Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Rabu 10 Juni 2026, Bacaan I 1 Raja-Raja 18:20-39, Bacaan Injil Matius 5:17-19

Fandy Gerungan • Senin, 8 Juni 2026 | 15:14 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir
Pekan Biasa (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Kisah Para Rasul 11:21b-26;13:1-3

Ahab mengirim orang ke seluruh Israel dan mengumpulkan nabi-nabi itu ke gunung Karmel.

Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata: "Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia." Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah katapun.

Lalu Elia berkata kepada rakyat itu: "Hanya aku seorang diri yang tinggal sebagai nabi TUHAN, padahal nabi-nabi Baal itu ada empat ratus lima puluh orang banyaknya.

Namun, baiklah diberikan kepada kami dua ekor lembu jantan; biarlah mereka memilih seekor lembu, memotong-motongnya, menaruhnya ke atas kayu api, tetapi mereka tidak boleh menaruh api. Akupun akan mengolah lembu yang seekor lagi, meletakkannya ke atas kayu api dan juga tidak akan menaruh api.

Kemudian biarlah kamu memanggil nama allahmu dan akupun akan memanggil nama TUHAN. Maka allah yang menjawab dengan api, dialah Allah!" Seluruh rakyat menyahut, katanya: "Baiklah demikian!"

Kemudian Elia berkata kepada nabi-nabi Baal itu: "Pilihlah seekor lembu dan olahlah itu dahulu, karena kamu ini banyak. Sesudah itu panggillah nama allahmu, tetapi kamu tidak boleh menaruh api."

Mereka mengambil lembu yang diberikan kepada mereka, mengolahnya dan memanggil nama Baal dari pagi sampai tengah hari, katanya: "Ya Baal, jawablah kami!" Tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab. Sementara itu mereka berjingkat-jingkat di sekeliling mezbah yang dibuat mereka itu.

Pada waktu tengah hari Elia mulai mengejek mereka, katanya: "Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga."

Maka mereka memanggil lebih keras serta menoreh-noreh dirinya dengan pedang dan tombak, seperti kebiasaan mereka, sehingga darah bercucuran dari tubuh mereka.

Sesudah lewat tengah hari, mereka kerasukan sampai waktu mempersembahkan korban petang, tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab, tidak ada tanda perhatian.

Kata Elia kepada seluruh rakyat itu: "Datanglah dekat kepadaku!" Maka mendekatlah seluruh rakyat itu kepadanya. Lalu ia memperbaiki mezbah TUHAN yang telah diruntuhkan itu.

Kemudian Elia mengambil dua belas batu, menurut jumlah suku keturunan Yakub?. Kepada Yakub ini telah datang firman TUHAN: "Engkau akan bernama Israel." ?

Ia mendirikan batu-batu itu menjadi mezbah demi nama TUHAN dan membuat suatu parit sekeliling mezbah itu yang dapat memuat dua sukat benih.

Ia menyusun kayu api, memotong lembu itu dan menaruh potongan-potongannya di atas kayu api itu.

Sesudah itu ia berkata: "Penuhilah empat buyung dengan air, dan tuangkan ke atas korban bakaran dan ke atas kayu api itu!" Kemudian katanya: "Buatlah begitu untuk kedua kalinya!" Dan mereka berbuat begitu untuk kedua kalinya. Kemudian katanya: "Buatlah begitu untuk ketiga kalinya!" Dan mereka berbuat begitu untuk ketiga kalinya,

sehingga air mengalir sekeliling mezbah itu; bahkan parit itupun penuh dengan air.

Kemudian pada waktu mempersembahkan korban petang, tampillah nabi Elia dan berkata: "Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini.

Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali."

 

Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya.

Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata: "TUHAN, Dialah Allah! TUHAN, Dialah Allah!"

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 16:1-2a.4.5.8.11

Miktam. Dari Daud. Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.

Aku berkata kepada TUHAN: "Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!"

Bertambah besar kesedihan orang-orang yang mengikuti allah lain; aku tidak akan ikut mempersembahkan korban curahan mereka yang dari darah, juga tidak akan menyebut-nyebut nama mereka di bibirku.

Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.

Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.

Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

Bacaan Injil Matius 5:17-19

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i hidup zaman sekarang penuh dengan pilihan. Mulai dari hal-hal sederhana seperti memilih tontonan, makanan, atau gaya hidup, hingga hal-hal yang lebih penting seperti menentukan nilai-nilai yang akan kita pegang dalam hidup. 

Banyaknya pilihan sering membuat seseorang bingung, bahkan tidak jarang membuat hati menjadi terpecah. Bacaan hari ini mengajak kita melihat sebuah kenyataan yang masih sangat relevan. Umat pada masa itu berada dalam situasi bimbang.

Mereka mengenal Allah, tetapi pada saat yang sama mereka juga tergoda untuk menaruh harapan pada hal-hal lain. Hati mereka tidak sepenuhnya berpihak kepada Tuhan.

Bukankah hal yang sama juga sering terjadi dalam hidup kita?. Mungkin kita mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi ketika menghadapi masalah, kita lebih mengandalkan kekuatan diri sendiri.

Kita mengatakan bahwa Tuhan adalah yang utama, tetapi waktu, perhatian, dan energi kita lebih banyak diberikan kepada hal-hal lain. Kadang-kadang Tuhan menjadi salah satu bagian dari hidup, bukan pusat dari hidup.

Melalui keberanian Elia, Tuhan meningatkan bahwa iman tidak bisa dijalani dengan setengah hati. Iman menuntut sebuah keputusan. Bukan keputusan yang diucapkan sekali saja, melainkan keputusan yang diperbarui setiap hari. 

Memilih Tuhan ketika godaan datang, memilih kejujuran ketikakebohongan terasa lebih menguntungkan, memilih kasih ketika membenci terasa lebih mudah.

Menariknya, Elia tidak mengandalkan jumlah pendukung atau kekuatan manusia. Ia berdiri hampir sendirian di hadapan banyak orang. Namun keberaniannya lahir karena ia yakin bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang mendukung, melainkan oleh kesetiaan kepada Tuhan.

Dalam Injil, Yesus menunjukkan bahwa hubungan dengan Allah bukan sekadar soal kata-kata atau simbol-simbol keagamaan. Iman harus tampak dalam tindakan nyata. 

Kesetiaan kepada Tuhan terlihat dari bagaimana seseorang menjalani hidup sehari-hari, termasuk dalam hal-hal kecil yang sering dianggap tidak penting.

Kadang kita berpikir bahwa menjadi orang beriman berarti melakukan hal-hal besar. Padahal sering kali kesetiaan kepada Tuhan justru diuji dalam hal-hal sederhana. 

Datang tepat waktu, berkata jujur, menepati janji, menghormati orang tua, mengampuni kesalahan teman, atau tetap berbuat baik ketika tidak ada yang melihat.

Dunia saat ini menawarkan banyak "berhala" modern. Bukan lagi patung-patung yang disembah, melainkan popularitas, uang, gengsi, kenyamanan, dan pengakuan manusia. Semua itu bisa perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Tuhan di dalam hati kita.

Karena itu, pertanyaan penting yang dapat kita renungkan hari ini adalah: kepada siapa sebenarnya hati saya berpaut?. Apa yang paling saya kejar dalam hidup?. Ketika harus memilih antara kehendak Tuhan dan keinginan pribadi, pilihan mana yang biasanya saya ambil?.

Tuhan tidak menginginkan hati yang terbagi. Ia mengundang kita untuk percaya sepenuhnya kepada-Nya. Ketika kita berani menempatkan Tuhan sebagai yang utama, kita akan menemukan arah hidup yang lebih jelas, damai yang lebih mendalam, dan kekuatan untuk menghadapi berbagai tantangan.

Semoga hari ini kita semakin berani mengambil keputusan yang tegas untuk mengikuti Tuhan, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga melalui seluruh cara hidup kita. (*)

 

Editor : Fandy Gerungan
#renungan katolik #Renungan