MTPJ 6-12 September 2026
Keluaran 18:13-27
TEMA : Carilah orang yang cakap dan takut akan Allah
Penulis : Pdt Dr Stefanus Mawitjere MTh
SAUDARA-saudara, dalam persiapan memilih Pelayan Khusus, gereja sedang berhadapan dengan satu pertanyaan penting: siapa yang layak kita pilih, apakah orang yang memenuhi kriteria manusia atau orang yang memenuhi kriteria Tuhan? Seringkali penilaian manusia terbatas pada hubungan saudara, kedekatan pertemanan, jabatan, latar belakang akademik, kekayaan, kemampuan, bahkan popularitas. Tetapi Keluaran 18 mengajarkan bahwa Tuhan melihat lebih dalam daripada apa yang terlihat oleh mata manusia. Yitro menasihati Musa untuk memilih orang-orang yang takut akan Allah, dapat dipercaya, dan membenci kepada pengejaran suap. Karena itu, pemilihan Pelayan Khusus bukanlah kesempatan mencari orang yang paling terkenal, tetapi mencari orang yang paling sungguh-sungguh hidup di hadapan Tuhan. Jangan memilih berdasarkan ukuran duniawi, tapi biarlah Firman Tuhan yang menjadi ukuran. Jangan memilih karena siapa dia di mata manusia, tetapi karena bagaimana hidupnya di hadapan Allah.
Latar Belakang Konteks
Keluaran 18 terjadi setelah Israel keluar dari Mesir dan mengalami kemenangan atas Amalek. Musa kini menjalankan tanggung jawab besar sebagai pemimpin umat: ia duduk mengadili perkara bangsa Israel dari pagi sampai petang. Yitro, mertuanya, datang dan mengamati cara Musa memimpin. Ia tidak mempersoalkan panggilan Musa, tetapi mempertanyakan cara Musa menjalankan panggilan tersebut. Yitro melihat bahwa pelayanan yang seluruhnya bertumpu pada Musa akan melelahkan dirinya dan tidak efektif bagi umat. Karena itu, ia menasihati Musa untuk membangun pola kepemimpinan yang melibatkan orang-orang yang takut akan Allah, dapat dipercaya, dan membenci keuntungan yang tidak jujur. Perikop ini bukan sekadar tentang efisiensi organisasi, tetapi tentang bagaimana umat Allah dilayani melalui kepemimpinan yang bertanggung jawab, berkarakter, dan berbagi beban.
1. Pelayanan Harus Dimulai dengan Kesadaran akan Keterbatasan — Ayat 13–18
Musa bekerja dari pagi sampai petang. Masalahnya bukan bahwa Musa malas atau tidak bertanggung jawab; justru ia terlalu banyak memikul sendiri. Yitro berkata, “Tidak baik seperti yang kaulakukan itu” (ay.17). Kata kunci בוֹט (ṭôb), “baik”, dalam ungkapan בוֹֹלא־ט (lō’-ṭôb) berarti “tidak baik”. Secara gramatikal, bentuk negatif ini menilai pola pelayanan Musa sebagai sesuatu yang tidak tepat. Bahkan pelayanan yang dilakukan dengan kesungguhan dapat menjadi keliru ketika manusia bertindak beranggapan bahwa seluruh pekerjaan Tuhan dapat kita kerjakan secara sendiri. Dalam hal ini betapa pentingnya seperti kalimat bijak BEKERJA SAMA DAN BERSAMA-SAMA BEKERJA.
Secara teologis Reformed, ini mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk terbatas dan Allah Mahakuasa. Gereja tidak bergantung pada kekuatan seorang pelayan. Allah dalam providensi-Nya bekerja melalui banyak orang dan berbagai karunia. Karena itu, mengakui keterbatasan bukan tanda kegagalan, melainkan bentuk kerendahan hati di hadapan kedaulatan Allah.
