MTPJ 13 - 19 JULI 2025
MAZMUR 33:1-22
Mazmur 33 sering muncul dalam liturgi pagi (Pesukei dezimra) adalah bagian awal dari ibadah pagi Yahudi (Shacharit) yang terdiri dari mazmur dan ayat-ayat Alkitabiah yang difokuskan pada pujian kepada Tuhan. Tujuan utama dari bagian ini adalah menyiapkan hati dan pikiran untuk memasuki bagian utama ibadah, dengan terlebih dahulu mengagungkan Tuhan melalui nyanyian dan pujian. (Aryeh Kaplan, The Koren Siddur: With Translation and Commentary (Jerusalem: Koren Publishers, 2009), 46)
Baca Juga: Materi Khotbah Ulangan 10:12–22, Allah adalah Pokok Pujian
Mazmur 33 sering dihubungkan dengan Sukkot, karena mazmur ini memusatkan pujian pada Tuhan sebagai pencipta alam semesta (ay. 6–9), penopang umat-Nya (ay. 18–19), dan sumber sukacita serta perlindungan umat (ay. 20–22). Semua ini mencerminkan semangat Sukkot, yang merupakan pesta syukur atas panen dan perlindungan Tuhan di padang gurun. (Walter Brueggemann and William H. Bellinger Jr., Psalms (New Cambridge Bible Commentary; Cambridge: Cambridge University Press, 2014), 164.)
Mazmur 33 sering digunakan dalam refleksi pribadi pada Yom Kippur (hari pendamaian) khususnya ayat 13–15, yang menekankan bahwa Tuhan melihat hati setiap manusia, cocok untuk perenungan dosa dan pertobatan. (James L. Mays, Psalms (Interpretation; Louisville: Westminster John Knox, 1994), 132.) tema kesetiaan Tuhan kepada umat-Nya dan kemenangan bukan oleh kekuatan manusia tetapi oleh Tuhan (ay. 16–17), Mazmur 33 juga sering digunakan dalam hari-hari nasional atau syukuran, termasuk dalam konteks Israel modern. (John Goldingay, Psalms: Volume 1 – Psalms 1–41 (Baker Commentary on the Old Testament Wisdom and Psalms; Grand Rapids: Baker Academic, 2006), 490.)
Latar belakang politik :
Brueggemann melihat Mazmur 33 sebagai respons terhadap situasi ancaman kekuatan politik global, terutama dari bangsa-bangsa adidaya seperti Asyur dan Babel.
Mazmur ini menekankan bahwa Tuhan menggagalkan rencana bangsa-bangsa dan kuasa militer (tentara, kuda, pahlawan) tidak dapat menyelamatkan (ay. 10, 16–17). Ini cocok sebagai respons iman ketika Israel menghadapi ancaman kekuatan bangsa lain.
“Mazmur 33 dapat dibaca sebagai liturgi iman pada masa-masa krisis seperti ancaman dari Asyur, di mana kekuatan militer dunia tampak menakutkan.”
Mazmur ini adalah liturgi yang menentang ideologi kekuasaan militer dan politik manusia. Dalam dunia politik yang penuh dengan rencana strategis bangsa-bangsa, pemazmur menyatakan bahwa hanya rencana Tuhan yang bertahan.”
Marie Claire Barth menyatakan:
“Mazmur ini bisa saja lahir dari konteks pasca-pembuangan, sebagai bentuk refleksi liturgis bahwa bangsa-bangsa besar hanya alat Tuhan, dan kasih setia-Nya tetap menyertai umat-Nya.”
???? Ayat 1
ANALISIS GRAMATIKAL KATA KUNCI
רַנְּנוּ (rannĕnū)
Arti dasar: bersorak-sorai, bernyanyi dengan sorak
Makna kontekstual: Seruan ibadah kolektif yang penuh kegembiraan. Kata ini sering muncul dalam konteks sukacita rohani atau kemenangan ilahi (bdk. Mzm 5:11; 32:11).
