MANADOPOST.ID – China kembali menunjukkan kemajuan teknologi militernya dengan menggelar uji terbang perdana drone siluman CH-7 yang diklaim memiliki kemampuan tinggi.
Drone CH-7 merupakan pesawat tanpa awak atau unmanned aerial vehicle yang dirancang untuk misi pengintaian dan serangan jarak jauh.
Uji terbang ini menandai langkah penting China dalam mengembangkan teknologi drone generasi terbaru.
CH-7 dikembangkan oleh China Aerospace Science and Technology Corporation sebagai bagian dari program modernisasi pertahanan.
Drone ini memiliki desain sayap terbang yang membuatnya sulit terdeteksi radar musuh.
Teknologi siluman atau stealth adalah kemampuan alat militer untuk menghindari deteksi sistem radar lawan.
Baca Juga: X Corp Gugat Startup yang Ingin Hidupkan Kembali Merek Twitter
Menurut CNN Indonesia, CH-7 dirancang untuk terbang di ketinggian tinggi dengan daya jelajah yang jauh.
Drone ini juga disebut mampu membawa berbagai sensor canggih untuk pengumpulan data intelijen.
Sensor tersebut berfungsi menangkap gambar dan sinyal dari area target secara detail.
Selain pengintaian, CH-7 juga dapat dipersenjatai untuk misi serangan presisi.
Penggunaan drone bersenjata dinilai mampu mengurangi risiko bagi pilot manusia.
Uji terbang perdana ini berlangsung dengan lancar tanpa kendala teknis berarti.
China menyebut keberhasilan ini sebagai bukti kematangan teknologi drone dalam negeri.
Drone CH-7 digadang-gadang setara dengan drone siluman milik negara maju lainnya.
Pengembangan drone ini juga menjadi bagian dari persaingan teknologi global di sektor militer.
Banyak negara kini berlomba mengembangkan pesawat tanpa awak yang lebih pintar dan efisien.
CH-7 diproyeksikan dapat beroperasi dalam berbagai kondisi cuaca.
Kemampuan tersebut membuatnya cocok digunakan dalam misi jangka panjang.
Menurut pengamat, kehadiran CH-7 bisa mengubah strategi operasi udara modern.
China menyatakan akan terus melakukan pengujian sebelum drone ini masuk tahap produksi massal.
Ke depan, CH-7 diperkirakan menjadi salah satu aset penting dalam sistem pertahanan udara China. (aak)
Editor : Richard Lawongan