Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan Mazmur 67:1–8 untuk P/KB, Tanah Telah Memberi Hasilnya, Tuhan Allah Memberkati Kita

Clavel Lukas • Sabtu, 4 Juli 2026 | 08:53 WIB
Ilustrasi Alkitab.
Ilustrasi Alkitab.

Bacaan: Mazmur 67:1–8

Tema: “Tanah Telah Memberi Hasilnya, Tuhan Allah Memberkati Kita”

Saudara-saudara P/KB yang dikasihi dan diberkati Tuhan, kehidupan seorang pria, suami, ayah, opa, pekerja, pelayan, petani, nelayan, pegawai, pengusaha, atau anggota masyarakat selalu berkaitan dengan tanggung jawab. Banyak kaum bapak setiap hari bangun pagi dengan pikiran tentang pekerjaan, kebutuhan keluarga, pendidikan anak-anak, kesehatan orang tua, masa depan cucu-cucu, pelayanan di jemaat, dan kehidupan sosial di tengah masyarakat.

 Ada yang bekerja di kebun, di laut, di kantor, di pasar, di bengkel, di proyek, di sekolah, di pemerintahan, atau di berbagai bidang lain. Semua itu dilakukan supaya keluarga tetap hidup, anak-anak bertumbuh, dan kebutuhan rumah tangga dapat dipenuhi.

Namun di tengah kerja keras itu, kita sering lupa bahwa semua hasil yang kita terima bukan hanya karena kekuatan tangan kita sendiri. Seorang petani memang mencangkul, menanam, membersihkan, dan menunggu panen. Seorang nelayan memang turun ke laut, menghadapi gelombang, dan bekerja dengan keberanian. Seorang pekerja memang memakai tenaga dan pikirannya. Seorang pengusaha memang mengatur usaha dengan strategi. Tetapi di balik semua kerja manusia, ada Tuhan yang memberi hidup, tanah, hujan, matahari, laut, tenaga, hikmat, kesehatan, kesempatan, dan hasil. Karena itu, ketika tanah memberi hasilnya, iman mengajar kita berkata: “Tuhan Allah memberkati kita.”

Baca Juga: Materi Khotbah Mazmur 67:1–8, Tanah Telah Memberi Hasilnya, Tuhan Allah Memberkati Kita

Baca Juga: Renungan Mazmur 67:1–8, Tanah Telah Memberi Hasilnya, Tuhan Allah Memberkati Kita

Tema “Tanah Telah Memberi Hasilnya, Tuhan Allah Memberkati Kita” mengajak P/KB untuk melihat berkat bukan hanya sebagai hasil kerja, tetapi sebagai tanda pemeliharaan Tuhan. Tanah yang memberi hasil adalah bukti bahwa Tuhan masih memelihara kehidupan.

Hasil kebun, hasil laut, hasil pekerjaan, hasil usaha, dan hasil pelayanan adalah kesempatan untuk bersyukur kepada Tuhan. Akan tetapi, Mazmur 67 juga mengingatkan bahwa berkat Tuhan tidak boleh berhenti pada diri sendiri dan keluarga sendiri saja. Berkat Tuhan selalu memiliki tujuan yang lebih luas: supaya jalan Tuhan dikenal di bumi dan keselamatan-Nya dikenal di antara segala bangsa.

Sebagai P/KB, kita perlu merenungkan dengan jujur: ketika Tuhan memberkati pekerjaan kita, apakah hidup kita semakin bersyukur atau semakin sombong? Ketika usaha kita berhasil, apakah kita semakin murah hati atau semakin serakah? Ketika tanah memberi hasil, apakah kita menjaga tanah itu atau justru merusaknya? Ketika Tuhan memberi rezeki, apakah keluarga, jemaat, dan sesama ikut merasakan kebaikan Tuhan melalui hidup kita? Pertanyaan-pertanyaan ini penting, sebab berkat yang benar seharusnya melahirkan syukur, tanggung jawab, keadilan, dan kesaksian.