צַדִּיקִים (tsaddîqîm)
Arti dasar: orang-orang benar, adil
Makna teologis: Orang yang hidup sesuai dengan hukum dan kehendak Allah, seringkali bukan karena kesempurnaan moral, tapi karena hubungan perjanjian yang benar dengan Allah
לַיְשָׁרִים (layeshārîm)
Arti: kepada orang jujur, tulus hati
Makna: menunjuk pada orang yang hatinya lurus di hadapan Allah (bdk. Ams. 3:32; Mzm 37:37)
Dalam tradisi Ibrani, keindahan pujian (na’avah tehillah) bukan soal seni musik yang megah, tapi keindahan hidup yang tulus dan benar. Ini menggarisbawahi bahwa Allah melihat hati, bukan hanya bentuk luar ibadah.
“Bersorak-sorailah bagi TUHAN, hai orang-orang benar! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur.”
Seruan ini bersifat liturgis dan etis; hanya orang benar yang secara sah dapat memuji TUHAN. Pujian adalah tindakan moral, bukan sekadar ekspresi estetis.
"Orang benar" dan "jujur" (צַדִּיקִים, יְשָׁרִים) merujuk pada komunitas yang hidup dalam perjanjian. Pujian bukanlah tugas sembarangan, tetapi hak istimewa umat perjanjian.
Pujian yang sejati berasal dari kehidupan yang benar—bukan musik indah yang utama, melainkan moralitas penyembah
Pembukaan ini menetapkan siapa audiensnya: komunitas yang setia. Mazmur ini adalah liturgi kolektif, bukan ekspresi pribadi.
Pujian selalu dialamatkan kepada umat; ini bukan respons individu spontan, tapi tindakan ibadah bersama.
Mazmur ini dimulai dengan seruan pujian yang ditujukan kepada orang benar (tsaddiqim) dan jujur (yesharim)—dua kategori moral dalam teologi Perjanjian Lama yang sering merujuk pada umat pilihan yang hidup benar di hadapan Allah. Dalam teologi Reformed, ini sejajar dengan doktrin justification by faith (pembenaran oleh iman) — bahwa mereka yang dibenarkan oleh Allah dipanggil untuk merespons dengan pujian yang tulus.
John Calvin menyatakan bahwa "Allah tidak dapat dipuji secara benar kecuali oleh mereka yang telah diperbarui oleh Roh-Nya.
Maria Claire Barth memulai tafsirannya dengan menekankan bahwa pujian tidak netral secara moral. Ia bukan semata-mata kegiatan keagamaan yang bersifat artistik, melainkan merupakan tindakan iman dari mereka yang hidup benar di hadapan Allah. Istilah “orang benar” (tsaddiqim) dan “orang jujur” (yesharim) adalah istilah etis, menunjuk pada umat yang hidup selaras dengan kehendak Allah.
“Pujian bukanlah hak semua orang secara sembarangan, melainkan wujud syukur dan hidup benar di hadapan Allah. Hanya umat yang berjuang hidup dalam kebenaran yang pujiannya berkenan di hadapan Tuhan.”
Calvin:
Calvin menegaskan bahwa pujian kepada Allah adalah tindakan alami dan wajar bagi orang benar. Pujian sejati hanya mungkin keluar dari hati yang telah dipulihkan oleh anugerah. Ia menulis: *"Pujian kepada Allah tidak akan menyenangkan jika tidak berasal dari hati yang suci; oleh karena itu, Mazmur ini memanggil orang benar dan jujur, karena hanya mereka yang memiliki dorongan rohani untuk memuliakan Tuhan."
Bavinck:
Bavinck melihat pujian ini sebagai respons perjanjian dari umat pilihan terhadap keindahan Allah. Dalam Reformed Dogmatics, ia menyebut bahwa kebenaran, kejujuran, dan keindahan saling berkaitan dalam hidup umat perjanjian yang merespons wahyu Allah dalam ibadah.
Luther:
Luther menekankan bahwa kebenaran dan kejujuran di sini bukan hasil usaha moral manusia, tetapi kebenaran yang diberikan oleh iman. Pujian adalah hasil dari hati yang telah dibenarkan. Ia berkata, *"Hanya orang yang mengenal anugerah dapat menyanyi dengan hati yang benar."