2. Pelayan Dipilih Berdasarkan Karakter yang Takut Akan Allah — Ayat 19–21
Yitro menyuruh Musa memilih orang-orang yang memenuhi kriteria rohani: “takut akan Allah, dapat dipercaya dan membenci pengejaran laba yang tidak jujur.” Kata kunci ָיֵרא (yārē’), “takut”, dalam frasa ֱאֹלִהים ִיְרֵאי (yir’ê ’ĕlōhîm), menunjuk kepada sikap hormat, tunduk, dan gentar di hadapan Allah. Ini bukan sekadar perasaan religius, tetapi orientasi hidup yang membuat seseorang menjalankan tanggung jawab dengan kesadaran bahwa ia berada di hadapan Tuhan.
Teologi Reformed menegaskan bahwa pelayanan adalah panggilan (vocation). Karena itu, kualitas utama seorang pelayan bukan popularitas, kemampuan berbicara, kekayaan, atau pengaruh, tetapi karakter yang dibentuk oleh anugerah Allah. Seorang Pelayan Khusus harus terlebih dahulu menjadi orang yang dapat dipercaya sebelum dipercaya memimpin orang lain. Gereja tidak boleh memilih berdasarkan siapa yang paling populer, tetapi siapa yang paling berintegritas di hadapan Tuhan.
3. Kepemimpinan Gereja Bertujuan Membagi dan Memikul Beban — Ayat 22–23
Yitro menyarankan agar pemimpin ditempatkan atas kelompok seribu, seratus, lima puluh, dan sepuluh. Tujuannya jelas: “Mereka akan turut menanggung beban itu bersama-sama dengan engkau” (ay.22). Kata kunci אשָׂנָ (nāśā’) berarti “mengangkat, membawa, atau memikul”. Pelayanan kepemimpinan bukan terutama memperoleh kedudukan, melainkan mengambil bagian dalam beban umat.
Perspektif Reformed melihat gereja sebagai tubuh Kristus yang memiliki banyak anggota dan karunia. Allah tidak memberikan semua karunia kepada satu orang. Karena itu, pembagian pelayanan merupakan pengakuan bahwa Allah bekerja melalui komunitas umat-Nya.
Pelayan Khusus bukan penguasa jemaat, melainkan hamba Kristus yang hadir untuk menolong, menguatkan, mengunjungi, menasihati, dan menopang umat. Jabatan gerejawi bukan tempat mencari kehormatan, tetapi tempat memikul beban.
4. Pelayan yang Bijaksana Harus Rendah Hati untuk Mendengar — Ayat 24–27
Respons Musa sangat penting: “Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya” (ay.24). Kata ַמעשָׁ (šāma‘) berarti “mendengar”, tetapi dalam pemakaian Ibrani sering memiliki nuansa mendengar yang menghasilkan tindakan atau ketaatan. Musa bukan hanya mendengar kritik Yitro, tetapi mengubah cara pelayanannya.
Dalam teologi Reformed, kerendahan hati lahir dari kesadaran bahwa manusia hidup sepenuhnya karena anugerah. Seorang pemimpin yang dewasa bukan orang yang merasa tidak membutuhkan nasihat, tetapi orang yang bersedia dikoreksi demi kebaikan umat dan kemuliaan Allah.
Kesimpulan Teologis
Keluaran 18:13–27 mengajarkan bahwa pelayanan yang sehat berdiri di atas kesadaran akan keterbatasan, karakter yang takut akan Allah, kesediaan memikul beban bersama, dan kerendahan hati untuk menerima nasihat. Dalam perspektif Reformed, semua pelayanan akhirnya berpusat pada Kristus. Ia adalah Kepala Gereja; kita hanyalah hamba-hamba yang menerima anugerah untuk mengambil bagian dalam pekerjaan-Nya.
Karena itu, ketika gereja memilih Pelayan Khusus, yang dicari bukan manusia yang sempurna, melainkan orang berdosa yang telah dibentuk oleh anugerah dan bersedia dipakai Tuhan. Jabatan boleh menjadi kehormatan di mata manusia, tetapi di hadapan Kristus jabatan adalah panggilan untuk melayani.