Mazmur 67 sangat relevan dengan kehidupan sekarang. Banyak orang hidup dalam tekanan ekonomi, harga kebutuhan yang tidak selalu stabil, pekerjaan yang tidak pasti, perubahan cuaca yang memengaruhi petani dan nelayan, kerusakan lingkungan, persaingan usaha, dan ketimpangan sosial. Ada kaum bapak yang bekerja keras tetapi hasilnya tidak selalu cukup.

 Ada yang bergumul dengan utang, biaya pendidikan anak, kebutuhan kesehatan, dan masa depan keluarga. Di tengah semua itu, firman Tuhan tidak mengajak kita menyerah, tetapi mengajak kita mengarahkan hati kepada Allah yang memberkati, serta mengelola setiap berkat dengan iman dan tanggung jawab.

Saudara-saudara P/KB yang dikasihi dan diberkati Tuhan

Kitab Mazmur adalah kumpulan doa, pujian, ratapan, ucapan syukur, pengakuan iman, dan nyanyian umat Allah. Di dalam Kitab Mazmur, kita menemukan seluruh warna kehidupan manusia di hadapan Tuhan. Ada mazmur yang lahir dari sukacita, ada yang lahir dari penderitaan, ada yang lahir dari pertobatan, ada yang lahir dari pergumulan melawan musuh, dan ada juga yang lahir dari kesadaran bahwa Tuhan adalah Raja atas seluruh bumi.

Mazmur 67 termasuk mazmur pujian dan doa berkat. Mazmur ini sangat indah karena tidak hanya memohon berkat bagi umat Tuhan, tetapi juga mengarahkan berkat itu kepada tujuan yang lebih luas, yaitu supaya bangsa-bangsa mengenal Tuhan. Doa dalam Mazmur 67 menggemakan berkat imam dalam Bilangan 6:24–26, ketika umat memohon agar Tuhan memberkati, melindungi, menyinari dengan wajah-Nya, memberi kasih karunia, dan memberikan damai sejahtera. Namun Mazmur 67 memperluas berkat itu menjadi doa misi: umat diberkati supaya jalan Tuhan dikenal di bumi dan keselamatan Tuhan dikenal di antara segala bangsa.

Dalam dunia Perjanjian Lama, tanah memiliki makna yang sangat penting. Tanah bukan hanya tempat tinggal atau aset ekonomi, tetapi tempat umat mengalami pemeliharaan Allah. Tanah memberi makanan, menopang keluarga, menjadi ruang hidup, dan mengingatkan umat bahwa Tuhan setia terhadap janji-Nya. Karena itu, ketika pemazmur berkata, “Tanah telah memberi hasilnya,” ia tidak hanya sedang berbicara tentang hasil pertanian, tetapi tentang tanda nyata berkat Tuhan dalam kehidupan umat.

Bagi P/KB GMIM, “tanah” dapat dipahami secara luas. Bagi petani, tanah adalah kebun dan ladang yang memberi hasil. Bagi nelayan, “tanah” kehidupan bisa berarti laut yang memberi ikan. Bagi pekerja, “tanah” bisa berarti tempat kerja yang memberi nafkah. Bagi pengusaha, “tanah” bisa berarti usaha yang berkembang. Bagi pelayan gereja, “tanah” bisa berarti pelayanan yang menghasilkan buah iman. Semua ruang kehidupan tempat kita bekerja dan menerima hasil harus dilihat sebagai tempat Tuhan menyatakan berkat-Nya.

Makna tema ini sangat dalam. Pertama, tema ini mengajak kita mengakui Tuhan sebagai sumber berkat. Manusia bekerja, tetapi Tuhan yang memberi kehidupan dan hasil. Kedua, tema ini mengajak kita hidup dalam syukur. Berkat bukan alasan untuk sombong, tetapi alasan untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan. Ketiga, tema ini mengajak kita hidup dalam keadilan. Jika Tuhan memerintah bangsa-bangsa dengan adil, maka hasil kerja dan hasil tanah harus dikelola dengan adil juga. Keempat, tema ini mengajak kita menjadi saksi. Berkat yang Tuhan berikan kepada P/KB harus membuat keluarga, jemaat, dan masyarakat melihat kebaikan Tuhan.

