Pembacaan Alkitab: Markus 11:23–26
Tema: “BELAJAR PERCAYA, BUKAN MENGATUR TUHAN”
“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa pun yang berkata kepada gunung ini: Terangkat dan terbuanglah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya tetapi percaya bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.” (ayat 23)
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Setiap orang percaya tentu pernah berdoa. Kita berdoa ketika senang, kita berdoa ketika susah, kita berdoa ketika bingung, bahkan kita berdoa ketika tidak tahu harus berbuat apa.
Namun pertanyaannya: bagaimana kita berdoa? Apakah doa kita sungguh-sungguh lahir dari iman yang berserah, atau justru dari keinginan untuk mengatur Tuhan?
Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk belajar percaya, bukan mengatur Tuhan.
Ilustrasi Seorang Ibu yang Percaya
Dikisahkan tentang seorang ibu Kristen yang tinggal di daerah terpencil. Ia memiliki seorang anak yang ingin kuliah, tetapi keadaan ekonomi mereka sangat terbatas. Tidak ada tabungan besar, tidak ada kenalan orang penting, tidak ada jaminan apa pun.
Namun setiap hari ibu itu:
– menabung sedikit demi sedikit
– mendorong anaknya untuk belajar
– berdoa bersama anaknya setiap malam
Lima tahun kemudian, anak itu lulus dengan beasiswa penuh.
Ketika orang bertanya, “Bagaimana ibu bisa yakin?” Ia menjawab sederhana: “Saya tidak tahu caranya, tetapi saya tahu Tuhan tidak pernah gagal.”
Ibu ini tidak tahu bagaimana Tuhan akan bekerja. Ia tidak mengatur Tuhan harus lewat jalan apa. Ia hanya percaya bahwa Tuhan sanggup bekerja dengan cara-Nya sendiri.
Inilah iman yang diajarkan Yesus dalam firman hari ini.
Latar Belakang Perkataan Yesus
Yesus mengucapkan perkataan ini setelah Ia mengutuk pohon ara yang tidak berbuah. Pohon itu tampak hidup dari luar, tetapi tidak menghasilkan buah. Keesokan harinya, murid-murid melihat pohon itu sudah kering sampai ke akar-akarnya.
Mereka heran. Lalu Yesus mengajar mereka tentang iman: “Jika kamu percaya dan tidak bimbang hatimu, kamu bisa berkata kepada gunung ini: terangkat dan terbuanglah ke dalam laut.”
Yesus tidak sedang mengajar murid-murid untuk bermain kuasa. Ia tidak sedang berkata bahwa kita bisa memerintah alam semaunya. Yang Yesus tekankan adalah iman yang teguh, iman yang tidak bimbang, iman yang sungguh mengandalkan Allah.
“Tidak Bimbang Hatinya”
Frasa “tidak bimbang hatinya” sangat penting. Bimbang artinya:
– ragu
– terpecah
– tidak sungguh percaya
– maju satu langkah, mundur dua langkah
Sering kali kita berdoa seperti ini:
“Tuhan, aku percaya Engkau bisa menolong… tapi sepertinya mustahil.”
“Tuhan, aku percaya Engkau berkuasa… tapi masalahku terlalu besar.”
“Tuhan, aku minta ini… tapi mungkin Engkau tidak mau.”
Iman yang bimbang membuat kita:
– sulit berserah
– sulit tenang
– sulit percaya penuh
Yesus mengundang kita kepada iman yang bulat: bukan karena kita mengerti segalanya, tetapi karena kita percaya kepada Pribadi yang memegang segalanya.
Ibu dalam ilustrasi tadi tidak tahu caranya. Tetapi ia tahu siapa yang ia percaya.
Percaya Bukan Sekadar Optimisme
Yesus tidak berkata, “Asal kamu berpikir positif, maka semuanya akan terjadi.”
Yesus berkata, “Percayalah.”
Percaya di sini bukan sekadar optimisme.
Percaya di sini adalah iman aktif yang bersandar pada kuasa Allah, bukan pada kekuatan manusia.
Optimisme berkata:
“Aku bisa karena aku kuat.”
Iman berkata:
“Aku bisa karena Tuhan sanggup.”
Optimisme bersandar pada logika dan kemampuan.
Iman bersandar pada Tuhan yang hidup.
Itulah sebabnya iman Kristen bukan menolak akal sehat, tetapi melampaui akal sehat.
Kita tetap bekerja.
Kita tetap belajar.
Kita tetap berusaha.
Tetapi kita tahu: hasil akhirnya ada di tangan Tuhan.
Allah Bukan Mesin Jawaban Doa
Dalam kehidupan nyata, sering kali doa kita:
– belum dijawab
– dijawab dengan cara berbeda
– atau bahkan tidak sesuai dengan permintaan kita
Di sinilah iman diuji.
Jika doa belum terjadi, kita mudah berkata:
“Tuhan tidak mendengar.”
“Tuhan tidak peduli.”
“Tuhan tidak setia.”
Padahal iman mengajar kita:
jawaban Tuhan tidak selalu sama dengan permintaan kita.
Kadang Tuhan berkata: “Ya.”
Kadang Tuhan berkata: “Tunggu.”
