Tradisi yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat Bolaang Mongondow ini bukan sekadar penerangan malam, melainkan simbol suka cita dan semangat menyambut kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa.
Pantauan di sejumlah titik di Kota Kotamobagu, tradisi ini juga mendatangkan berkah tersendiri bagi para pedagang. Penjual lampu botol mulai ramai bermunculan, terutama di kawasan Pasar 23 Maret dan sejumlah pinggiran jalan utama. “Sudah beberapa hari ini banyak yang datang beli lampu botol. Dalam sehari bisa terjual puluhan,” ujar Rahman, salah satu penjual lampu tradisional di Kelurahan Kotobangon.
Lampu yang dijual umumnya terbuat dari botol bekas yang diisi minyak tanah, sumbu, dan penutup kaleng berlubang sebagai pelindung api. Harganya bervariasi, mulai dari Rp5.000 hingga Rp10.000 tergantung ukuran dan bentuknya.
Masyarakat juga tampak antusias menyiapkan lampu-lampu tersebut. Mereka akan memasang di depan rumah, pagar, bahkan di jalan-jalan sebagai bentuk kebersamaan dan penghormatan terhadap tradisi leluhur. “Monuntul ini sudah jadi bagian dari hidup kami. Setiap tahun harus ada, karena ini menambah semarak lebaran,” ujar Fatmah, warga Motoboi Kecil.
Pemerintah Kota Kotamobagu pun terus mendorong pelestarian tradisi Monuntul sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah yang patut dijaga dan dilestarikan dari generasi ke generasi.(*)