MANADOPOST.ID - Kampanye kesehatan bertajuk SPARK Campaign 2025 (Support and Preserve Awareness of Resilient Kids with ADHD) sukses digelar sepanjang 2–16 Oktober 2025 di Manado. Kegiatan ini diinisiasi oleh Carryn Migrasia Helena Ticoalu, mahasiswa kedokteran yang menggagas gerakan sosial untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) serta mendorong terciptanya lingkungan yang lebih inklusif bagi anak-anak dengan kondisi tersebut.
Dengan mengusung tema “Uplifting ADHD awareness and building support for #SparkHopeShineBright,” kampanye ini dikemas dalam berbagai kegiatan edukatif, sosial, dan kreatif. Program yang berlangsung selama dua minggu ini melibatkan mahasiswa, tenaga profesional kesehatan, hingga masyarakat umum melalui webinar, aksi sosial, serta kampanye digital.
SPARK dimulai dengan unggahan edukatif di media sosial pada 2 Oktober 2025, disusul kegiatan Roadshow & Open Volunteers Health Campaign sehari setelahnya. Mahasiswa dan relawan turun langsung ke lapangan untuk membagikan informasi mengenai ADHD, sekaligus mengajak masyarakat memahami pentingnya dukungan terhadap anak-anak dengan kebutuhan khusus tersebut.
Diskusi daring bertajuk SPARK on Air: Understanding ADHD juga digelar untuk membahas dasar-dasar ADHD dan dampaknya terhadap keluarga. Tak hanya itu, sesi Stories of SPARK: Parent Talk About ADHD pada 5 Oktober menjadi ruang berbagi pengalaman antarorang tua dalam mendampingi anak dengan ADHD. Keesokan harinya, SPARK Talk menghadirkan narasumber ahli, Prof. Dr. dr. Junita Maja Pertiwi, Sp.N, Subsp. NGD (K), yang memberikan penjelasan komprehensif mengenai gejala, diagnosis, serta strategi pendampingan anak dengan ADHD.
“Melalui SPARK Campaign, kami ingin menumbuhkan kesadaran bahwa anak-anak dengan ADHD bukanlah hambatan, melainkan individu dengan potensi luar biasa yang perlu diberi ruang dan dukungan untuk bersinar,” ujar Carryn Ticoalu, selaku Project Officer SPARK Campaign 2025.
Salah satu kegiatan yang paling menarik perhatian publik adalah SPARK Street Action pada 4 Oktober. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) membagikan pamflet edukatif dan berinteraksi langsung dengan warga melalui permainan ringan. Di saat bersamaan, kampanye digital SPARK Shines juga berlangsung untuk memperluas jangkauan informasi tentang ADHD dan pentingnya peran keluarga.
Selama periode kegiatan, instalasi SPARK Light Wall turut menjadi simbol utama kampanye ini. Dinding cahaya tersebut menampilkan pesan-pesan dukungan dan harapan bagi anak-anak dengan ADHD, hasil partisipasi masyarakat yang mengikuti program ini secara daring maupun langsung.
SPARK juga menghadirkan serial edukasi bertema ADHD setiap hari, seperti ADHD Uncovered, The Psychiatry Lens, SPARK True or False, dan 3 Signs You Should Know. Rangkaian ini bertujuan meluruskan miskonsepsi publik dan memperkuat literasi masyarakat tentang ADHD secara ilmiah.
Keberhasilan SPARK Campaign 2025 turut mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Yayasan Khouw Kalbe (YKK) yang berperan sebagai mitra utama, serta Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sulawesi Utara. Melalui keterlibatan dr. Windy Mariane Virenia Wariki, M.Sc, Ph.D, IDI membantu memastikan informasi medis yang disampaikan tetap akurat dan bermanfaat bagi masyarakat.
Kegiatan edukatif juga menyasar anak-anak melalui Little SPARK’s pada 11 Oktober, yang mengajak peserta belajar mengenal emosi dan empati lewat permainan interaktif. Sementara itu, program SPARK Your Creative Mind pada 12–14 Oktober menjadi wadah ekspresi bagi peserta untuk menyuarakan dukungan terhadap individu dengan ADHD melalui karya seni dan tulisan kreatif.
Sebagai penutup, Celebration Recap pada 15 Oktober menampilkan dokumentasi perjalanan kampanye, testimoni peserta, serta refleksi panitia. Momen ini menjadi bentuk apresiasi sekaligus pengingat bahwa setiap langkah kecil menuju kesadaran memiliki arti besar bagi masa depan anak-anak dengan ADHD.
Dengan semangat kolaboratif antara mahasiswa, tenaga profesional, dan mitra lembaga, SPARK Campaign 2025 menunjukkan bahwa edukasi dan empati dapat berjalan beriringan dalam mewujudkan masyarakat yang lebih sadar dan inklusif. (*)
Editor : Jasinta Bolang