Ayat 2–3
Kata bersyukurlah (Ibrani: Howdu)
Arti : bersyukur, memuji, mengaku
Makna teologis: lebih dari sekedar berterima kasih, bahkan menyiratkan pengakuan atas kebaikan dan kedaulatan Allah.
Kata bermazmurlah (Ibrani : zammeru)
Arti : menyanyi, memainkan alat musik
Makna teologis : menekankan suatu nyanyian yang disertai alat musik sebagai bentuk ibadah mengagungkan Allah.. Berbeda dengan kata sihir yang hanya menyanyi
“Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi... nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru…
Alat musik menunjukkan kesungguhan dan kesempurnaan ibadah. "Nyanyian baru" adalah respons terhadap pengalaman keselamatan baru.
Musik bukan hiasan, tetapi sarana liturgis yang sah. “Nyanyian baru” menyiratkan kesadaran umat akan karya Allah yang segar.
Nyanyian baru melambangkan pembaruan iman. Pujian harus sesuai dengan pembaruan kasih setia Allah yang terus-menerus.
Ayat ini mencerminkan penggunaan mazmur dalam konteks kultus resmi Israel.
Kata "nyanyian baru" muncul dalam mazmur yang mengandung pengalaman kemenangan atau pembebasan baru dari Allah.
Calvin:
Pentingnya pujian yang disertai dengan instrumen musik ditanggapi Calvin dengan berhati-hati. Ia mengakui peran simbolik alat musik dalam PL tetapi dalam gereja Perjanjian Baru, ia lebih mengedepankan pujian rohani. Ia menafsirkan nyanyian baru sebagai ekspresi pengalaman akan karya kasih karunia Allah yang baru.
Bavinck:
Bavinck menekankan prinsip harmoni ciptaan dalam ibadah. Musik dalam ibadah bukan sekadar seni, tapi ekspresi kosmik dari keteraturan ilahi. Ia menulis: *"Ketika manusia memuji dengan musik yang benar, ia berpartisipasi dalam simfoni ciptaan."
Luther:
Sebagai seorang musisi dan penyusun lagu rohani, Luther sangat menjunjung tinggi peran musik. Ia menyebut musik sebagai "an excellent gift of God" dan bahwa lagu rohani dapat “mengusir setan dan membawa sukacita pada jiwa yang menderita.
Ayat 4–5
“Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan...”
Mays: Ayat ini adalah dasar pujian: karakter Allah. “Firman” dan “kesetiaan” adalah dasar relasi Allah dengan umat
Goldingay: Allah tidak bertindak sembarangan; karya-Nya mencerminkan kebenaran dan ’emet (kesetiaan).
Waltke: Keandalan firman Allah dalam penciptaan menjadi dasar bagi kepercayaan umat kepada-Nya.
Craigie: Kesetiaan dan kebenaran adalah nilai perjanjian, dan ini menyeluruh—meliputi bumi
Westermann: Pemazmur menegaskan relasi etis antara Allah dan dunia ciptaan melalui istilah yuridis (keadilan, hukum, kasih setia).
Dalam ayat ini pujian umat didasarkan bukan pada emosi atau tradisi, tetapi pada karakter dan tindakan Allah. Firman Tuhan disebut “benar”, dan pekerjaan-Nya penuh kesetiaan dan keadilan. Hal ini menjadi kontras yang tajam dengan dunia yang dipenuhi ketidakbenaran, ketidakadilan, dan penyalahgunaan kekuasaan.
“Di tengah masyarakat yang meragukan kebenaran dan penuh korupsi, umat dipanggil untuk percaya bahwa firman Tuhan adalah satu-satunya yang layak diandalkan.
Ia mengaitkan ayat ini dengan panggilan gereja untuk menjadi saksi keadilan di tengah sistem yang rusak, dengan meneladani karakter Allah: setia, benar, dan adil.
Calvin:
Di sini Calvin menggarisbawahi bahwa alasan utama memuji Allah adalah karena sifat dan tindakan-Nya. Firman-Nya adalah benar (ʾemet) dan penuh kesetiaan. Calvin menekankan kesatuan antara perkataan dan perbuatan Allah. Allah layak dipuji bukan karena berkat sementara, tapi karena karakter-Nya yang tidak berubah.
