunjukkan bahwa pemazmur melihat perjalanan hidupnya sebagai bukti dari kebaikan Tuhan.

Namun ketika kita membaca lebih jauh, kita menyadari bahwa perjalanan hidup pemazmur tidak selalu mudah. Ia mengalami kesulitan, bahkan penderitaan. Tetapi yang menarik adalah cara pemazmur memaknai pengalaman hidupnya itu.

Pada ayat 67 pemazmur berkata: “Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu.” Ayat ini menunjukkan sebuah kejujuran yang sangat mendalam.

Pemazmur mengakui bahwa sebelum mengalami penderitaan, ia sempat menyimpang dari jalan Tuhan. Ia tidak hidup sepenuhnya menurut kehendak Tuhan.

Namun penderitaan yang ia alami justru menjadi titik balik dalam kehidupannya. Penderitaan itu membuka matanya dan menolongnya untuk kembali kepada Tuhan. Dari pengalaman ini kita belajar bahwa kadang-kadang Tuhan memakai situasi yang tidak nyaman untuk membawa kita kembali kepada jalan yang benar.

Sering kali manusia baru menyadari pentingnya Tuhan ketika mereka berada dalam kesulitan. Ketika hidup berjalan dengan baik, kita bisa saja menjadi terlalu sibuk dengan urusan dunia. Kita merasa mampu menjalani hidup dengan kekuatan kita sendiri. Tanpa kita sadari, hati kita mulai menjauh dari Tuhan.

Namun ketika kesulitan datang, kita mulai menyadari bahwa kita membutuhkan Tuhan. Penderitaan membuat kita kembali mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh.

Pemazmur bahkan mengatakan pada ayat 71: “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.” Kalimat ini mungkin terdengar mengejutkan. Bagaimana mungkin penderitaan dianggap sebagai sesuatu yang baik?

Tetapi inilah kedalaman iman pemazmur. Ia melihat bahwa penderitaan yang ia alami bukanlah sesuatu yang sia-sia. Penderitaan itu menjadi sarana yang Tuhan pakai untuk membentuk kehidupannya.

Dalam penderitaan, pemazmur belajar untuk lebih dekat dengan Tuhan. Dalam kesulitan, ia belajar untuk lebih mengandalkan firman Tuhan. Dalam tekanan hidup, imannya justru semakin bertumbuh.

Saudara-saudara, sering kali kita tidak memahami rencana Tuhan ketika kita sedang berada di tengah kesulitan. Kita mungkin bertanya-tanya mengapa Tuhan mengizinkan hal-hal sulit terjadi dalam hidup kita. Kita mungkin merasa seolah-olah Tuhan jauh dari kehidupan kita.

Namun firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tetap baik, bahkan ketika kita tidak memahami apa yang sedang terjadi.

Kebaikan Tuhan tidak selalu terlihat dalam bentuk kenyamanan. Kadang-kadang kebaikan Tuhan justru hadir dalam bentuk proses pembentukan yang tidak mudah.

Seperti seorang pandai besi yang membentuk besi dengan api dan palu, demikian juga Tuhan membentuk kehidupan kita melalui berbagai pengalaman hidup. Proses itu mungkin terasa menyakitkan, tetapi hasil akhirnya adalah kehidupan yang semakin kuat dan semakin dekat dengan Tuhan.

Dalam bagian ini pemazmur juga membandingkan dirinya dengan orang-orang yang sombong. Pada ayat 69 dan 70 disebutkan bahwa orang-orang sombong memfitnah dirinya. Hati mereka keras dan tidak peka terhadap kehendak Tuhan.

Orang-orang sombong memilih jalan hidup mereka sendiri. Mereka tidak mau tunduk kepada firman Tuhan. Mereka lebih percaya pada kekuatan mereka sendiri daripada pada hikmat Tuhan.

Namun pemazmur memilih jalan yang berbeda. Ia tidak mengikuti cara hidup mereka. Ia tidak tergoda oleh sikap sombong mereka. Sebaliknya, ia memilih untuk tetap setia kepada firman Tuhan.