Pembahasan Ayat demi Ayat

Ayat 1

Ayat pertama berisi keterangan: “Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi. Mazmur. Nyanyian.” Ini menunjukkan bahwa Mazmur 67 dipakai dalam ibadah umat. Mazmur ini bukan hanya doa pribadi, tetapi nyanyian bersama umat Allah. Umat datang beribadah sambil memohon berkat, mengucap syukur, dan mengakui bahwa Allah layak dipuji oleh semua bangsa.

Bagi P/KB, ayat ini mengingatkan bahwa ibadah harus membentuk cara hidup. Kita tidak datang ke gereja hanya untuk menerima berkat, lalu pulang tanpa perubahan. Ibadah harus mengajar kita melihat pekerjaan, tanah, usaha, keluarga, dan pelayanan sebagai bagian dari kehidupan yang harus dipersembahkan kepada Tuhan. Seorang pria Kristen tidak boleh memisahkan ibadah dari pekerjaan. Ia tidak boleh tampak rohani di gereja, tetapi tidak jujur di tempat kerja. Ia tidak boleh menyanyi tentang kebaikan Tuhan, tetapi hidup serakah dan tidak peduli kepada sesama.

Keterangan tentang permainan kecapi juga mengingatkan bahwa pujian kepada Tuhan dilakukan dengan kesungguhan. Dalam konteks P/KB, pujian bukan hanya soal bernyanyi dalam ibadah, tetapi juga soal menjadikan hidup sebagai nyanyian syukur. Pekerjaan yang jujur, keluarga yang dipimpin dengan kasih, pelayanan yang rendah hati, dan kepedulian kepada sesama adalah bentuk pujian nyata kepada Tuhan.

Ayat 2

Pemazmur berdoa: “Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya.” Doa ini dimulai dengan permohonan belas kasihan. Umat sadar bahwa hidup mereka bergantung pada kemurahan Allah. Sebelum berbicara tentang tanah yang memberi hasil, pemazmur terlebih dahulu memohon agar Allah mengasihani dan memberkati.

Ini mengajarkan bahwa berkat tidak dimulai dari kehebatan manusia. Seorang bapak boleh rajin bekerja, tetapi ia tetap membutuhkan belas kasihan Tuhan. Seorang petani boleh menanam dengan baik, tetapi ia tetap membutuhkan hujan dan musim yang Tuhan izinkan. Seorang nelayan boleh berpengalaman, tetapi ia tetap membutuhkan perlindungan Tuhan di laut. Seorang pekerja boleh terampil, tetapi ia tetap membutuhkan kesehatan dan kesempatan dari Tuhan.

Kalimat “menyinari kita dengan wajah-Nya” menggambarkan perkenanan dan kehadiran Tuhan. Berkat terbesar bukan hanya banyaknya hasil, tetapi kehadiran Tuhan yang menyertai hidup. Ada orang yang punya banyak hasil tetapi tidak punya damai. Ada yang berhasil secara ekonomi tetapi keluarganya hancur. Ada yang memperoleh keuntungan tetapi hidupnya jauh dari Tuhan. Karena itu, P/KB perlu berdoa bukan hanya, “Tuhan, berkatilah pekerjaanku,” tetapi juga, “Tuhan, sinarilah hidupku dengan wajah-Mu, supaya aku bekerja, memimpin keluarga, dan melayani dalam perkenanan-Mu.”

Ayat 3nal

Pemazmur berkata: “Supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa.” Inilah tujuan dari berkat. Umat tidak meminta berkat hanya supaya hidupnya nyaman, tetapi supaya jalan Tuhan dikenal. Berkat memiliki arah misi. Tuhan memberkati umat-Nya supaya umat-Nya menjadi kesaksian bagi dunia.

