MANADOPOST.ID – Perusahaan teknologi kesehatan asal Belanda, Philips, semakin serius mengembangkan inovasi layanan kesehatan berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di China.
Langkah ini dilakukan untuk memperkuat posisi mereka sebagai pemimpin di bidang solusi kesehatan digital yang berfokus pada efisiensi dan ketepatan diagnosis.
Menurut laporan dari Xinhua, Philips menilai bahwa potensi pasar kesehatan digital di China sangat besar, terutama dengan meningkatnya kebutuhan akan layanan medis yang cepat dan akurat.
AI atau kecerdasan buatan sendiri merupakan teknologi yang memungkinkan mesin meniru kemampuan berpikir manusia untuk memecahkan masalah dan menganalisis data kompleks.
Dalam dunia medis, teknologi AI digunakan untuk membantu dokter dalam membaca hasil pemeriksaan, seperti CT scan, MRI, hingga deteksi dini penyakit kronis.
Baca Juga: Apple Siapkan Fitur Satelit Baru untuk iPhone, Bikin Sinyal Tak Lagi Jadi Masalah
Philips menjelaskan bahwa dengan integrasi AI, tenaga medis bisa bekerja lebih efisien tanpa mengorbankan kualitas perawatan pasien.
Selain itu, AI juga dapat membantu mengurangi beban kerja rumah sakit yang sering kali menghadapi kekurangan tenaga kesehatan.
Dilansir dari Xinhua, Philips berencana membangun pusat penelitian AI di beberapa kota besar di China untuk mempercepat pengembangan teknologi medis pintar.
Pusat riset ini akan fokus pada pengolahan data medis, sistem prediksi penyakit, dan perawatan pasien berbasis data real-time.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi global Philips untuk memperluas solusi kesehatan digital di Asia.
Menurut CEO Philips Greater China, Andy Ho, inovasi berbasis AI bukan hanya membantu dokter, tetapi juga meningkatkan pengalaman pasien secara menyeluruh.
Melalui sistem berbasis data, pasien dapat menerima hasil pemeriksaan lebih cepat dan akurat.
Teknologi ini juga memungkinkan pemantauan kesehatan jarak jauh, terutama bagi pasien dengan penyakit kronis seperti jantung dan diabetes.
Philips juga bekerja sama dengan beberapa rumah sakit besar di China untuk menguji sistem AI mereka secara langsung di lapangan.
Kolaborasi ini bertujuan memastikan bahwa teknologi yang dikembangkan benar-benar efektif dan sesuai kebutuhan lokal.
Selain bidang diagnostik, Philips juga mengembangkan AI untuk manajemen rumah sakit dan perawatan intensif.
Sistem ini mampu menganalisis pola data pasien untuk membantu dokter membuat keputusan medis dengan cepat.
Dengan pendekatan ini, Philips berharap dapat menghadirkan model layanan kesehatan yang lebih personal dan prediktif.
Menurut data Frost & Sullivan, pasar AI di bidang kesehatan di China diperkirakan tumbuh lebih dari 40 persen setiap tahun hingga 2030.
Hal ini menunjukkan bahwa integrasi teknologi AI dalam dunia medis sudah menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari. (aak)
Editor : Richard Lawongan