Ia berkata bahwa ia menyukai hukum Tuhan dan merenungkannya dengan segenap hati. Firman Tuhan menjadi sumber kekuatan dan sukacita bagi kehidupannya.

Puncak dari pengakuan iman pemazmur terlihat pada ayat 72 ketika ia berkata: “Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku, lebih dari pada ribuan keping emas dan perak.”

Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemazmur telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kekayaan dunia. Ia menyadari bahwa firman Tuhan memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada emas dan perak.

Saudara-saudara, dunia saat ini sering mengajarkan kita untuk mengejar hal-hal yang bersifat materi. Banyak orang mengukur keberhasilan hidup dari seberapa banyak harta yang dimiliki, seberapa tinggi jabatan yang dicapai, atau seberapa besar pengaruh yang dimiliki.

Namun firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada semua itu, yaitu firman Tuhan sendiri.

Firman Tuhan memberikan arah bagi kehidupan kita. Firman Tuhan menolong kita untuk memahami kehendak Tuhan. Firman Tuhan memberikan penghiburan ketika kita sedang berduka. Firman Tuhan juga memberikan pengharapan ketika kita menghadapi masa depan yang tidak pasti.

Ketika seseorang menjadikan firman Tuhan sebagai pegangan hidupnya, ia akan memiliki dasar yang kuat untuk menghadapi segala situasi kehidupan.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, kehidupan kita di masa kini juga tidak lepas dari berbagai tantangan. Kita menghadapi tekanan ekonomi, ketidakpastian masa depan, konflik dalam relasi, serta berbagai pergumulan lainnya.

Semua itu bisa membuat hati kita lelah dan iman kita goyah. Namun firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk melihat kehidupan dengan perspektif iman seperti yang dimiliki oleh pemazmur.

Pemazmur mengajarkan kepada kita bahwa bahkan dalam penderitaan sekalipun, kita masih dapat melihat kebaikan Tuhan. Penderitaan bukanlah tanda bahwa Tuhan meninggalkan kita. Justru sering kali penderitaan menjadi cara Tuhan untuk membawa kita lebih dekat kepada-Nya.

Ketika kita melewati masa-masa sulit bersama Tuhan, kita akan semakin mengenal kasih dan kesetiaan-Nya. Kita akan menyadari bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, bahkan ketika kita merasa lemah.

Oleh karena itu, marilah kita belajar untuk tetap percaya kepada kebaikan Tuhan dalam setiap keadaan. Ketika hidup terasa mudah, kita bersyukur kepada Tuhan. Ketika hidup terasa sulit, kita tetap percaya bahwa Tuhan sedang bekerja dalam kehidupan kita.

Seperti pemazmur, marilah kita juga belajar untuk mencintai firman Tuhan. Jadikan firman Tuhan sebagai pegangan hidup kita. Renungkan firman Tuhan setiap hari dan biarkan firman itu membentuk hati serta kehidupan kita.

Ketika firman Tuhan menjadi dasar kehidupan kita, kita akan memiliki kekuatan untuk menghadapi setiap tantangan hidup.

Kiranya melalui firman Tuhan hari ini kita semakin menyadari bahwa Tuhan itu sungguh baik. Kebaikan-Nya tidak berubah oleh keadaan hidup kita. Kasih setia-Nya tetap ada dalam setiap langkah perjalanan hidup kita.

Dan seperti pemazmur, biarlah kita dapat berkata dengan penuh iman: “Engkau baik dan berbuat baik.” Amin.

Doa : Tuhan yang baik dan penuh kasih, kami bersyukur atas firman-Mu yang menguatkan iman kami. Ajarlah kami melihat kebaikan-Mu dalam setiap keadaan, bahkan saat kami mengalami kesulitan. Teguhkan hati kami agar tetap setia pada firman-Mu dan percaya pada rencana-Mu. Pimpin hidup kami selalu di jalan-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB