Bacaan Alkitab Efesus 4:17-32
Tema: “Dibaharui Dalam Roh Dan Pikiranmu Serta Mengenakan Manusia Baru”
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, salah satu hal yang paling sulit dalam kehidupan manusia adalah berubah. Kita mudah melihat kesalahan orang lain dan berkata, “Dia harus berubah,” tetapi ketika firman Tuhan meminta kita melihat diri sendiri dan berkata, “Saya juga harus berubah,” sering kali hati kita menjadi lebih berat.
Kita bisa terbiasa dengan cara bicara tertentu, cara berpikir tertentu, cara memperlakukan orang tertentu, bahkan dengan kebiasaan-kebiasaan yang sebenarnya tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Lama-kelamaan sesuatu yang salah dapat terasa biasa karena sudah terlalu lama dilakukan.
Ada orang yang secara fisik sudah bertahun-tahun menjadi orang Kristen, tetapi cara berpikirnya masih sama seperti dahulu. Ada yang rajin beribadah, tetapi masih mudah menyimpan dendam. Ada yang aktif dalam pelayanan, tetapi perkataannya sering melukai orang lain.
Ada yang mengetahui banyak ayat Alkitab, tetapi ketika menghadapi masalah, yang keluar justru kemarahan, kebencian, fitnah, atau kata-kata yang tidak membangun. Ada pula yang sudah lama mengikuti Tuhan, tetapi masih membiarkan kebiasaan lama menguasai kehidupannya.
Karena itu, firman Tuhan dalam Efesus 4:17-32 berbicara sangat kuat tentang perubahan hidup. Rasul Paulus tidak hanya berbicara mengenai perubahan perilaku dari luar, tetapi perubahan yang dimulai dari dalam, yaitu dari roh dan pikiran. Sebab cara kita berpikir akan memengaruhi cara kita berbicara, cara kita berbicara akan memengaruhi cara kita bertindak, dan cara kita bertindak akan membentuk kehidupan kita serta hubungan kita dengan orang lain.
Tema kita hari ini, “Dibaharui Dalam Roh Dan Pikiranmu Serta Mengenakan Manusia Baru,” mengingatkan bahwa menjadi orang percaya bukan sekadar mengganti identitas agama, tetapi mengalami pembaruan hidup. Kita tidak dipanggil untuk menjadi manusia lama yang diberi pakaian agama, tetapi manusia yang sungguh-sungguh diperbarui oleh Kristus.
Baca Juga: Inilah Konsep Revisi Tata Gereja GMIM 2026 Bagian Tata Dasar
Pembaruan itu sangat penting dalam kehidupan sekarang. Kita hidup di zaman ketika manusia setiap hari dibombardir oleh berbagai informasi, berita, media sosial, perdebatan, tekanan ekonomi, persaingan, tuntutan pekerjaan, persoalan keluarga, dan berbagai pengaruh yang dapat membentuk pikiran. Kalau pikiran tidak terus-menerus dibarui oleh firman Tuhan, kita mudah dibentuk oleh dunia.
Karena itu, pertanyaannya bukan hanya, “Apakah saya percaya kepada Tuhan?” tetapi juga, “Apakah cara berpikir saya sudah dibaharui oleh Tuhan?” Apakah perkataan saya sudah berubah? Apakah cara saya memperlakukan orang lain sudah berubah?
Apakah cara saya menghadapi konflik sudah berubah? Apakah hati saya masih dikuasai manusia lama atau sudah mengenakan manusia baru di dalam Kristus?
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan
Surat Efesus secara tradisional dikaitkan dengan Rasul Paulus dan ditujukan kepada jemaat di Efesus. Efesus merupakan salah satu kota penting di Asia Kecil, wilayah yang sekarang berada di bagian barat Turki. Kota ini merupakan pusat perdagangan, kebudayaan, dan kehidupan keagamaan. Efesus juga dikenal sebagai pusat penyembahan kepada dewi Artemis.
Dalam konteks seperti itu, jemaat Kristen hidup di tengah masyarakat yang memiliki berbagai nilai dan kebiasaan yang berbeda dengan kehidupan yang dikehendaki Kristus. Karena itu, menjadi orang percaya bukan perkara sederhana. Mereka harus belajar hidup sebagai umat yang berbeda, bukan karena mereka merasa lebih baik daripada orang lain, tetapi karena mereka telah menerima kehidupan baru di dalam Kristus.
Surat Efesus secara umum berbicara mengenai karya Allah di dalam Kristus, identitas orang percaya, kesatuan jemaat, dan kehidupan baru yang harus dijalani oleh mereka yang telah menerima keselamatan. Paulus pertama-tama menjelaskan apa yang Allah telah kerjakan bagi orang percaya, kemudian ia menjelaskan bagaimana orang percaya harus hidup sebagai respons terhadap kasih karunia tersebut.
Efesus pasal 4 menjadi bagian penting karena Paulus mulai berbicara lebih konkret mengenai kehidupan orang percaya. Mereka tidak boleh lagi hidup seperti manusia yang tidak mengenal Allah. Mereka telah mengenal Kristus, sehingga kehidupan mereka harus mengalami perubahan.
Ayat 22-24 menjadi pusat pembahasan perikop ini. Paulus berbicara mengenai menanggalkan manusia lama, dibaharui dalam roh dan pikiran, dan mengenakan manusia baru.
Gambaran ini sangat kuat. Manusia lama menunjuk kepada kehidupan sebelum Kristus menguasai hidup kita, kehidupan yang dikuasai oleh keinginan dosa dan pola hidup yang jauh dari Allah. Manusia baru menunjuk kepada kehidupan yang dibentuk menurut kehendak Allah, dalam kebenaran dan kekudusan.
Jadi, menjadi manusia baru bukan berarti kita tidak pernah lagi mengalami kelemahan atau pergumulan. Manusia baru berarti arah hidup kita telah berubah. Kita tidak lagi membiarkan dosa menjadi penguasa hidup. Kita belajar meninggalkan kebiasaan lama dan membiarkan Roh Tuhan memperbarui pikiran serta hati kita.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan
“Dibaharui Dalam Roh Dan Pikiranmu Serta Mengenakan Manusia Baru” memiliki tiga gerakan penting.
Pertama, ada sesuatu yang harus ditanggalkan, yaitu manusia lama.
Kedua, ada sesuatu yang harus diperbarui, yaitu roh dan pikiran.
Ketiga, ada sesuatu yang harus dikenakan, yaitu manusia baru.
Ini menunjukkan bahwa kehidupan Kristen adalah proses pembaruan yang nyata. Kita tidak hanya diminta berhenti melakukan sesuatu yang salah, tetapi dipanggil menggantikannya dengan sesuatu yang benar.
Misalnya, bukan hanya berhenti marah, tetapi belajar mengampuni. Bukan hanya berhenti berkata kasar, tetapi mulai menggunakan perkataan untuk membangun. Bukan hanya berhenti berbohong, tetapi belajar hidup jujur. Bukan hanya berhenti menyimpan kepahitan, tetapi belajar berdamai. Bukan hanya berhenti memikirkan diri sendiri, tetapi belajar memperhatikan kepentingan orang lain.
Dengan demikian, manusia baru bukan sekadar manusia yang tidak melakukan kejahatan, tetapi manusia yang semakin menyerupai karakter Kristus.
Pembahasan Ayat Demi Ayat
Ayat 17 berkata bahwa Paulus menegaskan dan mengingatkan dalam Tuhan supaya jemaat tidak lagi hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia.
Paulus berbicara mengenai perubahan cara hidup. Jemaat tidak boleh kembali kepada pola kehidupan lama. Mereka memang hidup di tengah masyarakat yang sama, tetapi mereka tidak boleh membiarkan nilai-nilai lama menguasai kehidupan mereka.
Kata-kata tentang “pikiran yang sia-sia” menunjukkan bahwa masalah kehidupan manusia bukan hanya tindakan yang salah, tetapi cara berpikir yang salah. Ketika pikiran jauh dari Tuhan, manusia dapat menganggap sesuatu yang salah sebagai sesuatu yang benar. Dosa sering kali dimulai dari pikiran sebelum menjadi tindakan.
Dalam kehidupan sekarang, kita melihat bagaimana pikiran manusia dapat dibentuk oleh lingkungan. Media sosial dapat membuat seseorang terus membandingkan dirinya dengan orang lain. Berita yang tidak benar dapat membentuk kebencian.