Bagi P/KB, ini sangat penting. Ketika Tuhan memberkati pekerjaan kita, apakah orang lain mengenal jalan Tuhan melalui cara kita bekerja? Ketika Tuhan memberkati keluarga kita, apakah orang melihat kasih dan kesetiaan Tuhan dalam rumah tangga kita? Ketika Tuhan memberkati usaha kita, apakah pekerja dan pelanggan melihat kejujuran, keadilan, dan kemurahan hati? Jika berkat hanya membuat kita semakin sibuk dengan diri sendiri, maka kita belum memahami tujuan berkat.

“Jalan Tuhan” berarti cara Tuhan memimpin, kehendak-Nya, kebenaran-Nya, dan nilai kerajaan-Nya. Seorang P/KB yang diberkati harus memperlihatkan jalan Tuhan melalui integritas. Jangan berkat Tuhan dipakai untuk membangun kesombongan. Jangan hasil kerja dipakai hanya untuk gengsi. Jangan keberhasilan dipakai untuk merendahkan orang lain. Berkat harus membuat orang melihat bahwa Tuhan itu baik, benar, dan layak dipercaya.

Ayat 4

Pemazmur berkata: “Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah; kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.” Mazmur ini tidak hanya berbicara tentang Israel. Pemazmur memiliki kerinduan agar semua bangsa bersyukur kepada Allah. Ini menunjukkan hati misi. Allah bukan hanya Tuhan satu kelompok. Ia adalah Tuhan seluruh bumi.

Bagi P/KB, ayat ini menegur sikap yang terlalu sempit. Kadang kita hanya mendoakan keluarga sendiri, usaha sendiri, kebun sendiri, kelompok sendiri, atau jemaat sendiri. Tentu mendoakan keluarga itu penting, tetapi firman ini memperluas hati kita. Kita dipanggil mendoakan masyarakat, bangsa, dunia, orang miskin, pekerja kecil, petani, nelayan, korban bencana, dan semua yang membutuhkan pemeliharaan Tuhan.

P/KB sebagai bagian dari gereja tidak boleh hanya menjadi persekutuan yang sibuk dengan kegiatan internal. Persekutuan kaum bapak harus menjadi kekuatan misi dan pelayanan. Jika Tuhan memberkati P/KB dengan tenaga, pengalaman, jaringan, dan sumber daya, semua itu harus dipakai untuk menjadi berkat bagi jemaat dan masyarakat.

Ayat 5

Pemazmur berkata: “Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi.” Alasan bangsa-bangsa bersukacita adalah pemerintahan Allah yang adil. Tuhan tidak hanya memberi berkat, tetapi juga memerintah dengan keadilan. Ia menuntun bangsa-bangsa.

Ayat ini menghubungkan berkat dengan keadilan. Tanah memberi hasil, tetapi hasil itu harus dikelola dengan adil. Jangan sampai tanah memberi hasil banyak, tetapi pekerja diperlakukan tidak adil. Jangan sampai usaha berkembang, tetapi orang kecil ditindas. Jangan sampai laut memberi ikan, tetapi nelayan kecil tersingkir. Jangan sampai pembangunan menghasilkan keuntungan, tetapi lingkungan rusak dan masyarakat menderita.

Bagi P/KB, ayat ini sangat konkret. Jika kita menjadi atasan, perlakukan pekerja dengan adil. Jika kita memiliki usaha, jangan menipu. Jika kita menjadi pemimpin, jangan memakai jabatan untuk kepentingan diri. Jika kita mengelola kebun, jangan merusak sumber air orang lain. Jika kita mendapat hasil lebih, jangan lupa mereka yang kekurangan. Allah yang memberkati adalah Allah yang adil, maka umat-Nya juga harus hidup dalam keadilan.

Ayat 6

Pemazmur mengulang: “Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah; kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.” Pengulangan ini menegaskan bahwa tujuan akhir dari berkat adalah pujian kepada Allah. Semua bangsa dipanggil bersyukur kepada Tuhan.

