Bacaan dan Renungan untuk Orang Muda Katolik, Hari Jumat 28 Agustus 2026

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 16:02 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Perayaan Wajib St. Agustinus (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I I Korintus 1:17-25

Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itupun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.

Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.

Karena ada tertulis: "Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan."

Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?

Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.

Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat,

tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan,

tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.

Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 33:1-2.4-5.10ab.11

Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam TUHAN! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur.

Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali!

Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan.

Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN.

TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa;

tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun.

Bacaan Injil Matius 25:1-13

"Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki.

Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.

Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak,

sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.

Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur.

Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!

Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka.

Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam.

Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.

Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.

Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!

Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.

Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan 

Salve sahabat muda katolik, kita hidup di zaman ketika penampilan sering dianggap lebih penting daripada isi. Di media sosial, kita bisa terlihat bahagia meskipun sebenarnya sedang lelah. 

Kita bisa terlihat baik-baik saja meskipun hati sedang berantakan. Kita juga bisa terlihat sangat religius di depan orang lain, tetapi diam-diam hubungan kita dengan Tuhan semakin jauh.

Bacaan hari ini mengajak kita untuk melihat lebih dalam. Iman bukan soal bagaimana kita terlihat di hadapan orang lain, tetapi bagaimana kita hidup ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Kisah St. Agustinus sangat dekat dengan pergumulan orang muda. Ia pernah mencari kebahagiaan di banyak tempat. Ia mengejar pengetahuan, kesenangan, pengakuan, dan keinginan dirinya sendiri. 

Namun, semua itu belum membuat hatinya sungguh-sungguh tenang. Bukankah kita juga sering seperti itu?. Kita mengejar nilai yang bagus, pekerjaan yang mapan, pasangan yang kita inginkan. 

Jumlah pengikut yang banyak, penampilan yang menarik, atau pengakuan dari orang lain. Semua itu tidak salah. Tetapi kalau semuanya menjadi pusat hidup, kita bisa mendapatkan banyak hal sekaligus kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting: kedekatan dengan Tuhan.

Injil mengingatkan kita melalui gambaran tentang pelita dan minyak. Semua orang membawa pelita, tetapi tidak semua mempersiapkan minyaknya.

Bagi kita orang muda, pelita bisa menggambarkan iman yang terlihat dari luar. Kita mungkin aktif dalam OMK, rajin mengikuti misa, memakai kalung salib, mem-posting ayat atau kata-kata rohani, dan terlibat dalam kegiatan Gereja.

Tetapi pertanyaannya adalah: bagaimana dengan kehidupan kita ketika tidak sedang berada di Gereja? Apakah kita tetap jujur ketika tidak ada yang mengawasi?

Apakah kita tetap menjaga perkataan ketika sedang bersama teman? Apakah kita mampu menghargai orang tua? Apakah kita berani menolak ajakan yang menjauhkan kita dari Tuhan? Apakah kita masih berdoa ketika hidup sedang tidak baik-baik saja?

Di situlah iman kita diuji. Minyak dalam pelita tidak dapat dipinjam pada saat terakhir. Begitu juga kehidupan rohani. Kita tidak bisa berharap memiliki iman yang kuat kalau selama ini kita tidak pernah merawatnya.

Iman perlu diisi setiap hari melalui doa, Ekaristi, membaca Kitab Suci, pengakuan dosa, pelayanan, persahabatan yang baik, dan keberanian untuk terus memperbaiki diri.

Jangan menunggu sampai hidup kita hancur baru mencari Tuhan. Jangan menunggu kecewa baru mulai berdoa. Jangan menunggu tua baru serius dengan iman.

St. Agustinus menunjukkan bahwa masa lalu bukan akhir dari cerita. Seseorang bisa pernah jauh, pernah salah, pernah mencari kebahagiaan di tempat yang keliru, tetapi tetap bisa menemukan jalan pulang kepada Tuhan.

Mungkin hari ini ada di antara kita yang merasa sudah terlalu jauh dari Tuhan. Jangan takut. Tuhan tidak pernah bosan menunggu kita kembali.

Mungkin kita sedang berada dalam masa pencarian dan belum menemukan arah hidup. Jangan menyerah. Teruslah mencari Tuhan dengan hati yang jujur.

Dan mungkin kita merasa iman kita sudah baik. Tetaplah rendah hati, karena iman bukan sesuatu yang cukup dijaga sekali lalu selesai. Iman harus terus dirawat agar tetap menyala.

Teman-teman muda, jangan hanya menjadi orang muda yang punya pelita. Jadilah orang muda yang menjaga pelitanya tetap menyala.

Jangan hanya terlihat baik. Jadilah sungguh-sungguh baik. Jangan hanya berbicara tentang Tuhan. Bangunlah persahabatan yang nyata dengan Tuhan.

Sebab pada akhirnya, yang terpenting bukan bagaimana dunia melihat kita, tetapi apakah hati kita tetap memiliki ruang bagi Tuhan.

Semoga seperti St. Agustinus, kita berani berkata dalam hidup kita: aku mungkin pernah tersesat, tetapi aku tidak mau berhenti mencari Tuhan. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik omk Renungan