Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Mengapa Ada Orang Dewasa yang Masih Kekanak-Kanakan? Ini Penjelasannya

Fandy Gerungan • Kamis, 12 September 2024 | 16:35 WIB
Ilustrasi Kepribadian.
Ilustrasi Kepribadian.

MANADOPOST.ID--Meski usia bertambah, tidak semua orang menunjukkan perilaku yang matang. Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan seseorang yang usianya sudah tergolong dewasa.

Tapi pemikiran dan karakternya masih kekanak-kanakan, seperti yang dikutip dalam youtube Kanal Psikologi (12/9).

Mari kita bahas bersama apa penyebab dan faktor yang mempengaruhi hal ini.

1. Kekanak-Kanakan vs Jiwa Muda: Apa Bedanya?

Sebelum masuk lebih dalam, penting untuk membedakan antara memiliki jiwa muda dan bersikap kekanak-kanakan. Memiliki jiwa muda artinya seseorang tetap penuh semangat, fleksibel, dan terbuka pada hal-hal baru, meskipun mereka sudah dewasa.

Sedangkan sikap kekanak-kanakan lebih merujuk pada perilaku yang tidak sesuai dengan usia, seperti sulit menerima tanggung jawab, emosional berlebihan, atau kurang bijaksana dalam mengambil keputusan.

Orang yang bersikap kekanak-kanakan sering kali lebih mengedepankan emosi daripada logika dalam menghadapi situasi. Mereka mungkin mudah tersinggung, marah, atau bahkan menghindari situasi sulit alih-alih menyelesaikannya dengan dewasa.

2. Kurangnya Pengalaman dalam Menghadapi Tanggung Jawab

Salah satu alasan mengapa beberapa orang dewasa masih bersikap kekanak-kanakan adalah karena kurangnya pengalaman dalam menghadapi tanggung jawab. Ketika seseorang tidak terbiasa dengan tugas dan kewajiban yang harus diambil dalam hidup.

Mereka bisa menghindari tanggung jawab atau menolak untuk mengambilnya. Sikap ini sering kali berujung pada perilaku yang tidak matang, seperti menolak untuk bekerja keras, mengeluh terus-menerus, atau mengabaikan kewajiban finansial dan sosial.

Hal ini bisa terjadi karena pola asuh yang terlalu memanjakan, di mana seseorang tidak diajarkan bagaimana menghadapi tantangan dengan dewasa. Akibatnya, mereka tumbuh dengan harapan bahwa orang lain akan selalu menyelesaikan masalah mereka.

3. Pengaruh Trauma atau Pengalaman Masa Kecil

Trauma atau pengalaman buruk di masa kecil juga bisa berdampak pada perkembangan emosi seseorang. Beberapa orang dewasa yang terlihat kekanak-kanakan mungkin sebenarnya sedang berusaha melindungi diri dari rasa sakit emosional yang mereka alami di masa lalu.

Misalnya, seseorang yang tumbuh di lingkungan yang penuh tekanan atau kurang kasih sayang mungkin mengembangkan mekanisme pertahanan berupa sikap kekanak-kanakan untuk melindungi diri dari rasa sakit lebih lanjut.

Sikap ini bisa muncul dalam bentuk menghindari konfrontasi, bersikap terlalu defensif, atau bahkan menggunakan humor berlebihan sebagai cara untuk menutupi rasa tidak aman mereka.

4. Belum Mencapai Kematangan Emosional

Kematangan emosional tidak selalu datang seiring dengan bertambahnya usia. Beberapa orang dewasa mungkin memiliki usia kronologis yang matang, tetapi belum mencapai kematangan emosional.

Hal ini berarti mereka belum mampu mengelola emosi mereka dengan baik, dan sering kali bereaksi secara berlebihan atau impulsif.

Sikap kekanak-kanakan seperti marah karena hal-hal sepele, sulit menerima kritik, atau sulit menerima kenyataan yang tidak sesuai harapan adalah tanda bahwa seseorang belum sepenuhnya matang secara emosional.

Ini bisa disebabkan oleh kurangnya pembelajaran dan refleksi diri tentang bagaimana mengelola emosi dengan sehat.

5. Pola Asuh yang Terlalu Protektif

Orang dewasa yang masih bersikap kekanak-kanakan sering kali tumbuh dalam lingkungan dengan pola asuh yang terlalu protektif.

Ketika seorang anak selalu dilindungi dari konsekuensi negatif atau tantangan hidup, mereka tidak belajar bagaimana mengatasi masalah dengan mandiri.

Sebagai hasilnya, ketika dewasa, mereka cenderung mencari perlindungan atau bantuan dari orang lain, alih-alih menghadapi masalah secara mandiri.

Pola asuh seperti ini bisa membuat seseorang merasa bahwa mereka tidak perlu mengambil tanggung jawab penuh atas hidup mereka, karena mereka terbiasa selalu diselamatkan oleh orang lain.

6. Ketergantungan Sosial atau Emosional

Beberapa orang dewasa yang kekanak-kanakan mungkin menunjukkan tanda-tanda ketergantungan sosial atau emosional pada orang lain.

Mereka mungkin sangat bergantung pada orang tua, pasangan, atau teman untuk mengambil keputusan atau menyelesaikan masalah dalam hidup mereka.

Ketergantungan ini membuat mereka sulit mengembangkan kemandirian dan kemampuan untuk berdiri sendiri.

8. Budaya dan Lingkungan Sosial

Lingkungan sosial dan budaya juga dapat memengaruhi perkembangan emosional seseorang. Dalam beberapa kasus, orang dewasa yang kekanak-kanakan mungkin tumbuh di lingkungan di mana perilaku kekanak-kanakan tidak dianggap sebagai masalah.

Jika lingkungan atau budaya mendukung perilaku seperti ini, seseorang mungkin merasa bahwa tidak ada yang salah dengan bersikap tidak dewasa meskipun usianya sudah dewasa.

Meskipun usia bertambah, sikap dewasa tidak datang secara otomatis. Ada banyak faktor yang mempengaruhi mengapa orang dewasa bisa bersikap kekanak-kanakan.

Mulai dari pola asuh, trauma masa kecil, hingga kurangnya pengalaman dalam menghadapi tantangan hidup.

Namun, dengan refleksi diri dan usaha untuk berubah, setiap orang bisa mencapai kematangan emosional yang lebih baik. (*)

Editor : Clavel Lukas
#kepribadian #dewasa