Manusia sering mencuri kemuliaan Allah. Ketika berhasil, ia ingin dipuji. Ketika usaha maju, ia ingin dipandang hebat. Ketika panen melimpah, ia merasa dirinya paling kuat. Tetapi Mazmur 67 mengarahkan semua pujian kepada Tuhan. Tanah memberi hasil, tetapi Allah yang memberkati. Manusia bekerja, tetapi Tuhan yang memberi kekuatan. Pelayanan bertumbuh, tetapi Tuhan yang memberi pertumbuhan.

Bagi P/KB, ini menjadi peringatan agar tidak sombong atas hasil kerja. Jangan merendahkan orang lain karena kita diberkati lebih banyak. Jangan menjadikan hasil sebagai ukuran harga diri. Jangan sampai berkat membuat kita lupa ibadah, lupa keluarga, dan lupa pelayanan. Semakin diberkati, semakin kita harus rendah hati.

Ayat 7

Pemazmur berkata: “Tanah telah memberi hasilnya; Allah, Allah kita, memberkati kita.” Inilah pusat tema renungan. Tanah memberi hasilnya. Ini adalah pengakuan bahwa kehidupan masih dipelihara Tuhan. Benih bertumbuh. Tanah mengeluarkan buah. Musim berjalan. Manusia bekerja. Semua itu terjadi karena Tuhan memberkati.

Bagi petani, ayat ini sangat dekat. Tanah yang subur dan panen yang berhasil adalah berkat Tuhan. Tetapi bagi P/KB yang bukan petani, ayat ini tetap bermakna. “Tanah” dapat berarti ruang hidup dan pekerjaan tempat Tuhan memberi hasil.

Bagi nelayan, laut telah memberi hasilnya. Bagi pegawai, pekerjaan telah memberi hasilnya. Bagi pedagang, usaha telah memberi hasilnya. Bagi pelayan, pelayanan telah memberi hasilnya. Semua hasil itu harus membawa kita kepada pengakuan: Tuhan Allah memberkati kita.

Namun ayat ini juga mengandung tanggung jawab ekologis. Jika tanah memberi hasil, tanah harus dijaga. Tidak mungkin kita terus meminta hasil dari tanah tetapi merusaknya. Tidak mungkin kita mengucap syukur atas panen tetapi membiarkan air tercemar. Tidak mungkin kita memuji Tuhan atas ciptaan tetapi membuang sampah sembarangan dan menebang pohon tanpa tanggung jawab.

P/KB harus menjadi teladan dalam menjaga ciptaan. Jangan hanya kuat bekerja, tetapi juga bijaksana mengelola alam. Ajarkan anak-anak menjaga kebun, sumber air, laut, dan lingkungan. Jangan mengorbankan masa depan anak cucu demi keuntungan hari ini. Tanah yang memberi hasil adalah berkat Tuhan, maka tanah harus diperlakukan dengan hormat.

Ayat 8

Pemazmur menutup dengan berkata: “Allah memberkati kita; kiranya segala ujung bumi takut akan Dia!” Berkat Tuhan memiliki tujuan akhir: supaya segala ujung bumi takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan berarti menghormati, tunduk, kagum, dan hidup dalam ketaatan kepada-Nya.

Jika berkat membuat seseorang semakin jauh dari Tuhan, maka berkat itu telah menjadi berhala. Jika hasil membuat seseorang semakin sombong, maka hatinya tidak sehat. Jika kelimpahan membuat seseorang semakin tidak peduli, maka ia belum memahami maksud Allah. Berkat yang benar membawa manusia semakin takut akan Tuhan.

Bagi P/KB, pertanyaan pentingnya adalah: apakah berkat membuat kita semakin dekat kepada Tuhan? Apakah hasil kerja membuat kita semakin setia beribadah? Apakah usaha yang berhasil membuat kita semakin peduli kepada jemaat dan masyarakat? Apakah penghasilan yang bertambah membuat kita semakin murah hati? Jika ya, maka berkat itu sedang membawa kita kepada tujuan yang benar.

