Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Sabtu 5 September 2026

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 15:25 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa ke XXII (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 1 Korintus 4:6b-15

Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: "Jangan melampaui yang ada tertulis", supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain.

Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?

Kamu telah kenyang, kamu telah menjadi kaya, tanpa kami kamu telah menjadi raja. Ah, alangkah baiknya kalau benar demikian, bahwa kamu telah menjadi raja, sehingga kamipun turut menjadi raja dengan kamu.

Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia.

Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina.

Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara,

kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar;

kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini.

Hal ini kutuliskan bukan untuk memalukan kamu, tetapi untuk menegor kamu sebagai anak-anakku yang kukasihi.

Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 145:17-18.19-20.21

TUHAN itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya.

TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.

Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia, mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka.

TUHAN menjaga semua orang yang mengasihi-Nya, tetapi semua orang fasik akan dibinasakan-Nya.

Mulutku mengucapkan puji-pujian kepada TUHAN dan biarlah segala makhluk memuji nama-Nya yang kudus untuk seterusnya dan selamanya.

Bacaan Injil Lukas 6:1-5

Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya.

Tetapi beberapa orang Farisi berkata: "Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?"

Lalu Yesus menjawab mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar,

bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?"

Kata Yesus lagi kepada mereka: "Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i dalam kehidupan, kita sering mudah merasa lebih baik daripada orang lain. Kita bisa merasa lebih rajin, lebih pintar, lebih sukses, lebih aktif di Gereja, atau lebih tahu tentang iman. 

Tanpa sadar, kita mulai membandingkan diri dan mencari alasan untuk merasa lebih unggul. Bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa hampir semua yang kita miliki sebenarnya adalah anugerah. 

Kemampuan, kesempatan, keluarga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, bahkan iman yang kita miliki tidak sepenuhnya lahir dari kekuatan kita sendiri. Ada begitu banyak orang dan terutama Tuhan yang bekerja di balik semua yang kita capai.

Karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk menjadi sombong. Prestasi boleh membuat kita bersyukur, tetapi jangan sampai membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain. 

Semakin banyak yang kita terima, seharusnya semakin besar pula kerendahan hati yang tumbuh dalam diri kita. Paulus menunjukkan bahwa mengikuti Kristus bukan jalan menuju kenyamanan dan popularitas. 

Ada saat ketika seorang murid harus berjuang, disalahpahami, ditolak, bahkan diperlakukan tidak adil. Namun, semuanya itu tidak membuatnya berhenti melakukan kebaikan.

Di sinilah iman kita diuji. Sangat mudah bersikap baik kepada orang yang menghargai kita. Tetapi bagaimana ketika kita dihina? Bagaimana ketika kebaikan kita dibalas dengan keburukan? Bagaimana ketika kita difitnah, disalahpahami, atau tidak mendapatkan penghargaan?

Menjadi murid Kristus berarti belajar memiliki hati yang tetap baik bahkan ketika dunia tidak memperlakukan kita dengan baik. Kita tidak membalas kebencian dengan kebencian. 

Kita tidak membalas fitnah dengan fitnah. Kita tidak perlu menjatuhkan orang lain hanya supaya diri kita terlihat lebih tinggi. Dalam Injil, kita melihat bagaimana Yesus berhadapan dengan orang-orang yang sangat berpegang pada aturan, tetapi kehilangan makna terdalam dari aturan itu sendiri. 

Bagi mereka, yang penting adalah apakah sesuatu sesuai dengan aturan. Bagi Yesus, yang lebih penting adalah apakah tindakan itu membawa kehidupan, kasih, dan kebaikan bagi manusia.

Ini menjadi pelajaran penting bagi kita. Jangan sampai iman hanya membuat kita pandai menjalankan aturan, tetapi hati kita semakin jauh dari kasih.

Kita bisa rajin mengikuti Misa, aktif dalam kegiatan Gereja, hafal banyak doa, dan terlibat dalam berbagai pelayanan. Tetapi semuanya akan kehilangan makna jika kita masih mudah menghakimi, sulit mengampuni, suka merendahkan orang lain, atau tidak peduli terhadap mereka yang sedang membutuhkan pertolongan.

Yesus mengajak kita memiliki iman yang hidup. Iman yang tidak hanya terlihat dalam ritual, tetapi terasa dalam cara kita memperlakukan sesama.

Kadang-kadang orang tidak membutuhkan nasihat panjang dari kita. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan. Kadang-kadang mereka tidak membutuhkan penghakiman, tetapi membutuhkan pengertian. 

Kadang-kadang mereka tidak membutuhkan orang yang menunjukkan kesalahan mereka, tetapi seseorang yang membantu mereka bangkit.

Inilah wajah iman yang dikehendaki Kristus: bukan sekadar tahu banyak tentang Tuhan, tetapi semakin memiliki hati seperti Tuhan.

Maka hari ini, mari kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah iman saya membuat saya semakin rendah hati dan penuh kasih, atau justru membuat saya merasa lebih baik daripada orang lain?

Semoga semakin dekat kita dengan Tuhan, semakin lembut hati kita terhadap sesama. Semoga semakin banyak yang kita terima dari Tuhan, semakin besar pula keinginan kita untuk berbagi. 

Dan semoga dalam setiap aturan, pelayanan, dan kehidupan beriman yang kita jalani, kita tidak pernah kehilangan hal yang paling utama: kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik Renungan