Kadang Tuhan berkata: “Tidak, karena ada yang lebih baik.”
Iman membuat kita semakin mengenal Tuhan, bukan hanya mengejar hasil.
Allah bukan mesin ATM doa.
Allah bukan alat pemenuh keinginan.
Allah adalah Pribadi yang bertindak dengan kasih dan hikmat.
Karena itu, iman sejati bukan mengatur Tuhan, tetapi membuka diri pada kehendak Tuhan.
Belajar Bertemu Pribadi Yesus
Yesus mengajar murid-murid-Nya supaya iman mereka tidak berhenti pada hasil, tetapi pada relasi.
Ketika kita berdoa: kita bukan sekadar berbicara kepada kekuatan tak terlihat,
tetapi kepada Pribadi yang mengasihi kita.
Dengan iman:
– kita belajar mengenal kehendak-Nya
– kita belajar mengerti waktu-Nya
– kita belajar menerima cara-Nya
Doa bukan hanya sarana meminta. Doa adalah perjumpaan dengan Tuhan.
Dalam doa, iman kita dibentuk.
Dalam doa, kehendak kita diselaraskan.
Dalam doa, kita belajar berkata:
“Tuhan, bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mu yang jadi.”
Iman di Tengah Dunia yang Mengandalkan Logika
Kita hidup di dunia yang sangat mengandalkan:
– teknologi
– data
– perhitungan
– kemampuan manusia
Segala sesuatu harus masuk akal. Segala sesuatu harus bisa dibuktikan.
Firman Tuhan hari ini tidak mengajak kita menolak logika. Firman Tuhan mengajak kita tidak mengurung Tuhan dalam logika kita.
Karena:
– tidak semua yang benar itu masuk akal
– tidak semua yang mungkin itu terlihat
– tidak semua yang besar itu dimulai dengan besar
Iman radikal bukan iman yang nekat, tetapi iman yang berani mengandalkan Tuhan meski realitas berkata sebaliknya.
Seperti ibu tadi:
Secara logika, anaknya tidak mungkin kuliah.
Secara iman, Tuhan sanggup membuka jalan.
Gunung dalam Hidup Kita
Yesus berbicara tentang gunung.
Gunung bisa kita pahami sebagai:
– masalah besar
– ketakutan
– beban hidup
– pergumulan panjang
– luka batin
– konflik keluarga
– kesulitan ekonomi
Gunung itu terasa:
– tinggi
– berat
– menghalangi jalan
Yesus berkata:
Dengan iman, gunung bisa dipindahkan.
Artinya:
Masalah tidak selalu langsung hilang.
Tetapi iman mengubah cara kita menghadapi masalah.
Iman membuat:
– kita tidak menyerah
– kita tidak putus asa
– kita tidak mengatur Tuhan
– kita tetap berharap
“Belajar Percaya, Bukan Mengatur Tuhan”
Tema kita hari ini mengandung teguran yang lembut:
Sering kali kita berkata:
“Tuhan, lakukan ini.”
“Tuhan, harus begini.”
“Tuhan, seharusnya sekarang.”
Padahal iman mengajak kita berkata:
“Tuhan, aku percaya pada cara-Mu.”
“Tuhan, aku percaya pada waktu-Mu.”
“Tuhan, aku percaya pada hikmat-Mu.”
Mengatur Tuhan berarti:
– memaksakan kehendak
– mengukur Tuhan dengan logika kita
– menentukan bagaimana Tuhan harus bekerja
Belajar percaya berarti:
– menyerahkan kendali
– membuka hati
– berjalan bersama Tuhan
– menerima kehendak-Nya
Aplikasi bagi Hidup Kita
Firman hari ini mengajak kita bertanya:
Apakah doa-doa kita lahir dari iman atau dari keinginan mengatur Tuhan?
Apakah kita siap menerima jawaban Tuhan, meski berbeda dari keinginan kita?
Apakah kita berani percaya meski belum melihat hasilnya?
Mari kita belajar seperti ibu dalam ilustrasi:
– bekerja dengan setia
– berdoa dengan tekun
– percaya tanpa tahu caranya
– berserah pada Tuhan
Saudara-saudari terkasih, Yesus tidak memanggil kita menjadi orang yang pandai mengatur Tuhan. Yesus memanggil kita menjadi orang yang percaya kepada Tuhan.
Percaya bukan berarti semua mudah.
Percaya bukan berarti tidak ada air mata.
Percaya berarti berjalan bersama Tuhan di tengah ketidakpastian.
Mari kita belajar berkata:
“Tuhan, aku tidak tahu caranya.”
“Tuhan, aku tidak mengerti rencana-Mu sepenuhnya.”
“Tuhan, tetapi aku percaya kepada-Mu.”
Itulah iman yang sejati.
Itulah iman yang memindahkan gunung.
Itulah iman yang memuliakan Tuhan.
Belajar percaya, bukan mengatur Tuhan. Amin.
Doa : Tuhan yang penuh kasih, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Ajari kami percaya kepada-Mu dengan sungguh dan tidak mengatur kehendak-Mu. Kuatkan iman kami saat jawaban doa belum kami lihat. Tolong kami berserah pada hikmat dan waktu-Mu, serta berjalan setia dalam pengharapan bersama-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Clavel Lukas