Penutup

Saudara-saudara P/KB yang dikasihi Tuhan, setelah merenungkan Mazmur 67:1–8, kita melihat bahwa tema “Tanah Telah Memberi Hasilnya, Tuhan Allah Memberkati Kita” bukan hanya berbicara tentang panen, kebun, atau hasil bumi. Tema ini berbicara tentang cara orang percaya memandang seluruh hidup sebagai berkat Tuhan. Tanah memberi hasil, laut memberi ikan, pekerjaan memberi nafkah, usaha memberi penghasilan, pelayanan memberi buah, keluarga masih dipelihara, dan semua itu terjadi karena Tuhan Allah memberkati kita.

Namun Mazmur 67 tidak membiarkan kita berhenti pada rasa senang karena diberkati. Pemazmur mengajarkan bahwa berkat mempunyai tujuan misi: supaya jalan Tuhan dikenal di bumi dan keselamatan-Nya dikenal di antara segala bangsa. Artinya, berkat yang Tuhan berikan kepada P/KB harus terlihat dalam kesaksian hidup.

Keluarga harus melihat kasih Tuhan melalui kita. Tempat kerja harus melihat kejujuran kita. Jemaat harus merasakan pelayanan kita. Masyarakat harus melihat kepedulian kita. Orang yang lemah harus merasakan bahwa berkat Tuhan mengalir melalui tangan kita.

Renungan ini juga mengingatkan bahwa berkat harus berjalan bersama keadilan. Allah memerintah bangsa-bangsa dengan adil. Karena itu, seorang P/KB yang diberkati tidak boleh hidup curang, menindas, atau memakai kuasa secara sembarangan. Jika menjadi suami, perlakukan istri dengan kasih dan hormat.

Jika menjadi ayah, didik anak dengan teladan. Jika menjadi opa, wariskan iman dan doa kepada cucu-cucu. Jika menjadi pekerja, bekerjalah dengan jujur. Jika menjadi atasan, perlakukan bawahan dengan adil. Jika menjadi pemilik usaha atau kebun, jangan lupakan orang kecil. Jika memiliki pengaruh dalam masyarakat, pakailah untuk membela kebenaran dan kehidupan.

Ada beberapa poin penting yang perlu kita bawa pulang.

Pertama, Tuhan adalah sumber segala berkat. Jangan sombong atas hasil kerja. Jangan berkata bahwa semua terjadi hanya karena kekuatan kita. Manusia memang bekerja, tetapi Tuhan yang memberi hidup, kesehatan, tanah, hujan, laut, kesempatan, dan hasil.

Kedua, berkat harus melahirkan syukur. Syukur bukan hanya ucapan sebelum makan atau saat ibadah, tetapi sikap hidup yang rendah hati. Orang yang bersyukur tidak mudah mengeluh, tidak mudah iri, dan tidak mudah merendahkan orang lain.

Ketiga, berkat mempunyai tujuan misi. Kita diberkati supaya jalan Tuhan dikenal. Jika keluarga kita diberkati, jadikan keluarga sebagai kesaksian. Jika pekerjaan kita diberkati, jadikan pekerjaan sebagai tempat memuliakan Tuhan. Jika P/KB diberkati dengan tenaga dan pengalaman, pakailah untuk pelayanan.

Keempat, berkat harus dikelola dengan adil. Jangan memperoleh hasil dengan cara menipu, memeras, atau merusak hidup orang lain. Berkat Tuhan tidak boleh bercampur dengan ketidakadilan.

Kelima, tanah yang memberi hasil harus dijaga. P/KB harus menjadi teladan dalam merawat ciptaan. Jangan membuang sampah sembarangan. Jangan merusak sumber air. Jangan membakar atau menebang tanpa tanggung jawab. Jangan mengejar keuntungan hari ini dengan merusak masa depan anak cucu.

