Event tahunan ini tidak hanya sukses dari sisi penyelenggaraan, tetapi juga mencatatkan dampak positif yang masif terhadap perputaran ekonomi lokal.
Pemanfaatan anggaran yang bersumber dari APBD Kota Bitung terbukti efektif dalam menciptakan multiplier effect bagi perekonomian masyarakat.
Data menunjukkan, dalam sektor UMKM dan kuliner, total perputaran ekonomi yang tercatat di sektor ini mencapai kurang lebih Rp 1,1 miliar.
Angka ini didorong oleh partisipasi aktif dari 27 pelaku UMKM/Ekraf, 19 pedagang kaki lima (PKL), 4 UMKM kopi serta juga wahana rekreasi.
Selain itu, perputaran ekonomi di area expo menunjukkan performa luar biasa, di mana salah satu pemilik booth sound system mencatatkan penjualan hingga Rp 120 juta dalam satu hari.
Area ini melibatkan 25 pelaku expo dari berbagai institusi, termasuk Bank Indonesia, perbankan, BUMN, BUMD, dan perusahaan swasta.
Sektor ekonomi kreatif turut menjadi pilar utama dalam mendongkrak perekonomian lokal.
Aktivitas seperti mural perahu, mural dinding, dan sub sektor kreatif lainnya berhasil menggerakkan perputaran dana hingga kurang lebih Rp 200 juta.
Secara keseluruhan, festival ini menjadi wadah kolaborasi bagi 251 pelaku seni dan budaya dari berbagai latar belakang untuk menampilkan beragam atraksi, mulai dari tari kolosal, musik, hingga parade laut Sailing Pass.
Keberhasilan FPSL 2025 merupakan hasil sinergi kuat antara pemerintah daerah, swasta, perbankan, BUMN/BUMD, dan institusi negara.
Apresiasi tinggi disampaikan kepada Ketua Umum Panitia, Dansatrol Kodaeral VIII, Kolonel Laut (P) Marvill Marfel Frits E.D SE MTr Hanla CRMP, selaku tuan rumah.
Dansatrol telah memberikan ruang seluas-luasnya kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Bitung dan masyarakat, untuk menggunakan kawasan Satrol Kodaeral VIII sebagai pusat pelaksanaan festival.
Dukungan penuh dari jajaran Kodaeral VIII ini menegaskan komitmen TNI AL dalam mendukung kemajuan pariwisata dan ekonomi kreatif Bitung.
Dukungan strategis datang dari Bank Indonesia (BI), yang tidak hanya berpartisipasi sebagai lembaga negara di area expo (bersama 24 pelaku lainnya), tetapi juga turut aktif dalam memeriahkan suasana dengan memberikan hadiah-hadiah untuk berbagai lomba, dan menyediakan wakaf coffee corner bagi pelaku UMKM kopi binaan.
Kehadiran BI ini juga menjadi bagian dari upaya sosialisasi untuk menjaga stabilitas harga, dan mendorong literasi keuangan masyarakat.
Wali Kota Bitung, Hengky Honandar SE, menekankan bahwa FPSL merupakan motor penggerak ekonomi yang berbasis harmonisasi dan kolaborasi.
“FPSL 2025 membuktikan bahwa kolaborasi lintas sektor, pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan Forkopimda, mampu menciptakan dampak ekonomi yang nyata dan berkelanjutan.
Dengan sinergi ini, kami optimistis membangun Bitung sebagai kota kreatif, produktif, dan berdaya saing,” tegas Wali Kota Bitung.
FPSL 2025 telah menjadi tolak ukur suksesnya penyelenggaraan event berbasis budaya bahari, yang mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kesejahteraan masyarakat.(fys)
Editor : Franky Sumaraw