Komentar-komentar di internet dapat membuat orang mudah marah. Budaya pamer dapat membuat seseorang merasa hidupnya tidak cukup. Karena itu, orang percaya harus berhati-hati terhadap apa yang masuk ke dalam pikirannya.
Ayat 18 mengatakan bahwa pengertian mereka menjadi gelap dan mereka jauh dari hidup persekutuan dengan Allah karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.
Di sini Paulus menunjukkan bahwa ketika manusia terus menolak Allah, hati dapat menjadi keras. Masalahnya bukan karena manusia tidak pernah mendengar kebenaran, tetapi karena ia tidak mau membuka hati terhadap kebenaran itu.
Hati yang keras adalah hati yang sudah sering ditegur tetapi tidak mau berubah. Sudah tahu salah, tetapi tetap dilakukan. Sudah tahu perkataan itu menyakitkan, tetapi tetap diucapkan. Sudah tahu kepahitan merusak diri sendiri, tetapi tetap dipelihara.
Bagi kita, ini menjadi peringatan agar jangan membiarkan hati menjadi keras. Ketika Tuhan menegur melalui firman, jangan mencari alasan untuk membenarkan diri. Biarkan firman Tuhan mengoreksi kita.
Ayat 19 mengatakan bahwa mereka telah kehilangan perasaan dan menyerahkan diri kepada hawa nafsu sehingga melakukan segala macam kecemaran dengan serakah.
Ketika dosa terus dipelihara, kepekaan hati terhadap dosa dapat semakin hilang. Sesuatu yang dahulu membuat kita merasa bersalah, lama-kelamaan tidak lagi terasa salah.
Ini sangat berbahaya. Karena itu, kita perlu meminta Tuhan mempertahankan hati yang peka. Jangan sampai kita menjadi terbiasa dengan dosa hanya karena terlalu sering melihatnya di sekitar kita.
Ayat 20-21 menjadi titik perubahan. Paulus berkata bahwa bukan demikian yang dipelajari jemaat tentang Kristus. Jika mereka memang mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia, mereka harus hidup sesuai dengan kebenaran yang ada dalam Yesus.
Artinya, mengenal Kristus harus menghasilkan perubahan. Kristus bukan hanya pengetahuan. Kristus harus menjadi dasar kehidupan.
Kita mungkin mengetahui banyak tentang Yesus, tetapi pertanyaannya: apakah kita hidup seperti orang yang mengenal Yesus?
Kalau kita mengenal Kristus, cara kita menghadapi orang yang menyakiti kita harus berbeda. Kalau kita mengenal Kristus, cara kita menggunakan uang harus berbeda. Kalau kita mengenal Kristus, cara kita berbicara kepada keluarga harus berbeda. Kalau kita mengenal Kristus, cara kita menghadapi konflik harus berbeda.
Ayat 22 berkata bahwa jemaat harus menanggalkan manusia lama yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan.
Manusia lama adalah kehidupan lama yang dikuasai oleh dosa. Paulus menggunakan gambaran seperti pakaian yang harus dilepaskan.
Ada kebiasaan yang harus kita lepaskan. Ada sikap yang harus kita tinggalkan. Ada perkataan yang harus dihentikan. Ada cara berpikir yang harus diperbarui.
Kadang kita ingin Tuhan memberkati manusia baru kita, tetapi kita masih mempertahankan manusia lama. Kita ingin damai, tetapi tetap memelihara dendam. Kita ingin keluarga harmonis, tetapi tetap menggunakan kata-kata kasar. Kita ingin hidup diberkati, tetapi tidak mau meninggalkan kebiasaan yang salah.
Firman Tuhan mengajarkan: manusia lama harus ditanggalkan.
Ayat 23 berkata bahwa kita harus dibaharui dalam roh dan pikiran.
Inilah pusat tema renungan kita.
Pembaruan hidup dimulai dari dalam. Tuhan ingin memperbarui cara kita berpikir. Ketika pikiran diperbarui, kita mulai melihat kehidupan dengan perspektif Tuhan.
Dahulu ketika disakiti, kita berpikir, “Saya harus membalas.” Setelah diperbarui Tuhan, kita belajar berkata, “Saya harus mengampuni.”