Keenam, berkat harus mengalir kepada sesama. Belajarlah seperti Boas. Ia tidak menikmati hasil ladangnya sendiri saja, tetapi membuka ruang bagi Rut dan Naomi. P/KB yang diberkati harus memiliki tangan yang terbuka bagi yang membutuhkan.

Ketujuh, berkat harus membawa kita semakin takut akan Tuhan. Jika semakin diberkati kita semakin jauh dari ibadah, semakin sombong, semakin keras, dan semakin tidak peduli, maka kita perlu bertobat. Berkat yang benar membawa kita semakin dekat kepada Tuhan.

Implikasi firman ini sangat nyata. Di rumah, ajarkan keluarga bersyukur atas makanan dan rezeki. Jangan biarkan anak-anak berpikir bahwa semua yang tersedia terjadi begitu saja. Katakan kepada mereka bahwa Tuhan memelihara melalui tanah, laut, pekerjaan, dan banyak orang. Di tempat kerja, tunjukkan integritas. Jangan ikut cara curang meskipun tampak menguntungkan. Di pelayanan, pakailah kekuatan dan pengalaman P/KB untuk membangun jemaat. Di masyarakat, jadilah pria yang membawa damai, keadilan, dan kepedulian.

Saudara-saudara, marilah kita memeriksa diri. Apakah hasil kerja membuat kita semakin bersyukur atau semakin sombong? Apakah penghasilan membuat kita semakin murah hati atau semakin tertutup? Apakah keberhasilan membuat kita semakin dekat kepada Tuhan atau semakin sibuk sampai lupa ibadah? Apakah tanah, laut, dan pekerjaan yang memberi hasil kita kelola dengan tanggung jawab? Apakah orang lain merasakan kebaikan Tuhan melalui hidup kita?

Firman Tuhan hari ini mengajak P/KB untuk hidup sebagai laki-laki yang diberkati dan menjadi berkat. Jangan hanya menjadi pria yang kuat bekerja, tetapi jadilah pria yang kuat bersyukur. Jangan hanya menjadi suami yang membawa uang ke rumah, tetapi jadilah suami yang membawa kasih dan takut akan Tuhan

. Jangan hanya menjadi ayah yang membiayai anak, tetapi jadilah ayah yang mengajar anak melihat Tuhan sebagai sumber berkat. Jangan hanya menjadi opa yang bercerita tentang masa lalu, tetapi jadilah opa yang memberi kesaksian bahwa Tuhan tetap setia.

Marilah kita belajar dari Boas. Ketika tanahnya memberi hasil, ia tidak menutup mata terhadap Rut dan Naomi. Ketika ia diberkati, ia tidak menjadi serakah. Ketika ia memiliki kuasa, ia tidak menindas. Ia memakai berkat untuk melindungi dan memulihkan. Kiranya P/KB GMIM juga demikian. Ketika Tuhan memberkati kebun, pekerjaan, usaha, keluarga, dan pelayanan kita, biarlah orang lain juga merasakan kasih Tuhan.

Akhirnya, kiranya pengakuan pemazmur menjadi pengakuan kita: Tanah telah memberi hasilnya; Allah, Allah kita, memberkati kita.” Kiranya setiap hasil yang kita terima membawa kita kepada syukur. Kiranya setiap berkat yang kita nikmati membuat kita semakin adil. Kiranya setiap rezeki yang Tuhan berikan membuka hati kita untuk berbagi. Kiranya setiap tanah, laut, pekerjaan, dan pelayanan yang memberi hasil membuat kita semakin takut akan Tuhan.

Dan kiranya melalui hidup P/KB, semakin banyak orang mengenal jalan Tuhan, melihat keselamatan-Nya, dan ikut bersyukur kepada Allah yang memberkati kita.

Amin

Editor : Clavel Lukas
#mtph gmim #PKB GMIM #khotbah #Renungan GMIM #Renungan