MANADOPOST.ID - Penggunaan filler wajah secara berlebihan dan berulang dapat memicu overfilled syndrome, kondisi yang membuat wajah tampak terlalu penuh, bengkak, dan tidak lagi memiliki proporsi alami. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika volume filler terus ditambahkan tanpa evaluasi menyeluruh terhadap kondisi jaringan wajah.
Filler merupakan salah satu prosedur estetika yang digunakan untuk mengisi area wajah yang kehilangan volume atau mempertegas fitur tertentu. Meskipun prosedur tersebut banyak digunakan dalam perawatan estetika, penambahan filler secara berlebihan dapat menimbulkan perubahan yang justru mengganggu tampilan wajah.
Dokter estetika dr. Jeffri Purnomo Setiawan, Dipl.AAAM, mengatakan keinginan mendapatkan hasil dramatis dengan biaya seminimal mungkin dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong penggunaan filler secara berlebihan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers Regenerative Medical Aesthetic Outlook 2026 di Jakarta.
Menurut dr. Jeffri, kondisi overfilled syndrome dapat terjadi ketika filler dilakukan berulang kali dengan jumlah yang terlalu banyak. Pengulangan prosedur tanpa evaluasi yang memadai dapat menyebabkan volume material terus menumpuk pada area wajah tertentu.
Pemahaman mengenai fungsi filler juga menjadi hal yang perlu diperhatikan sebelum seseorang menjalani prosedur. Filler tidak semestinya digunakan hanya untuk mengejar efek pengencangan wajah dengan cara menambahkan volume secara terus-menerus.
Penggunaan filler yang tidak tepat dapat menyebabkan perubahan bentuk pada sejumlah bagian wajah. dr. Elfin, M. Biomed (AAM), menyebut beberapa istilah untuk menggambarkan perubahan tersebut, seperti flowerhorn pada dahi, duck lips pada bibir, witch chin pada dagu, dan pillow face pada pipi.
Wajah yang mengalami pengisian berlebihan dapat terlihat tidak alami ketika diam maupun saat seseorang tersenyum. Penumpukan volume pada pipi juga dapat memengaruhi posisi jaringan di sekitarnya sehingga perubahan pada area mata dan struktur wajah lainnya menjadi lebih terlihat.
Kondisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan tampilan wajah ketika sedang beristirahat. Penggunaan filler berlebihan juga dapat mengubah dinamika wajah ketika seseorang berbicara, tersenyum, atau melakukan ekspresi tertentu karena volume tambahan memengaruhi hubungan antarjaringan.
Kajian klinis mengenai facial overfilled syndrome menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan penggunaan filler yang berlebihan atau tidak tepat. Perubahan dapat mencakup distorsi kontur wajah, distribusi volume yang tidak alami, serta perubahan pada gerakan wajah.
Pengisian filler secara berulang juga perlu mempertimbangkan bagaimana material tersebut berada dan bertahan di dalam jaringan. Penumpukan material, perpindahan filler, serta respons biologis jaringan menjadi sejumlah faktor yang dapat berkontribusi terhadap perubahan bentuk wajah.
Pada orang yang mengalami perubahan jaringan akibat usia, penggunaan volume filler yang terlalu banyak juga dapat memberikan tekanan tambahan pada jaringan wajah. Menurut dr. Elfin, kondisi tersebut dapat membuat pipi tampak semakin turun dan garis senyum menjadi lebih dalam ketika kemampuan kulit menopang struktur wajah berkurang.
Penanganan kondisi overfilled syndrome perlu dilakukan melalui evaluasi medis, bukan dengan menambahkan filler baru secara sembarangan. Langkah awal yang dijelaskan dr. Elfin adalah menghilangkan penumpukan filler sebelum menentukan terapi lanjutan yang sesuai.
Setelah filler dihilangkan, perubahan tampilan wajah dapat terjadi karena volume yang sebelumnya menopang jaringan sudah berkurang. Pasien perlu mendapatkan penjelasan mengenai kemungkinan tersebut sebelum menjalani tahapan perawatan berikutnya.
Terapi lanjutan dapat dipertimbangkan setelah jaringan wajah dievaluasi kembali. Salah satu pilihan yang disebutkan adalah penggunaan stimulator kolagen untuk mendukung struktur kulit tanpa kembali menambahkan volume secara berlebihan.
Penggunaan filler sebaiknya dilakukan berdasarkan kebutuhan dan penilaian kondisi wajah secara menyeluruh. Kajian klinis juga menekankan pentingnya pemahaman anatomi serta perencanaan perawatan yang disesuaikan dengan kondisi setiap pasien untuk mencegah pengisian berlebihan.
Tanggung jawab untuk mencegah overfilled syndrome tidak hanya berada pada dokter maupun pasien secara terpisah. Menurut dr. Jeffri, keduanya memiliki peran dalam mengawasi perubahan fisik dan menentukan batas prosedur yang masih rasional.
Dokter juga memiliki peran untuk menolak permintaan pasien apabila prosedur yang diinginkan sudah melampaui batas yang dianggap rasional. Pembatasan tersebut diperlukan agar tindakan estetika tetap mempertahankan proporsi wajah dan tidak menghasilkan perubahan yang berlebihan.
Bagi masyarakat yang mempertimbangkan filler, evaluasi kondisi wajah sebelum tindakan menjadi langkah penting. Keputusan untuk melakukan prosedur sebaiknya tidak hanya didasarkan pada keinginan memperoleh perubahan cepat, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan jaringan dan hasil yang tetap proporsional.
Overfilled syndrome pada akhirnya menunjukkan bahwa penambahan volume tidak selalu menghasilkan tampilan wajah yang lebih baik. Penggunaan filler secara terukur, evaluasi berkala, serta komunikasi yang terbuka antara pasien dan tenaga medis menjadi bagian penting untuk menjaga hasil perawatan tetap aman dan proporsional.
Editor : ALengkong