Dahulu ketika melihat keberhasilan orang lain, kita berpikir, “Mengapa bukan saya?” Setelah diperbarui Tuhan, kita belajar bersyukur dan ikut bersukacita.
Dahulu ketika menghadapi masalah, kita berpikir, “Saya tidak sanggup.” Setelah diperbarui Tuhan, kita belajar berkata, “Tuhan akan menolong saya melewati ini.”
Dahulu ketika menghadapi orang yang berbeda dengan kita, kita mudah menghakimi. Setelah diperbarui Tuhan, kita belajar memahami, menghargai, dan mengasihi.
Pembaruan pikiran bukan berarti kita tidak pernah memiliki pikiran negatif. Pembaruan berarti kita tidak membiarkan pikiran negatif menjadi penguasa hidup kita.
Ayat 24 berkata supaya manusia baru dikenakan, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.
Manusia baru bukan ciptaan kita sendiri. Manusia baru adalah karya Allah. Kita dipanggil untuk hidup dalam identitas baru yang Tuhan berikan.
Kebenaran dan kekudusan menjadi ciri kehidupan baru. Artinya, kehidupan Kristen bukan hanya berbicara mengenai hubungan pribadi dengan Tuhan, tetapi juga mengenai bagaimana kita hidup dengan sesama.
Ayat 25 berkata supaya setiap orang membuang dusta dan berkata benar kepada sesamanya, karena kita adalah sesama anggota.
Manusia baru harus meninggalkan kebohongan.
Kebohongan dapat menghancurkan keluarga, persahabatan, pelayanan, dan kepercayaan. Kadang orang berkata, “Ini hanya kebohongan kecil.” Tetapi kebohongan tetap merusak kebenaran.
Dalam keluarga, kejujuran sangat penting. Dalam pelayanan, kejujuran sangat penting. Dalam pekerjaan, kejujuran sangat penting. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia baru adalah manusia yang berani berkata benar.
Ayat 26 berkata, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa; janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu.”
Paulus tidak mengatakan bahwa manusia tidak boleh merasa marah. Marah adalah emosi manusia. Yang menjadi masalah adalah ketika kemarahan menguasai kita dan berubah menjadi dosa.
Kita dapat marah tanpa menghancurkan orang lain. Kita dapat kecewa tanpa menghina. Kita dapat tidak setuju tanpa membenci.
Nasihat “janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu” menunjukkan bahwa konflik jangan dibiarkan berlarut-larut. Semakin lama kepahitan disimpan, semakin besar ruang yang diberikan kepada dosa.
Dalam keluarga, jangan membiarkan masalah berbulan-bulan tanpa penyelesaian. Belajarlah berbicara. Belajarlah meminta maaf. Belajarlah mengampuni.
Ayat 27 berkata, “dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.”
Ketika kemarahan, kepahitan, kebencian, dan konflik dibiarkan, kita memberikan ruang bagi kehancuran. Karena itu, orang percaya harus menjaga hati.
Ayat 28 berkata supaya orang yang mencuri jangan mencuri lagi, tetapi bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik supaya dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.
Perubahan yang diminta Paulus sangat konkret. Manusia lama mencuri; manusia baru bekerja dan berbagi.
Ini menunjukkan bahwa pertobatan bukan hanya berhenti dari kejahatan, tetapi menghasilkan kebaikan. Tangan yang dahulu mengambil menjadi tangan yang memberi.
Prinsip ini sangat relevan sekarang. Kita bekerja bukan hanya untuk diri sendiri. Berkat Tuhan yang kita terima dapat menjadi berkat bagi orang lain.
Ayat 29 berkata supaya jangan ada perkataan kotor keluar dari mulut, tetapi gunakan perkataan yang baik untuk membangun sesuai kebutuhan supaya memberikan kasih karunia kepada mereka yang mendengarnya.
Ini adalah salah satu tanda manusia baru yang paling mudah terlihat: perkataan.
Kita dapat mengetahui keadaan hati seseorang dari perkataannya. Ketika hati penuh kebencian, mulut mudah melukai. Ketika hati dipenuhi kasih Tuhan, perkataan dapat menjadi kekuatan.