Bavinck:
Bavinck menempatkan kasih setia (ḥesed) sebagai pusat dari seluruh relasi perjanjian antara Allah dan umat-Nya. Ia menulis: *"Kasih setia Allah adalah dasar dari hukum moral, dari penciptaan, dan dari pemeliharaan, dan puncaknya dalam penebusan."
Luther:
Luther melihat kasih setia Allah sebagai wujud dari Injil yang menyelamatkan. Ia menekankan bahwa walaupun dunia penuh dengan ketidakadilan, kasih setia Tuhan mengalir ke seluruh bumi bagi orang percaya. *"Di tengah dunia yang bengkok, kebenaran Allah adalah tempat perlindungan."
Ayat 6–9
Kata Bidbar בִּדְבַר akar kata dabar
Arti : dengan firman / melalui perkataan
Makna : tidak hanya berarti kata secara pasif tetapi juga mengandung gagasan tentang kuasa yang mencipta. Dalam PL, firman Allah mencerminkan kuasa dan kehendak aktif Allah. Allah menciptakan bukan dengan alat atau bantuan, tetapi cukup dengan firman-Nya dan nafas mulut-Nya.
“Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan...”
Ini bagian dari tradisi praise for creation dalam mazmur (bdk. Mzm 104). Firman Allah adalah sumber eksistensi.
Menekankan performatifitas firman Allah: Ia berkata dan semuanya ada. Ciptaan bukan hasil kekacauan, tapi kehendak ilahi.
Berbeda dengan mitologi kuno, penciptaan dalam Alkitab dilakukan lewat kata, bukan konflik kosmis. Ini menunjukkan otoritas mutlak Allah.
Bahasa penciptaan ini sangat puitis dan menggemakan Kejadian 1. Pemazmur memakai teologi penciptaan untuk meneguhkan iman.
Puji-pujian atas penciptaan menjadi alasan eksistensial untuk percaya dan menyembah Allah.
Barth menekankan bahwa ciptaan bukan hasil kekacauan atau konflik antara dewa-dewa, seperti dalam mitos bangsa lain, melainkan hasil sabda ilahi yang tertib dan penuh kasih. Ini menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan atas alam semesta, bukan hanya Tuhan etnis Israel. Ciptaan adalah hasil firman kasih dan keteraturan. Maka manusia tidak boleh merusak atau mengeksploitasi alam, tetapi menghormati dan merawatnya sebagai karya Tuhan.” Di sini Barth mengangkat relevansi ekoteologis dari Mazmur 33—sebuah panggilan untuk menghormati dan menjaga bumi sebagai respons pujian kepada Sang Pencipta.
Calvin:
Ini adalah bukti kekuasaan absolut Allah melalui firman. Calvin melihat bahwa kekuatan Allah dalam mencipta lewat firman-Nya juga berlaku dalam karya penyelamatan. Sama seperti langit dijadikan oleh firman-Nya, demikian juga manusia dijadikan baru oleh Injil.
Bavinck:
Dalam Reformed Dogmatics, Bavinck menegaskan doktrin creatio ex nihilo – bahwa Allah menciptakan dari yang tidak ada. Firman-Nya bukan hanya informatif, tetapi performatif — membawa realitas ke dalam keberadaan.
Luther:
Luther mengaitkan penciptaan oleh firman dengan kuasa Sabda Allah dalam Injil. Seperti Allah mencipta dunia dengan firman-Nya, demikian pula manusia lahir baru oleh Sabda. Ia menulis: *"Kekuatan Injil adalah kekuatan penciptaan ulang."
Ayat 10–12
“TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa... Berbahagialah bangsa yang Allahnya ialah TUHAN...”
Ini adalah afirmasi teologi perjanjian. Allah Israel adalah penguasa global yang menegakkan rencana-Nya sendiri.
Ayat ini menyoroti keunikan Israel: bukan karena kekuatan politik, melainkan karena Allah yang memilih mereka.
Bangsa-bangsa berencana, tapi Allah-lah yang menentukan sejarah. Israel bahagia karena mereka hidup di bawah rencana Allah, bukan politik dunia.
Istilah “berbahagialah” (אַשְׁרֵי) sering dipakai untuk menyatakan status berkat umat yang hidup dalam tatanan ilahi.
Ini bagian dari motif pujian nasional—Israel bersyukur karena hidup dalam proteksi ilahi yang nyata.
Barth menyatakan bahwa ayat ini adalah koreksi terhadap ilusi kekuasaan politik dan nasionalisme buta. Ia menolak pandangan bahwa kekuatan militer atau strategi manusia bisa menjamin keberhasilan, karena hanya rencana Tuhan yang bertahan. “Di tengah politik dunia yang kacau dan sistem yang tidak adil, Allah tetap bekerja menggagalkan rencana yang jahat dan membela yang lemah. “Berbahagialah bangsa yang Allahnya ialah TUHAN” bukanlah seruan untuk supremasi satu bangsa, tetapi panggilan agar bangsa manapun yang mau tunduk pada Tuhan akan mengalami berkat.
Calvin:
Rencana manusia bisa hebat, tapi tetap di bawah kuasa Allah. Calvin menegaskan kedaulatan Allah dalam sejarah bangsa-bangsa sebagai jaminan bahwa gereja tidak akan ditinggalkan.
Ayat 12 Ini berkaitan erat dengan doktrin pemilihan. Calvin menyatakan bahwa bangsa yang diberkati adalah mereka yang dipilih Allah, bukan karena kelebihan mereka, melainkan karena belas kasihan.
Bavinck:
Menurut Bavinck, ayat ini menunjukkan providensia Allah atas sejarah. Ia menolak deisme dan menegaskan bahwa Allah secara aktif menggagalkan atau membentuk sejarah sesuai kehendak-Nya yang kekal.
Luther:
Luther sangat menekankan tema ini selama Reformasi. Ia melihat kebangkitan Injil meskipun ditentang kekuasaan dunia sebagai bukti ayat ini. *"Allah mengolok-olok kebijaksanaan para pangeran dunia ini."*¹⁵
Ayat 13–15
“TUHAN memandang dari sorga... Ia yang membentuk hati mereka semua...”
Omniscience (kemahatahuan) Allah: Allah tidak pasif atau jauh, melainkan melihat dan mengenal hati manusia karena Dia mahatahu.
Allah yang transenden tetap memperhatikan ciptaan. Ayat ini meneguhkan providensia ilahi.
Allah bukan hanya pencipta fisik, tapi juga pemilik dan pembentuk batin manusia.
Pemeliharaan Allah aktif; Ia melihat dan menilai dengan keadilan. “Membentuk hati” adalah bahasa perjanjian.
Tidak ada yang tersembunyi dari pandangan Allah. Ini dasar iman Israel dalam menghadapi musuh.
Allah tidak jauh—Ia melihat dan menilai manusia. Ini koreksi terhadap deisme atau konsep Allah yang pasif.
Barth melihat ayat ini sebagai penegasan iman bahwa Allah tidak jauh dan asing, melainkan mengenal hati manusia satu per satu. Ungkapan “membentuk hati” menyatakan kepedulian dan pemahaman Allah yang intim terhadap ciptaan-Nya.“Ini memberikan penghiburan dalam penderitaan. Allah melihat. Ia tahu isi hati, bukan hanya tindakan luar. Ia peduli pada manusia dalam totalitas keberadaannya.”
Calvin:
Allah melihat dan memperhatikan semua ciptaan, bukan dari kejauhan, tetapi dengan pengetahuan aktif dan kasih sayang. Calvin menolak pandangan Allah sebagai pengamat pasif.
Bavinck:
Ini adalah bentuk providentia specialis — bahwa Allah tidak hanya memelihara secara umum, tetapi secara pribadi memperhatikan umat-Nya.
Luther:
Luther menekankan bahwa Allah melihat hati, bukan hanya perbuatan luar. Karena itu kita hidup di hadapan Allah (coram Deo).
Ayat 16–17
“Seorang raja tidak akan selamat oleh besarnya tentara...”
Kritik terhadap kepercayaan pada kekuatan militer. Penyelamatan berasal dari TUHAN, bukan strategi politik.
Ini sangat kontras dengan ideologi kerajaan kuno. Mazmur ini memproklamasikan iman yang membebaskan dari ilusi kekuasaan.
Bagian ini sangat profetik; menunjuk pada tema salvation by trust, not strength.
Penekanan bahwa keselamatan sejati adalah tindakan ilahi, bukan hasil manusiawi.
Westermann: Menggugat pandangan dunia kuno bahwa dewa-dewa menyertai bangsa kuat. Allah TUHAN menyertai mereka yang takut akan Dia.
Barth dengan tajam mengangkat dimensi profetik dari ayat ini. Dalam masyarakat yang cenderung bergantung pada kekuatan ekonomi, militer, atau teknologi, Mazmur ini menyatakan bahwa semua itu sia-sia tanpa penyertaan Tuhan. “Pesan ini sangat relevan di zaman ini: keselamatan bukan berasal dari teknologi, militer, atau kekuatan uang, tetapi dari Allah yang melihat dan melindungi umat-Nya.”
Calvin:
Segala bentuk kepercayaan pada kekuatan manusia adalah sia-sia. Calvin menegaskan bahwa kemenangan dan penyelamatan hanya berasal dari Allah.
Bavinck:
Menolak naturalisme dan humanisme modern yang mengandalkan kekuatan sendiri. Hanya providensia ilahi yang menopang dunia.
Luther:
Luther mengaitkannya dengan keselamatan: “Jika kamu berharap kepada hukum, kekuatan, atau pekerjaanmu, maka kamu sedang mengandalkan ‘kuda dan tentara’, bukan Kristus.
Ayat 18–19
“Sesungguhnya mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia...”
“Takut akan TUHAN” adalah pusat etika Israel. Janji perlindungan diberikan kepada mereka yang hidup takut dan berharap.
"Mata TUHAN" bukan sekadar pengawasan, tetapi ekspresi perhatian dan perlindungan.
Pengharapan tidak didasarkan pada situasi, tetapi pada ḥesed Allah yang kekal.
Kontras antara manusia yang berharap pada kuda vs umat yang berharap pada kasih setia Allah.
Ini bukan teologi umum, tetapi deklarasi iman komunitas perjanjian.
Barth menafsirkan “takut akan Tuhan” sebagai keintiman dan hormat suci, bukan rasa takut yang mengintimidasi. Mereka yang berharap kepada kasih setia Tuhan akan diselamatkan dari maut dan kelaparan—dua simbol ancaman eksistensial.
“Mazmur ini tidak hanya berbicara tentang keselamatan rohani, tapi juga pemeliharaan konkret di tengah kesulitan hidup, termasuk bencana, krisis ekonomi, dan penindasan.
Calvin:
Takut akan Tuhan adalah ekspresi iman yang sejati. Allah memperhatikan mereka yang berharap kepada kasih setia-Nya.
Bavinck:
Bavinck melihat ini sebagai interaksi antara iman, takut akan Tuhan, dan kasih karunia pemeliharaan.
Luther:
Takut akan Tuhan bukan rasa takut servile (seperti budak), tetapi takut relasional – rasa hormat dan cinta karena kasih.
Ayat 20–22
“Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN... Kasih setia-Mu, ya TUHAN, kiranya menyertai kami...”
Penutup ini adalah bentuk pengakuan dan permohonan. Kata “kasih setia” adalah pusat iman Israel.
Kavah (menanti) menyiratkan harapan yang aktif, bukan pasif. Pengharapan adalah bentuk penyembahan.
Akhir mazmur ini menjadi model bagi iman Kristen: hidup dalam penantian akan anugerah yang terus diperbarui.
Ini mencerminkan liturgi penutup—ungkapan kolektif iman dan permohonan umat.
Doa dan pujian tidak terpisah; mazmur menutup dengan pengharapan pada tindakan Allah yang akan datang.
Bagian penutup ini adalah ungkapan pengharapan kolektif. Barth menegaskan bahwa pengharapan bukan pelarian pasif, tetapi tindakan iman aktif, penuh penantian dan kepercayaan. Ini adalah bentuk pengakuan iman yang dewasa dan matang.
“Kita menanti karena kita percaya. Kita tidak lari dari kenyataan, tapi berdiri di tengahnya dengan iman bahwa kasih setia Tuhan tetap menyertai kita.” Mazmur ini menurut Barth mengajarkan umat untuk hidup dalam ketegangan antara realitas dan pengharapan, dengan tetap bersandar pada kasih setia Allah yang kekal.
Calvin:
Penutup ini mengajarkan iman yang sabar. Menanti Tuhan adalah bukti kepercayaan yang teguh dalam providensia dan janji-Nya.
Bavinck:
Menanti dalam konteks perjanjian: umat Allah menantikan penggenapan janji-Nya secara aktif – penuh iman dan pengharapan.
Luther:
Pengharapan kepada Tuhan adalah intisari hidup orang percaya. Ia berkata, *"Hati yang berharap adalah hati yang penuh lagu pujian, walau mulutnya diam."
REFERENSI BUKU YANG DIGUNAKAN :
Bruce K. Waltke & James M. Houston, The Psalms as Christian Worship (Grand Rapids: Eerdmans, 2010)
Claus Westermann, Praise and Lament in the Psalms (Philadelphia: Westminster Press, 1981).
Herman Bavinck, Reformed Dogmatics: God and Creation, vol. 2, ed. John Bolt, trans. John Vriend (Grand Rapids: Baker Academic, 2004)
Herman Bavinck, Reformed Dogmatics, vol. 3: Sin and Salvation in Christ, ed. John Bolt, trans. John Vriend (Grand Rapids: Baker Academic, 2006)
Herman Bavinck, Reformed Dogmatics, vol. 4: Holy Spirit, Church, and New Creation, ed. John Bolt, trans. John Vriend (Grand Rapids: Baker Academic, 2008)
John Calvin, Commentary on the Book of Psalms, vol. 1, trans. James Anderson (Grand Rapids: Baker Books, 1996)
John Calvin, Institutes of the Christian Religion, ed. John T. McNeill, trans. Ford Lewis Battles (Louisville: Westminster John Knox Press, 2006)
James Luther Mays, Psalms, Interpretation (Louisville: Westminster John Knox, 1994)
John Goldingay, Psalms Vol. 1: Psalms 1–41 (Grand Rapids: Baker Academic, 2006).
Marie Claire Barth. Mazmur. Nyanyian harapan. (Jakarta: YKBK, 1996)
Martin Luther, Luther’s Works, vol. 14: Selected Psalms I, ed. Jaroslav Pelikan (St. Louis: Concordia Publishing House, 1958)
Martin Luther, Table Talk, ed. Theodore G. Tappert (Philadelphia: Fortress Press, 1967)
Martin Luther, Luther’s Works, vol. 1: Lectures on Genesis, ed. Jaroslav Pelikan (St. Louis: Concordia, 1958)
Martin Luther, Luther’s Works, vol. 39: Church and Ministry II, ed. Eric W. Gritsch (Philadelphia: Fortress Press, 1970)
Martin Luther, Commentary on the Psalms, trans. Henry Cole (London: William Tegg and Co., 1843)
Martin Luther, Luther’s Works, vol. 25: Lectures on Romans, ed. Hilton C. Oswald (St. Louis: Concordia, 1972)
Martin Luther, Luther’s Works, vol. 26: Lectures on Galatians 1535, Chapters 1–4, ed. Jaroslav Pelikan (St. Louis: Concordia, 1963)
Martin Luther, The Small and Large Catechisms, in The Book of Concord, ed. Robert Kolb and Timothy Wengert (Minneapolis: Fortress Press, 2000)
Martin Luther, Weimarer Ausgabe (WA), vol. 5 (Weimar: Hermann Böhlau, 1883)
Peter C. Craigie, Psalms 1–50, Word Biblical Commentary Vol. 19 (Dallas: Word Books, 1983).