Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sosok Pricilia Tamawiwy di Mata Para Sahabat: Pendiam, Tulus dan Selalu Hadir di Momen Penting

Kenjiro Tanos • Senin, 18 Mei 2026 | 13:50 WIB
Kenangan para sahabat Pricilia Tamawiwy saat bersama-sama.
Kenangan para sahabat Pricilia Tamawiwy saat bersama-sama.

MANADOPOST.ID - Kepergian Pricilia Nelly Tamawiwy atau yang akrab disapa Lia, masih menyisakan duka mendalam bagi sahabat-sahabat terdekatnya.

Perempuan yang dikenal ramah dan sederhana itu menjadi salah satu korban dalam peristiwa kebakaran di Megamall Manado, Sulawesi Utara, Sabtu malam (16/5).

Bagi enam sahabat yang sudah menemaninya sejak bangku kuliah, Lia bukan sekadar teman. Ia adalah sosok yang selalu hadir di setiap momen penting, bahkan di tengah kesibukan pekerjaannya sebagai karyawan Megamall.

K Astuty (33), sahabat dekat almarhumah, mengenang awal pertemanan mereka sejak tahun 2010 saat kuliah. Dari tujuh orang dengan karakter yang disebut hampir sama itu, hubungan mereka tetap terjalin erat hingga kini.

Grup pertemanan mereka tetap aktif dengan saling memberi kabar, ucapan ulang tahun, hingga berbagi cerita soal tenant baru di Megamall yang biasanya selalu ditanyakan kepada Lia.

“Kalau ada tenant baru di Megamall, pasti kami semua tanya ke Lia,” ujar Astuty.

Di mata sahabat-sahabatnya, Lia dikenal sebagai pribadi pendiam, sederhana, dan tidak pernah merepotkan orang lain. Ia disebut sebagai sosok pekerja keras yang sangat menyayangi keluarga serta peduli terhadap teman-temannya. Di balik sikap tenangnya, Lia juga dikenal sebagai penggemar berat Choi Siwon, personel grup K-Pop Super Junior.

“Intinya Lia itu tidak neko-neko orangnya,” katanya.

Astuty mengaku, satu hal yang paling membekas adalah bagaimana Lia selalu berusaha hadir dalam setiap momen penting persahabatan mereka. Bahkan ketika tidak bisa datang, almarhumah akan langsung memberi kabar.

“Yang pasti sampai sekarang kami berenam belum percaya kalau Lia sudah pergi lebih dulu,” ucapnya lirih.

Kini, Megamall bukan lagi sekadar pusat perbelanjaan bagi mereka. Tempat itu berubah menjadi ruang penuh kenangan yang sulit dipisahkan dari sosok Lia.

“Kalau mau datang ke Megamall pasti teringat almarhum Lia,” lanjut Astuty.

Cerita serupa datang dari Aghita G. Maliatja (33), seorang ASN yang telah mengenal Lia sejak masa SMP di Melonguane, Kepulauan Talaud.

Meski sempat tidak terlalu dekat, persahabatan mereka mulai terjalin erat saat sama-sama bertemu kembali di Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Unsrat pada 2010.

“Kami sama-sama kaget karena ternyata satu fakultas dan satu jurusan,” kenangnya.

Sebagai sesama mahasiswa lulusan SMA yang memilih masuk jurusan Arsitektur, keduanya menghadapi banyak tantangan selama kuliah.

Namun menurut Aghita, Lia tidak pernah kehilangan semangat. Ia selalu mencari solusi dalam setiap kesulitan dan mudah bergaul dengan siapa saja, termasuk para senior di kampus.

“Sosok Pricilia itu pendiam, tapi sangat peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Dia lebih memilih mendahulukan teman-temannya dibanding dirinya sendiri,” ujarnya.

Salah satu kenangan yang paling membekas bagi Aghita terjadi saat ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan pada 2011, tepat sehari sebelum ujian semester dimulai.

Saat itu, Lia menjadi orang pertama yang datang menemuinya di kos. Tidak hanya memberi dukungan, Lia juga membantu menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang harus segera dikumpulkan.

“Dia bantu saya menyelesaikan tugas besar dan ikut mengumpulkannya,” kata Aghita.

Di tengah kesibukan masing-masing setelah bekerja, komunikasi tujuh sahabat itu lebih sering berlangsung lewat grup WhatsApp.

Namun ada satu kebiasaan yang selalu terjadi setiap Aghita datang ke Manado dan mampir ke Megamall: ia hampir selalu bertemu Lia.

“Pernah dia di lantai tiga dan lihat saya di lantai satu. Dia cepat-cepat turun hanya untuk menyapa,” tuturnya.

Pertemuan terakhir mereka terjadi sekitar tiga minggu lalu di area basement Megamall. Momen sederhana itu kini berubah menjadi kenangan yang terus menghantui ingatan Aghita.

“Dia sempat sembunyi seperti anak kecil, lalu senyum tipis lihat ke arah saya. Mungkin kalau saya tahu itu pertemuan terakhir, saya akan memeluknya lebih erat,” ucapnya dengan suara bergetar.

Bagi sahabat-sahabatnya, Lia akan selalu dikenang sebagai pribadi tulus yang hadir tanpa banyak bicara, namun memberi arti besar dalam kehidupan orang-orang di sekitarnya.

Kepergiannya meninggalkan luka yang belum benar-benar bisa diterima, terutama setiap kali langkah membawa mereka kembali ke tempat yang selama ini identik dengan sosoknya: Megamall Manado. (tkg)

Editor : Kenjiro Tanos
#Pricilia Tamawiwy #Kebakaran Megamall #Korban Kebakaran Manado #Megamall Manado