Di zaman media sosial, ayat ini sangat penting. Jangan merasa bebas berkata apa saja hanya karena berada di balik layar. Komentar, pesan, unggahan, dan percakapan kita juga harus mencerminkan manusia baru.
Sebelum berbicara, kita dapat bertanya: apakah perkataan saya benar? Apakah perlu? Apakah membangun? Apakah membawa kasih Tuhan?
Ayat 30 berkata, “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.”
Roh Kudus hadir dalam kehidupan orang percaya. Karena itu, kehidupan kita bukan kehidupan tanpa arah. Ada Roh Tuhan yang bekerja membentuk kita.
Ketika kita sengaja memelihara dosa, kita sedang hidup berlawanan dengan pekerjaan Roh Kudus. Karena itu, pembaruan hidup membutuhkan kepekaan terhadap suara Roh Tuhan.
Ayat 31 berkata supaya segala kepahitan, kegeraman, pertikaian, fitnah dan segala kejahatan dibuang dari antara jemaat.
Perhatikan bahwa Paulus menyebut beberapa hal yang sering merusak komunitas: kepahitan, kemarahan, pertikaian, fitnah, dan kejahatan.
Hal-hal ini tidak hanya merusak hubungan antarindividu, tetapi juga dapat merusak persekutuan gereja.
Karena itu, manusia baru bukan hanya tentang hubungan kita dengan Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan sesama.
Ayat 32 menjadi penutup yang sangat indah: hendaklah kita ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kita.
Di sinilah dasar pengampunan Kristen. Kita mengampuni bukan karena orang lain selalu layak menerima pengampunan, tetapi karena kita sendiri telah lebih dahulu menerima pengampunan Allah.
Kristus telah mengampuni kita. Karena itu, kita dipanggil belajar mengampuni.
Mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa kesalahan tidak penting. Mengampuni berarti kita tidak membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hati kita. Kita menyerahkan penghakiman kepada Tuhan dan memilih untuk tidak hidup dalam kepahitan.
Penutup
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Efesus 4:17-32 hari ini membawa kita kepada satu panggilan yang sangat jelas: kita tidak boleh terus hidup sebagai manusia lama. Kita dipanggil untuk dibaharui dalam roh dan pikiran serta mengenakan manusia baru.
Perubahan itu tidak dimulai dari penampilan. Perubahan dimulai dari hati dan pikiran. Sebab kalau pikiran tidak berubah, perilaku kita hanya akan berubah sementara. Tetapi ketika Roh Tuhan memperbarui pikiran dan hati, perubahan itu dapat terlihat dalam seluruh kehidupan.
Tema “Dibaharui Dalam Roh Dan Pikiranmu Serta Mengenakan Manusia Baru” bukan sekadar tema untuk didengar dalam ibadah. Ini adalah panggilan untuk memeriksa kehidupan kita.
Apakah masih ada manusia lama dalam diri kita?
Apakah masih ada kebiasaan lama yang belum kita lepaskan?
Apakah masih ada kepahitan yang kita simpan?
Apakah masih ada orang yang belum kita ampuni?
Apakah masih ada kebohongan yang kita pelihara?
Apakah perkataan kita masih sering melukai?
Apakah kemarahan masih menguasai kita?
Apakah kita masih mudah menghakimi?
Apakah kita masih lebih suka membalas daripada mengampuni?
Kalau masih ada, firman Tuhan hari ini tidak datang untuk menghancurkan kita, tetapi untuk mengajak kita berubah. Tuhan berkata: tanggalkan manusia lama. Biarkan Tuhan memperbarui roh dan pikiranmu. Kemudian kenakan manusia baru.
Ada beberapa hal penting yang dapat kita bawa pulang dari firman Tuhan ini.
Pertama, manusia lama harus ditanggalkan. Jangan terus mempertahankan kebiasaan yang Tuhan sudah minta kita tinggalkan. Kalau ada kepahitan, lepaskan. Kalau ada kebencian, serahkan kepada Tuhan. Kalau ada kebiasaan buruk, beranilah memutusnya.
Kedua, pikiran harus terus diperbarui. Jangan biarkan dunia menjadi satu-satunya sumber yang membentuk cara berpikir kita. Isi pikiran dengan firman Tuhan. Belajar melihat keluarga, pekerjaan, masalah, keberhasilan, kegagalan, dan sesama melalui perspektif Tuhan.