Kiranya ketika nama kita disebut untuk melayani, yang terutama terdengar bukan suara ambisi kita, tetapi suara Tuhan:
IMPLIKASI FIRMAN
1. Jadilah Pelayan yang Sungguh-Sungguh Takut Akan Allah
Bukan sekadar pencitraan rohani di depan jemaat, tetapi hidup benar ketika tidak ada yang melihat. Bukan melayani untuk dipuji atau dihormati, tetapi karena sadar bahwa Tuhan melihat hati dan Tuhanlah yang kita layani. Pelayan khusus yang sungguh-sungguh takut akan Allah adalah pelayan khusus yang setia dari awal sampai akhir periode, bukan setia hanya di awal dan hanya di akhir. Dalam hal takut akan Allah dan kesetiaan, model pelayan khusus dapat dibahasakan dalam FILOSOFI KAPAL: 1. Filosofi Kapal ikan: pelayan khusus yang rajin mencari dan mengunjungi jemaat ibarat perintah Yesus kepada murid-murid yaitu menjadi penjala manusia. 2. Filosofi kapal perang: pelayan khusus yang memiliki semangat yang luar biasa, tahan dalam segala situasi termasuk situasi dalam tantangan. 3. Filosofi kapal pasiar: pelayan khusus yang mo muncul di pelayanan nanti kalu ada program pelayanan wisata, yang cuma suka menikmati rasa nyaman, nemau susah. 4. Filosofi kapal selam: pelayan khusus yang sadiki dia muncul, sadiki dia ilang. Cuma ja muncul di pelayanan di momen tertentu.
2. Pilih Pelayan Khusus Sesuai Kriteria Tuhan
Jangan memilih karena hubungan, jabatan, kekayaan, pendidikan, atau popularitas, tetapi karena karakter yang takut akan Tuhan. Jangan mencari siapa yang paling dikenal manusia, tetapi siapa yang paling dikenal Tuhan sebagai pribadi yang setia. Ada kalimat bijak: Jangan memilih PELSUS karena hartanya tapi karena hatinya.
3. Bangun Manajemen Pelayanan dengan Pembagian Tugas
Pelayanan membutuhkan pembagian kerja yang jelas. Pendeta, Diaken, Penatua, Upk Bipra, pegawai gereja, kostor, bahkan jemaat memiliki tugas masing-masing. Jangan semua dikerjakan satu orang; jangan pula tugas diberikan tanpa tanggung jawab. Ketika setiap orang setia pada bagiannya, pelayanan menjadi tertib, beban terbagi, dan jemaat terlayani dengan baik.
4. Jangan One Man Show
Musa belajar bahwa pelayanan tidak dapat dipikul seorang diri. Gereja bukan panggung satu orang, melainkan tubuh Kristus yang saling melayani. Jangan berkata, “Saya bisa semuanya,” tetapi katakan, “Mari kita kerjakan bersama-sama.” Sebab pelayanan yang sehat bukan tentang siapa yang paling terlihat, tetapi tentang bekerja bersama dan bersama bekerja.
5. Semua untuk Hormat dan Kemuliaan Nama Tuhan
Pada akhirnya, pelayanan bukan tentang nama kita, tetapi nama Tuhan. Jabatan akan berlalu, popularitas akan hilang, dan manusia mungkin melupakan apa yang pernah kita kerjakan. Tetapi kemuliaan Tuhan tetap selama-lamanya. Karena itu, biarlah setiap pelayanan, keputusan, tenaga, air mata, dan pengorbanan kita bermuara pada satu tujuan: Soli Deo Gloria — hanya bagi kemuliaan Allah.
“Kita dipanggil bukan untuk membesarkan nama sendiri melalui pelayanan, tapi membesarkan nama Tuhan. Dia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil (Yoh 3:30). Amin