Ketiga, manusia baru harus terlihat melalui perkataan. Perkataan kita harus membangun, bukan menghancurkan. Jangan gunakan mulut untuk menyebarkan fitnah. Jangan gunakan media sosial untuk melukai. Jadikan perkataan kita sebagai alat untuk membawa kasih Tuhan.
Keempat, manusia baru terlihat dalam cara kita menghadapi kemarahan. Marah boleh, tetapi jangan berbuat dosa. Belajarlah menyelesaikan masalah sebelum kepahitan menjadi semakin dalam. Jangan membawa luka hari ini menjadi kebencian bertahun-tahun.
Kelima, manusia baru terlihat dalam kejujuran. Jangan mencuri, jangan menipu, jangan memanipulasi, dan jangan mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Hidup dalam kebenaran adalah bagian dari mengenakan manusia baru.
Keenam, manusia baru terlihat dalam kemurahan hati. Tangan yang diberkati Tuhan bukan hanya tangan yang menerima, tetapi tangan yang mau memberi. Berkat yang Tuhan berikan kepada kita dapat menjadi berkat bagi keluarga dan sesama.
Ketujuh, manusia baru terlihat dalam pengampunan. Kita mengampuni karena kita sudah lebih dahulu menerima pengampunan Tuhan. Jangan biarkan kepahitan menjadi tuan atas hati kita.
Saudara-saudari, dunia tidak hanya membutuhkan orang Kristen yang pandai berbicara tentang Kristus. Dunia membutuhkan orang Kristen yang memperlihatkan Kristus melalui kehidupannya.
Keluarga membutuhkan manusia baru. Gereja membutuhkan manusia baru. Masyarakat membutuhkan manusia baru. Tempat kerja membutuhkan manusia baru. Anak-anak kita membutuhkan teladan manusia baru. Generasi muda membutuhkan orang percaya yang menunjukkan bahwa iman kepada Kristus benar-benar dapat mengubah kehidupan.
Karena itu, marilah kita memulai dari diri sendiri.
Kalau selama ini kita mudah marah, mari belajar mengendalikan diri.
Kalau selama ini kita mudah berkata kasar, mari belajar berkata dengan kasih.
Kalau selama ini kita menyimpan kepahitan, mari belajar mengampuni.
Kalau selama ini kita mudah menghakimi, mari belajar memahami.
Kalau selama ini kita hanya memikirkan diri sendiri, mari belajar berbagi.
Kalau selama ini kita hidup dalam kebiasaan lama, mari datang kepada Kristus dan meminta Tuhan memperbarui kita.
Jangan hanya mengganti pakaian luar sementara manusia lama masih tinggal di dalam hati. Tuhan menghendaki pembaruan yang lebih dalam. Tuhan ingin membaharui roh dan pikiran kita, supaya dari dalam diri kita lahir kehidupan yang baru.
Kiranya setiap hari kita berani berkata kepada Tuhan: “Tuhan, baharuilah roh dan pikiranku. Tolong aku menanggalkan manusia lama. Ajarlah aku mengenakan manusia baru. Ubahlah cara aku berpikir, cara aku berbicara, cara aku bertindak, cara aku mengasihi, cara aku mengampuni, dan cara aku menjalani hidup.”
Sebab pada akhirnya, menjadi manusia baru bukan tentang menjadi sempurna dengan kekuatan sendiri. Ini tentang terus membuka diri kepada pekerjaan Roh Kudus dan membiarkan Kristus membentuk hidup kita semakin hari semakin menyerupai kehendak-Nya.
Kiranya keluarga kita merasakan perubahan itu. Kiranya anak-anak kita melihat perubahan itu. Kiranya pasangan hidup kita merasakan kasih itu. Kiranya gereja melihat buahnya. Kiranya masyarakat melihat kesaksian hidup kita.
Tanggalkan manusia lama. Biarkan roh dan pikiran dibaharui. Kenakan manusia baru.
Dan ketika orang melihat kehidupan kita, kiranya mereka bukan hanya melihat seseorang yang mengaku percaya kepada Kristus, tetapi melihat seseorang yang sungguh-sungguh telah diubahkan oleh Kristus.
Amin.
Editor : Clavel Lukas